landasan sistem ekonomi islam

Standar

Sistem ekonomi Islam dilandasai dan bersumber pada ketentuan Al Quran dan Sunnah, berisi tentang nilai persaudaraan, rasa cinta, penghargaan kepada waktu, dan kebersamaan. Adapun sistem ekonomi Islam meliputi
antara lain :
1. Mengakui hak milik individu sepanjang tidak merugikan masyarakat;
2. Individu mempunyai perbedaan yang dapat dikembangkan berdasarkan potensi masing-masing;
3. Adanya jaminan sosial dari negara untuk masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pkok manusia;
4. Mencegah konsentrasi kekayaan pada sekelompok kecil orang yang memiliki kekuasaan lebih;
5. Melarang praktik penimbunan barang sehingga mengganggu distribusi dan stabilitas harga;
6. Melarang praktik asosial (mal bisnis);

Apabila kita kaji Al Quran dan Sunnah sebagai sumber inspirasi maka tujuan ekonomi dalam Islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Membangun kehidupan umat manusia yang adil dan merata, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada umat manusia untuk berkreasi dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya;
2. Mewujudkan kehidupan ekonomi yang serasi, bersatu, damai, dan maju dalam suasana kekeluargaan dengan sesama umat manusia, serta menghilangkan nafsu menguasai, menumpuk harta, dan menindas yang lemah;
3. Membangun peradaban ekonomi yang tidak menimbulkan kerusakan di bumi;
4. Membangun kehidupan ekonomi umat manusia yang makmur dan selalu mendorong untuk lebih maju dengan jalan untuk selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas;
5. membangun kehidupan ekonomi umat manusia yang stabil dengan jalan mencegah inflasi, depresi, dan stagnasi;
6. Membangun kehidupan ekonomi yang merdeka dan menumbuhkan sikap kebersamaan;
7. Mewujudkan kehidupan ekonomi umat manusia yang mandiri, tanpa adanya ketergantungan dengan kelompok tertentu yang berkuasa.

Dari sistem ekonomi Islam tersebut tidak hanya menghapuskan ketidakseimbangan tetapi dapat merelokasi sumber daya dengan cara yang  efisien secara simultan menciptakan pemerataan.

Awal tahun 2011, aku mulai berkenalan dengan Islamic Economic. Amanah menjadi Deputi Rektor II di Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dan dosen di jurusan Ekonomi Syariah membuatku haus akan ilmu ekonomi berbasis Islam. Latarbelakang pendidikan S1 dibidang teknik arsitektur dan S2 manajemen umum membuatku harus belajar keras untuk memahami ekonomi Islam. Hikmah yang kuperoleh dengan amanah ini adalah makin terbuka mata hatiku tentang kesempurnaan Islam termasuk dalam menyelesaikan berbagai masalah ekonomi.

Buku yang kini sedang aku pelajari adalah Islamic Economics : Ekonomi Syariah Bukan OPSI, Tetapi Solusi!, juga buku Islamic Human Capital : Dari Teori ke Praktik, Manajemen Sumber Daya Islami, dan Islamic Financial Mangement :  Teori, Konsep, dan Aplikasi : Panduan Praktis bagi Lembaga Keuangan dan Bisnis, Praktisi, serta Mahasiswa. Ketiga buku ini ditulis oleh Prof.Dr.H.Veithzal Rivai,SE,MM,MBA. Beliau sejak tahun 2009 sampai sekarang adalah Instruktur Diklatpim III Departemen Agama RI dan dosen S2/S3 di Program Doktor Ekonomi Islam UNAIR serta STIE Ahmad Dahlan.

Terima kasih untuk Profesor …

Buku yang telah Profesor tulis membuat aku makin terpesona dengan Islam. Tak hanya menuntun jalan hidup habluminallah, namun habluminannas juga terbukti dalam kupasan dan bahasan yang hebat ini. Subhanallah … Sungguh Allah SWT telah membuka tabir bagaimana umat Islam seharusnya mengelola berbagai sumber daya yang begitu melimpah (khususnya di negara Indonesia tercinta ini).

Buku Islamic Financial Management yang ditulis bersama Ir.H. Rinaldi Firmansyah,MBA, CFA (CEO dan Direktur Utama PT. Telkom Tbk), Andia Permata Veithzal, BAcct,MBA,Ak (Praktisi Keuangan dan Account Manager PT.Telkom Tbk) dan Rizqullah, SE.MBA (CEO dan Direktur Utama Bank BNI Syariah) memberikan semangat bahwa berdasarkan syariah Islam, pinjam-meminjam tanpa interest dimaksudkan untuk kerja sama dan aktivitas amal, dan tidak semata-mata ditujukan untuk transaksi komersial, kecuali pada range yanga sangat terbatas. Inilah tantangan berat kita, umat Islam, dimana hampir seluruh konstruksi keuangan dan perbankan dibangun berdasarkan interest atau bunga.

Menurut Mustafa Edwin Nasution, Ph.D Ketua Umum IAEI, Bank Indonesia telah menetapkan target market share bank Islam di Indonesia pada akhir Desember 2008 sebesar 5%. Untuk mencapai target tersebut setidaknya dibutuhkan 40.000 sumber daya insani. Peranan pendidikan sangatlah penting. Selain institusi pendidikan tinggi juga perlu ada buku ajar yang representatif, karena senyatanya di dunia perguruan tinggi buku ajar tentang manajemen dan keuangan Islam sangat langka dan terbatas.

Umat Islam tak ingin hanya menjadi buih di tengah luas dan dalamnya samudera kehidupan. Umat Islam seharusnya mampu mewujudkan konsep bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi ini. Khalifah haruslah mampu menentukan nilai manusia sebagai sumber daya, sebagai subyek pembangunan bukan semata objek. Hal inilah yang membuatku makin bersemangat mengampu beberapa matakuliah di ISIF Cirebon. Mahasiswa (sebagian besar dari kalangan pesantren tradisional) memberikan nuansa lain (selama ini lebih sering aku mengajar mahasiswa yang berasal dari SMA / SMK umum). Beberapa dari mahasiswa ku ada yang hafizh Al Quran. Allahu  Akbar …

Ketika mengampu manajemen umum, aku tak leluasa menyatakan pendapat berdasarkan Al Quran dan Al Hadits. Namun, Allah SWT menjawab kegelisahan hati dan pikiranku, sekarang aku dapat memberikan argumentasi ilmiah berdasarkan wahyu Illahi Rabbi dan teladan Rasulullah SAW. Aku ingin membangun karakter mahasiswa agar mampu menjadi Ummatan Wasathan (umat moderat), karakter ini sesuai dengan firman Allah SWT ‘Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.’ (QS. Al Baqarah 2 : 143).

Aku sepakat dengan benang merah dari definisi ekonomi Islam bahwa siapapun tidak dibenarkan jadi korban ketidakadilan. Ekonomi Islam bersifat Ilahiah-insaniah, terbuka tetapi selektif, toleran tetapi tak kenal kompromi dalam menegakkan keadilan. Semua itu dimaksudkan untuk kesejahteraan umum di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Para pelaku ekonomi Islam tentu harus memiliki kepribadian Islam (syakhisiyah Islamiyah).

Tahap yang ditempuh untuk mencapai kepribadian di atas adalah : (1) mengintroduksikan aqidah Islamiyyah pada diri seseorang agar dia menjadikan aqidah atau pandangan hidupnya; (2) selanjutnya aqidah Islamiyyah menjadi landasan dalam melakukan proses berpikir yang Islami (aqliyah Islamiyyah) dan sekaligus menjadikan aqidah Islamiyyah dalam mengatur dan mengendalikan tingkah lakunya (nafsiyah Islamiyyah). Untuk dapat memiliki kualitas berpikir yang berlandaskan aqidah Islamiyyah atas berbagai fenomena kehidupan ini, maka seorang muslim harus mencurahkan kemampuannya untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman (tsaqofah Islamiyyah), baik ilmu tentang aqidah Islamiyyah (ilmu tauhid), ilmu Al Quran dan tafsirnya (ulumul Quran), ilmu hadis, fiqh, dan ushul fiqh, ilmu bahasa Arab dan bahasa dunia lainnya.

Disamping itu, seorang muslim harus disertai dengan kesungguhan dalam memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer, seperti ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu pengetahuan alam, ilmu budaya, ilmu hukum, ilmu filsafat, dan sebagainya. Keseimbangan dalam penguasaan ilmu, baik ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu pengetahuan kontemporer akan melahirkan sosok seorang muslim yang cerdas, bijaksana, dan santun dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Namun, aspek olah pikir (kognitif) dan olah rasa (afeksi) saja tidak cukup melahirkan seseorang yang berkepribadian Islam, tetapi perlu ditunjang dengan pembinaan aspek melalui perilaku kehidupan sehari-hari (psikomotorik).

Itulah tantangan berat bagiku sebagai seorang dosen. Bagaimana memposisikan diri sebagai fasilitator dan motivator bagi mahasiswa agar mampu menjadi pribadi muslim yang rahmatan lil’alamin yang memiliki akhlakul karimah, yang mampu menjadi ilmuwan sekaligus ulama? Ya Allah … Berikanlah kekuatan bagiku untuk menjalani amanah ini dengan sebaik-baiknya, amin …

(Sumber bacaan Islamic Economic penulis Prof.Dr.H.Veithzal Rivai, SE,MM,MBA; referensi Al Quran yang digunakan : Surat Ar-Ra’d (13) : 11; Surat Al Baqarah (2) : 278 – 280; Surat At Taubah (9) : 105)

disarikan oleh dewi laily purnamasari untuk matakuliah ekonomi islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s