Monthly Archives: April 2013

15 Tahun Lebih Tak Punya Televisi

Standar

Gambar

Ternyata tak punya televisi-pun tetap baik-baik saja. Masih banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan bersama anak-anak dan pasti lebih sehat, seperti berolahraga, bersilaturahim ke rumah kerabat, juga bermain di alam terbuka.

Siapkah kita meninggalkan televisi? Aku dan suami punya pengalaman menarik : selama hampir 15 tahun tak memiliki televisi. Benda berbentuk kotak, dari ukuran layar 14 inci hingga ‘home theater’, flat atau cembung. Sahabat, televisi adalah benda kecil penuh tombol ‘remote controle’. Bayi usia setahunpun kerap menekan tombol-tombolnya. Sebab apa? Dia tahu jika tombol ditekan layar akan menampilkan gambar berpendar-pendar, suara hingar bingar,  dan orang-orang yang lebih tua darinya menjadi terpana berjam-jam.

Salahkah jika balita kita menjadi kecanduan menonton televisi? Toh, kita pula yang mengajarkan mereka kebiasaan buruk itu! Lalu apa yang harus kita lakukan? Karena kami sangat tahu program televisi 90% lebih tak layak ditonton anak-anak kami. Anak pertama lahir tahun 1996 dan anak kedua lahir tahun 2000.  “Kasian deh kamu! Ibu kamu gak gaul. Masa kamu gak punya tv”, komentar teman-teman anakku kerap disampaikan untuk merayu kami membeli televisi.

Waktu menikah aku diberi hadiah televisi oleh seorang kerabat. Namun sudah waktunya masuk gudang, maklum televisi edisi jadul mungkin ada komponen yang rusak dan aku tak mau membetulkannya ke tukang servis hi3 …

Aku dan suami berjuang menyiasati hal tersebut. Buku! Ya … Sama-sama benda kotak. Berlembar-lembar halamannya juga penuh gambar, berwarna, dengan tulisan cerita yang sangat menarik. Saat anakku belum bias membaca. Maka kamilah ‘annoucher’ layaknya pembawa berita di televisi. Kami belajar ’story telling’ dan berperan seperti aktor dan aktris sinetron. Atau kami mencari gaya terbaik agar menarik serupa tokoh-tokoh kartun Nobita, Doraemon, Naruto, Avatar, Bart Simpson, dan sebagainya.

Setelah mereka bisa membaca. Wow … Jumlah buku kami melonjak cepat, karena mereka sangat lahap menyantap berbagai bacaan yang ada. Kecepatan membacanya membuat kami harus menyediakan anggaran khusus agar dapat membeli buku-buku bagi mereka. Ini pilihan hidup! Jika anak lain pergi ke mal minta makan KFC, MC Donald, Texas, Baskin and Robin, atau mainan mobil dan robot. Anak-anak mengajak kami duduk bahkan ndeprok berjam-jam di toko buku. Lalu pulang dengan masing-masing membawa satu buku.

Nah … Cerita ini berlanjut menjadi momen yang mengharukan. Saat kami pindah ke sebuah perumahan tipe 21/72 dan bertetangga dengan keluarga-keluarga muda (anak-anak mereka usia balita / SD) anakku berkata, “Bu … kasihan deh! Masa teman-temanku gak punya buku cerita.” “Kenapa kasihan?” tanyaku. “Katanya buat makan dan bayaran sekolah aja susah. Mana bias beli buku”. Lanjut anakku. “Trus gimana dong?” tanyaku memancing ide mereka. “Buat perpustakaan aja Bu. Buku-buku kita boleh dibaca sama mereka. Gratis!” sambung mereka antusias.

Ya! Jadilah perpustakaan mungil di ruang tamu kami. Namanya ‘read’s house kindly’. Artinya rumah baca yang penuh kasih sayang. Lalu terjadilah multiplayer effect. Dulu, posyandu di lingkungan kami hanya menimbang, memberi makanan tambahan, dan imunisasi bagi balita. Kini, dua hari dalam seminggu ada kelas balita bermain sambil belajar. Daya tarik utamanya buku cerita bergambar milik anak-anakku.

Di garasi rumahku mereka lesehan bahkan tengkurap, asyik membuka buku. Sesi berikutnya baru diajak menggambar, menyanyi, menari, melipat, berhitung, menusun balok, membentuk plasitin, bertanam, bermain peran, atau berbasah-basahan dengan hujan buatan dari kran. Ibu-ibu yang mengantar tak sempat ngerumpi. Setumpuk majalah, koran, dan tabloid juga buku-buku kecil berisi informasi agama, kesehatan, dan pendidikan membuat mereka lebih tertarik untuk membaca. Jika belum selesai, buku boleh dipinjam selama satu minggu.  Paling laris tentu buku resep masakan. Aku paling senang bila di kirimi hasil uji coba mereka.

Kesimpulannya, jika kita tak punya televisi kita tak akan mati kehabisan informasi. Masih ada buku, koran, dan radio. Kalaupun perlu punya televisi bersiaplah untuk berjibaku menahan rayuan gombalnya. Sesi berita tak lebih dari 10% dari seluruh rangkaian program televisi. Jadi bersiaplah menyusun menu diet bagi keluarga kita. Agar tak mengalami obesitas kegemukan yang tak sehat akibat terlalu sembrono mengkonsumsi siaran televisi. Tentu untuk sehat perlu perjuangan. Bukankah sehat itu

Teteh asyik berburu buku.

Artikel menarik lainnya bisa dibaca di link berikut:

Diet Siaran Televisi

Standar

Gambar

Mengajak anak-anak ber-diet siaran televis ternyata gampang-gampang susah. begitu besar tantangan dan beragam godaan muncul. namun dengan komunikasi efektif orangtua dapat memotivasi anak-anak untuk lebih memilih beraktifitas positif seperti membaca buku atau bermain bongkar pasang balok dibandingkan menonton siaran televisi.

 
Apakah ada yang mau terkena obesitas? Tentu tidak! Apalagi jika obesitas jenis ganas, yaitu kegemukan akibat salah mengkonsumsi siaran televisi.

Siaran televisi yang mengandung lemak jahat lebih berbahaya ketimbang lemak jahat penyebab tingginya angka kolesterol. Kolesterol tinggi menyebabkan penyakit jantung koroner, darah tinggi, stoke, bahkan kematian. Maka siaran televisi bisa menyebabkan kejahatan, stress, depresi, perkelahian, pelecehan, pemerkosaan, perceraian, sirik, bunuh diri, dan masih banyak lagi akibat negatifnya.


Selama hampir lebih dari selusin tahun aku tak punya televisi. Cerita bermula saat tahun 2008 aku mendapat hibah televisi 29 inci. Si kotak hitam itu membuatku 99% stres karena harus berjibaku dengan keinginan anak-anak menonton. Aku buat resep sehat ‘diet siaran televisi’.

Hari sekolah tak ada konsumsi siaran televisi. Hari sabtu – minggu hanya dua jam saja. Resep ini sungguh berat dilaksanakan. Bersyukur aku didukung oleh suami. Acara nonton bareng di hari libur pun tetap diselingi dengan olahraga (karate, jalan pagi, bersepeda, renang) dan silaturahmi ke tempat famili. Televisi dibuat tidak menarik karena tanpa remote. Pesaing televisi diperbanyak yaitu buku-buku bacaan, permainan edukatif, dan kita orangtua sebagai teman ngobrol / curhat anak-anak.

Anda mau coba? (Oya … Resep ini berlaku juga untuk game komputer, playstation, dan sejenisnya). Tentu resep ini tak begitu saja tersaji. Ada rangkaian uji coba yang lucu bila aku kenang.

“Oh … no …! Thank’s deh. Kalau bisa tv-nya dibawa saja. Jangan ditinggal di rumah ini”, kataku memelas. Adikku menjawab, “Rumah kami yang baru kecil Teh … Rasanya kurang pas dan mungkin tv 29 inci ini tidak muat. He … ditinggal di sini saja yah …” Sepenggal percakapan itu mengawali momen kepindahan keluargaku ke rumah yang sebelumnya di tinggali adikku. Aku dan suami sangat berat menerima hadiah televisi itu. Sudah terbayang akan ada ucapan ’selamat menempuh hidup baru’ … bersama si-penggoda bernama televisi!

Godaan pertama datang menghampiri suami. Dia mulai menuangkan ide untuk memiliki antena tv yang lebih ‘oke’ agar gambar lebih jelas. Lalu, sebagai arsitek, dia menata ulang letak perabot dan fungsi ruang. Ada ruang tamu merangkap ruang keluarga, merangkap pula ruang ‘audio-visual’. Nah … tv kami akhirnya ‘nongkrong’ dengan gagah di atas meja kayu dilengkapi decorder televisi berlangganan. Tak lupa sofa, bantal-bantal empuk, dan kipas angin.

Godaan kedua datang kepada anak-anak. Mereka minta jatah menonton televisi. Selama ini -ketika tak ada tv- kami hanya punya jatah menonton film dari dvd. Film pilihan beserta waktu menonton pilihan. Mereka menonton atau bermain game pilihan di komputer dua jam hari Sabtu dan Minggu. Hari sekolah komputer mati! Komputer boleh hidup untuk mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan televisi siarannya tak selalu bisa dipilih. Begitupun waktunya. Bukan pilihan kita, bukan ? tapi televisi yang mengatur kita. Oh … apa yang harus ku lakukan ?

Godaan ketiga datang kepadaku. Beberapa kali aku harus menegur anak-anak karena pada hari sekolah merajuk ingin menonton televisi. “Please Bu! Satu film saja … yah”, rayu Mas Hanif. Lalu Kaka Rusydi menambahkan, “Iya Bu, bosen nih!” Ooo … Rasanya aku ingin marah. Tahan … tenang … ambil nafas … he3 … begitulah beratnya dirayu anak-anak. Wajahku pasti terlihat jelek! Ya … aku cemberut. “Tidak!” jawab ku tegas. Kaka dan Mas balik cemberut. Muka mereka ditekuk … Ah … sore yang indah menjadi buram. Lain waktu di suatu pagi duka ku bertambah. Saat sibuk menyiapkan keberangkatan sekolah anak-anak di ruang makan. Eh … Mereka asyik menonton televisi.

Aku tak mau ada godaan keempat, kelima, dan seterusnya. Ini harus dihentikan! Harus digantikan dengan suasana yang lebih baik. Di hari minggu pagi, semua sedang ceria. Aku utarakan ide untuk diet siaran televisi. Aku ajak anak-anak menyusun menu sehat. Layaknya menu sarapan dan bekal sekolah atau makan siang dan makan malam. Makanan dan minuman harus ‘halalan thoyyiban’ (halal dan baik), begitu juga dengan siaran televisi. Hanya program yang halal dan baik saja yang boleh dikonsumsi. Anak-anak ku ajak mengemukakan pendapatnya tentang manfaat dan  kejelekannya bila tak mampu menahan diri dalam menonton televisi. Mereka juga boleh mencari program yang sekiranya menurut mereka bermanfaat.

Menarik! Prosesnya mirip di gedung parlemen. Sesekali mereka protes. Bahkan Kaka dan Mas juga punya program pilihan yang berbeda. Aturan disepakati melalui proses negosiasi. Televisi boleh! Akhir pekan, Sabtu dan Minggu dua jam saja. Hari sekolah satu jam saja. Pilihan program di sepakati : sesuai usia anak dan remaja. Bila ada program berisi kekerasan, asusila, atau mengandung kata-kata buruk, Ibu boleh menghentikannya. Aku berusaha menyampaikan pemahaman bahwa : kita bersama-sama akan mengendalikan televisi, bukan televisi mengendalikan kita; televisi hanyalah salah satu sumber informasi dan hiburan; menu favorit kita tetap membaca buku.

 

Novel Alice dan serial Laskar Pelangi juga Toto Chan menjadi buku favorit Kaka dan Mas.
Novel serial Narnia koleksi Kaka dan Mas. Sudah aku buatkan reviewnya di sini: Narnia dari Novel Legendaris Menjadi Film Epik.

Kini, televisi kami harus bersaing dengan dua lemari besar dan satu lemari kecil berisi koleksi buku-buku.  Dindingpun tak luput ditempel rak untuk menyimpan buku-buku anak ditambah satu rak majalah dan koran. Pagi hari, suami ku memutarkan siaran radio berisi siaran berita, ceramah agama,lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa. Sore hari, bila bosan datang menyerang, anak-anak memilih bermain sepeda, papan luncur, karambol, congklak, basket, catur, berlarian di taman, atau sekedar ‘ngobrol’ dengan teman-teman di teras rumah.

Aku sering ajak anak-anak outing dan traveling di waktu libur akhir pekan atau libur sekolah.
Silaturahim bersama para sepupun di alam terbuka juga menjadi pilihan aktifitas yang mengasyikkan bagi anak-anak.

Oh … indahnya … aku sering tersenyum mengingat ini semua tidak datang begitu saja. Bagaimana dengan anda?

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Doa Untuk Anak-Anakku

Standar

Anakku sayang …  Semoga engkau menjadi hamba Allah SWT seperti Nabi Ibrahim AS; Semoga engkau diberi hati yang ikhlas dan ridho atas segala karunia dari Allah SWT Yang Maha Cerdas; Semoga engkau menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa dengan kecerdasanmu sebagaimana Ibnu Rusydi seorang ilmuwan muslim, ahli di bidang kedokteran dan ilmu pengetahuan

Anakku sayang …  Semoga engkau menjadi hamba Allah SWT seperti Nabi Muhammad SAW; Semoga engkau diberikan keberanian dan ketetapan hati dari Allah SWT Yang Maha Penjaga; Semoga engkau menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa dengan keteguhan pendirianmu sebagaimana Abu Hanifah seorang ilmuwan muslim, ahli di bidang hukum dan ilmu pengetahuan.

Anakku sayang … Semoga engkau menjadi hamba Allah SWT seperti Maryam Ibunda Nabi Isa AS; Semoga engkau diberikan ketinggian akhlak dari Allah SWT Yang Maha Mulia; Semoga engkau menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa dengan kelembutan dan kebaikan hatimu sebagaimana Al Kindi seorang ilmuwan muslim, ahli di bidang matematika, astronomi, dan ilmu pengetahuan.

Amin ya Rabbal’alamin …

Internasional Knowledge Sector Conference 2012

Standar

Masyarakat Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk menjawab tantangan ekonomi yang ada sehingga dapat memperkuat kesehatan dan pendidikan yang ada. namun, kenyataannya Indonesia belum menjadi tempat pilihan bagi investasi khususnya di bidang riset.

Australian AID menggagas sebuah kegiatan konferensi internasional bertajuk ‘The Knowledge Sector Conference 2012 : Tracing Indonesia’s New Path Revitalising Knowledge to Reduce Proverty’ pada tanggal 2-4 Oktober 2012.

Pembukaan acara di hadiri oleh Duta Besar Australia, Jacqui De Lacy (AusAID Indonesia), Prof.Dr.Pratikno,M.Soc.Sc (UGM), Anies Rasyid Bawesdan Ph.D (Universitas Paramadina), Dr. Denny Indrayana. Prof. Dewi Fortuna Anwar Ph.D, Prof. Fasli Jalal Ph.D, Edwin Utama, Rizal Sukma, Nicolas Ducote (Buenos Aires, Argentina), Martine Letts (Lowy Institute Australia), Yuna Farhan, dan 50 partisipan perwakilan organisai LSM, perguruan tinggi, dan lembaga riset seluruh Indonesia.

Tanggal 2 Oktober bertepatan dengan hari Batik Nasional diapresiasi oleh para peserta termasuk Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty tampil dengan busana batik. Jadilah ruang ballroom hotel Aryaduta Jakarta menjadi semarak dengan aneka ragam batik Indonesia.

Greg Moriarty menjadi pembicara kunci dan menyampaikan tema ‘Indonesia at the Crossroads’ – Indonesia dipersimpangan jalan. Kondisi Indonesia saat ini adalah waktu yang tepat untuk segera meningkatkan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi sehingga memberikan manfaat dan kesempatan kepada semua orang. Masyarakat Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk menjawab tantangan ekonomi yang ada sehingga dapat memperkuat kesehatan dan pendidikan yang ada. Namun, kenyataannya Indonesia belum menjadi tempat pilihan bagi investasi khususnya di bidang riset, karena Indonesia masih dalam posisi kritis. Indonesia perlu meningkatkan alokasi dana riset terutama dana pendidikan agar sistem pendidikan menjadi lebih baik dan mampu menjawab tantangan yang ada.

Rektor Universitas Paramadina Anies Rasyid Bawesdan mengungkapkan bahwa dalam pendidikan ada jurang yang cukup dalam antara teori dan implementasi. Sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar, Anies menggarisbawahi bahwa harus melibatkan masyarakat luas untuk bisa menjangkau masyarakat berbasis pengetahuan. Pendekatan progmatik dimana masyarkat ikut berperan serta dalam hal ini. Indonesia membutuhkan kepemimpinan dan pemimpin harus memiliki karakter yang kuat, bukan sekedar bergelar akademik saja. Pemimpin harus memiliki keberpihakan kepada masyarakat terutama yang masih miskin serta jauh tertinggal dari sisi pendidikan dan kesehatan.

Sesi pertama diskusi dimoderatori oleh Irma Natalia Hutabarat dengan tema ‘Knowledge and Indonesia’s Future Prosperity’.  Pengetahuan dan kemakmuran masa depan Indonesia adalah untuk menyoroti mengapa pengetahuan (berinvestasi dalam pendidikan dan penelitian) adalah penting untuk pembangunan masa depan Indonesia itu. Sesi ini dapat mencakup topik seperti mengapa pengetahuan adalah penting, keadaan saat ini investasi Indonesia dalam penelitian dan sumber daya manusia, penelitian Indonesia dan sumber daya manusia dalam konteks global.

Desi Anwar dari Metro TV menjadi moderator pada sesi kedua dengan tema ‘Democracy and Debate : The Role of  Knowledge’.    Demokrasi dan perdebatan peran pengetahuan adalah untuk memajukan diskusi tentang mengapa khowledge (berinvestasi dalam pendidikan dan penelitian sangat penting bagi masa depan pembangunan Indonesia, peran negara sebagai bagian dari proses pembuatan kebijakan di Indonesia, peran negara di dunia penelitian, mengapa penelitian ini penting dalam pembuatan kebijakan, dan contoh bagaimana pengetahuan telah digunakan untuk menginformasikan pembuatan kebijakan.

Pada sesi acara hiburan ditampilkan atraksi menarik dari komunitas Saung Angklung Udjo. Seluruh peserta turut serta bermain angklung dan ’suprais’ … angklung yang digunakan saat bermain boleh di bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Hari kedua dan ketiga dilanjutkan dengan workshop bertema ‘The Knowledge Sector : Developing Influential Think Tank at A Glance’. Para penyaji internasional berbagi pengalaman tentang perkembangan pendidikan dan penelitian di negara masing-masing. Hasil diskusi bersama selama tiga hari dituangkan dalam bentuk gambar grafis yang sangat menarik. Selain penyaji internasional, tampil juga teman-teman dari Warsi, Fitra, Smeru, Akatiga, LP3ES, UGM, CSIS, Pattiro, dan Mitra Samya.

Aku, berpose sejenak di depan hasil karya Deni dari Grid. Sebagai salah satu peserta yang diundang AusAID mewakili Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon bersama Nurul Huda

Sesi berbagi di fasilitasi agar muncul ide-ide dari para peserta tentang bagaimana sektor pengetahuan dapat memiliki posisi yang kuat dalam proses pembuatan kebijakan publik. salah satu sesi adalah penampilan masing-masing kelompok dengan desain baju / kostum yang mencerminkan nilai-nilai yang akan diusung seperti kerjasama, keandalan, partisipasi, independen, mandiri, tahan banting, sukarela, konsistensi, stategi unik, riset mumpuni, dukungan masyarakat, saling menguatkan, berjejaring, dan berbasis pengetahuan lokal.

Presentasi Warsi tentang penelitian suku anak dalam di Jambi.

Antonia Mutoro dari IPAR Rwanda berbagi pengalaman kepada para peserta workshop. Aku berkesempatan memberi Antonia hadiah buku yang ku tulis bersama tiga teman-teman peneliti Fahmina Institute berjudul Bukan Kota Wali.

Prof. Arun Mahizhnan dari IPS Singapura menyampaikan pengalamannya dalam bidang penelitian kepada peserta workshop. Arun juga memberikan motivasi agar organisasi penelitian di Indonesia melek teknologi informasi seperti dengan membuat web atau memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter, dan lain sebagainya selain tetap menggunakan media utama seperti surat kabar, majalah, atau buku.

Peserta konferensi dan workshop sebelum berpisah menyempatkan diri untuk berpose bersama. ‘Keep smile and see you again’ …

Community Participation-Based Research Training

Standar
Community participation-based research training

“Bu … punya anak gadis di rumah?” Pertanyaan pembuka yang menggelitik dan juga ampuh sebagai pendekatan komunikasi antara peneliti lapangan dengan warga.

Pengalaman nyata ini dialami oleh seorang dosen ISIF (Institut Studi Islam Fahmina) Cirebon yang sedang menjalani tugas sebagai peserta Short Course Partisipatory Action Research (SC PAR) 2012 di Desa Cigugur – Kuningan Jawa Barat. Sarip, SH membuka dialog akrab dengan warga yang menjadi target penelitian memang membutuhkan skill comunication yang khas, unik, dan membumi. Tugas field work untuk mendapatkan data yang diingkan bukanlah sesuatu yang mudah. Fasilitator SC PAR adalah Mahrus El-Mawa, MA dari ISIF Cirebon dan Koordinator fasilitator Ahmad Mahmudi dari Insist Yogyakarta

Demikian juga pengalaman seorang dosen STAIN Samarinda Kalimantan Timur yang mencoba berbagai pendekatan komunikasi agar dapat berakrab-ria dengan warga. Inayah, MA berusaha menguasai beberapa kosa kata bahasa sunda seperti ‘kumaha damang ?’ ’sumuhun’, ‘parantos’ ‘hatur nuhun’, ‘mangga’ sebagai perekat komunikasi. Lain dengan Sarip, SH yang harus ikut terjun ke sawahpun dilakoninya agar bisa berbincang dengan petani tentang permasalahan pengairan di desanya.

Peserta pelatihan diantaranya adalah Inayah, MA (tengah) dan peserta SC PAR 2012 lainnya sedang mempersiapkan presentasi hasil field work

Aku sedang meninjau kegiatan di temani panitia Farida Mahri, Asih Widiyowati, Alifatul Arifiati, dan Alimah.

‘Ini bukan soal buku, ini soal lapangan’, tutur Ahmad Mahmudi berulang kali. Peneliti senior di Insist Yogyakarta yang menemani 25 peserta pelatihan dari PTAI seluruh Indonesia. Hal mendasar yang membedakan penelitian positivistic dengan PAR adalah seorang peneliti harus menggunakan semua inderanya dan life in (hidup bersama warga) di lingkungan yang sedang ditelitinya. Buku digunakan sebagai rerefensi pembanding : sedangkan teori yang sebenarnya adalah praktik / kenyataan yang terjadi di lapangan.

Sekilas  Desa Cigugur – Kuningan

Aku berkesempatan menjadi peninjau kegiatan SC PAR 2012 di sebuah desa di kaki gunung Ciremai. Pusat kegiatan berlangsung di Paseban Tri Panca Tunggal yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Lokasi yang asri, nyaman, sejuk, segar, dan tenang membuat saya juga para peserta betah dan tak bosan mengikuti beragam kegiatan yang padat. Peserta yang berjumlah 25 orang tinggal di rumah-rumah warga. Selama 2,5 bulan mereka melakukan berbagai aktifitas terkait PAR.

Suasana cottage di tepi situ Paseban

Pemandangan indah memberi nuansa tersendiri terutama semangat bagi peserta juga panitia

Pintu utama Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur – Kuningan yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional

Kolam teratai yang dihiasi ornamen cantik di dalamnya terdapat ikan kancra hideung (ikan mas hitam) yang serupa dengan ikan di balong Cigugur, balong dalem Jalaksana, balong Cibulan, balong Linggarjati (semuanya kolam alam di kaki gunung Ciremai)

Lelamah atau aula besar tempat peserta dan panitia berkumpul berbagi hasil temuan lapangan

Desa Cigugur – Kuningan adalah contoh nyata penerapan kerukunan beragama dalam kehidupan bermasyarakat, sejak jaman awal Indonesia merdeka. Hal ini diungkapkan oleh Hj. Tuti Sulastri, SH. MH dosen di Unswagati Cirebon yang juga cucu dari Kuwu Cigugur Bapak Rongkah Sastrasasmita. Lekat dalam ingatannya betapa rukun dan damai kehidupan di desa Cigugur saat ia kanak-kanak (sekitar 60 tahun yang lalu). Warga beragama Islam bertetangga dengan warga beragama Kristen juga warga penganut kepercayaan berdampingan saling bahu membahu dan tolong menolong. Bila ada salah seorang warga mendirikan rumah, maka gotong royong dilaksanakan tanpa melihat agama. Persaudaraan tetap terjaga, terutama saat ada warga yang terkena musibah seperti kematian. Terbukti, di pemakaman warga dekat Balai Desa tidak ada pemisah antara makam Islam dan Kristen.

Hal senada diungkapkan oleh Rama Pangeran Djatikusumah cucu dari Pangeran Madrais yang sekarang menjadi Pengurus Cagar Budaya Nasional mengatakan bahwa warga Cigugur adalah teladan kebhinekaan di Indonesia. Pesannya, ‘Janganlah usik kerukunan kami di sini … Kami telah merasakan damainya hidup berdampingan tanpa ada gesekan akibat perbedaan agama dan kepercayaan.’

Sekilas : Apa Itu Partisipasi?

Pendekatan pembangunan partisipatoris harus mulai dengan orang-orang yang paling mengetahui tentang sistem kehidupan mereka sendiri. Pendekatan ini harus menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, dan memberikan sarana yang perlu bagi mereka supaya dapat mengembangkan diri. Ini memerlukan perombakan dalam seluruh praktik dan pemikiran, di samping bantuan pembangunan. Ringkasnya diperlukan suatu paradigma baru. (J. Pretty dan Guijt, 1992 : 23)

Mampir membaca artikel menarik lainnya di sini:

Small Retail Store Design and Layout

Cara Asyik Belajar Membaca Untuk Anak

Standar

Ada baiknya orangtua berkaca diri! Apakah sebagai orangtua juga sudah memberi teladan kecintaan pada buku dan sudahkan menularkan hobi membaca pada anak-anak? Bila tidak atau belum optimal … Ya jangan salahkan anak bila mereka lebih memilih menonton siaran televisi atau bermain game online di komputer.Senang orangtua bila anak-anak hobi membaca. Namun … Seringkali orangtua bingung bagaimana memulai agar anak-anak mencintai buku dan menjadi ‘kutu buku’? Tantangan era digital seperti saat ini adalah maraknya tayangan televisi dan mudahnya akses internet.

Tayangan televisi dan gadget seringkali membuat anak-anak lebih memilih duduk manis menonton youtube, film kartun, sinetron, bahkan iklan di televisi dibandingkan asyik membuka buku cerita atau majalah. Terlebih bila akses internet sudah dikenal, anak-anak cenderung memilih memainkan jari-jari mungilnya diatas keyboard dan mata fokus ke layar monitor memainkan beragam games online yang bahkan digratiskan!

Yuk! Kita mulai sejak sekarang bersemangat untuk menularkan hobi membaca kepada anak-anak. Mulailah dari hal kecil dan dari diri sendiri.

Pertama : matikan televisi pada waktu sore hingga jam tidur anak. Fokus pada kegiatan bersama seperti makan malam. ngobrol tentang kegiatan siang di sekolah atau di kantor, sebelum tidur bacakan buku cerita anak atau bila sudah bisa membaca sendiri temani anak membaca buku sebelum tidur.

Kedua : tata buku yang sudah ada semenarik mungkin dan mudah dijangkau anak. Misalnya dibuat rak gantung di dinding kamar dan buku ditata menghadap depan sehingga cover yang menarik dapat terlihat anak. Bisa juga di kamar tidur anak dekat ranjang di sediakan box buku yang sewaktu-waktu bisa dibuka sendiri oleh anak untuk memilih buku yang akan dibacanya.

Ketiga : bila mengajak anak hangout cobalah ajak ke toko buku. Berlama-lama di toko buku dan biarkan anak bereksplorasi dengan memilih sendiri buku yang akan dibeli. Tunjukkan antusiasme kita sebagai orangtua kepada pilihan buku anak … cukup dengan mengatakan ‘Wah … Kaka pintar sekali memilih buku ini. Bagus ya … Yuk! Nanti di rumah kita baca bersama’ atau kalimat motivasi lainnya yang membuat anak makin tertarik untuk memilih jalan-jalan ke toko buku dibandingkan ke tempat lain.

Keempat : bila memiliki internet, mulailah untuk mengajak anak searching bahan bacaan dengan dibantu om google. Misalnya mencari tahu tentang hewan mamalia di laut, atau keindahan alam Indonesia, bisa juga tentang cerita rakyat dan sebagainya. Jadi internet tak melulu digunakan untuk bermain game online.

Kelima : sesekali duduk diteras pada minggu pagi atau sore hari, bawa buku favorit lalu membaca bersama sambil minum teh dan cemilan iringi juga dengan musik. Pasti kegiatan ini menjadi menarik dan anak akan semakin kaya dengan pengalaman membaca … bahwa membaca bisa dimana saja dan mengasyikkan.

Aku juga berusaha memberi teladan dengan senang membaca buku di rumah.

Buku seri Mio yang menarik karena isinya full color dan berisi cerita keseharian anak. Buku yang terbuat dari kertas karton tebal sangat cocok untuk anak yang masih kecil dan masih senang merobek kertas. Kindi memiliki warisan seri buku koleksi Penerbit Tira Pustaka yang bertahap dari buku karton tebal, buku pop-up, buku bermagnet, dan buku dengan gambar tanpa tulisan sampai buku dengan kalimat yang cukup panjang.

Rak buku dinding tempat menyimpan koleksi buku anak. Dinding menjadi lebih bermanfaat dan terlihat cantik dihiasi warna-warni cover buku yang menarik. Saat santai anak-anak diajak membaca buku dan rak buku di dinding yang mudah diakses anak. Buku seri Princess dari Penerbit Dar! Mizan menjadi salah satu favorit Kindi : apalagi ada tokoh Princess Aliyya yang merupakan nama tengahnya.

Mengajak anak hangout ke toko buku dan memilih sendiri buku yang disukainya.

Teteh dan Mas pernah ku ajak mampir ke toko buku Times di Perpustakaan Universitas Indonesia Depok setelah bermain sepeda di pinggir danau. Toko bukunya kecil namun tata ruangnya menarik. Di sana mereka berlama-lama memilih buku dan menikmati sekali suasana toko yang seperti perpustakaan.

Betah sekali Teteh di toko buku.

Saat berlibur ke Solo, pastilah anak-anak minta mampir ke toko buku Gramedia Solo. Tempat jalan-jalan favorit selain wisata kuliner bila sedang mudik ke rumah Eyangnya. Kebetulan saat Teteh mampir sedang dipajang tokoh kartun yang lucu ‘Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura’ karya Benny Rachmadi. Kaka sudah punya komik ini dan Teteh pun ikut-ikut membacanya walau cuma membaca gambarnya yang kocak.

Buku cerita bergambar seperti serial KKPK adalah salah satu seri favorit Teteh. Di toko buku Teteh sudah pasti akan segera berlari menuju rak khusus cerita anak. Dia akan asyik berlama-lama memilih … Dan akan senang bila ada plastik sampul buku yang terbuka, Teteh akan ‘ndemprok’ duduk di lantai dan membuka halaman demi halaman bukunya.

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Orangtua Sebagai Sahabat Remaja Di Era Digital

Standar

(kalau bukan kita siapa lagi ? remaja butuh diakui eksistensi dirinya, termasuk pergaulannya di dunia maya. orangtua sudah seharusnya menjadi sahabat pertama dan utama bagi mereka dan memahami bagaimana dapat memotivasi remaja untuk memanfaatkan internet secara positif. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Aku telah dikaruniai remaja laki-laki berusia 16,5 tahun dan 14,5 tahun. Kaka duduk di kelas 2 SMA dan Mas di kelas 1 SMP. Menurutku, Ibu, lebih khusus Ayah sangat berperan sebagai sahabat remaja laki-laki. Ayahlah yang seharusnya menemani mereka membaca rambu-rambu kehidupan. Bersahabat dengan orangtua bagi seorang remaja sangat penting artinya, sebagai remaja yang mengalami juga perubahan kejiwaan. Remaja tentu pernah mengalami rasa cemas dan rendah diri, maupun menemui masalah pergaulan dengan teman. Namun, semua itu dapat dilewati dengan baik karena sahabat terbaik adalah orangtua. Tempat belajar terbaik adalah rumah.

Bila teman-teman remaja masih belum menjadikan orangtua sebagai sahabat dan rumah sebagai tempat belajar, ayo mulai lah! Remaja seusia anakku ini makin banyak menemui godaan dan tantangan. Aku sudah bercerita tentang dampak buruk rokok, narkoba, televisi, dan candu ’games’. Satu lagi nih … Remaja adalah bagian dari komunitas ini, akan berhadapan dengan apa yang disebut dengan perilaku seks beresiko dan pornografi.

Media massa, baik cetak maupun elektronik dan jaringan internet telah dijadikan alat oleh sekelompok orang demi kepentingan bisnis –juga kepentingan besar- penghancuran moral generasi penerus bangsa. Maka tampaklah di perempatan jalan, di emperan trotoar, di toko buku, di kios koran, di warung internet, di rumah, di mal, di bioskop, di sekolah, di kantor, di kendaraan, di pesantren, di tempat ibadah, dimana-mana … pornografi dan perilaku seks beresiko.

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukkan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Undang-undang telah ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia.

Ketentuan yang diatur dalam undang-undang tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang bersumber pada ajaran agama juga melindungi setiap warga negara, khususnya perempuan, anak, dan generasi muda dari pengaruh buruk dan korban pornografi. Ya benar! Aku setuju, bahwa anak dan remaja paling rentan menerima pengaruh buruk bahkan seringkali menjadi korban. Maka, setiap orang khususnya orangtua, guru, dan pemerintah berkewajiban melindungi anak dan remaja dari pengaruh pornografi dan mencegah akses anak dan remaja terhadap informasi pornografi.

Dampak dari pornografi adalah terserapnya informasi yang salah dan merusak jaringan otak. Pikiran mempengaruhi perilaku. Bukan begitu teman ? Bila pikiran terkena racun pornografi maka perilaku seks beresiko adalah episode lanjutannya. Perilaku ini dilarang oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah memberikan jalan terbaiknya. Hubungan seksual hanya boleh dilakukan suami istri dalam perkawinan. Perkawinan yang harmonis, penuh cinta kasih, saling menyayangi, da melindungi antar pasangan. Bukan sembarang seperti binatang. Bila belum mampu, Rasulullah SAW memberi contoh teladan, berpuasalah!

Sebagai Ibu, aku berusaha menjadi sahabat anak remaja lelakiku. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk mengenalkan fungsi organ dan bagaimana mereka dapat menjaga dengan baik. Tak lupa aku ajak untuk menghormati juga fungsi hubungan sosial yang setara antar gender. Saling menjaga agar tak terjadi perilaku pelecehan baik secara fisik maupun psikis. Menemani mereka mengenal rambu-rambu bahaya di dunia maya juga menjadi konsentrasiku.

Gambar

Aku mengarahkan mereka untuk memanfaatkan dan mengkonsumsi internet secara sehat. Bila mereka membutuhkan informasi yang berguna untuk kehidupan mereka tentu kita patut mendukungnya. Situs yang baik ku perkenalkan dan aku juga memproteksi situs yang berbahaya bagi mereka. Tak lupa senantiasa ku berdoa agar mereka dikuatkan dan dapat terhindar dari berbagai tantangan dan rangsangan yang tak baik.

Silakan simak artikel menarik lainnya di sini:

Seminar Pengasuhan Anak di Era Digital

Standar

Narasumber Dewi Laily Purnamasari memberikan motivasi kepada peserta seminar agar sebagai orangtua senantiasa berkomunikasi dengan bijak kepada anak-anak. Ada tiga cara yang penting dan harus orangtua terapkan yaitu : (1) lebih banyak mendengar; (2) gali pendapat anak dan ajak anak untuk memecahkan masalahnya sendiri; (3) mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian. Anak-anak dengan rentang usia 0-14 tahun adalah penduduk asli era digital (digital native). Mau tidak mau – suka tidak suka … Orangtua di era digital haruslah melek ilmu tentang serba serbi dan baik -buruknya internet juga berbagai alat komunikasi.

Peserta seminar mencoba simulasi tentang cara komunikasi yang tidak bijak diumpamakan sebagai tajamnya tusuk gigi yang melukai apel. Betapa anak-anak kita jiwa-nya terluka bila kita tidak bijak dalam berkomunikasi dengan mereka. Seperti kita memberi labe / cap buruk, memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, dan menganalisa. Tips komunikasi efektif diantaranya : semangati anak untuk bercerita, motivasi anak untuk mengambil keputusan yang tepat, hindari kalimat negatif, bahasa yang mudah dipahami anak, perhatikan bahasa tubuh, jangan lupa bertanya, bila anak sedang emosi tunggu reda emosi anak.

Komunikasi bijak haruslah dimulai dari orangtua, berikan teladan karena teladan lebih dari seribu kata-kata. Era digital yang penuh tantangan tentu harus disikapi secara positif oleh orangtua. Komunitas orangtua yang peduli dengan dampak buruk internet perlu memahami tentang apa yang disebut ‘insan’ yaitu internet sehat dan aman. Internet sehat adalah gerakan untuk merespon dampak negatif dari penggunaan internet. Dampak negatif lebih ditujukan pada aktivitas dan perilaku seseorang dalam memanfaatkan internet. Sedangkan internet itu pun perlu ada pengamanan baik melalui software / perangkat lunak, hardware / perangkat keras, networking / jaringan, atau security / keamanan (tentunya ini lebih teknis sifatnya).

Ibu-ibu panitia yang bersemangat mengadakan kegiatan ini patut diacungi dua jempol. Oya … Peserta ada yang bertanya : ‘Bu … Bagaimana agar anak-anak tidak terlalu lama bermain game online juga playstation ?’ Wah … Pertanyaan menarik. Saya berpendapat, sesungguhnya kitalah orangtua yang seharusnya dapat mengendalikan perangkat digital tersebut. Ajak anak bernegosiasi tentang kapan mereka boleh bermain game online, apa permainan yang pantas. dan lama waktu bermain. Temani anak-anak ketika sedang bermain dan dalam sehari tidak lebih dari dua jam atau total dalam seminggu tidak lebih dari 14 jam. Lebih baik lagi bila orangtua dapat memberikan kegiatan yang lebih menarik seperti : membaca, menulis, bermain musik, melukis, menari, olahraga, bersilaturahim bersama keluarga, rekreasi alam, berkebun, memasak, menjahit, aktifitas sosial (seperti berkunjung ke panti asuhan atau panti jompo).

Alhamdulillah … Terimakasih panitia yang baik hati telah memberi kenang-kenangan yang manis.

Seminar pengasuhan, bertema cara bijak berkomunikasi dengan anak di era digital dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab orangtua sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.
 

Sejuta Cinta Dalam Setetes Asi

Standar

Tugas mulia seorang ibu adalah memberikan hak bayi untuk mendapat ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan memenuhinya hingga usia 2 tahun.

Hamil dan melahirkan anak ketiga di usia 37 tahun adalah perjuangan tersendiri buatku. Terlebih ada kista menempel di indung telur sebelah kiriku yang telah berukuran sekitar 4 cm. Pengalaman melahirkan anak pertama normal (namun mengalami fraktur tulang ekor sehingga tak bisa duduk nyaman selama hampir tiga bulan), dan harus dibius total saat operasi caesar kelahiran anak kedua yang terlilit plasenta, membuatku sangat yakin akan kekuatan cinta.

Cinta Illahi Rabbi, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ya Rahman … Ya Rahim … kepada hamba-Nya.

Pilihan operasi caesar untuk melahirkan anak ketiga sekaligus mengangkat kista telah dikonsultasikan bersama dokter kandungan yang menemaniku sejak terdeteksi kista hingga minggu terahir menjelang kelahiran. Aku juga mencari ’second opinions’ kepada dokter kandungan yang lain untuk mendapatkan opini lain, yang ternyata hasilnya sama : ’sebaiknya di operasi caesar sambil mengelurkan kista’. Aku ber-istikharah memohon kekuatan hati pilihan ini adalah pilihan terbaik untukku dan bayiku.

Operasi dengan ’spinal’ bius setengah badan saja. Bila proses melahirkan pertama dan kedua suamiku tidak diijinkan masuk ke ruang persalinan. Nah …  kali ini kebijakan rumah sakit mengijinkan (bahkan menganjurkan suami) untuk berada di ruang persalinan (termasuk di ruang operasi). Tentu aku sangat bahagia. Suami diharapkan akan  memberikan dukungan dan motivasi kepada  istrinya saat melewati saat perjuangan antara hidup dan mati. Perjuangan penuh darah.  Ya … benar-benar darah. Irisan pisau operasi, jahitan jarum dan benang paska operasi, serta rasa sakit tak terhingga.

Suamiku terus-menerus berdzikir bersamaku, menggenggam tanganku, duduk di sampingku selama dua jam lebih operasi. Mengadzani bayi kami, menggendongnya, dan mendekatkan ke tubuhku. Dua jam kemudian aku berada di ruang pemulihan kemudian kembali ke ruang perawatan. Bayiku langsung diantar ke kamar untuk belajar mengenal sumber makanan dan minuman pertamanya, ASI. Ah … pintarnya dia merayap, mencari, dan menemukannya. Mulut kecilnya mengecap, lidahnya bergerak, walau ASI belum keluar proses ini sangatlah penting bagi ibu dan bayi untuk bekerja sama membangun keberhasilan proses menyusui.

Sebelum gencar promosi dan aksi kembali ke ASI, saat kelahiran anak pertama aku telah bertekad memberikan ASI ekslusif 4 bulan pada tahun 1996. Ilmu yang ku tahu tentang menyusui adalah beri bayi ASI saja sampai empat bulan baru boleh memberikan MPASI (sari buah dan bubur susu). Begitu juga saat anak kedua ku yang lahir di tahun 2000 mendapat ASI ‘full’ selama empat bulan. Mereka berdua tetap aku beri ASI sampai sekitar usia 18 bulan. Nah … anak ketiga lahir saat usiaku di atas 35 tahun. Sempat khawatir ‘apa bisa yah memberikan ASI buat Teteh sebagaimana dengan Kaka dan Mas?’

Sekali lagi kekuatan cinta telah memberiku semangat ‘bisa!’ Insya Allah … dan Alhamdulillah ternyata bisa! ASI mengalir lancar, jumlahnya banyak dan memenuhi hak bayi ku sampai 6 bulan ASI ekslusif, lalu dilanjutkan sampai 2 tahun. Tepat dihari ulangtahunnya yang kedua, barulah Teteh disapih. Subhanallah … Proses menyapih yang sangat mudah, ‘hanya 24 jam saja’ tanpa kehebohan apapun, Teteh bisa lepas dari ASI.

ASI dan menyusui adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pencipta ladi Mahacerdas. Sebagaimana proses kehamilan dan melahirkan yang harus dijadikan pelajaran kehidupan. Proses menyusui juga fase penting dari kehidupan manusia. ASI adalah gizi terbaik yang telah dipersiapkan Allah Yang Mahabaik lagi Mahateliti di tubuh Ibu untuk bayinya. ASI adalah sumber makanan dan minuman super unggul bagi bayi baru lahir sekaligus mengandung zat yang dapat meningkatkan daya tahan Ibu dan bayi.

Kolostrum (cairan kuning kental yang pertama keluar) mengandung beragam zat yang tak ada di susu formula buatan manusia (secanggih apapun itu). Hal menarik lainnya adalah kadar ASI bisa berubah sesuai dengan fase pertumbuhan bayi. Bakteri pun tidak tumbuh di ASI saat disimpan pada suhu kamar selama enam jam, lain halnya dengan susu formula yang bisa terkontaminasi bakteri bahkan pada saat proses pembuatan dan penyimpanannya.

Fakta penting dan sangat menakjubkan adalah bahwa menyusui adalah proses ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahaadil. Ahli psikologi perkembangan sepakat bahwa anak-anak yang memperoleh  ASI dan disusui dengan benar oleh Ibunya memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial yang lebih baik. Mengapa? Karena sejak dini telah berinteraksi dengan penuh cinta bersama Ibunya. Apalagi bila saat menyusui Ibu memberikan stimulasi terbaiknya untuk bayi. Setetes ASI tak hanya berisi manfaat dalam kandungan gizi saja, namun lebih penting adalah sejuta cinta dalam setetes ASI.

Program laktasi pasca melahirkan di RS Premier Bintaro tahun 2007.

Baca juga artikel di link ini yuk!

Terpesona Ulama Perempuan

Standar

Aku tak menyangka akan berada di tengah-tengah tak kurang dari 70 orang ulama perempuan. Sebagian hafidzah (30 juz Al Quran). Setengahnya bergelar S1 dan S2, beberapa bahkan sudah S3. Fasih berbahasa Arab. Mereka sangat bersahaja dan istiqamah mengasuh pondok pesantren putri. Ijinkan aku menyebutkan sebagian dari mereka beserta pesona yang dipancarkannya.

Umi Hj. Afwah Mumtazah (hafidzah) pimpinan pondok pesantren Kempek Palimanan Cirebon, dosen berpendidikan S2. Ibu Kokom Nur Qamariyah pimpinan Majelis Taklim Al-Amin Garut. Nyai Hj. Ida Mahmudah pimpinan Pondok Pesantren Putri Darul Aitam Darusslam Blok Agung, Tegal Sari Banyuwangi, bergelar master pendidikan Islam. Neng Hannah Hakim, M.Ag, staf pengajar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pengasuh majelis taklim. Ibu DR.Hj. nurjannah Ismail, MA dosen IAIN di Aceh. Nur Rofiah, doktor dari Turki yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Institute PTIQ Jakarta. Nyai Roihanah Faqih pimpinan pondok pesantren Darussalam Sumbersari Kencong Pare Kediri. Teteh Ratu Vina Rohmah, M.Pd dari Serang Banten. Nyai Dewi Khalifah dari Sumenep Madura (mantan anggota DPRD). Mereka adalah ulama, posisi mereka dihormati dan pendapat mereka juga dianggap mengikat dalam berbagai masalah. Ya … ulama adalah pewaris para Nabi (Al-’ulama ‘waratsah al-anbiya’). Beberapa lainnya ada dari pondok pesantren di Jombang, Jember, Cianjur, Probolinggo, Lampung, Pandeglang, Tasikmalaya, Situbondo, Bondowoso, Ciamis, Pati, dan Sukabumi.

Aku tak henti berucap ‘Masya Allah – Allahu Akbar’. Terpampang jelas kiprah para ulama perempuan itu. Hati dan telinga mereka terbuka mendengarkan jeritan derita kaum perempuan yang teraniaya (ada korban KDRT, korban TKW, korban pendagangan manusia). Pikiran dan tubuh mereka bergerak mencari jawaban atas derita (bahkan harta pun tak segan di sedekahkan) sesama. Ada juga yang berjuang tak kenal lelah menembus daerah terpencil agar para ibu dan bayi dapat memperoleh persalinan aman. Juga mereka harus naik turun gunung mencapai sebuah majelis taklim yang mengundang. Petani perempuan, pedagang kecil, ibu-ibu di perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk kota mereka rangkul dalam cahaya Islam.

Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin : yang menjadi rahmat bagi semesta alam (terutama bagi kemanusiaan). Allah SWT berfirman “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Seusungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’. (QS. Al Hujurat 49 : 13). Dalam Al Quran dijelaskan “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At Taubah 9 : 71).

Aku tak lebih dari seorang santri kota yang sedang berkelana. Patut bersyukur ‘Alhamdulillah’ selama dua hari dapat menyerap energi baru yang dahsyat dari para ulama perempuan. Mereka memancarkan semangat sebagaimana para pendahulu mereka. Di masa Rasulullah SAW telah tercatat sejarah, istri beliau Aisyah, ra (Ummu al-Mu’minin / ibu orang-orang beriman) adalah representasi ulama perempuan. Aisyah, ra memiliki pengetahuan luas dalam bidang hadis, fiqh, tafsir, dan ilmu astronomi. Fatimah binti Muhammad SAW dan Ummu Darda’ adalah ahli fiqh yang dikenal dan disegani.

Semangat ini lahir dari tuntunan suci Allah SWT “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)  Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Ahzab 33 : 35).

Aku tak lekang dan terus terpesona ‘Subhanallah’ … rasanya ingin suatu waktu (entah kapan ?) menjadi santri dari para ulama perempuan di sebuah desa yang damai dan sejahtera.

Catatan : mengapa santri kota? Karena Aku, Dewi Laily Purnamasari seorang ibu dari tiga anak : Seumur hidup selalu tinggal di kota. Tamat sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, dan perguruan tinggi negeri. Belajar agama satu jam saja setiap minggu di sekolah. Tambahannya di sore hari mengaji dua kali seminggu. Sesekali ikut pengajian di masjid kampus atau majelis taklim. Aku berjilbab sejak usia 20 tahun. Belum pernah mondok di pesantren (hanya pesantren kilat saat Ramadhan).

Setahun setengah berguru di kader mubaligh Al Azhar. Lebih sering membaca sendiri Al Quran dan terjemahannya ditambah tafsir. Bila senggang membaca Hadits dan buku agama populer. Tak paham bahasa Arab. Baru hafal 20 surat dalam Juz Amma. Pekerjaan utamaku setelah menikah adalah ibu rumahtangga dan pekerjaan tambahannya sebagai arsitek dan dosen, pernah menjadi direktur akademi, masih menjadi peneliti di LSM, dan relawan posyandu / PAUD.

Ketika ku tuliskan artikel ini di FB, beberapa sahabat memberikan komentar yang membuatku sangat-sangat berterimakasih.

Alimah menuliskan, “Aku juga terpesona dengan penuturan hati sekaligus pengakuan tentang jati diri bu Dewi yang bagiku (sebentar tarik nafas dulu…), bagiku sebuah kejujuran yang bukan ‘tanpa apapun’, karena pengalaman ibu adalah pengalaman perempuan yang sudah ‘kaya’ berbuat ‘sesuatu’ tapi tetap ‘haus’ akan ‘sesuatu’. dan ‘kehausan’-mu akan ‘sesuatu’ membuat perempuan sepertiku tak ada apa-apanya. Begitupun pribadimu.” … Barakallah.

Aku mengomentari juga, “He3 … Aku mati kata deh! Wong semua fasih berucap ayat suci dan hadits juga mampu baca kitab kuning arab gundul. Sementara diriku : jaaauuuh … Namun itulah hikmahnya di undang Rahima,  dapat energi terbarukan, makasih ya.”

Maghfiroh memberi komentar, “Terharu membacanya Mbak, semoga pesantren dan stakeholdernya selalu menjadi pelindung untuk orang-orang yang tertindas… dan memang begitulah sejatinya pesantren didirikan….terus semangat santri kota… hehehe.”

Ada komentar menarik dari Amir, “Bapak Roosdi pernah bilang, umat Islam (waktu itu th 1970-an) tidak banyak yang berpendidikan tinggi. Maka anak-anaknya disekolahkan di ‘sekolah umum’, walupun juga atas pilihan masing-masing anaknya. Sekarang setelah anak-anaknya selesai sekolah, mudah-mudahan sudah menjadi nilai tambah bagi umat Islam sendiri.”

Lalu aku menuliskan juga, “Fenomenanya sekarang kita ‘santri kota’ kepingin anak-anak bisa hafidz Al Quran minimal juz 30 deh! (walau tak boleh patah arang untuk hafidz 30 juz). kita juga kepingin anak-anak kita jadi cahaya generasi Islami yang rahmatan lil ‘alamin …”

Seorang Hafifzah, Lia menuliskan, “Alhamdulillah … Semangat dan peran ulama perempuan untuk membela kaum tertindas dan terpinggirkan kian nyata. Ini harus dihargai dan di respon positif ya mbak. Ulama Perempuan lho! Mestinya saya hadir di semiloka itu kaerna saya diundang, juga alumni PUP I Rahima. Tapi sayang, karena ada udzur saya gak bisa hadir. Gak ketemu mbak Dewi deh!. Makasih tulisane ya.”

Komentar penyemangat datang dari Aminah, “Ka’ Semangat terus you are the best too as I saw you at the first sight.”

Terutama dari Direktur Rahima, Eridani, “Trims sharingnya mbak Dewi, bener deh…bertemu mereka sangat menambah pengalaman.”

Semangat juga dituliskan oleh Nurita, “Ayo terus Wi berkarya untuk kemaslahatan Islam, kita bina anak-anak kita untuk terus berkhidmat kepada Islam.”

Masjid Raya At Taqwa Cirebon, karya Rachmad Aziz M.

Simak artikel menarik lainnya di link berikut: