sirriyah roosdi ibu teladan dari kota solo

Standar

Gambar

(berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam dan aktif dalam kegiatan yayasan kanker indonesia cabang kota solo, juga pendiri yayasan marhamah, menjadikan ibunda sirriyah sebagai ibu profesional. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Ibunda dr. Hj. Sirriyah Roosdi, Sp.PD memang hebat. Saat usia telah menjelang 80 tahun tetap puasa Ramadhan, puasa syawal pun beliau kuat. Belum lagi berusaha tetap mengaji Al Quran sebelum dan setelah shalat. Tahajud dan dhuha sudah melekat. Silaturahim dan mencari ilmu bersama para sahabat. Aku saja yang setengah umur beliau tak selamanya semangat. Ah … malu hati ku jika sadar bisa saja ajal ku telah dekat. Lalu, apa yang akan jadi bekal ku kelak di akhirat ?
Sebagai dokter spesialis penyakit dalam dan istri dari DR. H. Roosdi Ahmad Suhada seorang dosen di Universitas Sebelas Maret Solo, tentu Ibunda cukup mendalami tentang hakekat kesehatan adalah berkah Allah SWT yang sangat berharga. Beliau begitu menjaga kesehatannya. Aktivitasnya di Yayasan Kanker Indonesia juga cermin dari kepeduliannya terhadap sesama. Berbagi kasih dengan para penderita kanker dan mendoakan mereka agar sabar menghadapi sakitnya. Ibunda pun menjadi bendahara Majelis Ulama Kota Surakarta mendampingi suami tercinta yang aktif sebagai sekretaris. Kolega dokter banyak yang menitipkan infak, shadaqah, dan zakat untuk kepentingan dakwah melalui Ibunda. Bahkan, salah seorang Ketua IDI Kota Surakarta sampai meneteskan airmata haru dan kagum, melihat semangat Ibunda (walau harus numpang becak) untuk menjemput ke rumah para donatur. Sungguh semangatnya sangat menginspirasi.

Keempat anak lelaki Beliau sukses dalam menempuh pendidikan. Anak sulungnya adalah dosen lulusan sarjana hubungan internasional yang juga bergelar magister manajemen. Anak kedua berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Anak ketiganya seorang arsitek yang juga bergelar magister manajemen. Anak bungsu Beliau seorang ahli geologi.

Pengajian rutin diadakan oleh Ibunda untuk memberikan wadah bagi para pencari ilmu. Ibu-ibu tua, muda, dari berbagai kalangan hadir dalam pengajian yang diadakan setiap minggu. Ibunda juga tak malu-malu tetap belajar tafsir Al Quran, bahasa Arab, dan membaca buku agama (yang beberapa kali minta aku membelinya di Jakarta). Pepatah bahwa mencari ilmu harus terus menerus hingga kelak masuk ke liang kubur, sungguh dijalankan dengan istiqamah oleh Ibunda.

Ketika liburan di Solo, aku kerap diminta mengantar Beliau menghadiri pengajian di beberapa tempat. Aku ingat pernah ke pengajian KH. Ali Darokah Ketua MUI Kota Surakarta (Beliau menjadi penceramah ketika aku ‘ngunduh mantu’), juga ke tempat Ngruki dekat pesantren Abu Bakar Ba’asyir. Pernah juga ke SMP Batik, di beberapa Pesantren dan rumah teman-teman Beliau. Saat Aku menyetir mobil, Ibunda akan bercerita sambil tertawa. Beliau memang ceria dan ramah.

Hari itu, di akhir bulan September  2010 hati ku sungguh terharu :  ”Aku ingin ke ‘kolah’ sama mba Dewi.” di ucapkan saat terbaring lemah di ICU. Oh … aku sangat tersanjung dan berterima kasih telah jadi menantu. Dalam komunikasi sangat terbatas beliau ingat aku. Doa ku persembahkan : “Ya Allah … sayangilah Ibunda Siriyyah sebagaimana beliau menyayangi ku.” “Ampunilah segala kesalahannya dan terimalah segala kebaikannya. Kelak tempatkan beliau di keindahan surga-Mu.” Maafkan aku bila belum bisa berada di sana. Menemani berdzikir kepada Yang Maha Kuasa. Pemilik segala ketentuan bagi hamba-hamba-Nya. Namun, aku sangat yakin akan segala Kasih Sayang-Nya. Akan selalu dilimpahkan kepada Ibunda Siriyyah tercinta.

Siang ini matahari bersinar hangat. Menerangi kembali kenangan bersama Ibunda yang sangat melekat. Ibunda mertua yang dihadiahkan Allah menjadi sahabat. Selama limabelas tahun aku merasa ikatan batin yang sangat dekat, sangat erat.  Para pelayat tidak hanya para pejabat, kerabat, dan kolega. Hati sangat terharu : diantara mereka ada anak yatim dan dhuafa. Mereka, setiap minggu mengaji dan menggali ilmu bersama. Kasih sayang Ibunda pada mereka dicurahkan lewat berbagi harta juga doa. Ibunda ingin kelak mereka hidup mulia. Ibunda ingin duduk dekat ’sebagaimana jari tengah dan jari telunjuk’ bersama Rasulullah SAW tercinta di surga-Nya, amin …

Pesan Ibunda : Berbagi ilmu membuat kita lebih cerdas; Berbagi harta membuat kita lebih kaya; Berbagi bahagia membuat kita lebih mulia; Berbagi kemuliaan hati (cinta dan kasih sayang) pada sesama juga alam semesta membuat kita lebih di sayang Allah SWT. Teruslah memohon kebaikan kepada Yang Maha Baik; Walau tak diberi-Nya di dunia; Di akhirat kelak pasti kita terima.

Perjuangan seorang Ibunda tiada henti.  Terus berusaha memberi yang terbaik bagi lahirnya generasi unggul. Calon pemimpin di masa datang. Pemimpin yang rahmatan lil ‘alamin serta ber-akhlakul karimah.  (pemimpin yang menjadi rahmat bagi manusia dan alam semesta, serta berkepribadian luhur).Hidup penuh inspirasi. Itulah kebahagian dalam menjalani hari-hari sepanjang hidup kita. Sebagaimana telah diwahyukan “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. Al Baqarah : 269).

Inspirasi dalam hidup adalah mendapat al hikmah dari seluruh episode dalam hidup ini. Pasti ! tak selamanya rasa manis kita dapatkan. Walau demikian rasa pahit, asin, asam pun tentu kita butuhkan untuk menjadikan kita manusia berkualitas. Bersyukurlah kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesenangan, kemakmuran, kecukupan, kesehatan, kesempatan, juga untuk pemberian-Nya berupa kesedihan, kesakitan, kekurangan, kesempitan. Karena dengan bersyukur itulah akan terbuka betapa benar Al Quran sebagai tuntunan hidup di dunia sampai di akhirat kelak. Bahwa kita tak akan merugi bila mampu mensyukuri seluruh apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Hari ini ingatan-ku menelusuri jejak detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun bersama ibunda. Kurasa betapa limpahan cinta, kasih, sayang, perhatian, pengorbanan, dan segala yang terbaik telah dari-mu adalah cermin cinta Illahi. Tak pernah pamrih, tak minta dibalas, tak perlu imbalan. Maafkan daku Ibunda. Bila waktu-ku tak memenuhi ruang kerinduan-mu. Bila raga-ku tak kuasa memenuhi segala keperluan-mu. Bila ucap kata-ku tak menggembirakan-mu. Bila kini Ibunda telah berada dalam rengkuhan Cinta Illahi di surga-Nya yang terindah,

1303868147902849782

Lalu, apa yang dapat daku berikan pada-mu Ibunda? Do’a ini daku panjatkan sepenuh jiwa : ‘Ya Allah … Yang Maha Pengasih dan Penyayang … Ampunilah dosa hamba dan dosa orang tua hamba. Limpahilah mereka dengan Kasih dan Sayang-Mu di dunia dan di akhirat kelak. Sungguh kasih dan sayang mereka kepada hamba tiada terkira’. Amin Ya Rabbal ‘alamin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s