perang melawan internet

Standar

Gambar

(buku wikinomics ditulis oleh don tapscott menginspirasi untuk terus melangkah maju dalam era digital. kemajuan di bidang teknologi, ekonomi, bisnis, industri kreatif, pendidikan, dan bidang kehidupan lainnya adalah sisi baik dari era wikinomic. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Setelah selama lima hari merasakan kembali hidup tanpa internet (dan ternyata baik-baik saja he3 …). Tepat tanggal 1 April 2013, aku melahirkan satu blog baru di https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/. Bukan karena kecewa dengan blog keroyokan  http://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/, namun lebih dimotivasi oleh anak sulung ku yang lebih awal sebulan membangun blog di http://ibrahimrusydi.blogspot.com/. Migrasi lebih dari 300 tulisan di kompasiana menuju wordpress ternyata cukup melelahkan namun penuh keasyikan (plus ada sensasi gairah tersendiri hi3 …).

Hari ini Rabu adalah waktu khusus untuk membaca buku. Setelah mengaduk-aduk tumpukan buku aku pilih buku bersampul putih dengan nuansa biru dan perak. Judulnya singkat saja ‘wikinomic’ : kolaborasi global berbasis web bagi bisnis masa depan, ditulis oleh Don Tapscott penulis buku laris ‘the digital economy. BIP kelompok Gramedia menerbitkannya pada tahun 2008.

Cara membacaku kadang tak biasa. Selain judul dan biografi penulis, aku sangat senang melihat daftar isi lalu memilih bab atau judul bahkan sub tema yang paling menarik (tentu menurut penilaianku loh …). Kali ini aku pilih justru halaman 343 dengan sub tema ’sisi gelap wikinomics’. Don melihat kecenderungan demokratisasi internet sebagai kekuatan positif yang memperluas akses ke pengetahuan, kekuatan, dan peluang ekonomi. Sedangkan kritik melihatnya sebagai penipisan budaya, musuh keahlian, serta penghancur kekayaan dan kemakmuran.

Scott Hervey, seorang veteran pengacara hiburan menyatakan, ‘mereka ingin dapat menikmati konten tanpa iklan, mereka tertarik menemukan musisi baru yang tidak ditekan oleh perusahaan rekaman besar, dan mereka menikamati melihat rekan sebaya mereka. mereka memiliki cita rasa yang berbeda atas hiburan. ini adalah hit and bites yang jauh lebih sedikit’. Dan pernyataan Scott adalah mewakili aku yang sangat merasa terganggu ketika menonton televisi alih-alih menyaksikan berita terkini, malah dijejali oleh iklan … iklan … dan iklan. Ketika ingin menikmati lagu ternyata diselingi dengan iklan .. iklan … dan iklan.

Satu lagi nih … Veteran komentator teknologi Victor Keegan menyampaikan pemikirannya, ‘kita kini hidup di era digital dengan ketersediaan instan dan murah, remiks, dan kreativitas massal, dengan peningkatan jumlah kreator yang siap memberikan layanan dengan gratis (seperti yang banyak dilakukan oleh gerakan opensource). kita memerlukan regulasi baru untuk sebuah era baru, sebelum kita menyerah pada permintaan produsen saat mereka berusaha menempatkan peraturan kejam menjelang kedatangan penembak ke dunia lama. ekonomi kreatif sangat penting. tetapi cara memupuknya adalah dengan mengikuti angin revolusi informasi dan bukan keinginan korporasi yang sudah eksis untuk melindungi model bisnis yang sudah dijungkirbalikkan oleh revolusi yang berlangsung di hampir tiap industri kreatif’. Wah … Sangat setuju dengan Keegan. Itulah sebabnya aku membuat blog juga menulis catatan di jejaring sosial dan menjadi ‘guru’ kelas diskusi online di sebuah komunitas ibu ibu doyan nulis, juga mendirikan komunitas ibu ibu anti korupsi.

Pengetahuan yang aku sampaikan di ‘dunia maya’ adalah gratis. Walau untuk menuliskan satu paragraf ternyata butuh membaca satu atau lebih buku, harus jalan-jalan dulu menyerap suasana lingkungan, bisa juga satu tulisan adalah hasil kerja tiga hari dalam program workshop. Satu saja yang belum aku lakukan : mengunggah rekaman video ke youtube. Gambar atau hasil jepret kamera sudah bertebaran di blog dan jejaring sosial. Tak salah jika menyangkut internet, Hollywood dan banyak perusahaan telekomunikasi tetap bersaudara (loh … kok bisa ?). Mereka menghadapi dilema inovator dan mereka melihat internet sebagai hewan buas yang perlu dijinakkan. Atau malah diperangi ?  Wow … Mungkin itu sebab aku dan ketiga anakku akhir-akhir ini sedang asyik mengunggah film lewat internet ’saja’ dan tidak pergi ke bioskop. Anak bungsu ku sangat senang menonton mickey dan minnie juga strawberry shortcake di youtube. Anak kedua ku senang membaca komik conan juga ternyata ada di situs internet.

Telekomunikasi berada dalam kondisi berantakan. Di dunia telepon internet gratis, sumber utama pendapatan mereka akan lenyap. Pendatang baru seperti skype kini mendominasi (Nah … Kalau yang ini juga aku belum mencobanya. Ha3 … Kalah dengan teman anak bungsu ku yang setiap akhir pekan selalu skype-an dengan ibu-nya yang tinggal di Amerika sedangkan dia dan adiknya tinggal di Jakarta bersama nenek-nya). Kendati jalur telepon kabel tidak akan menghilang dalam satu malam, hal ini kelak pada suatu saat akan terjadi. Aktivitas bertelepon akan gratis. Oh … Apakah aktivitas menonton televisi juga akan tanpa iklan ? Duh … Sungguh berharap.

Vint Cerf, seorang pionir internet mengingatkan, ‘dampak sosial dan keberhasilan ekonomi internet di banyak hal terkait langsung dengan karanteristik arsitektur disainnya’. William Smith, CTO di BellScouth mengusulkan skema pengenaan biaya sebagai imbalan atas pemberian prioritas lalu lintas ke salah satu vendor web ditengah lalu lintas pesaing. Skema ini berpotensi menghancurkan internet. Ancaman yang dapat memadamkan inovasi yang telah memicu berbagai bisnis baru. Ini bukan sekedar perang melawan internet. Ini perang melawan pembangunan ekonomi, perang melawan daya saing dan perang melawan inovasi dan masa depan.

Wah … Ternyata lima hari tidak ber-internet ria karena berada di luar kota tanpa alat komunikasi (hanya berbekal telepon genggam CDMA standar) tidaklah menafikan bahwa pada akhirnya publik dan teknologi akan tetap bergerak maju. Tentu saja ketiga anakku adalah ‘digital native’ yang menjadi penduduk asli di era digital ini. Aku tak akan memerangi internet ’sure I’m promise’. Justru akan menjadi internet sebagai salah satu karunia hebat dari Allah Yang Maha Agung untuk kebajikan bersama. Internet sekedar alat bukan ? Kita manusia-lah yang harus mampu memanfaatkannya untuk kemashlahatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s