sejuta cinta dalam setetes asi

Standar

13594279331410664137

(tugas mulia seorang ibu adalah memberikan hak bayi untuk mendapat asi secara eksklusif selama 6 bulan dan memenuhinya hingga usia 2 tahun. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Hamil dan melahirkan anak ketiga di usia 37 tahun adalah perjuangan tersendiri buatku. Terlebih ada kista menempel di indung telur sebelah kiriku yang telah berukuran sekitar 4 cm. Pengalaman melahirkan anak pertama normal (namun mengalami fraktur tulang ekor sehingga tak bisa duduk nyaman selama hampir tiga bulan), dan bius total untuk operasi cesar anak kedua yang terlilit plasenta, membuatku sangat yakin akan kekuatan cinta.

Cinta Illahi Rabbi, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ya Rahman … Ya Rahim … kepada hamba-Nya.

Pilihan operasi cesar untuk melahirkan anak ketiga sekaligus mengangkat kista telah dikonsultasikan bersama dokter kandungan yang menemaniku sejak terdeteksi kista hingga minggu terahir menjelang kelahiran. Aku juga mencari ’second opinions’ kepada dokter kandungan yang lain untuk mendapatkan opini lain, yang ternyata hasilnya sama : ’sebaiknya dicesar sambil mengelurkan kista’. Aku ber-istikharah memohon kekuatan hati pilihan ini adalah pilihan terbaik untukku dan bayiku. Operasi ’spinal’ bius setengah badan saja. Bila proses melahirkan pertama dan kedua suamiku tidak diijinkan masuk ke ruang persalinan. Nah …  kali ini kebijakan rumah sakit mengijinkan (bahkan menganjurkan suami) untuk berada di ruang persalinan (termasuk di ruang operasi). Tentu aku sangat bahagia. Suami diharapkan akan  memberikan dukungan dan motivasi kepada  istrinya saat melewati saat perjuangan antara hidup dan mati. Perjuangan penuh darah : ya! benar-benar darah. Irisan pisau operasi, jahitan jarum dan benang paska operasi, serta rasa sakit tak terhingga.

Suamiku terus-menerus berdzikir bersamaku, menggenggam tanganku, duduk di sampingku selama dua jam lebih operasi. Mengadzani bayi kami, menggendongnya, dan mendekatkan ke tubuhku. Dua jam kemudian aku berada di ruang pemulihan kemudian kembali ke ruang perawatan. Bayi ku langsung diantar ke kamar untuk belajar mengenal sumber makanan dan minuman pertamanya, ASI. Ah … pintarnya dia merayap, mencari, dan menemukannya. Mulut kecilnya mengecap, lidahnya bergerak, walau ASI belum keluar proses ini sangatlah penting bagi ibu dan bayi untuk bekerja sama membangun keberhasilan proses menyusui.

Sebelum gencar promosi dan aksi kembali ke ASI, saat kelahiran anak pertama aku telah bertekad memberikan ASI ekslusif 4 bulan pada tahun 1996. Ilmu yang ku tahu tentang menyusui adalah beri bayi ASI saja sampai empat bulan baru boleh memberikan MPASI (sari buah dan bubur susu). Begitu juga saat anak kedua ku yang lahir di tahun 2000 mendapat ASI ‘full’ selama empat bulan. Mereka berdua tetap ku beri ASI sampai sekitar usia 18 bulan. Nah … anak ketiga ku lahir di usia ku di atas 35 tahun. Sempat khawatir ‘apa bisa yah memberikan ASI buat Teteh sebagaimana dengan Kaka dan Mas?’

Sekali lagi kekuatan cinta telah memberiku semangat ‘bisa!’ Insya Allah … dan Alhamdulillah ternyata bisa! ASI-ku lancar banyak dan memenuhi hak bayi ku samapi 6 bulan ASI ekslusif dilanjutkan sampai 2 tahun. Tepat di hari ulangtahunnya yang kedua, barulah Teteh di sapih. Subhanallah … proses menyapih yang sangat mudah : ‘hanya 24 jam saja’ tanpa kehebohan apapun, Teteh bisa lepas dari ASI.

ASI dan menyusui adalah kehendak Allah SWT Yang Maha Pencipta ladi Maha Cerdas. Sebagaimana proses kehamilan dan melahirkan yang harus dijadikan pelajaran kehidupan. Proses menyusui juga fase penting dari kehidupan manusia. ASI adalah gizi terbaik yang telah dipersiapkan Allah SWT di tubuh Ibu untuk bayinya. ASI adalah sumber makanan dan minuman super unggul bagi bayi baru lahir sekaligus mengandung zat yang dapat meningkatkan daya tahan Ibu dan bayi. Kolostrum (cairan kuning kental yang pertama keluar) mengandung beragam zat yang tak ada di susu formula buatan manusia (secanggih apapun itu). Hal menarik lainnya adalah kadar ASI bisa berubah sesuai dengan fase pertumbuhan bayi. Bakteri pun tidak tumbuh di ASI saat disimpan pada suhu kamar selama enam jam, lain halnya dengan susu formula yang bsia terkontaminasi bakteri bahkan pada saat proses pembuatan dan penyimpanannya.

Fakta penting dan sangat menakjubkan adalah bahwa menyusui adalah proses ciptaan Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi Maha Lembut. Ahli psikologi perkembangan sepakat bahwa anak-anak yang memperoleh  ASI dan disusui dengan benar oleh Ibunya memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial yang lebih baik. Mengapa ? karena sejak dini telah berinteraksi dengan penuh cinta bersama Ibunya. Apalagi bila saat menyusui Ibu memberikan stimulasi terbaiknya untuk bayi. Setetes ASI tak hanya berisi manfaat dalam kandungan gizi saja, namun lebih penting adalah sejuta cinta dalam setetes ASI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s