terpesona ulama perempuan

Standar

Aku tak menyangka akan berada di tengah-tengah tak kurang dari 70 orang ulama perempuan. Sebagian hafidzah (30 juz Al Quran). Setengahnya bergelar S1 dan S2, beberapa bahkan sudah S3. Fasih berbahasa Arab. Mereka sangat bersahaja dan istiqamah mengasuh pondok pesantren putri. Ijinkan aku menyebutkan sebagian dari mereka beserta pesona yang dipancarkannya.

Umi Hj. Afwah Mumtazah (hafidzah) pimpinan pondok pesantren Kempek Palimanan Cirebon, dosen berpendidikan S2. Ibu Kokom Nur Qamariyah pimpinan Majelis Taklim Al-Amin Garut. Nyai Hj. Ida Mahmudah pimpinan Pondok Pesantren Putri Darul Aitam Darusslam Blok Agung, Tegal Sari Banyuwangi, bergelar master pendidikan Islam. Neng Hannah Hakim, M.Ag, staf pengajar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pengasuh majelis taklim. Ibu DR.Hj. nurjannah Ismail, MA dosen IAIN di Aceh. Nur Rofiah, doktor dari Turki yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Institute PTIQ Jakarta. Nyai Roihanah Faqih pimpinan pondok pesantren Darussalam Sumbersari Kencong Pare Kediri. Teteh Ratu Vina Rohmah, M.Pd dari Serang Banten. Nyai Dewi Khalifah dari Sumenep Madura (mantan anggota DPRD). Mereka adalah ulama, posisi mereka dihormati dan pendapat mereka juga dianggap mengikat dalam berbagai masalah. Ya … ulama adalah pewaris para Nabi (Al-’ulama ‘waratsah al-anbiya’). Beberapa lainnya ada dari pondok pesantren di Jombang, Jember, Cianjur, Probolinggo, Lampung, Pandeglang, Tasikmalaya, Situbondo, Bondowoso, Ciamis, Pati, dan Sukabumi.

Aku tak henti berucap ‘Masya Allah – Allahu Akbar’. Terpampang jelas kiprah para ulama perempuan itu. Hati dan telinga mereka terbuka mendengarkan jeritan derita kaum perempuan yang teraniaya (ada korban KDRT, korban TKW, korban pendagangan manusia). Pikiran dan tubuh mereka bergerak mencari jawaban atas derita (bahkan harta pun tak segan di sedekahkan) sesama. Ada juga yang berjuang tak kenal lelah menembus daerah terpencil agar para ibu dan bayi dapat memperoleh persalinan aman. Juga mereka harus naik turun gunung mencapai sebuah majelis taklim yang mengundang. Petani perempuan, pedagang kecil, ibu-ibu di perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk kota mereka rangkul dalam cahaya Islam.

Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin : yang menjadi rahmat bagi semesta alam (terutama bagi kemanusiaan). Allah SWT berfirman “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Seusungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’. (QS. Al Hujurat 49 : 13). Dalam Al Quran dijelaskan “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At Taubah 9 : 71).

Aku tak lebih dari seorang santri kota yang sedang berkelana. Patut bersyukur ‘Alhamdulillah’ selama dua hari dapat menyerap energi baru yang dahsyat dari para ulama perempuan. Mereka memancarkan semangat sebagaimana para pendahulu mereka. Di masa Rasulullah SAW telah tercatat sejarah, istri beliau Aisyah, ra (Ummu al-Mu’minin / ibu orang-orang beriman) adalah representasi ulama perempuan. Aisyah, ra memiliki pengetahuan luas dalam bidang hadis, fiqh, tafsir, dan ilmu astronomi. Fatimah binti Muhammad SAW dan Ummu Darda’ adalah ahli fiqh yang dikenal dan disegani.

Semangat ini lahir dari tuntunan suci Allah SWT “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)  Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Ahzab 33 : 35).

Aku tak lekang dan terus terpesona ‘Subhanallah’ … rasanya ingin suatu waktu (entah kapan ?) menjadi santri dari para ulama perempuan di sebuah desa yang damai dan sejahtera.

Catatan : mengapa santri kota? Karena Aku, Dewi Laily Purnamasari seorang ibu dari tiga anak : Seumur hidup selalu tinggal di kota. Tamat sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, dan perguruan tinggi negeri. Belajar agama satu jam saja setiap minggu di sekolah. Tambahannya di sore hari mengaji dua kali seminggu. Sesekali ikut pengajian di masjid kampus atau majelis taklim. Aku berjilbab sejak usia 20 tahun. Belum pernah mondok di pesantren (hanya pesantren kilat saat Ramadhan).

Setahun setengah berguru di kader mubaligh Al Azhar. Lebih sering membaca sendiri Al Quran dan terjemahannya ditambah tafsir. Bila senggang membaca Hadits dan buku agama populer. Tak paham bahasa Arab. Baru hafal 20 surat dalam Juz Amma. Pekerjaan utamaku setelah menikah adalah ibu rumahtangga dan pekerjaan tambahannya sebagai arsitek dan dosen, pernah menjadi direktur akademi, masih menjadi peneliti di LSM, dan relawan posyandu / PAUD.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s