15 tahun lebih tak punya televisi

Standar

Gambar

(ternyata tak punya televisi-pun tetap baik-baik saja. masih banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan bersama anak-anak dan pasti lebih sehat, seperti berolahraga, bersilaturahim ke rumah kerabat, juga bermain di alam terbuka. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Siapkah kita meninggalkan televisi? Aku, Dewi Laily Purnamasasri dan suami punya pengalaman menarik : selama hampir 10 tahun tak memiliki televisi. Benda berbentuk kotak, dari ukuran layar 14 inci hingga ‘home theater’, flat atau cembung. Sahabat, televisi adalah benda kecil penuh tombol ‘remote controle’. Bayi usia setahunpun kerap menekan tombol-tombolnya. Sebab apa? Dia tahu jika tombol ditekan layar akan menampilkan gambar berpendar-pendar, suara hingar bingar,  dan orang-orang yang lebih tua darinya menjadi terpana berjam-jam.

Salahkah jika balita kita menjadi ‘maniak’ menonton televisi? Toh, kita pula yang mengajarkan mereka kebiasaan buruk itu! Lalu apa yang harus kita lakukan? Karena kami sangat tahu program televisi 90% lebih tak layak ditonton anak-anak kami. Anak pertama lahir tahun 1996 dan anak kedua lahir tahun 2000.  “Kasian deh kamu! Ibu kamu gak gaul. Masa kamu gak punya tv”, komentar teman-teman anak-anak kerap mereka sampaikan untuk merayu kami membeli televisi. (televisi hibah itu sudah waktunya masuk gudang : maklum televisi edisi jadul mungkin ada komponen yang rusak dan aku tak mau membetulkannya ke tukang servis hi3 …).

Aku dan suami berjuang menyiasati hal tersebut. Buku! Ya … sama-sama benda kotak. Berlembar-lembar halamannya juga penuh gambar, berwarna, dengan tulisan cerita yang sangat menarik. Saat anakku belum bias membaca. Maka kamilah ‘annoucher’ layaknya pembawa berita di televisi. Kami belajar ’story telling’ dan berperan seperti aktor dan aktris sinetron. Atau kami mencari gaya terbaik agar menarik serupa tokoh-tokoh kartun nobita, doraemon, naruto, avatar, bart simpson, dll.

Setelah mereka bisa membaca. Wow … jumlah buku kami melonjak cepat, karena mereka sangat lahap menyantap berbagai bacaan yang ada. Kecepatan membacanya membuat kami harus menyediakan anggaran khusus agar dapat membeli buku-buku bagi mereka. Ini pilihan hidup! Jika anak lain pergi ke mal minta makan KFC, MC Donald, Texas, Baskin and Robin, atau mainan mobil dan robot. Anak-anak mengajak kami duduk bahkan ‘jongkok’ berjam-jam di toko buku. Lalu pulang dengan masing-masing membawa satu buku.

Nah … cerita ini berlanjut menjadi momen yang mengharukan. Saat kami pindah ke sebuah perumahan tipe 21/72 dan bertetangga dengan keluarga-keluarga muda (anak-anak mereka usia balita / SD) anakku berkata, “Bu … kasihan deh! Masa teman-temanku gak punya buku cerita.” “Kenapa kasihan?” tanyaku. “Katanya buat makan dan bayaran sekolah aja susah. Mana bias beli buku”. Lanjut anakku. “Trus gimana dong?” tanyaku memancing ide mereka. “Buat perpustakaan aja Bu. Buku-buku kita boleh dibaca sama mereka. Gratis!” sambung mereka antusias.

Ya! Jadilah perpustakaan mungil di ruang tamu kami. Namanya ‘read’s house kindly’. Artinya rumah baca yang penuh kasih sayang. Lulu terjadilah ‘multiplayer effect’. Dulu, posyandu di lingkungan kami hanya menimbang, memberi makanan tambahan, dan imunisasi bagi balita. Kini, dua hari dalam seminggu ada kelas balita bermain sambil belajar. Daya tarik utamanya buku cerita bergambar milik anak-anakku.

Di garasi mereka lesehan bahkan tengkurap, asyik membuka buku. Sesi berikutnya baru diajak menggambar, menyanyi, menari, melipat, berhitung, menusun balok, membentuk plasitin, bertanam, bermain peran, atau berbasah-basahan dengan hujan buatan dari kran. Ibu-ibu yang mengantar tak sempat ‘ngerumpi’. Setumpuk majalah, koran, dan tabloid juga buku-buku kecil berisi informasi agama, kesehatan, dan pendidikan membuat mereka lebih tertarik untuk membaca. Jika belum selesai, buku boleh dipinjam selama satu minggu.  Paling laris tentu buku resep masakan. Ha … ha … ha … dan aku paling senang bila di kirimi hasil uji coba mereka.

Kesimpulannya, jika kita tak punya televisi kita tak akan mati kehabisan informasi. Masih ada buku, koran, dan radio. Kalaupun perlu punya televisi bersiaplah untuk ber-’jibaku’ menahan rayuan gombalnya. Sesi berita tak lebih dari 10% dari seluruh rangkaian program televisi. Jadi bersiaplah menyusun menu diet bagi keluarga kita. Agar tak mengalami ‘obesitas’ kegemukan yang tak sehat akibat terlalu sembrono mengkonsumsi siaran televisi. Tentu untuk sehat perlu perjuangan. Bukankah sehat itu

Iklan

6 responses »

  1. Setuju jika TV 90%nya tdk ada manfaatnya. Kalo buku 100% bermanfaat. Di rmh juga anak2 sdg dikurangi utk menonton TV, dan orgtua adalah role modelnya. Kebetulan saya dan suami juga sdh tdk terlalu suka nonton TV.

  2. wah, kalau saya, jujur tidak bisa menghindar dari televisi. karena televisi adalah media untuk melihat film (bukan sinetron). memang, saya akui, acara televisi sekarang banyak tidak memberikan hal positifnya. makanya itu, sesuai saran banyak pihak, anak saya yang usianya 18 bulan sudah saya biasakan baca buku sejak masih bayi. dan ternyata, memang dianya nggak terlalu tertarik liat tivi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s