diet siaran televisi

Standar

Gambar

(mengajak anak-anak ber-diet siaran televis ternyata gampang-gampang susah. begitu besar tantangan dan beragam godaan muncul. namun dengan komunikasi efektif orangtua dapat memotivasi anak-anak untuk lebih memilih beraktifitas positif seperti membaca buku atau bermain bongkar pasang balok dibandingkan menonton siaran televisi. ditulis oleh dewi laily purnamasari)
Apakah ada yang mau terkena obesitas? Tentu tidak! Apalagi jika obesitas jenis ganas, yaitu kegemukan akibat salah mengkonsumsi siaran televisi. Siaran televisi yang mengandung lemak jahat lebih berbahaya ketimbang lemak jahat penyebab tingginya angka kolesterol. Kolesterol tinggi menyebabkan penyakit jantung koroner, darah tinggi, stoke, bahkan kematian. Maka siaran televisi bisa menyebabkan kejahatan, stress, depresi, perkelahian, pelecehan, pemerkosaan, perceraian, sirik, bunuh diri, dan masih banyak lagi akibat negatifnya.
Selama hampir lebih dari selusin tahun aku tak punya televisi.
Cerita bermula saat tahun 2008 aku, Dewi Laily Purnamasari mendapat hibah televisi 29 inci. Si kotak hitam itu membuatku 99% stress karena harus berjibaku dengan keinginan anak-anak menonton. Aku buat resep sehat ‘diet siaran televisi’. Hari sekolah tak ada konsumsi siaran televisi. Hari sabtu – minggu hanya dua jam saja. Resep ini sungguh berat dilaksanakan. Bersyukur aku didukung oleh suami. Acara nonton bareng di hari libur pun tetap diselingi dengan olahraga (karate, jalan pagi, bersepeda, renang) dan silaturahmi ke tempat famili. Televisi dibuat tidak menarik karena tanpa remote. Pesaing televisi diperbanyak yaitu buku-buku bacaan, permainan edukatif, dan kita orangtua sebagai teman ngobrol / curhat anak-anak.
Anda mau coba? (oya resep ini berlaku juga untuk game komputer, playstation, dan sejenisnya). Tentu resep ini tak begitu saja tersaji. Ada rangkaian uji coba yang lucu bila ku kenang.
“Oh … no …! Thank’s deh. Kalau bisa tv-nya dibawa saja. Jangan ditinggal di rumah ini”, kata ku memelas. Adikku menjawab, “Rumah kami yang baru kecil Teh … Rasanya kurang pas dan mungkin tv 29 ini tidak muat. He … ditinggal di sini saja yah …”
Sepenggal percakapan itu mengawali momen kepindahan keluargaku ke rumah yang sebelumnya di tinggali adikku. Aku dan suami sangat berat menerima hadiah televisi itu. Sudah terbayang akan ada ucapan ’selamat menempuh hidup baru’ … bersama si-penggoda bernama televisi!
Godaan pertama datang menghampiri suami. Dia mulai menuangkan ide untuk memiliki antena tv yang lebih ‘oke’ agar gambar lebih jelas. Lalu, sebagai arsitek, dia menata ulang letak perabot dan fungsi ruang. Ada ruang tamu merangkap ruang keluarga, merangkap pula ruang ‘audio-visual’. Nah … tv kami akhirnya ‘nongkrong’ dengan gagah di atas meja kayu dilengkapi decorder televisi berlangganan. Tak lupa sofa, bantal-bantal empuk, dan kipas angin.
Godaan kedua datang kepada anak-anak. Mereka minta jatah menonton televisi. Selama ini -ketika tak ada tv- kami hanya punya jatah menonton film dari dvd. Film pilihan beserta waktu menonton pilihan. Mereka menonton atau bermain game pilihan di komputer dua jam hari Sabtu dan Minggu. Hari sekolah komputer mati! Komputer boleh hidup untuk mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan televisi siarannya tak selalu bisa dipilih. Begitupun waktunya. Bukan pilihan kita, bukan ? tapi televisi yang mengatur kita. Oh … apa yang harus ku lakukan ?
Godaan ketiga datang kepadaku. Beberapa kali aku harus menegur anak-anak karena di hari sekolah merajuk ingin menonton televisi. “Please Bu! Satu film saja … yah”, rayu Mas Hanif. Lalu Kaka Rusydi menambahkan, “Iya Bu, bosen nih!” Ooo … Rasanya aku ingin marah. Tahan … tenang … ambil nafas … he3 … begitulah beratnya dirayu anak-anak. Wajahku pasti terlihat jelek! Ya … aku cemberut. “Tidak!” jawab ku tegas. Kaka dan Mas balik cemberut. Muka mereka ditekuk … Ah … sore yang indah menjadi buram. Lain waktu di suatu pagi duka ku bertambah. Saat sibuk menyiapkan keberangkatan sekolah anak-anak di ruang makan. Eh … mereka asyik menonton televisi.
Aku tak mau ada godaan keempat, kelima, dan seterusnya. Ini harus dihentikan! Harus digantikan dengan suasana yang lebih baik. Di hari minggu pagi, semua sedang ceria. Aku utarakan ide untuk diet siaran televisi. Aku ajak anak-anak menyusun menu sehat. Layaknya menu sarapan dan bekal sekolah atau makan siang dan makan malam. Makanan dan minuman harus ‘halalan thoyyiban’ (halal dan baik), begitu juga dengan siaran televisi. Hanya program yang halal dan baik saja yang boleh dikonsumsi. Anak-anak ku ajak mengemukakan pendapatnya tentang manfaat dan  kejelekannya bila tak mampu menahan diri dalam menonton televisi. Mereka juga boleh mencari program yang sekiranya menurut mereka bermanfaat.
Menarik! Prosesnya mirip di gedung parlemen. Sesekali mereka protes. Bahkan Kaka dan Mas juga punya program pilihan yang berbeda. Aturan disepakati melalui proses negosiasi. Televisi boleh! Akhir pekan, Sabtu dan Minggu dua jam saja. Hari sekolah satu jam saja. Pilihan program di sepakati : sesuai usia anak dan remaja. Bila ada program berisi kekerasan, asusila, atau mengandung kata-kata buruk, Ibu boleh menghentikannya. Aku berusaha menyampaikan pemahaman bahwa : kita bersama-sama akan mengendalikan televisi, bukan televisi mengendalikan kita; televisi hanyalah salah satu sumber informasi dan hiburan; menu favorit kita tetap membaca buku.
Kini, televisi kami harus bersaing dengan dua lemari besar dan satu lemari kecil berisi koleksi buku-buku.  Dindingpun tak luput ditempel rak untuk menyimpan buku-buku anak ditambah satu rak majalah dan koran. Pagi hari, suami ku memutarkan siaran radio berisi siaran berita, ceramah agama,lantunan ayat suci Al Quran dan doa-doa. Sore hari, bila bosan datang menyerang, anak-anak memilih bermain sepeda, papan luncur, karambol, congklak, basket, catur, berlarian di taman, atau sekedar ‘ngobrol’ dengan teman-teman di teras rumah.
Oh … indahnya … aku sering tersenyum mengingat ini semua tidak datang begitu saja. Bagaimana dengan anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s