Monthly Archives: Mei 2013

ICT Workshop NGO Connection Day

Standar

Gillian Pearl membuka acara 1 Day ICT Workshop NGO Connection Day di kantor ASEAN Foundation.

Penjelasan tentang Windows 8 oleh team dari ASEAN Foundation. Partisipan yang telah mendapatkan pengetahuan tentang Windows 8 berfoto bersama.

Sehari sebelumnya pada tanggal  tanggal 15 Mei 2013 Microsoft Indonesia bekerja sama dengan ASEAN Foundation menyelenggarakan  acara Partisipan NGO Connection Day di hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Fahmina Institute Cirebon di wakili oleh Dewi Laily Purnamasari (member of board) untuk belajar bersama tentang manfaat ICT bagi perkembangan organisasi nirlaba.

Belajar tentang manfaat media social bagi NGO dalam meningkatkan jejaring baik dengan sesame NGO di tingkat nasional maupun internasional.

Direktur Jenderal Kementrian Kominfo menjadi pembicara kunci dan menekankan bahwa internet seharusnya dimanfaatkan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Internet sehat dan aman adalah tanggungjawab semua pihak.

Para narasumber diantaranya Andreas Ruddy Diantoro President Director Microsoft Indonesia, Makarim Wibisono Executive Director ASEAN Foundation, Ashwin Sasongko Director General of Informatics Application Ministry of Communication and Information Technology Indonesia, Mike Yeaton Vice President Techsoup Asia, Gillian Pearl Technology for Nonprofit Leads Microsoft Asia Pacific.

Program acara meliputi kata selamat datang dari Andreas Ruddy yang mengemukakan tentang percepatan Indonesia menjadi sebuah masyarakat berbasis pengetahuan. Ashwin Sasongko mengungkapkan bahwa internet dan teknologi informasi membangun komunitas masyrakat yang saling terhubung. Trend komputasi melihat ke depan dan pentingnya perangkat lunak asli bagi sector nirlaba diungkapkan oleh Tony Seno.

Silakan simak artikel menarik lainnya di sini:

Pahami Gaya Berpikir Anak Agar Tak Salah Asuh

Standar

Gaya berpikir merupakan perpaduan antara kemampuan otak dalam menyimpan informasi, baik secara sekuensil (teratur) maupun random (acak). Serta kinerja otak dalam mempersepsikan sebuah informasi, baik secara konkrit (apa adanya) maupun abstrak (ada apanya) sehingga diperoleh tipe gaya berpikir kombinasi yaitu : (1) Sekuensial Konkrit; (2) Sekuensial Abstrak; (3) Random Abstrak; (4) Random Konkrit.

Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi, Kaka saat berusia 15 tahun mengikuti tes gaya belajar dan gaya berfikir , selain tes IQ. Hasil tes IQ kaka adalah 112 (di atas rata-rata). Hasil tes gaya belajarnya  adalah Visual Auditori. Sedangkan gaya berpikirnya adalah Random Konkrit.

Aku akan menjelaskan tentang gaya berpikir ini. Kemampuan dasar Pemikir Random Konkrit (RK) mempunyai sikap eksperimental dan cenderung tidak terstruktur. Ia berdasarkan pada kenyataan tetapi ingin melakukan pendekatan coba-salah (trial and error). Ia mempunyai dorongan kuat untuk menemukan alternatif baru dan waktu bukanlah prioritas baginya.

Kaka dengan tipe RK dapat digolongkan ke dalam tipe penghubung intuitif yang berjiwa sebagai konseptor, visioner, dan kreatif, Ia sangat mementingkan konsep, visi, dan kreativitas. Cakap dalam pemikiran jangka panjang dan memiliki kepuasan besar dari membayangkan visi masa depan. Imajinasinya menstimulasi orang-orang di sekitarnya.

Semua orang adalah hebat! Semua orang adalah unik.

Nah … Keunikan ini tentu bermanfaat bila dapat dikelola dengan sebaik-baiknya. Aku sebagai orangtua jadi memahami : apa, mengapa, dan bagaimana berlaku agar dapat menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan Kaka. Aku jadi paham bahwa ia merasa sulit dengan batasan dan larangan, formalitas, rutinitas, atau melakukan pekerjaan yang telah selesai. Termasuk ia sulit untuk teliti dan mendetail, menunjukkan prosedur. Kaka juga sulit jika tidak memiliki pilihan. Hal ini menghindari aku agar tak terjebak untuk salah menilai. Kaka bukanlah orang yang tidak kompromis, tidak asosiatif, bukan pula keras kepala, atau terlalu banyak bertanya dan menuruti dorongan hati.

Beberapa kiat yang harus aku terapkan dalam berkomunikasi dengannya, yaitu:

  1. memiliki juga rasa humor,
  2. tidak memerintah tapi memberi ide,
  3. memberi kebebasan,
  4. selalu mengajak bekerjasama,
  5. berusaha menunjukkan hal yang sifatnya positif bukan negatif,
  6. tidak merasa terancam dengan sikapnya.
  7. serta memberikan alasan pada suatu hal, dan dapat mengembangkan ide dari batasan yang ada.

Aku jadi mengerti, mengapa kaka suka mengotak-atik barang-barang bekas menjadi mainan. Kaka bisa memasak secara otodidak dan enak sekali rasanya. Hasil gambar dan karya fotonya juga bagus. Menunjukkan kecerdasan visual. Kaka suka ngobrol karena cerdas auditori.

Kaka memandang dunia dari perspektif yang luas dan mampu melihat hubungan antar kekuatan yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Namun, orang lain dapat menjadi frustasi karena sikap acuh tak acuh. Kaka juga bisa menginterpretasikan investigasi dan tanya jawab sebagai sifat yang memusuhi. Aku memahami bahwa kaka disukai orang-orang karena ia kreatif, mandiri, humoris. Berkepribadian multidimensi dan memiliki intuitif. Hal itu didukung oleh sifat utamanya yaitu : kreatif, bekerja baik bila ada pengimbang, bertindak berdasarkan naluri, suka perubahan, dan menyukai hanya hal yang penting. 

Penting bagi orangtua dan guru untuk memahami gaya belajar dan gaya berpikir dari anak. Mengapa? Karena komunikasi dan hubungan baik sangat mendukung proses belajar dan keberhasilan mereka. Sangatlah tidak diharapkan kesalahan sikap dari orangtua dan guru yang menyebabkan anak menjadikan mereka terganggu bahkan kehilangan minat belajarnya.

Kaka, Mas, Teteh … Belajar saling memahami gaya berpikir masing-masing anak. Alhamdulillah … Sejauh ini mereka jarang sekali mengalami konflik komunikasi.

Yuk! Mampir membaca artikel keren lainnya di sini:

Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Standar

Allah Yang Maha Pengasih telah menciptakan seluruh alam semesta dan semua penghuninya. Setiap makhluk, termasuk manusia dihidupkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Dia-lah yang memberi dan menjaga kehidupan mereka hingga saat yang ditentukan. Dia-lah yang memberi makan, melindungi, dan jika mereka sakit maka Allah Yang Maha Mulia menyembuhkannya.

Al Quran yang diturunkan Allah Yang Maha Pemurah kepada manusia di antaranya adalah untuk memberikan petunjuk agar kita memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah Yang Maha Suci. ‘Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.’ (QS, Ar Rum, 30 : 20).

Kita sering menerima kartu undangan pernikahan dan di dalamnya terdapat kutipan ayat yang mengingatkan tanda-tanda kebesaran Allah Yang Maha Lembut. ‘Dan diantara tanda-tanda (kebesarannya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.’ (QS. Ar Rum, 30 : 21).

Dalam surat Ar Rum ayat 22-27 Allah Yang Maha Melihat memberikan petunjuk kepada kita agar memperhatikan berbagai kejadian di muka bumi ini. Kita diminta menjadi kaum yang berpikir untuk semakin merasa dekat dan tunduk kepada Allah Yang Maha Tinggi. ‘Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu, dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan pada siang hari usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.’

Ayat selanjutnya mengatakan, ‘Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setealah mati (kering). Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian, apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur). Dan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. Dan Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya, Dia memiliki sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.’

Allah Yang Maha Adil berfirman dalam surat Ar Rum ayat 46, ‘Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya, dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.’

Dalam rangkaian ayat-ayat di atas Allah Yang Maha Benar menyusunnya sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui, kaum yang mendengarkan, dan kaum yang mengerti. Lalu, kita berada di dalam golongan yang mana ? Semoga saja dengan terus memahami tanda-tanda kebesaran Allah Yang Maha Terpuji kita dapat menjadi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur serta memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.

Matahari, bulan, dan bintang serta seluruh alam semesta ciptaan Allah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa.
Lautan, danau, sungai, gunung, hewan dan pepohonan di bumi diciptakan Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.

Memahami Ayat-Ayat Allah

Standar

‘Dan katakanlah. “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.”‘ (QS. An-Naml, 27 : 93).

Fenomena yang kita saksikan saat ini di tengah masyarakat tentang perlakuannya terhadap Al Qur’an berbeda sama sekali dengan tujuan diwahyukannya Al Qur’an. Di dunia Islam secara umum sedikit sekali orang yang mengetahui isi Al Qur’an. Padahal Al Qur’an tujuan Allah Yang Maha Perkasa menurunkan Al Qur’an adalah sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat ke-52 : ‘(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Illah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.’ Atau dengan kata lain mengajak manusia untuk bertafakur.

Tafakkur Alam dalam Islam

Dalam Al Qur’an, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda alam, yang dengan jelas memberikan kesaksian akan keberadaan dan keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Tanda-tanda kebesaran Allah terdiri atas segala sesuatu di alam semesta ini yang memperlihatkan dan menyampaikan keberadaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh, kewajiban kita untuk dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah, sehingga dengan demikian kita akan mengenal Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Adil. Yang telah menciptakan dirinya dan segala sesuatu yang lainnya, menjadi lebih dekat kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Kuasa.

Allah Yang Maha Cerdas lagi Maha Mengetahui mengajak dalam berbagai ayat Al Qur’an kepada kaum berakal untuk memikirkan hal-hal yang biasa diabaikan orang lain, atau hanya dianggap suatu kebetulan juga keajaiban alam. ‘Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (serasa berkata) : “Ya Tuhan kami … tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”‘ (QS. Ali’Imran, 3 : 190-191).

Perintah untuk Melakukan Rihlah atau Perjalanan

Perjalanan untuk tafakkur dan tadabbur dilakukan kaum Muslim merujuk pada perintah dalam al-Qur’an, “Katakanlah, ‘berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh Allah maha kuasa atas segala sesuatu (Q.S. 29:20).

Dalam ayat lain dikatakan, “Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Q.S. 22: 46).

Islam merupakan agama yang sangat mendorong pemeluknya melakukan perjalanan (rihlah)—atau banyak juga yang mempergunakan istilah “safar” (yang juga berarti perjalanan). Dan semuanya dengan kemuliaan dan pahalanya masing-masing. Dalam sejarah Islam, terdapat kisah-kisah perjalanan yang dilakukan Nabi saw; perjalanan kafilah dagang di mana Nabi saw bertemu dengan pendeta yang mengetahui tanda-tanda kenabian; perjalanan hijrah Nabi saw dari Mekkah ke Madinah yang penuh perjuangan; perjalanan isra’ dan mi’raj dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsa lalu menuju sidrah al-muntaha, dan masih banyak lagi perjalanan yang dilakukan Nabi saw yang semuanya kemudian menjadi historis.

Islam, agama yang terus mengalami pertumbuhan pengikut di dunia, mengenal beberapa konsep perjalanan yang menjadi kajian kalangan sarjana, yaitu perjalanan ibadah haji (hajj), perjalanan untuk mencari ilmu (thalab al-ilm), dan perjalanan untuk tafakkur (kontemplasi) dan tadabbur (refleksi), serta yang juga harus disebutkan adalah perjalanan untuk melakukan perdagangan dan mencari rezeki. Perjalanan ibadah haji, yang juga merupakan jenis perjalanan ke tempat suci (pilgrimage), merupakan ibadah wajib bagi setiap Muslim dengan pengecualian bagi “yang tidak mampu”. Karena posisinya sebagai ibadah wajib, maka perjalanan haji merupakan perjalanan paling populer di dunia Islam.

Silakan mampir juga di artikel menarik lainnya di sini:

Kaka Lulus UN, Kalau Bisa Jujur Mengapa Harus Curang?

Standar

Alhamdulillah Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi lulus UN SMP dengan nilai memuaskan. Rata-rata 86,25 (Bahasa Inggris 9,4 ; IPA 8,75 ; Matematika 8,5 ; Bahasa Indonesia 7,8). Sebagai orangtua tentu sangat bersyukur dan bangga atas prestasi dan hasil belajar Kaka selama menempuh pendidikan di SMP. Lebih membanggakan lagi karena Kaka memperoleh nilai tersebut dengan menjunjung tinggi kejujuran. Kaka mengerjakan soal secara mandiri dan penuh percaya diri. Tak sedikitpun terbersit keinginan berlaku curang alias mencontek. Pesan kejujuran ini selalu aku sampaikan terus menerus seiring kerja cerdas dan ikhtiar kerasnya mempersiapkan diri agar dapat menyelesaikan pendidikan di SMP dengan baik.

13680806161793267452

(Kaka senang melaksanakan shalat dhuha saat istirahat di Masjid PB. Soedirman Cijantung)

Sekolah tempat Kaka belajar juga ternyata tidak melulu berorientasi asal lulus UN. Beberapa pertemuan antara manajemen sekolah yang diwakili kepala sekolah bersama orangtua siswa, sangat ditekankan bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Siswa-siswi juga dibimbing agar mampu menjadi manusia cerdas yang berakhlak mulia. Berbagai program disusun agar mereka memiliki keimanan, ketaqwaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelindan tak terpisahkan. Ah … rasanya senang mendengar dan mendapatkan informasi sedemikian. Saat dibanyak tempat nilai adalah satu-satunya tujuan. Lalu kejujuran di abaikan dan dipojokkan di ruang berdebu. Kecuranganpun diambil sebagai jalan pintas agar nampak keberhasilan semu. Apakah harus begitu ?!

Tentu tidak! Kalau bisa jujur kenapa harus curang ?!

13680806752000675780

(kunjungan Kaka dan teman-teman sekolah SMP-nya ke Pondok Pesantren Modern Gontor)

Oya … Aku dan Kaka juga melakukan ‘refresing’ dengan membaca buku-buku yang membangkitkan motivasi berprestasi seperti tetralogi laskar pelangi, negeri 5 menara, toto chan, dan 9 summers 10 autumns. Sekolah juga mengadakan studi tour ke Pondok Pesantren Modern Gontor dan Pare Kediri. Sambil ‘traveling’ dan menjalin keakraban dengan teman-teman, mereka memperoleh banyak teladan dari Gontor dan Pare.

1368080721746570450

(Kaka selepas sidang  ‘report’ studi tour ke Gontor : laporan dan presentasi harus dalam bahasa Inggris)

Bukti nyata aku alami bersama Kaka. Alhamdulillah … berkat karunia dan kasih sayang Allah SWT terbukti bahwa prestasi adalah sebuah akibat dari sebab kerja cerdas dan ikhtiar keras. Belajar penuh semangat. Doa terus dipanjatkan. Bila nilai didapat dengan kejujuran, rasa syukur sungguh akan terpancar indah. Namun, nilai tinggipun bila didapat dengan kecurangan, rasa apakah yang akan muncul dari lubuk hati terdalam ? Malu! Entahlah … apakah masih ada rasa malu dihadapan Illahi Rabbi Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar bagi guru, orangtua dan siswa yang melakukan kecurangan ???

Kaka, Mas, dan Teteh berlibur bersama … Alhamdulillah

Solidaritas Untuk Palestina

Standar

Tanggal 29 November 1977 PBB menetapkan Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina. Mengapa ada penetapan hari solidaritas untuk Palestina ? Rasanya sejauh aku mengikuti perkembangannya tujuan peringatan ini adalah sebagai pengingat bahwa pada tahun 1967 Israel melakukan pelanggaran. Israel mengakui kota Al Quds sebagai ibu kota mereka, tanpa persetujuan dari masyarakat dunia.
 
Lalu … Apa yang terjadi kini?!
 
Penetapan Hari Solidaritas Palestina tersebut merupakan mandat Majelis Umum PBB melalui resolusi 32/40 B pada tanggal 2 Desember 1977 dan Resolusi 34/65 D pada tanggal 12 Desember 1979.
 
Pemilihan tanggal tersebut tentu memiliki historis. Pastinya memiliki makna penting bagi rakyat Palestina. Pada tanggal 29 November 1947, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 181 (II), kemudian dikenal sebagai Resolusi Partisi.
 
Apakah Resolusi Partisi ? Dari penjelasan yang umum diketahui masyarakat adalah memberikan pembentukan “Negara Yahudi” dan “Negara Arab” di Palestina dengan Al Quds sebagai corpus separatum. Semacam satu tubuh yang terpisah, di bawah rezim internasional khusus. Namun dari dua negara yang akan dibuat di bawah resolusi tersebut hanya Israel yang terealisasikan.
 
Mengapa?
 
Penting kiranya kita, terutama bangsa Indonesia yang berhutang kepada rakyat Palestina saat kemerdekaan di tahun 1945. Hari Solidaritas Internasional secara ringan memberikan kesempatan bagi komunitas internasional untuk memusatkan perhatian pada fakta permasalahan di Palestina yang masih belum terselesaikan. Lihatlah! Saksikan … Rakyat Palestina belum mendapatkan hak-hak untuk menentukan sendiri nasib bangsanya. Hak untuk kembali ke tanah air setelah pengusiran yang dilakukan oleh Israel.
 
Di mana kita berpihak?
 
Peringatan Hari Solidaritas Palestina dilakukan setiap tahun di berbagai belahan dunia. Kegiatan tersebut di antaranya: penerbitan pesan khusus solidaritas kepada rakyat Palestina, pertemuan antar organisasi di dunia, penyebaran informasi kepada dunia, dan pemutaran film.
 
Aku mengajak Teteh, Maryam Aliyya Al Kindi untuk berdoa memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa segera membebaskan Palestina. Mengangkat duka dan lara rakyat Palestina. Sedih … Menyaksikan anak-anak Palestina di musim dingin tak memiliki rumah. Tak cukup makanan. Tak berselimut dan pakaian tebal. Atau setiap hari rumah mereka satu persatu dihancurkan buldoser. Anak-anak ditangkap dan ditahan tentara Israel. Tak bisa sekolah. Bahkan mati syahid mereka. Subhanallah …
 
Tanah Palestina kian menyusut.

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Kisah Para Pedagang Malam

Standar

Beginilah suasana malam selepas maghrib di sepanjang jalan menuju rumahku. Mikrolet 06A dari Jatinegara begitu lepas Cililitan dan memasuki Jalan Raya Bogor, merayap perlahan terkadang berhenti karena padatnya kendaraan.

Pengamen menyanyikan lagu diiringi gitar empat senar (ah … sayang … lagunya tak kuhafal dan suaranya juga tak merdu). Namun dengan rasa agak takut (lengan pengamen itu berhias tato, telinganya beranting, dan rambutnya berwarna merah) ku berikan selembar ribuan.

Pasar Kramatjati yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer dari PGC ditempuh dalam waktu hampir seperempat jam. Wah … lebih baik aku turun saja. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Perempuan bersepatu bot itu telah siaga.

Sesekali tangan mereka menggenggam golok atau pisau panjang besar. Satu persatu dipenggal kepala besar itu. Lalu dengan lincah tangan halus itu membelah perutnya dan mengeluarkan segala isinya. Perempuan berjilbab mengulurkan uang kertas berwarna biru. Transaksipun berlangsung cepat dan mereka berdua terlihat puas.

Kepala besar itu digeletakkan begitu saja di atas meja bersama puluhan ikan (ada tuna, bandeng, udang, kembung, juga pari). Tak lama datang lagi seorang lelaki menanyakan berapa harga kepala itu ? Sekilo saja, katanya. Aku tanya dia ‘Mau dimasak apa Pa?’ Dia tersenyum dan menjawab ‘Istri saya ngidam gulai kepala kakap’. Ooohhh … Perempuan malam itu penjual ikan laut di tepi Jalan Raya Bogor bersama dengan perempuan lainnya mereka menghabiskan malam untuk berjualan. Mereka mengais rezeki saat oranglain terlelap nyenyak di peraduan hangat.

Aku membeli sekilo ikan kembung dilanjutkan membeli buah semangka beratnya hampir lima kilo. Penjualnya juga seorang perempuan, masih muda. Lanjut … sayur-mayur ketimun, tomat, jamur, wortel, bawang bombay, sawi, jagung, brokoli aku beli secukupnya, oya penjualnya juga perempuan yang memangku seorang balita. Kiri kanan tanganku sudah hampir seimbang. Mampir di kios seorang perempuan setengah bayaaku membeli tempe dan tahu.

Rumahku hanya lima puluh meter dari pasar yang hidup hampir duapuluh empat jam ini. Di pinggir  jalan depan sebuah toko sepatu berjejer beberapa perempuan menjual kueh cucur. Mereka memasaknya di situ. Ada juga seorang perempuan menjajakan ayam bakar beserta lalapannya. Harumnya sungguh menggoda …

Ya! Mereka perempuan malam. Perjuangan mereka sangatlah berat. Aku sangat menghargai dan salut betapa mereka dengan gigih bertarung di tengah gempuran pasar modern (yang dibangun seratus meter saja dari pasar tradisional). Bahkan, seorang perempuan tetap membawa balita mereka sambil berjualan. Ada juga yang sudah berusia lanjut.

Malam semakin larut. Sudah jam delapan, aku harus pulang. Hiruk pikuk pasar ku tinggalkan. Di sepanjang jalan masih ramai kendaraan dan tetap macet. Perempuan malam itu juga tetap semangat menyambut setiap pembeli yang datang. Semoga Allah SWT melimpahkan rezeki yang halal dan berkah untuk mereka. Amin …

NB :

Demi solidaritas ku buat para pedagang perempuan, aku tak pernah menawar harga. Sesekali saja aku mengungkapkan dengan bahasa halus ‘pasnya berapa ?’. Bukankah di pasar moder juga aku tak diberi kesempatan menawar ! Hi3 … semua barang harganya  sudah dibandrol kan?

Senyum Nenek Penjual Salak

Standar

Senyum itu tersungging di kejauhan, membuat langkahku mendekat kepadanya. Rutinitas tugas mengajar mengantarkanku seminggu sekali berkunjung ke kota Cirebon. Tugas mengajar di AP-CIC dan ISIF harus kutunaikan, sekaligus silaturahim bertemu mamah dan menjenguk anak pertama yang ‘boarding school’ di Insan Cendikia Cirebon.

Setiap kali akan kembali ke Jakarta, aku selalu bertemu seorang perempuan lanjut usia (usianya pasti lebih dari 70 tahun) di pintu stasiun Kejaksan. Raut wajahnya menggambarkan sudah seberapa senior dirinya menjalani kehidupan ini.

Senyumnya tetap manis, tak terhalang oleh gugurnya beberapa gigi. Tangannya cekatan melayani para pembeli dan tetap cerdas menghitung harga yang harus dibayarkan. Sapanya hangat menawarkan dagangannya. Aku pun luluh untuk membawa oleh-oleh sekilo buah salak yang manis …

Kain batiknya lusuh pun kebayanya tak berkancing, hanya dijepit peniti. Rambut putihnya menyembul di sela tutup kepala yang juga lusuh. Tapi … ibu hebat ini tak pernah mengeluh. Tak pernah terlihat wajahnya letih. Tak pernah menopangkan rezekinya pada siapapun, kecuali Allah SWT yang Maha Pemberi Rezeki. Tak pernah meminta-minta / mengemis … Si Mbah juga tentu tak akan terbersit untuk korupsi. Subhanallah …

Lalu … kita yang masih muda, kuat, diberi karunia ilmu … rasanya malu bila tak bercermin pada ibu hebat ini. Yuk! … semangat mengisi kehidupan dengan karya bermanfaat. Apapun profesi kita …

Dan tetaplah tersenyum …

 

Pesan si Mbah, ‘Jauhilah memperkaya diri dengan korupsi. Malu …’

Mendampingi Korban Perkosaan Amatlah Berat

Standar

Siang itu temanku datang ke rumah untuk berdiskusi tentang rencana pengembangan organisasi yang mengusung hak-hak anak dan kesejahteraan perempuan. Organisasi ini sudah puluhan tahun berdiri dan kini sedang mengalami masalah karena gedung yang ditempatinya akan alih fungsi. Begitupun beberapa konselor perempuan yang ada di organisasi sudah mulai berkurang karena sibuk dengan urusan rumahtangga (alias tidak diijinkan bekerja lagi oleh suaminya setelah menikah dan punya anak). Padahal dari sisi program ada banyak tawaran menarik terutama seminar di sekolah dan komunitas orangtua terkait masalah anak dan keluarga.

Saat asyik berdiskusi, aku tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan, “Mba … apakah ada korban perkosaan yang pernah minta didampingi oleh organisasi?” Temanku langsung terdiam … Matanya tiba-tiba berkabut dan kepalanya menunduk dalam. Ooohhh … Salahkah pertanyaanku. “Maaf … Ada yang salah dengan pertanyaanku?” akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku. “Gak … Gak apa-apa … Mmm … Hanya aku saja yang suka begini setiap kali membahas kasus perkosaan anak. Ah … Berat rasanya,” gumam temanku dengan wajah yang begitu sedih.

Semenit kemudian temanku minta ijin untuk ke toilet. Lama sekali dia berada di sana, hampir sepuluh menit. Aku agak khawatir. Ku ketuk pintu toilet, “Kamu gak apa-apa? Ada apa?” tanyaku. Tak ada jawaban … Namun sejenak pintu terbuka. Ada bau tak nyaman menyeruak dari dalam toilet. Seperti bau muntah. “Maaf ya …” katanya singkat. Ku pegang lengannya, dingin sekali. “Benar kamu gak apa-apa? Mukamu pucat, kamu sakit?” selidikku.

Dia duduk kembali di sofa ruang tamu. Menyeruput teh hangat yang tadi ku suguhkan. “Maaf nih … Jadi mengganggu diskusi kita,” katanya sudah lebih ceria. “Inilah kelemahanku … Sebagai konselor aku seringkali merasa tertekan, tak berdaya, berat … Pikiranku juga jiwaku rasanya berontak, bahkan maaf ya tadi aku muntah di toilet jika teringat kasus perkosaan anak,” lanjutnya. “Sebelum ke sini, baru saja tadi pagi aku mendampingi korban perkosaan. Seorang anak SD yang diperkosa ayah kandungnya. Duh … di depan anak itu juga ibunya, aku berusaha kuat … Tapi di sini pertahananku jebol …” katanya lirih.

Ah … Betapa aku merasakan berat beban yang ditanggung temanku. Ketika dia menjalani tugasnya sebagai konselor dan harus mendampingi korban perkosaan. Otak dan jiwanya sangat tidak nyaman dengan peristiwa yang menimpa korban. Namun, sebagai profesional tentu tak mungkin dia menangis dan meluapkan emosi di depan korban. Yang tak dapat ku bayangkan lagi adalah bagaimana perasaan korban? Ya Tuhanku … Apa yang bisa ku perbuat untuk membantu korban? Aku pasti lebih parah lagi dari temanku, baru mendengar saja (belum jadi konselor dan bertemu langsung dengan korban, perutku sudah bergejolak dan kepalaku terasa berdenyut).

Tadi pagi ku buka website Komnas Perempuan : Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang mengadakan kampanye gerakan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan, disingkat G16 yang berlangsung dari tanggal 25 November – 10 Desember tahun 2012. Keterangan lebih lengkap ada di sini : http://www.komnasperempuan.or.id/2010/11/g16-gerakan-16-hari-untuk-selamanya/. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu korban kekerasan termasuk di dalamnya perkosaan terhadap perempuan dan anak, adalah dengan cara :

Sisihkan uangmu untuk didonasikan minimal Rp. 1,000 selama 16 hari, mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember, sehingga total donasimu akan terkumpul minimal Rp. 16,000,-

Berikan donasimu melalui booth atau meja donasi PUNDI PEREMPUAN, atau panitia penyelenggara Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang menjadi simpul G16

Kamu juga dapat menjadi simpul G16. Kumpulkan 16 orang teman, sahabat, saudara dan siapapun yang kamu kenal dan kamu percaya mau membantu. Ajak mereka bicara tentang kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, tentang kesulitan pendanaan yang dihadapi oleh lembaga pengada layanan, dan bahwa ada kesempatan untuk menjamin pelayanan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan

Kemudian ajak mereka untuk ikut berdonasi. Jika setiap menyumbang (minimal) Rp. 16,000, maka kita membutuhkan 375,000 orang untuk mengumpulkan dana abadi sebanyak 6 Milyar yang menjadi target penggalangan dana ini

Jika sudah terkumpul, kirimkan sumbangan itu melalui transfer ke nomor rekening a.n. Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan; Bank Niaga: 025-01-00098-00-3. BCA: 342-3059008, Bank Mandiri: 123-00-0529000-4

Konfirmasikan transfer donasi yang kamu lakukan Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan melalui telp ke  021-548 3918/96649224, atau faks ke 548 3918, atau email ke info@ysik.org, atau sms ke 0815 11129270

Informasikan juga nama kamu dan para donator lainnya serta kontak yang bisa dihubungi (alamat, email dan no hp), sehingga kami dapat terus menyampaikan laporan dan perkembangan penggalangan dana ini.

Aku dan anak perempuanku Teteh, Maryam Aliyya Al Kindi menjadi relawan untuk “Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.” Yuk! Kampanyekan gerakan ini kepada lebih banyak sahabatmu. Dorong terbentuknya kelompok-kelompok yang peduli akan masalah ini. Tulis surat, kirim email atau sms kepada semua orang yang kamu kenal dan kamu percaya bisa mendukung kampanye ini. Semakin banyak yang terlibat memberikan dukungan, semakin besar perubahan yang bisa kamu buat.

Baca juga artikel menarik lainnya di link berikut:

Kisah Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah

Standar

Anak perempuanku, Kindi (5 tahun) sedang asyik bermain boneka dengan Ila (2 tahun). Gadis kecil teman main Kindi adalah anak Mba Sri yang bekerja di rumahku sebagai pengasuh juga juru masak. Mba Sri berumur 30 tahunan, lulusan SD berasal dari Gombong Jawa Tengah. Suaminya bekerja sebagai pengojek yang biasa mangkal di ujung jalan dekat pusat perbelanjaan PGC.

Sejak lulus SD, Mba Sri sudah merantau ke Bandung dan bekerja di pabrik. Merasa kerja di pabrik sangat melelahkan, Mba Sri ikut dengan temannya ke Jakarta dan menjadi pengasuh anak. Setelah menikah dan punya anak (anak pertamanya sekarang kelas 3 SD), Mba Sri hanya di rumah saja. Nah … Saat aku harus kembali berdinas aku berusaha menjadi pengasuh untuk Kindi. Dan jadilah Mba Sri kini sudah empat tahun bekerja di rumahku. Jam kerjanya dari pukul 10.00 – 17.00 (sesekali pulang lebih malam bila aku harus menyelesaikan tugas di luar kota).

Keluarga Mba Sri terbilang harmonis, suaminya baik dan penyayang. Mereka tinggal di kamar kontrakan berukuran 3×3 meter persegi. Sebulan harus membayar uang sewa Rp. 300.000,-. Aku sungguh terkesan dengan caranya mengelola keuangan keluarga. Tak pernah berhutang, bisa menabung (Mba Sri lebih senang membeli emas sebagai alat simpan uangnya), suaminya (juga hanya lulusan SD) telah melunasi motor yang dipakai untuk mengojek, sebulan sekali mengirim uang untuk biaya sekolah adiknya, dan setiap mudik lebaran mereka mampu memberi oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Salut …

Teman main Kindi yang lain adalah Cika (7 tahun, kelas satu SD), cucu Mbah Eja yang bekerja mencuci dan menyetrika di rumahku. Pekerjaan yang menurutku sangat melelahkan ^_^ (duh … jadi ketahuan deh!). Umur Mbah Eja sudah lebih dari 50 tahun. Cika memiliki orangtua, sayang … ayahnya menikah lagi (siri / tidak bersurat nikah) dan meninggalkan begitu saja istri dan anaknya. Tidak bertanggung jawab. Mbah Eja-lah yang mengurus Cika sehari-hari, dari menyiapkan sarapan, mengantar ke sekolah, menjemput sekolah, dan mengajaknya ke rumahku sampai pekerjaan selesai. Mbah Eja bekerja dari pukul 07.00 – 12.00. Dia melanjutkan bekerja di rumah lain sampai sore (istilahnya shift siang).

Kindi senang bermain dengan Cika. Permainan favorit mereka adalah masak-masakan dan dokter-perawat. Ah … Kindi anakku yang cantik memang baik hati juga rendah hati. Tak pernah dia membedakan darimana dan siapa teman-teman mainnya itu berasal. Ila dan Cika bermain di rumah dengan nyaman karena mereka diperlakukan dengan baik oleh Kindi. Bahkan mainanpun berbagi tak sedikitpun menguasai (he3 … pernah Mbah Eja membawa Cika ke rumah tempat dia bekerja shift siang, ternyata cucu kesayangannya itu dipukul dan dihina oleh anak majikannya. Sejak saat itu Cika lebih memilih main di rumah Kindi pun ketika shift siang itu).

Suami Mbah Eja adalah penjual asinan keliling. Mereka berasal dari Sumedang. Di kampung mereka punya sebuah rumah dan sebidang sawah, namun di Jakarta mereka hanya mampu mengontrak kamar yang dihuni empat orang.  Mbah Eja, ibu dari empat orang anak. Dua lelaki dan dua perempuan. Kedua anak perempuannya gagal berumah tangga. Dia pernah menangis ketika menceritakan hal ini kepadaku. Satu mantu perempuannya awal bulan ini berangkat ke Malaysia menjadi buruh pabrik. Meninggalkan dua orang anak umur lima dan dua tahun. Lagi-lagi Mbah Eja meneteskan airmata waktu bercerita betapa beratnya melepas mantunya bekerja keluar negeri karena kasihan kepada cucunya yang masih kecil. Tapi apa daya … Persoalan ekonomi yang melilit keluarga anak lelakinya itu menjadikan mereka memilih pilihan yang sungguh tidak diinginkan. Aku sungguh salut kepada Mbah Eja, sebagai ibu, dia begitu tegar, kuat, pantang menyerah, pekerja keras, dan senantiasa berbaik hati menerima ketentuan hidup yang dijalaninya dengan ikhlas. Padahal SD-pun Mbah Eja tak lulus.

‘Bu … aku pingin dipijet, pegel banget nih tadi pagikan pelajaran renang di sekolah,’ ujar Kindi sambil merajuk meminta aku memijat kakinya. Ya … begitulah kebiasaan Kindi persis sama dengan aku yang tak bisa lepas dari kebutuhan untuk dipijat bila sedang penat. Bu Tiyah juru pijat favoritku. Asli Banten. Ceria, humoris, senang bercerita, dan yang pasti pijetannya super enak. Wah … pegal dan capek hilang. Berganti rasa segar dan bugar kembali.

Suatu ketika tiba-tiba Bu Tiyah mengajakku ngobrol tentang anak lelakinya yang berperilaku seperti perempuan. Bu Tiyah tak segan mengatakan anakku itu ‘bencong’, pintar dandan, kulitnya putih halus, perawakannya tinggi semampai, dan senang pakai baju warna pink. Lalu aku penasaran bertanya, ‘Maaf ya Bu Tiyah … Bagaimana perasaan ibu dengan keadaan anak ibu itu?’ Wajahnya tetap ceria, tangannya terus memijat telapak kakiku. ‘Saya mah sudah menerima semuanya dari anak saya itu. Semuanya titipan Allah. Waktu kecil belum begitu kelihatan, tapi waktu balig terlihat dia tambah kemayu.’ katanya. ‘Oya … sekolahnya lulusan apa Bu?’ tanyaku. ‘Dia lulus SMA dan sekarang sudah bekerja di sebuah mal. Kalau kerja ya dandan pakai kutek, bulu mata palsu, lipstik, dan sepatu hak tinggi segala kok!’ lanjutnya. Aku terdiam …

‘Dulu … Pernah bapaknya merasa marah, malu, kecewa, dan mau memukul anakku agar bisa jadi lelaki yang tegap dan terlihat jantan. Wah … Saya marah, “Pa! Anak kita itu titipan Allah. Bukan begitu caranya menerima amanah-Nya. Gimana kalau sampai babak belur? Atau mati, bisa dipenjara.” Bu Tiyah melanjutkan ceritanya dengan semangat. ‘Saya pernah juga sedih … Saat anak saya bilang begini, “Mah … kenapa ya aku seperti ini? Kenapa aku diberi ‘t*t*t’ padahal aku merasa perempuan?” suara Bu Tiyah berubah lirih. ‘Sepertinya doa dua ‘bencong’ yang pernah merasa didzalimi suamiku terkabul. Waktu aku hamil anakku itu, suamiku jadi kondektur bis. Nah … sore hari ada dua orang ‘bencong’ naik. Suamiku marah dan mendorong keduanya hingga tersungkur di selokan air. Mereka berteriak … ‘Eike sumpahin! Kalau bini loe hamil, anaknya bakal kaya eike … Sumpah!’ lanjut Bu Tiyah.

Duh … Sungguh hatiku terharu. Bu Tiyah, seorang ibu yang tamatan SD begitu ikhlas menerima ketentuan yang harus dijalaninya. Kasihsayangnya kepada anak yang berbeda tak lekang, walau dua anak lainnya normal. Doanya tak putus untuk diberi kekuatan menerima banyak ucapan dan perlakuan tak sedap bahkan merendahkan, bagi anaknya, dirinya, bahkan keluarganya.  Bu Tiyah menjalani episode hidupnya dengan ikhlas. Suaminya yang bekerja sebagai pengojekpun kini sudah bisa menerima keadaan anaknya dan tak malu untuk menggonceng dimotornya.  Mengantar anaknya ke halte transjakarta untuk berangkat kerja diiringi canda khas yang membuat banyak mata tak lepas menatap.

Banyak bantuan mereka kepadaku yang membuatku bisa menjalankan beragam aktivitas. Ya Allah …  Berilah mereka bertiga Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah : juga ibu-ibu hebat lainnya surga-Mu yang terindah. Amin …

Aku dan Teteh banyak dibantu oleh Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah. Alhamdulillah …