kisah dua mantan tkw

Standar

Malam sudah larut. Aku masih disibukkan menyusun laporan untuk tender di DPU besok pagi. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. ‘Neng … Boleh Mba masuk ?’ terdengar suara Mba Eni pelan setengah berbisik. ‘Ayo … Masuk saja sini … Ada apa malam-malam tumben biasanya asyik nonton,’ candaku. ‘Maaf ya … ganggu apa gak nih ?’ tanyanya sambil masuk dan duduk di lantai. ‘Gak apa-apa … Tinggal dikit lagi kok! Aku lagi bikin laporan,’ kataku sambil selonjor di karpet kecil dekat meja komputer. Kamarku terletak di lantai dua rumah pamanku di daerah Bintaro.

Aku menumpang tinggal di sana karena banyak kamar kosong di rumah besar itu dan paman hanya tinggal berdua dengan istrinya. Mba Eni adalah asisten rumah tangga serba bisa. Cekatan sekali gerakannya seperti tak pernah lelah. Mba Eni suka humor dan canda jadi wajahnya terlihat selalu ceria. Tawanya pun keras memecah keheningan rumah bila menonton sinetron lucu atau lawakan di televisi.

‘Neng … Boleh minta tolong ? Mmm … Mba kepingin belajar ngaji dan shalat lagi. Sudah lama gak pernah ngaji lagi, shalat juga lupa bacaannya. Neng kan tiap habis subuh ngaji atau malam-malam gini nyetel kaset ngaji, trus Neng juga rajin shalat, pakai jilbab lagi,’ katanya panjang lebar sambil mengeluarkan musaf Al Quran kecil dan mukena dari kantong kresek yang sejak tadi digeletakan di lantai. Ooohhh … Subhanallah …

Aku tahu dari beberapa kali cerita santai dengan Mba Eni bahwa dia mantan TKW di Saudi Arabia. Hampir lebih dari sepuluh tahun. Mba Eni adalah salah satu TKW yang beruntung mendapatkan majikan yang baik. Tugas utamanya selama menjadi TKW adalah memasak. Aku mengakui masakannya sungguh lezat. Apapun yang di masaknya walau cuma sayur bayam dan tempe goreng rasanya luar biasa enak. Ah … Aku memang tak ahli masak makanya makanan itu selalu ku beri rangking enak, enak sekali dan luar biasa enak he3 …

Mba Eni lulusan SMP dan menurutku dia perempuan cerdas. Bisa belajar dengan cepat kosa kata bahasa Arab terutama yang terkait dengan masak memasak termasuk nama-nama bahan makanan dan bumbu-bumbu. Hebat! Buktinya … Selama menjadi TKW selalu disayang majikan terutama anak-anak karena selain memasak Mba Eni di waktu senggangnya juga senang bermain dan membuat lelucon. Jadilah anak-anak majikannya tertawa terpingkal-pingkal. Mba Eni pun ditangisi mereka ketika kontraknya habis dan harus kembali ke Indonesia. Sepertinya tertawa adalah cara Mba Eni melupakan sakit hatinya kepada mantan suami yang tak bertanggung jawab. Hingga keputusan berat untuk menjadi TKW bekerja jauh dari kampung halaman demi anak-anak tak kelaparan dan bisa sekolah.

Nah … Aku jadi heran! Kenapa Mba Eni minta aku mengajarinya lagi membaca Al Quran dan menghafal bacaan shalat ? Selidik punya selidik (hi3 … seperti detektif  saja) setelah sepuluh tahun menjadi TKW, Mba Eni memutuskan untuk tidak kembali ke Arab Saudi karena anak-anaknya melarang. Semua anaknya sudah menikah dan memiliki pekerjaan. Tapi Mba Eni bukan tipe perempuan yang bisa ongkang-ongkang kaki. Jadilah dia tetap menjadi pekerja rumah tangga termasuk saat itu bekerja di rumah pamanku. Mba Eni mengaku bahwa dia tidak pernah mengaji dan shalat. Kalaupun ditanya majikannya di Arab Saudi juga di Indonesia, apakah sudah shalat ? Dia akan jawab sudah. Padahal tidak shalat. Apalagi mengaji … Katanya malas sekali.

Sekarang Mba Eni bilang umurnya sudah tak muda lagi. ‘Neng … Mba sudah nini-nini. Cucu sudah mau tiga. Masa gak shalat juga. Nanti gimana kalau mati ?’ kata Mba Eni sungguh-sungguh. Aku terharu … Sungguh tak terasa airmataku menetes. Betapa dalam pernyataannya. Aku jadi bersemangat menemaninya mengulang lagi iqro 1 sambil mengenal huruf hijaiyah. Namun … Aku takjub! Ternyata Mba Eni hafalannya memang luar  biasa. Saat membaca dia terbata-bata, tapi menghafal surat pendek cepat sekali. Pun begitu dengan bacaan shalat. Ya Allah … Bisa saja dahulu, empatpuluh tahun yang lalu Mba Eni sudah menghafal semua itu. Lalu tertimbun dan kini tergali kembali, bersinar lagi. Kini Mba Eni sudah tak lagi menjadi pekerja rumah tangga. Anak-anaknya membuat warung kecil-kecilan untuk mengisi waktu Mba Eni agar tak bosan menjalani masa tuanya.

Kisah Mba Ani pun tak kalah menarik. Gadis berumur tigapuluh empat tahun ini telah delapan tahun menjadi TKW di Arab Saudi. Benar loh! Mba Ani seorang gadis. Sampai hari ini dia belum menikah. Ada rencana di bulan Februari 2013 Mba Ani akan melangsungkan pernikahannya. Mba Ani bekerja sebagai pengasuh anak di rumah adikku. Supel, murah senyum, dan sangat perhatian kepada anak-anak. Pantas saja ketika menjadi TKW pun tugasnya adalah mengasuh anak.

Lulusan SMA dengan nilai ijazah yang memuaskan tak membuat Mba Ani kehilangan tekad bekerja di negeri orang. Lewat perusahaan resmi yang telah memberikan pelatihan bahasa Arab dan keterampilan sebagai pengasuh anak, Mba Ani berusaha bekerja untuk membiayai ibunya yang ditinggal kawin lagi oleh bapaknya. Adik-adiknya berjumlah enam orang dan butuh biaya sekolah. Juga nenek yang tinggal sebuah di rumah berdinding ayaman bambu di desa kaki gunung Ciremai. Total delapan jiwa ditangung sendiri oleh Mba Ani. Sepetak sawah tentu tak mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Bapaknya tak bertanggung jawab sepeserpun atas nafkah keluarga.

Mba Ani pun beruntung memiliki majikan yang baik. Diajak umroh dan berlibur ke Eropa. Mba Ani menjadi kesayangan anak-anak majikan yang tanpa sengajapun akhirnya bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. Mereka bilang dalam isak tangis, ‘Ani jangan pergi …’ ketika Mba Ani harus kembali ke Indonesia karena keluarganya mengkhawatirkan dirinya yang sudah lewat kepala tiga belum juga menikah. Sambil menanti jodoh Mba Ani lagi-lagi tak bisa berdiam diri saja melihat dapur keluarganya tak mengepul. Pun tak tega melihat ibu dan neneknya yang sudah renta harus menjadi buruh tani dengan upah tak seberapa.Mba Ani bekerja di rumah adikku dan Alhamdulillah kini telah menemukan jodohnya. Semoga saja kelak suaminya baik dan bertanggung jawab, tidak seperti bapaknya yang kawin lagi …

Semoga Allah Yang Maha Pemberi Karunia memberikan kebahagiaan kepada Mba Eni dan Mba Ani, amin …

13546049751914276749

Foto saat aku di tanah suci Makkah menjalankan ibadah haji tahun 2006-2007 : sungguh tak terbayangkan di negara ini telah banyak perempuan sebangsa didzalimi bahkan ada yang merenggang nyawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s