kisah mba sri, mbah eja, dan bu tiyah

Standar

Anak perempuanku, Kindi (5 tahun) sedang asyik bermain boneka dengan Ila (2 tahun). Gadis kecil teman main Kindi adalah anak Mba Sri yang bekerja di rumahku sebagai pengasuh juga juru masak. Mba Sri berumur 30 tahunan, lulusan SD berasal dari Gombong Jawa Tengah. Suaminya bekerja sebagai pengojek yang biasa mangkal di ujung jalan dekat pusat perbelanjaan PGC. S

Sejak lulus SD, Mba Sri sudah merantau ke Bandung dan bekerja di pabrik. Merasa kerja di pabrik sangat melelahkan, Mba Sri ikut dengan temannya ke Jakarta dan menjadi pengasuh anak. Setelah menikah dan punya anak (anak pertamanya sekarang kelas 3 SD), Mba Sri hanya di rumah saja. Nah … Saat aku harus kembali berdinas aku berusaha menjadi pengasuh untuk Kindi. Dan jadilah Mba Sri kini sudah empat tahun bekerja di rumahku. Jam kerjanya dari pukul 10.00 – 17.00 (sesekali pulang lebih malam bila aku harus menyelesaikan tugas di luar kota).

Keluarga Mba Sri terbilang harmonis, suaminya baik dan penyayang. Mereka tinggal di kamar kontrakan berukuran 3×3 meter persegi. Sebulan harus membayar uang sewa Rp. 300.000,-. Aku sungguh terkesan dengan caranya mengelola keuangan keluarga. Tak pernah berhutang, bisa menabung (Mba Sri lebih senang membeli emas sebagai alat simpan uangnya), suaminya (juga hanya lulusan SD) telah melunasi motor yang dipakai untuk mengojek, sebulan sekali mengirim uang untuk biaya sekolah adiknya, dan setiap mudik lebaran mereka mampu memberi oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Salut …

Teman main Kindi yang lain adalah Cika (7 tahun, kelas satu SD), cucu Mbah Eja yang bekerja mencuci dan menyetrika di rumahku. Pekerjaan yang menurutku sangat melelahkan ^_^ (duh … jadi ketahuan deh!). Umur Mbah Eja sudah lebih dari 50 tahun. Cika memiliki orangtua, sayang … ayahnya menikah lagi (siri / tidak bersurat nikah) dan meninggalkan begitu saja istri dan anaknya. Tidak bertanggung jawab. Mbah Eja-lah yang mengurus Cika sehari-hari, dari menyiapkan sarapan, mengantar ke sekolah, menjemput sekolah, dan mengajaknya ke rumahku sampai pekerjaan selesai. Mbah Eja bekerja dari pukul 07.00 – 12.00. Dia melanjutkan bekerja di rumah lain sampai sore (istilahnya shift siang).

Kindi senang bermain dengan Cika. Permainan favorit mereka adalah masak-masakan dan dokter-perawat. Ah … Kindi anakku yang cantik memang baik hati juga rendah hati. Tak pernah dia membedakan darimana dan siapa teman-teman mainnya itu berasal. Ila dan Cika bermain di rumah dengan nyaman karena mereka diperlakukan dengan baik oleh Kindi. Bahkan mainanpun berbagi tak sedikitpun menguasai (he3 … pernah Mbah Eja membawa Cika ke rumah tempat dia bekerja shift siang, ternyata cucu kesayangannya itu dipukul dan dihina oleh anak majikannya. Sejak saat itu Cika lebih memilih main di rumah Kindi pun ketika shift siang itu).

Suami Mbah Eja adalah penjual asinan keliling. Mereka berasal dari Sumedang. Di kampung mereka punya sebuah rumah dan sebidang sawah, namun di Jakarta mereka hanya mampu mengontrak kamar yang dihuni empat orang.  Mbah Eja, ibu dari empat orang anak. Dua lelaki dan dua perempuan. Kedua anak perempuannya gagal berumah tangga. Dia pernah menangis ketika menceritakan hal ini kepadaku. Satu mantu perempuannya awal bulan ini berangkat ke Malaysia menjadi buruh pabrik. Meninggalkan dua orang anak umur lima dan dua tahun. Lagi-lagi Mbah Eja meneteskan airmata waktu bercerita betapa beratnya melepas mantunya bekerja keluar negeri karena kasihan kepada cucunya yang masih kecil. Tapi apa daya … Persoalan ekonomi yang melilit keluarga anak lelakinya itu menjadikan mereka memilih pilihan yang sungguh tidak diinginkan. Aku sungguh salut kepada Mbah Eja, sebagai ibu, dia begitu tegar, kuat, pantang menyerah, pekerja keras, dan senantiasa berbaik hati menerima ketentuan hidup yang dijalaninya dengan ikhlas. Padahal SD-pun Mbah Eja tak lulus.

‘Bu … aku pingin dipijet, pegel banget nih tadi pagikan pelajaran renang di sekolah,’ ujar Kindi sambil merajuk meminta aku memijat kakinya. Ya … begitulah kebiasaan Kindi persis sama dengan aku yang tak bisa lepas dari kebutuhan untuk dipijat bila sedang penat. Bu Tiyah juru pijat favoritku. Asli Banten. Ceria, humoris, senang bercerita, dan yang pasti pijetannya super enak. Wah … pegal dan capek hilang. Berganti rasa segar dan bugar kembali.

Suatu ketika tiba-tiba Bu Tiyah mengajakku ngobrol tentang anak lelakinya yang berperilaku seperti perempuan. Bu Tiyah tak segan mengatakan anakku itu ‘bencong’, pintar dandan, kulitnya putih halus, perawakannya tinggi semampai, dan senang pakai baju warna pink. Lalu aku penasaran bertanya, ‘Maaf ya Bu Tiyah … Bagaimana perasaan ibu dengan keadaan anak ibu itu?’ Wajahnya tetap ceria, tangannya terus memijat telapak kakiku. ‘Saya mah sudah menerima semuanya dari anak saya itu. Semuanya titipan Allah. Waktu kecil belum begitu kelihatan, tapi waktu balig terlihat dia tambah kemayu.’ katanya. ‘Oya … sekolahnya lulusan apa Bu?’ tanyaku. ‘Dia lulus SMA dan sekarang sudah bekerja di sebuah mal. Kalau kerja ya dandan pakai kutek, bulu mata palsu, lipstik, dan sepatu hak tinggi segala kok!’ lanjutnya. Aku terdiam …

‘Dulu … Pernah bapaknya merasa marah, malu, kecewa, dan mau memukul anakku agar bisa jadi lelaki yang tegap dan terlihat jantan. Wah … Saya marah! Pa! Anak kita itu titipan Allah. Bukan begitu caranya menerima amanah-Nya. Gimana kalau sampai babak belur bahkan mati, bisa dipidana.’ Bu Tiyah melanjutkan ceritanya dengan semangat. ‘Saya pernah juga sedih … Saat anak saya bilang begini … Mah … kenapa ya aku seperti ini ? Kenapa aku diberi ‘titit’ padahal aku merasa perempuan ?’ suara Bu Tiyah berubah lirih. ‘Sepertinya doa dua ‘bencong’ yang pernah merasa didzalimi suamiku terkabul. Waktu aku hamil anakku itu, suamiku jadi kenek bis. Nah … sore hari ada dua orang ‘bencong’ naik. Suamiku marah dan mendorong keduanya hingga tersungkur di selokan air. Mereka berteriak … ‘Eike sumpahin! Kalau bini lo hamil, anaknya bakal kaya eike … Sumpah!’ lanjut Bu Tiyah.

Duh … Sungguh hatiku terharu. Bu Tiyah, seorang ibu yang tamatan SD begitu ikhlas menerima ketentuan yang harus dijalaninya. Kasihsayangnya kepada anak yang berbeda tak lekang, walau dua anak lainnya normal. Doanya tak putus untuk diberi kekuatan menerima banyak ucapan dan perlakuan tak sedap bahkan merendahkan, bagi anaknya, dirinya, bahkan keluarganya.  Bu Tiyah menjalani episode hidupnya dengan ikhlas. Suaminya yang bekerja sebagai pengojekpun kini sudah bisa menerima keadaan anaknya dan tak malu untuk menggonceng di motornya.  Mengantar anaknya ke halte transjakarta untuk berangkat kerja diiringi canda khas yang membuat banyak mata tak lepas menatap.

13545453471886111822

Banyak bantuan mereka kepadaku yang membuatku bisa menjalankan beragam aktivitas. Ya Allah …  Berilah mereka bertiga Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah : juga ibu-ibu hebat lainnya surga-Mu yang terindah. Amin …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s