mendampingi korban perkosaan amatlah berat

Standar

Siang itu temanku datang ke rumah untuk berdiskusi tentang rencana pengembangan organisasi yang mengusung hak-hak anak dan kesejahteraan perempuan. Organisasi ini sudah puluhan tahun berdiri dan kini sedang mengalami masalah karena gedung yang ditempatinya akan alih fungsi. Begitupun beberapa konselor perempuan yang ada di organisasi sudah mulai berkurang karena sibuk dengan urusan rumahtangga (alias tidak diijinkan bekerja lagi oleh suaminya setelah menikah dan punya anak). Padahal dari sisi program ada banyak tawaran menarik terutama seminar di sekolah dan komunitas orangtua terkait masalah anak dan keluarga.

Saat asyik berdiskusi, aku tiba-tiba saja melontarkan pertanyaa : ‘Mba … apakah ada korban perkosaan yang pernah minta didampingi oleh organisasi ?’ Temanku langsung terdiam … Matanya tiba-tiba berkabut dan kepalanya menunduk dalam. Ooohhh … Salahkah pertanyaanku. ‘Maaf … Ada yang salah dengan pertanyaanku ?’ akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku. ‘Gak … gak apa-apa …, Mmm … hanya aku saja yang suka begini setiap kali membahas kasus perkosaan anak. Ah … Berat rasanya,’ gumam temanku dengan wajah yang begitu sedih.

Semenit kemudian temanku minta ijin untuk ke toilet. Lama sekali dia berada di sana, hampir sepuluh menit. Aku agak khawatir. Ku ketuk pintu toilet. ‘Kamu gak apa-apa ? Ada apa ?’ tanyaku. Tak ada jawaban … Namun sejenak pintu terbuka. Ada bau tak nyaman menyeruak dari dalam toilet. Seperti bau muntah. ‘Maaf ya …’ katanya singkat. Ku pegang lengannya, dingin sekali. ‘Benar kamu gak apa-apa ? Mukamu pucat, kamu sakit ?’ selidikku.

Dia duduk kembali di sofa ruang tamu. Menyeruput teh hangat yang tadi ku suguhkan. ‘Maaf nih … jadi mengganggu diskusi kita,’ katanya sudah lebih ceria. ‘Inilah kelemahanku … Sebagai konselor aku seringkali merasa tertekan, tak berdaya, berat … pikiranku juga jiwaku rasanya berontak, bahkan maaf ya tadi aku muntah di toilet jika teringat kasus perkosaan anak,’ lanjutnya. ‘Sebelum ke sini, baru saja tadi pagi aku mendampingi korban perkosaan. Seorang anak SD yang diperkosa ayah kandungnya. Duh … di depan anak itu juga ibunya, aku berusaha kuat … Tapi di sini pertahananku jebol …’ katanya lirih.

Ah … betapa aku merasakan berat beban yang ditanggung temanku. Ketika dia menjalani tugasnya sebagai konselor dan harus mendampingi korban perkosaan. Otak dan jiwanya sangat tidak nyaman dengan peristiwa yang menimpa korban. Namun, sebagai profesional tentu tak mungkin dia menangis dan meluapkan emosi di depan korban. Yang tak dapat ku bayangkan lagi adalah bagaimana perasaan korban ? Ya Tuhanku … Apa yang bisa ku perbuat untuk membantu korban ? Aku pasti lebih parah lagi dari temanku, baru mendengar saja (belum jadi konselor dan bertemu langsung dengan korban : perutku sudah bergejolak dan kepalaku terasa berdenyut).

Tadi pagi ku buka website Komnas Perempuan : Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang mengadakan kampanye gerakan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Di singkat G16 yang berlangsung dari tanggal 25 November – 10 Desember tahun 2012. Keterangan lebih lengkap ada di sini : http://www.komnasperempuan.or.id/2010/11/g16-gerakan-16-hari-untuk-selamanya/. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu korban kekerasan termasuk di dalamnya perkosaan terhadap perempuan dan anak, adalah dengan cara :

Sisihkan uangmu untuk didonasikan minimal Rp. 1,000 selama 16 hari, mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember, sehingga total donasimu akan terkumpul minimal Rp. 16,000,-

Berikan donasimu melalui booth atau meja donasi PUNDI PEREMPUAN, atau panitia penyelenggara Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang menjadi simpul G16

Kamu juga dapat menjadi simpul G16. Kumpulkan 16 orang teman, sahabat, saudara dan siapapun yang kamu kenal dan kamu percaya mau membantu. Ajak mereka bicara tentang kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, tentang kesulitan pendanaan yang dihadapi oleh lembaga pengada layanan, dan bahwa ada kesempatan untuk menjamin pelayanan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan

Kemudian ajak mereka untuk ikut berdonasi. Jika setiap menyumbang (minimal) Rp. 16,000, maka kita membutuhkan 375,000 orang untuk mengumpulkan dana abadi sebanyak 6 Milyar yang menjadi target penggalangan dana ini

Jika sudah terkumpul, kirimkan sumbangan itu melalui transfer ke nomor rekening a.n. Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan; Bank Niaga: 025-01-00098-00-3. BCA: 342-3059008, Bank Mandiri: 123-00-0529000-4

Konfirmasikan transfer donasi yang kamu lakukan Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan melalui telp ke  021-548 3918/96649224, atau faks ke 548 3918, atau email ke info@ysik.org, atau sms ke 0815 11129270

Informasikan juga nama kamu dan para donator lainnya serta kontak yang bisa dihubungi (alamat, email dan no hp), sehingga kami dapat terus menyampaikan laporan dan perkembangan penggalangan dana ini

Aku dan anak perempuanku Maryam Aliyya Al Kindi menjadi relawan untuk kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak. Yuk! Kampanyekan gerakan ini kepada lebih banyak sahabatmu. Dorong terbentuknya kelompok-kelompok yang peduli akan masalah ini. Tulis surat, kirim email atau sms kepada semua orang yang kamu kenal dan kamu percaya bisa mendukung kampanye ini. Semakin banyak yang terlibat memberikan dukungan, semakin besar perubahan yang bisa kamu buat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s