perempuan malam apa yang kau jual

Standar

Beginilah suasana malam selepas maghrib di sepanjang jalan menuju rumahku. Mikrolet 06A dari Jatinegara begitu lepas Cililitan dan memasuki Jalan Raya Bogor, merayap perlahan terkadang berhenti karena padatnya kendaraan.

Pengamen menyanyikan lagu diiringi gitar empat senar (ah … sayang … lagunya tak kuhafal dan suaranya juga tak merdu). Namun dengan rasa agak takut (lengan pengamen itu berhias tato, telinganya beranting, dan rambutnya berwarna merah) ku berikan selembar ribuan.

Pasar Kramatjati yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer dari PGC ditempuh dalam waktu hampir seperempat jam. Wah … lebih baik aku turun saja. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Perempuan bersepatu bot itu telah siaga.

Sesekali tangan mereka menggenggam golok atau pisau panjang besar. Satu persatu dipenggal kepala besar itu. Lalu dengan lincah tangan halus itu membelah perutnya dan mengeluarkan segala isinya. Perempuan berjilbab mengulurkan uang kertas berwarna biru. Transaksipun berlangsung cepat dan mereka berdua terlihat puas.

Kepala besar itu digeletakkan begitu saja di atas meja bersama puluhan ikan (ada tuna, bandeng, udang, kembung, juga pari). Tak lama datang lagi seorang lelaki menanyakan berapa harga kepala itu ? Sekilo saja, katanya. Aku tanya dia ‘Mau dimasak apa Pa?’ Dia tersenyum dan menjawab ‘Istri saya ngidam gulai kepala kakap’. Ooohhh … Perempuan malam itu penjual ikan laut di tepi Jalan Raya Bogor bersama dengan perempuan lainnya mereka menghabiskan malam untuk berjualan. Mereka mengais rezeki saat oranglain terlelap nyenyak di peraduan hangat.

Aku membeli sekilo ikan kembung dilanjutkan membeli buah semangka beratnya hampir lima kilo. Penjualnya juga seorang perempuan, masih muda. Lanjut … sayur-mayur ketimun, tomat, jamur, wortel, bawang bombay, sawi, jagung, brokoli aku beli secukupnya, oya penjualnya juga perempuan yang memangku seorang balita. Kiri kanan tanganku sudah hampir seimbang. Mampir di kios seorang perempuan setengah bayaaku membeli tempe dan tahu.

Rumahku hanya lima puluh meter dari pasar yang hidup hampir duapuluh empat jam ini. Di pinggir  jalan depan sebuah toko sepatu berjejer beberapa perempuan menjual kueh cucur. Mereka memasaknya di situ. Ada juga seorang perempuan menjajakan ayam bakar beserta lalapannya. Harumnya sungguh menggoda …

Ya! Mereka perempuan malam. Perjuangan mereka sangatlah berat. Aku sangat menghargai dan salut betapa mereka dengan gigih bertarung di tengah gempuran pasar modern (yang dibangun seratus meter saja dari pasar tradisional). Bahkan, seorang perempuan tetap membawa balita mereka sambil berjualan. Ada juga yang sudah berusia lanjut.

Malam semakin larut. Sudah jam delapan, aku harus pulang. Hiruk pikuk pasar ku tinggalkan. Di sepanjang jalan masih ramai kendaraan dan tetap macet. Perempuan malam itu juga tetap semangat menyambut setiap pembeli yang datang. Semoga Allah SWT melimpahkan rezeki yang halal dan berkah untuk mereka. Amin …

NB :

Demi solidaritas ku buat para pedagang perempuan, aku tak pernah menawar harga. Sesekali saja aku mengungkapkan dengan bahasa halus ‘pasnya berapa ?’. Bukankah di pasar moder juga aku tak diberi kesempatan menawar ! Hi3 … semua barang harganya  sudah dibandrol kan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s