senyum nenek penjual salak

Standar

Senyum itu tersungging di kejauhan, membuat langkahku mendekat kepadanya. Rutinitas tugas mengajar mengantarkanku seminggu sekali berkunjung ke kota Cirebon. Tugas mengajar di AP-CIC dan ISIF harus kutunaikan, sekaligus silaturahim bertemu mamah dan menjenguk anak pertama yang ‘boarding school’ di Insan Cendikia Cirebon.

13363714011659180998

Setiap kali akan kembali ke Jakarta, aku selalu bertemu seorang perempuan lanjut usia (usianya pasti lebih dari 70 tahun) di pintu stasiun Kejaksan. Raut wajahnya menggambarkan sudah seberapa senior dirinya menjalani kehidupan ini.

Senyumnya tetap manis, tak terhalang oleh gugurnya beberapa gigi. Tangannya cekatan melayani para pembeli dan tetap cerdas menghitung harga yang harus dibayarkan. Sapanya hangat menawarkan dagangannya. Aku pun luluh untuk membawa oleh-oleh sekilo buah salak yang manis …

Kain batiknya lusuh pun kebayanya tak berkancing, hanya dijepit peniti. Rambut putihnya menyembul di sela tutup kepala yang juga lusuh. Tapi … ibu hebat ini tak pernah mengeluh. Tak pernah terlihat wajahnya letih. Tak pernah menopangkan rezekinya pada siapapun, kecuali Allah SWT yang Maha Pemberi Rezeki. Tak pernah meminta-minta / mengemis … Si Mbah juga tentu tak akan terbersit untuk korupsi. Subhanallah …

Lalu … kita yang masih muda, kuat, diberi karunia ilmu … rasanya malu bila tak bercermin pada ibu hebat ini. Yuk! … semangat mengisi kehidupan dengan karya bermanfaat. Apapun profesi kita …

Dan tetaplah tersenyum …

Pesan si Mbah, ‘Jauhilah memperkaya diri dengan korupsi. Malu …’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s