Monthly Archives: Agustus 2013

jadi ibu itu nikmat tiada terkira

Standar

Hamil. Melahirkan. Menyusui. Telah ditetapkan hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu. Amanah mulia ini telah aku alami tiga kali. Kisah melahirkan dengan tiga gaya telah ku tuliskan di kompasiana. Begitupun 99 asma Allah dalam proses reproduksiku menjadi judul artikel tentang pengalaman sebagai seorang ibu. Belum lagi puluhan tulisan terkait pengasuhan anak dan pendidikan menghiasi blog keroyokan ini. Bagi yang belum sempat sowan, monggo dipersilahkan mampir.

Foto pertama : Bahagia dalam kebersamaan.

Malam ini sebelum melanjutkan shalat tarawih. Tiba-tiba saja aku ingin menuliskan sebuah judul nikmatnya jadi ibu. Ha3 … Lucunya aku belum tahu hendak menuliskan apa nanti dari alinea ke alinea. Ah … Biarkan saja … Mungkin kalau bukan rangkaian kata, aku hanya akan upload foto-foto aku bersama ketiga anakku.

Sebenarnya, mungkin ini naluri seorang ibu. Sungguh malam ini malam minggu penuh rindu. Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi (Kaka) anak pertamaku sedang asyik belajar di boarding schoolnya di kota Cirebon. Tentu selepas berbuka tadi Kaka akan menuju ke masjid dan segera melaksanakan shalat bersama guru-guru dan teman-temannya. Terbayang badannya yang tegap, tinggi besar, dengan warna kulit kecoklatan dan wajah gantengnya. Sesekali Kaka mendapat tugas untuk adzan atau menjadi imam shalat. Kaka … Ibu kangen.

Foto kedua : Kaka dan Mas berpose sejenak bersama ayah mereka selepas silaturahim ke rumah famili di Solo. Kangen …

Lintasan wajah putih bersih, tenang, jangkung langsing milik Muhammad Hafizh Haidar Hanif (Mas) anak keduaku. Boarding school di Bekasi perbatasan dengan Karawang dipilihnya sendiri menjadi tempatnya menimba ilmu. Mas dan teman-temannya akan duduk-duduk di selasar masjid menanti waktu berbuka puasa. Setelah minum dan makan tiga buah kurma, Mas segera menunaikan shalat maghrib berjamaah. Lalu dengan riang Mas bersama teman-temannya bergegas menuju ruang makan untuk menyantap hidangan buka puasa. Mas … Ibu Kangen.

Di rumah, aku bersama Teteh anak bungsuku. Sambil menunggu waktu berbuka Teteh belajar membaca Al Quran. Duduk berdampingan melantunkan beberapa surat dari juz amma yang telah dihafalnya. Kali ini Teteh minta diceritakan makna dari surat Al Maa’uun yang menceritakan tentang orang yang mendustakan agama. Setelah itu Teteh minta dibacakan cerita tentang Nabi Adam dan Nabi Muhammad ketika mendapat perintah shalat dari Allah SWT. Suamiku duduk manis sambil membaca buku menyimak apa yang sedang Teteh pelajari. Teringat kembali Kaka dan Mas. Dahulu saat mereka balita hingga lulus SD senang sekali belajar bersamaku seperti yang dilakukan Teteh.

Foto ketiga : Maryam Aliyya Al Kindi (Teteh) anak ketigaku paling senang diajak bermain di alam terbuka. Nikmatnya menjadi ibu sungguh tiada terkira.

Begitulah kenikmatan yang aku rasakan sebagai seorang ibu. Bersama Kaka, Mas, dan Teteh menanti waktu berbuka puasa dengan belajar Al Quran dan bercerita kisah-kisah inspiratif. Kali ini tiba-tiba saja aku kangen Kaka dan Mas. Ya Allah Yang Maha Pengasih … Jadikanlah anak-anakku senantiasa mencintai-Mu, meneladani Rasulullah SAW, dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya, amin …

larangan bagi suami membenci istrinya

Standar

Kejadian menghebohkan seringkali terjadi di tengah kita. Seorang istri dianiaya suami hingga harus di rawat di rumah sakit, bahkan hingga di bunuh dan dengan kejam di mutilasi. Astaghfirullah … Kejadian tersebut membuat kita terhenyak dan berpikir adakah tuntunan dari Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu ? Tentang bagaimana kita, sebagai suami istri seharusnya berinteraksi dalam kehidupan berkeluarga ? Sungguh sangat penting kita mengetahui petunjuk Allah Yang Maha Bijaksana.

Muhammad SAW teladan kehidupan kita dalam berkeluarga. ‘Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda : Janganlah seorang mukmin laki-laki memarahi seorang mukminah. Jika dia merasa tidak senang terhadap salah satu perangainya, maka ada perangai lain yang dia sukai.’ (HR. Muslim). Seorang suami dilarang membenci istrinya dalam segala hal yang dapat menyeretnya untuk menceraikannya, tetapi dia harus menyeimbangkan antara yang membuatnya benci dengan apa yang membuatnya ridha. Sehingga dengan demikian, dia akan memaafkannya serta melupakan tindakannya yang kurang menyenangkan, serta menutupi hal-hal yang dibencinya dengan yang disukainya.

Seorang suami harus benar-benar bisa mengendalikan perasaan dan emosinya dengan menggunakan akal sehatnya, dalam berbagai perselisihan yang terjadi dengan istrinya. Bukankah Allah Yang Maha Perkasa telah berfirman, ‘…Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan) karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebaikan yang banyak.’ (QS. An Nisa 4 : 19).

Kisah sedih sehari lalu baru saja aku dengar. Pengasuh anakku bercerita, kakak perempuannya telah diterlantarkan oleh suaminya. Ditinggal begitu saja dengan seorang anak. Tidak diberi nafkah lahir maupun batin bertahun-tahun. Hingga akhirnya dia harus mengurus sendiri perceraian dengan suaminya. Sebulan lalu pemijat langgananku pun bercerita, anak perempuannya ditinggal kawin oleh suaminya. Dia harus mengurus dua anaknya sendirian. Akhirnya Bu Tiyah harus ikut mengurus cucunya sampai menyekolahkannya. Duh … Cerita berlanjut dengan asisten cuci sertrika yang bercerita kalau anak perempuannya ditinggal kawin suaminya. Anak satu-satunya sampai harus diasuh olehnya karena tak ada uang seperserpun yang diberikan untuk menghidupi cucunya itu.

Rasullah SAW bersabda : ‘Cukuplah seseorang itu berdosa jika dia menyia-nyiakan orang yang seharusnya dia beri nafkah.’ (Abu Dawud, Ahmad, Muslim). Kandungan hadits ini adalah diharamkan mengabaikan keadaan keluarga dan menolak memberi nafkah kepada mereka. Seorang laki-laki bertanggung jawab kepada orang yang menjadi tanggungannya, seperti keluarga, kerabatm dan pelayannya. Memberi nafkah kepada orang yang menjadi tanggungan adalah merupakan nafkah yang paling utama.

komunitas ibu-ibu anti korupsi

Standar

Founder Read’s House Kindly : Dewi Laily Purnamasari bersama ibu-ibu di Indonesia – juga di seluruh dunia bertekad dan bergerak untuk menjadi teladan pertama dan utama bagi anak-anak dan keluarga agar memiliki sikap anti korupsi. Anak-anak adalah cikal bakal pemimpin masa depan dan keluarga adalah persemaian yang terbaik bagi tumbuhnya benih-benih akhlak mulia termasuk di dalamnya sikap anti korupsi.

Foto pertama : Santai sesaat sebelum mengajar di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) sambil menikmati keindahan gunung Ciremai.

Helmi Ali dari Rahima Rumah Berdama bercerita bahwa pesan khotib (di Masjid Baiturrahman, Rawa Rambu, Pasar Minggu) hari ini menarik; Dia mengatakan bahwa kasus-kasus korupsi di negeri kita ini sebenarnya telah mempermalukan kita, karena pelakunya kebanyakan adalah tokoh-tokoh yang mempimpin organisasi-organisasi yang berbasis agama, yangg biasa berbicara dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan; mereka itu hanya menjual agama, menjual kita, untuk kepentingan perutnya; Lihat saja gaya hidupnya yang sangat mewah, dengan harta yang berlimpah ruah sementara rakyat semakin terpuruk dalam kemiskinan; karena itu kita seharusnya mendukung upaya-upaya pemberantasan korupsi yang dimotori oleh KPK, katanya; lebih jauh dia mengatakan ‘kenapa kita tidak memperlakukan para koruptur itu sebagai kotoran yang menjijikkan’;

Salah seorang anggota komunitas Wiwiek Abassuni menuliskan : Pernahkah Ibu-ibu ditawarkan oleh seorang pegawai Diknas “jatah” masuk ke sekolah favorit untuk putra Ibu, bila Ibu membayar sekian juta rupiah padanya? Sementara itu ada seeorang anak pintar dan telah berjuang keras untuk masuk ke sekolah itu dengan kemampuannya sendiri harus tergusur oleh “jatah” sang oknum pegawai Diknas tesebut.?

Menurut Rina Wahyuningsih : Hasil korupsi ibarat kotoran seperti halnya juga yang biasa dibuang di kloset. Nah kalau orang yang suka makan kotoran itu apa ya namanya? Parahnya lagi merka bagi-bagikan kotoran itu kepada orang-orang yang dicintai. Duh nauzubillah!!!!!! Semangaattt memerangi korupsi mulai dari diri sendiri.

Oleh sebab itu sejatinya orang yang beragama seharusnya hidupnya takut kepada Tuhan, sebab ia tahu apa yang dilarang Tuhan dan apa yang akan dituai ketika ia melanggar.Setan saja gemetar takut kepada Tuhan. Ini sudah keterlaluan ..Tuhan kelewat sedih juga kali melihat ketidakpedulian ini…ck..ck..melakukan korupsi yang menyengsarakan sesama dan keturunannya menjadi suatu kebanggaan….hadeh! Ayo Ibu- ibu…kita didik anak-anak kita menjadi generasi yang anti korupsi!…kita jadikan mereka memimpin bangsa ini yang berkualitas kelak dalam membenahi negeri ini. Hal ini diungkapkan Rita Liliana anggota komunitas ibu ibu anti korupsi.

Berbagi ide dari Anung Nur Rachmi yang menuliskan : ‘Dengan adanya pers bebas yang membawa terciptanya transparansi, baik rakyat maupun para pejabat publik jadi sama-sama belajar bahwa jadi pejabat publik itu ternyata diikat oleh banyak aturan yang mengharuskan mereka jadi orang “bersih”: tak boleh menggelembungkan (mark-up) anggaran, tak boleh menggunakan anggaran negara utk kepentingan pribadi, tak boleh menerima suap/sogokan, tak boleh memutuskan kebijakan untuk kepentingan suatu kelompok, perusahaan, atau seseorang, hanya karena sudah disogok dengan pemberian mobil atau liburan ke luar negeri, dan lain-lain. Semoga di masa mendatang, banyak orang betul-betul merasa harus berpikir dua kali kalau ingin jadi “pegawai negeri”, makin banyak rakyat yang sadar bahwa “sabetan” atau “penghasilan tambahan” sebagai pegawai negeri atau pejabat publik adalah sesuatu yang ‘haram’, adalah tindakan yang melanggar hukum..’

Foto kedua : Bersama mahasiswa dan rekan dosen Akademi Perdagangan Catur Insan Cendikia (AP-CIC) selepas menjadi pembicara kunci dalam seminar bisnis.

Kenalkan Ayat-Ayat Kauniah Kepada Anak

Standar

Di era digital serba canggih dengan kemajuan teknologi, seringkali menyisakan dampak buruk bagi anak-anak. Ya … Ini bukan isapan jempol, tapi pengalaman nyata Kindi (anak bungsuku berusia 5,5 tahun). Hasil tes kecerdasan mejemuknya menempatkan kecerdasan naturalis atau kecerdasan yang terkait dengan alam berada diurutan paling bawah. dengan poin 2,3 dari skala 5. Bandingkan dengan kecerdasan visual spasial dan kinestetik di urutan pertama dan kedua dengan poin 4,1 dan 3,9. Kecerdasan lingustik, matematis dan musiknya pun bagus dengan poin 3,5 dan 3,1.

Ah … Memang kondisi perumahan tempat tinggalku berada di tengah keramaian kota. Belakang adalah rumah sakit kepolisian, di samping kiri pasar tradisional yang buka 24 jam, dan di sebelah kanan ada mal. Tembok setinggi empat lantai menjadi latar depan pandangan dari rumahku. Belum lagi jalan raya tingkat nasional yang selalu padat merayap sepanjang hari tepat di depan jalan utama masuk perumahan. Lengkap sudah minimnya rangsangan alam dalam kehidupan sehari-hari Kindi.

Aku dan suami berusaha menanam pohon besar di halaman depan rumah (ada tanjung, mangga, kamboja, dadap merah, dan belimbing). Tak lupa rumput di halaman dalam seluas 12 meter persegi dengan beberapa pot bunga. Kindi memelihara kucing, ikan di akuarium, dan ayam. Namun, interaksi dengan alam memang sangat minim. Jadilah ketika ada pertanyaan, apakah Kindi senang melihat kupu-kupu atau lebah? Atau tertarikkah Kindi menanam pohon dan menyiraminya setiap hari? Tentu saja jawabannya Kindi jarang melihat kupu-kupu apalagi lebah hiiiksss … Menanam pohon ya sekali dua saja ketika Kindi ikut repot bersamaku menanam bunga. Menyiram juga kadang-kadang …

Itulah alasanku untuk lebih sering mengajak Kindi berlibur kembali ke alam. Kindi ternyata sangat senang bermain pasir di pantai Ancol. Juga berkuda di Tawangmangu. Memberi makan ikan di kolam Ecopark Ancol. Atau menikmati hamparan hijaunya tanaman teh di Lembang. Pernah juga Kindi asyik bermain di kebun binantang Ragunan dan Secret Zoo Malang. Aku berusaha agar kecerdasan naturalis Kindi bisa meningkat poinnya.

Kalau di rumah aku mengajak Kindi untuk melihat tayangan yang berkaitan dengan alam, seperti dalam film Ping Ping dan Tupi. Aku juga coba mengajaknya menikmati hujan dengan membuka jendela kamar saat hujan datang dan menyanyikan lagu Tik Tik Tik Bunyi Hujan.

Tak lupa beberapa ayat Al Quran yang berkaitan dengan alampun aku bacakan. Seperti diantaranya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuahn) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl 16 : 68-69).

Ayat lain berbunyi : “Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua mahkluk). Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nur 24 : 41-45).

Begitulah upaya yang telah dilakukan, tentu masih banyak kekurangan. Bila dibandingkan dengan cerita si Bolang yang ditayangkan sebuah stasiun televisi tentu sangat jauh. Ah … Sungguh aku senang melihat tayangan yang berkaitan dengan alam seperti itu. Jadi teringat jaman kecil. Saat liburan sekolah,  aku sangat senang menginap di rumah nenek (mamah dari bapaku) yang berada di kaki gunung Ciremai. Bisa main di sungai yang berbatu dan airnya super dingin. Mencari kerang di saluran irigasi. Berlarian di sepanjang pematang sawah sambil mengejar capung. Memancing ikan di kolam samping rumah. Bahkan ikut memberi makan kambing, ayam dan bebek.

Oya … Pamanku juga pernah mengajak aku ke kebun cengkeh untuk memetik buahnya. Aku juga diajari cara membuat cincau dari daunnya yang diperas kemudian dibiarkan sampai mengeras … Segar sekali di campur gula aren. Lalu favoritku adalah minum air kelapa hijau yang tumbuh di depan rumah nenek. Ketika malam menjelang terdengar suara hewan yang berderik merdu. Bintang-bintang di langitpun terlihat jelas.

Semoga saja dua bulan lagi Kindi akan memiliki lingkungan yang lebih alami. Kami sekeluarga akan pindah ke Bandung dan rumah kami masih dekat perkampungan dengan pemandangan alam gunung Manglayang. Mudah-mudah bisa menanam pohon lebih banyak lagi dan juga punya hewan peliharaan yang lebih bervariasi. Paling tidak kecerdasan naturalis Kindi bisa mencapai poin 3.

Bermain di lingkungan yang lebih alami agar Kindi mampu memahami gejala-gejala alam. Tentu alam semesta ini ada penciptanya, yaitu Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah.

Mengajak memberi makan ikan juga berguna agar Kindi tertarik dengan berbagai spesies hewan. Tak lupa akan kebesaran Illahi Rabbi dengan mencintai mahkluk ciptaan-Nya.
Berkuda di pegunungan berkenalan dengan hewan jinak dan menghirup udara segar. Melihat perkebunan strawberry membuat Kindi makin kenal Allah Yang Maha Pencipta lagi Mahakuasa.
Bermain di sungai penuh bebatuan sambil menikmati air terjun adalah cara  mengenalkan eksistensi alam dalam kehidupan Kindi.

Anak Cerdas Kinestetik, Kenali dan Gali Potensinya

Standar

Pemeriksaan Psikologis MIR (Multiple Intelligences Research) diikuti oleh Kindi akhir Mei lalu. Hasilnya adalah poin 4,1 (skala 5) untuk kecerdasan spasial visual. Apakah artinya ? Menurut DR. Howard Gardner komponen inti kecerdasan ini adalah kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat. Berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, dan mendisain.

Kindi akan bergairah bila belajar dilakukan dengan aktivitas, drama, respon tubuh atau membuat kerajinan tangan. Hal ini didukung oleh hasil MIR poin 3,9 untuk kecerdasan kinestetiknya. Wah … Pantas saja Kindi tidak bisa diam lama he3 … Malah senang kalau belajarnya dibumbui dengan acara menari.

Kecerdasan linguistik Kindi juga bagus poin 3,5 sama dengan kecerdasan matematisnya. Jadi gaya belajar yang bisa diterapkan adalah membiasakan Kindi belajar dengan cara membaca, menulis, berdebat, berbicara di depan umum, bercerita, dan merekam dengan kaset. Juga didukung dengan belajar angka-angka. komputer, membuat perkiraan, memecahkan masalah atau studi kasus.

Yuk! Main Bu … Begitulah anak-anak. Main adalah dunianya. Permainan yang disarankan adalah tebak gambar, bongkar pasang, lego, win and lose. Kindi akan bersemangat bila diajak outbond, bersepeda, berenang, dan main rumah-rumahan.

Wah … Benar adanya. Semula aku hanya menduga-duga he3 … Karena Kaka dan Mas juga cerdas spasial visual lalu aku tebak saja Kindi juga sepertinya begitu. Bagaimana tidak ? Dinding rumah sudah penuh berhias hasil goresan pinsil berupa gambar-gambar sejak Kindi berumur setahun. Ada gambar yang tingginya se-jendela. Ah … Ternyata Kindi memanjat meja untuk menggapai tempat kosong (maklum dinding yang rendah sudah penuh semua hi3 …).

Tanda-tanda lainnya adalah Kindi senang membantuku beberes ruangan. Geser perabot ke sana … lalu minggu berikutnya berubah lagi ke sini … Tak lebih dari sebulan geser lagi … Rumahku memang sering sekali berganti posisi perabot.

Kindi juga tak tahan bila sehari saja tak pegang pinsil warna dan menorehkannya di kertas gambar (bekas pun tak masalah yang penting bisa di warnai). Di sekolah Kindi mendapat nilai A untuk pelajaran paint under windows. Gurunya memberi pujian bahwa hasil karya Kindi melebihi teman-teman sekelasnya.

Nah … Supraise juga untuk soal memotret. Tak disangka ternyata Kindi punya mata fotografi yang bagus, Ketika aku minta Kindi men-jepret aku yang jadi objeknya, ternyata hasilnya keren! Saat tes Kindi diminta membentuk sesuatu dari plasitin dan hasilnya bagus. Oh … Rupanya dugaanku tak meleset.

Dalam tes kali ini juga dikenali kecenderungan gaya belajar Kindi. Alhamdulillah … Aku jadi tahu kalau Kindi itu senang belajar dengan gambar artinya dengan membayangkan, suka dengan warna juga belajar dengan metafora. Pantas saja waktu di ajak ke museum Kindi senang sekali. Sebab di museum Kindi bisa melihat langsung dengan matanya bentuk-bentuk hewan  maupun beragam benda lainnya.

 

Kindi bersama sepupunya Fira sesama anak cerdas kinestetik, gak bisa diam ha3 … Kindi berkeliling TMII Jakarta untuk belajar betapa kaya Indonesia negara kita tercinta.
Kegiatan di luar ruang akan membuat Kindi bahagia dan makin semangat belajar. Kindi ikut panen wortel di perkebunan sayur Tawangmangu. Teteh belajar bahwa hasil sumber daya alam Indonesia sangat kaya dan patut disyukuri.

Berenang adalah hobi Kindi. Hampir disetiap acara liburan atau akhir pekan pasti diisi dengan kegiatan renang. Lokasi kolam renang favorit di lantai 30 sebuah hotel di kota Semarang. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/552e326d6ea8343c1d8b4572/kolam-renang-tertinggi-di-indonesia

Teteh berkuda di bukit Sekipan Tawangmangu. Aktifitas di alam bebas seperti ini sangat membantu Teteh untuk mengembangkan kecerdasan kinestetiknya. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/55187693813311a9689deb2b/wisata-asyik-seputar-solo

Praktek langsung akan lebih efektif untuk anak kinestetik. Jadi Kindi senang sekali ketika diajak ke kebun binatang Ragunan Jakarta, Pematang Siantar dan Bandung, atau ke deRanch Puncak dan Lembang, atau Taman Safari Bogor. Aktivitas mengamati dan memberi makan hewan sangat mengasyikkan.
Belajar tentang alam lingkungan perairan, pantai dan laut di Indonesia sangat mudah. Kindi belajar di Pulau Belitung nan cantik dan betah sekali berlama-lama mengekplorasi pulau-pulau kecil yang eksotik. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5994526fda56da559978e2e2/cantiknya-belitung
Sejak kecil Kindi sudah hobi gowes.

Senangnya bisa mengetahui hal ini sejak dini. Sebagai orangtua tentu hal ini sangat berguna untuk menemani Kindi belajar. Selagi masih anak-anak tentu bermain sambil belajar itu lebih asyik. Nah … Kegiatan kreatif yang disarankan adalah mengkoleksi dan memamerkan lukisan serta mendisain sampul buku. Menciptakan olahraga improvisasi dan lomba olahraga bersama keluarga. Membiasakan Kindi untuk suka bercerita, berdiskusi, menulis pesan, membuat buletin keluarga dan menjadi presenter keluarga. Tak lupa mengajak Kindi membuat percobaan ilmiah, menghitung perabot rumah, dan sebagainya.

kisah sejati : bahagia itu sederhana

Standar

Sebagai lulusan arsitektur ITB rasanya mendapat pekerjaan itu mudah saja. Selepas lulus langsung bekerja dan mendapat kepercayaan menjadi asisten Manager di sebuah developer. Namun kehamilan anak pertama membuatku harus berpindah pekerjaan ke sebuah konsultan agar tak terlalu berat kerja di lapangan. Ternyata setelah melahirkan (walaupun normal, aku mengalami retak tulang ekor yang berakibat sakit luar biasa ketika harus duduk) aku diminta suami untuk berhenti bekerja. Alasannya kasihan anak yang hampir selalu ditinggal mulai pagi hingga malam hari.

Sedih juga kehilangan pekerjaan menjadi pengangguran. Menemani anak semata wayang ternyata membuatku banyak memiliki waktu luang. Rasanya jadi pengangguran itu tidak enak. Untuk mengisi waktu, Aku memilih kuliah S2 dengan biaya orangtua. Alhamdulillah … Aku bisa lulus magister manajemen tepat waktu. Sebelum wisuda di tengah gejolak masa reformasi, suamiku yang bekerja di developer terkena PHK besar-besaran. Jadilah kami berdua saat itu pengangguran berpendidikan tinggi. Tabungan kami semakin  menipis.

Setelah wisuda aku mencoba melamar pekerjaan sebagai dosen di luar kota tempat orangtuaku tinggal. Alhamdulillah … Allah Yang Maha Pemurah mengabulkan doaku. Aku menjadi dosen. Sungguh tak disangka saat banyak orang kehilangan pekerjaan, aku malah bisa kembali bekerja di bidang yang juga sangat aku sukai. Ya … Sejak dulu aku suka dunia pendidikan dan cita-cita terpendamku adalah menjadi pendidik.

Bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan, benar adanya. Suamiku masih menganggur. Kondisi yang tidak nyaman tentunya. Sebagai kepala keluarga yang tidak bisa memberi nafkah kepada istri dan anak tentulah sangat berat. Aku mencoba menenangkan hatinya, bahwa keadaan ini tentu sudah dirancang Allah Yang Maha Mulia dengan segala hikmah. Lebih-lebih aku dan suami harus berpisah kota. Kami hanya bisa bertemu seminggu sekali.

Baru saja bekerja enam bulan, Aku dipercaya menjabat sebagai Direktur di Akademi tempatku mengajar. Suami masih belum juga mendapat pekerjaan. Sampai akhirnya ada tawaran pekerjaan di sebuah developer tapi sistem kontrak. Alhamdulillah … Suami kembali bisa mengamalkan ilmunya di bidang arsitektur. Keuangan keluarga mulai membaik.Tapi kami masih berpisah kota.

Suami dimotivasi orangtuanya untuk melanjutkan kuliah S2 di ITB dengan biaya dari mereka. Suami memutuskan untuk mencari pekerjaan di Bandung agar bisa kuliah sambil bekerja. Alhamdulillah … Setelah lulus suami bisa ikut seleksi di sebuah BUMN dan diterima sebagai karyawan tetap. Kami masih berpisah kota. Sudah hampir enam tahun perpisahan kami. Mungkin sebagian orang ada yang sudah lebih lama lagi berkeluarga berpisah kota sepertiku. Rasa berat saat harus bekerja dan mengurus anak sendirian.

Anak keduaku lahir hingga umur empat tahun seminggu sekali saja bertemu ayahnya. Sering di hari Jumat dia bertanya ‘Bu … Bapak kapan pulang ?’ Dia sudah tahu jadwal ayahnya datang Sabtu sore. Pertemuan tak lebih dari 24 jam karena minggu sore suamiku harus kembali keluar kota. Duh … Sedih melihat anak-anak begitu berat melepas kepergian ayahnya.

Akhirnya … Keputusan besar aku ambil. Aku mengundurkan diri dari jabatan sebagai Direktur dan memilih kembali ke Jakarta untuk kumpul bersama suami dan anak-anak. Teman-teman dosen terutama pihak Yayasan sangat terkejut. Tapi tekadku sudah bulat. Ya … Rezeki berupa materi insya Allah akan dicukup oleh Allah Yang Maha Kaya. Aku merasa punya tanggungjawab besar untuk mengasuh, mendidik, dan mendampingi tumbuh kembang anak-anak bersama ayahnya.

Ketika ada orang yang  mengejar dan sangat ingin memiliki jabatan, aku malah melepaskannya. Tapi itu menurutku biasa saja. Toh jabatan itu adalah amanah sementara yang sewaktu-waktu juga akan berakhir. Yang penting saat diberi amanah jagalah sebaik-baiknya. Sepuluh tahun bekerja di luar rumah ditambah aktivitas di partai politik dan LSM memang membuatku merasa bisa beraktualisasi diri dengan maksimal. Bahkan aku menjadi Calon Anggota Legislatif DPR RI, Bakal Calon Walikota, juga menjadi wakil Direktur LSM. Ya … Jabatan di partai dan LSM pun aku lepas.

Foto pertama : Bahagia bersama dua jagoan Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi dan Muhammad Hafizh Haidar Hanif.

Rumah kami mungil saja tipe 21/72. Sedikit di renovasi ruangan ditambah kamar satu, dapur, dan ruang tamu. Hidup bersahaja bersama para tetangga perumahan RSS memberiku hikmah bahwa tak soal dengan kemewahan dunia. Bahagia itu ada dalam jiwa bukan dari banyaknya harta. Bahagia itu sederhana saja. Berkumpul bersama anak-anak dan suami tercinta, membuat sarapan pagi, mengantar dan menjemput sekolah, menemani belajar, bermain sepeda keliling perumahan, mengantar les renang, bahkan sekedar membaca buku cerita bersama.

Allah Yang Maha Cerdas tak pernah lepas memberi aku kesempatan untuk berkarya. Di perumahan yang padat ini ternyata posyandunya mati suri. Aku tergerak untuk menghidupkannya kembali. Sisa uang belanja aku bantu untuk mengembangkan posyandu hingga pa RW menunjukku menjadi ketuanya. Posyandu berkembang dengan membuka kelas untuk balita belajar. Garasi rumahku dan ruang tamu dimanfaatkan untuk mereka belajar seminggu dua kali. Aku gurunya. Gratis!

Bahagia itu sederhana. Berbagi dengan sesama tanpa pamrih. Senyum para ibu dan tawa riang balita sangat menghibur hatiku dan memberi semangat bahwa bekerja itu bisa di mana saja. Bekerja itu tak melulu mengejar gaji. Rezeki itu bukan hanya uang. Dan keberkahan hidup tak dinilai dari jabatan. Subhanallah … Pelajaran hidup seperti ini tak didapat dibangku kuliah selevel S3 pun. Ini harus benar-benar dijalani dan dimintakan hikmahnya kepada Allah Yang Maha Bijaksana.

Foto Kedua : Suamiku bersama Maryam Aliyya Al Kindi (Teteh) anak bungsu yang ditunggu-tunggu.

Setelah lebih dari lima tahun hampir tak ada sebersitpun kembali bekerja di luar rumah. Anak ketiga telah berusia empat tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak.  Anak pertama dan kedua belajar di boarding school. Tiba-tiba saja teman dosen di tempatku dulu mengajar menelpon. Wah … Hatiku bertanya-tanya, ada apa ? Kabar beritanya adalah Aku diundang untuk mengikuti ujian sertifikasi dosen. Ternyata selama lima tahun selepas mengundurkan diri, namaku masih ada dalam daftar sebagai dosen tetap di sana. Benar-benar bukti kebesaran Allah Yang Maha Agung. Akupun mengikuti ujian, lulus dan mendapat tunjangan.

Konsekuensinya aku harus kembali aktif sebagai dosen. Suamiku mendukung agar aku menjalankan amanah ini. Ah … Aku bimbang karena aku harus berada di luar kota minimal dua hari dalam seminggu. Aku memikirkan anak bungsuku, bagaimana dia nanti ? Lagi-lagi pertolongan Allah Yang Maha Mendengar datang. Pengasuh anakku yang biasanya pulang hari bersedia menemani hingga suamiku pulang. Bila suami juga dinas keluar kota (sering sekali kantornya menugaskan keluar kota bahkan keluar negeri) pengasuh anakku bisa menginap tapi sambil membawa anak-anaknya. Akhirnya dengan niat untuk kembali mengamalkan ilmu dan berbagi pengetahuan kepada para mahasiswa di kampus. Semoga Allah Yang Maha Melihat memberikan segala keberkahan kepada keluarga kami. Serta menjadikan kami senantiasa mampu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan. Juga senantiasa mampu bersabar bila kami menemui kesulitan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Foto ketiga : Alhamdulillah … Saat berkumpul berlima membuat kami bahagia dan tak berhenti mengucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa

cerita ramadhan : kurma berubah jadi kecoa ?

Standar

Kejadian ini menimpa suami pada suatu hari di bulan Ramadhan sepuluh tahun silam. Kurma yang akan dimakan saat sahur ternyata berubah (lebih tepatnya berganti) jadi kecoa. Ceritanya begini …

Waktu berbuka telah tiba. Suamiku yang sedang menempuh kuliah pascasarjana di kampus jalan ganesha 10 harus jadi anak kos. Kebiasaan suami adalah minum air putih beberapa teguk lalu menyantap kurma tiga buah bersama teman-teman kosnya. Entah mengapa ? Kali ini suamiku berkomentar … ‘Kurmanya kok kayak kecoa ya ?’ Tentu komentar humor itu menjadikan gelak tawa seisi ruangan. Komentar lainpun bermunculan seputar makanan dan minuman. Dan lagi-lagi lelucon itupun memancing gelak tawa.

Selepas shalat tarawih, suami masih harus menyelesaikan berbagai tugas kuliah. Tidurpun saat malam sudah larut. Akibatnya saat sahur, suamiku bangun mepet waktu subuh. Tinggal beberapa menit saja. Pilihan menu sahur paling praktis adalah minum air putih dan makan kurma. Sepiring kurma masih ada di meja makan. Masih terbawa kantuk, tangan suami mengambil satu kurma. Lalu, kurma kedua … Kok agak beda ya ? Penasaran. Didekatkan kurma agar terlihat jelas. Agak berbulu dan … Loh! Ada kaki dan sayapnya. Masya Allah … Kecoa!

Jijik … Langsung dilempar kecoa yang sudah mati itu. Mual rasanya. Duh … Terbayang tadi kurma pertama yang dimakan bisa jadi sudah digerayangi kecoa. Hi … Kurma berubah jadi kecoa ? Tidak mungkin, bukan ? Namun … Suamiku langsung membaca istighfar : ‘Astaghfirullah al’Adzim … Ampuni aku yang telah menghina kurma serupa kecoa’. Adzan subuhpun berkumandang. Kali itu suamiku hanya makan sebuah kurma dan beberapa teguk air putih.

Kejadian itu sempat membuat suami mogok makan kurma beberapa hari. Hikmah kejadian ini adalah jangan pernah sekalipun menghina makanan. Tak elok pula bila makanan menjadi bahan olok-olok. Bila tak suka rasanya, janganlah mengatakan makanan ini tidak enak. Bisa jadi lidah dan selera kita saja yang tidak cocok. Toh … Ada orang lain yang suka dan mengatakannya lezat.Dan tentu Allah Yang Maha Terpuji telah menciptakan makanan dengan sempurna untuk kebaikan manusia. Subhanallah …

Ingatlah Allah Yang Maha Mengetahui telah berfirman, “Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tamanan yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya), …”. (QS. Al An’am 6 : 141)

Ini cerita ramadhanku … Apa ceritamu ?

Jangan pernah sekalipun menghina makanan. Bila tak suka rasanya, janganlah mengatakan makanan ini tidak enak. Bisa jadi lidah dan selera kita saja yang tidak cocok. Toh … Ada orang lain yang suka dan mengatakannya lezat.

rafting di kali oya dan cube tubing di goa pindul

Standar

Menyusuri jalan berliku menuju lokasi cave tubing dan rafting rasanya asyik-asyik saja. Apalagi pemandangan pedesaan dan hutan jati yang alami sangat menghibur. Aku dan anak-anak yang terbiasa melihat dinding beton di Jakarta tentu merasa bahagia ketika menemukan hijaunya pepohonan, sungai berbatu besar, juga air jernih yang mengalir deras.

Foto pertama : Kaka dan Mas bersiap memakai pelampung di basecamp, sebelum berangkat dengan menggunakan mobil bak terbuka menuju lokasi.

Ya … Wisata alam Kali Oya dan Goa Pindul di Gunung Kidul Yogyakarta memberikan kebahagiaan itu. Kami mengunjungi lokasi eksotik ini saat silaturahim lebaran ke Solo. Alhamdulillah … Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi (Kaka) yang bersekolah  di SMA Insan Cendikia Islamic Boarding School dan Muhammad Hafizh Haidar Hanif (Mas) di SMP Al Binaa Islamic Boarding School masih bisa menikmati liburan bersama. Mereka bisa bertemu ya pas liburan seperti ini, karena lokasi boarding yang berjauhan berbeda kota.

Waktu tempuh dari Solo melewati Sukoharjo sekitar 2 jam perjalanan. Oya … Siapkan bekal makanan yang cukup agar perjalanan makin terasa asyik. Bila membawa balita perlu juga dipersiapkan bekal makan siang yang disukainya, karena di lokasi makanan yang tersedia lebih ke arah selera dewasa. Jangan  lupa membawa bekal air putih yang cukup agar terhindar dari dehidrasi, mengingat daerah Gunung Kidul terkenal terik.

Foto kedua : Sepupu Kaka dan Mas yang tinggal di Solo ikut menemani rafting dan cave tubing.

Harga tiket yang murah meriah … Rp. 35.000 untuk rafting dan Rp. 30.000 untuk cave tubing sudah lengkap dengan fasilitas pemandu, mobil antar jemput dari basecamp ke lokasi pp, pelampung, dan ban besar. Yap! Petualangan pun dimulai.

Foto ketiga : Seger … Diguyur air terjun.

Foto keempat : Tawa Kaka dan Mas menandakan mereka bahagia dengan kegiatan ini.

Mobil bak terbuka membawa kami menuju lokasi. Seru juga … Angin berhembus menerpa wajah dan rambut kami … He3 … Inilah yang di sebut AC alam … alias angin cemilir dari alam. Lokasi Kali Oya sepanjang 2 kilometer kali ini airnya tak terlalu deras karena musim kemarau. Namun, tetap saja asyik bagi kami yang tak mungkin bermain air seperti ini di Jakarta. Apalagi ada air terjun kecil yang bisa kami lalui dan mengguyur tubuh sampai basah kuyup … Ha3 … Tawa kami tiada putus karena gembira.

Foto kelima : Kaka dan Mas mencoba berenang di Kali Oyo yang berair jernih.

Foto keenam : Udara siang hari yang terik tak terasa karena suasana di Kali Oyo masih dikelilingi rimbun pepohonan serta air yang sejuk.

Oya … Kami juga mencoba berenang tanpa ban besar di kali. Wuih … Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Terbayang sungai Ciliwung di Jakarta dengan airnya yang butek dan bau hiiiksss … Tak mungkin kami mau berenang di sana.

Foto ketujuh : Dinding Kali Oyo di beberapa tempat berdinding batu yang seolah diukir indah. Ini akibat gerusan air sungai yang terus menerus.

Foto kedelapan : Berpose dulu sebelum masuk ke Goa Pindul.

Goa Pindul dengan hiasan stalagtit dan stalagmit memberikan sensasi tersendiri yang sulit digambarkan. Intinya … Subhanallah … Sungguh Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan keindahan ini agar manusia semakin tunduk kepada-Nya. Goa sepanjang 300 meter kami lalui tak lebih dari setengah jam.

Foto kesembilan : Kaka dan Mas ditemani sepupunya menikmati segarnya udara persawahan yang menghijau.

Foto kesepuluh : Langit mendung dan gerimis turun sebentar saja saat kami meninggalkan lokasi. Batu-batu besar terlihat sepanjang jalan di daerah Gunung Kidul Yogyakarta.

Indonesia memang subur. Sawah membentang warna kehijauan menyejukkan mata dan menentramkan hati. Bukit batu di Gunung Kidul pun ternyata tetap bisa ditumbuhi pepohonan. Sungguh luar biasa. Maka … Nikmat Allah Yang Maha Mulia ini janganlah didustakan. Pandai-pandailah bersyukur dengan selalu menjaga kelestarian alam.

keren! ada pelangi di batu raden

Standar

Udara sejuk dingin begitu menyenangkan hati kami saat menjejakkan kaki di gerbang Taman Wisata Batu Raden. Terlihat nun jauh di sana, berdiri kokoh gunung Slamet. Langit biru cerah menjadi latar yang indah. Subhanallah …

Atraksi paling menarik di sini adalah air mancur tinggi dan percikannya bisa membuat pelangi. Keren! Kalau ingin turun ke kolam ikan harus membeli tiket Rp. 5.000 dan pakan ikan satu plastik kecil Rp. 1.000. Dijamin tak akan rugi bersusah payah turun karena akan memperoleh pengalaman yang mengasyikkan.

Di pelataran depan ada pesawat yang digunakan sebagai theater alam. Harga masuk tiketnya hanya Rp. 5.000,-. Sekelompok pemain musik tradisional menyambut dengan lantunan nada-nada merdu. Seru loh! Udara sejuk dan angin semilir menyentuh lembut wajahku. Membuat hati terasa tentram menikmati keindahan karunia Allah Yang Maha Kaya.

Kami cukup membayar Rp. 10.000 perorang untuk masuk ke area wisata ini. Ada pesawat garuda yang telah diubah menjadi wahana wisata dengan tiket masuk Rp. 5.000, wah … murah ya … he3 … Di dalam pun ada banyak permainan anak-anak dengan tiket yang terjangkau, seperti otoped Rp. 5.000 dan main balon seharga Rp. 10.000. Sedangkan ayunan, jungkat jungkit, dan bermain air di sungai tak harus bayar lagi.

Oya … Jangan gentar juga untuk terus menaiki tebing bebatuan hingga sampai di sebuah jembatan yang paling tinggi. Dari sana akan terlihat pemandangan cantik hampir keseluruhan lokasi taman wisata. Ada atraksi menarik loh! Silahkan siapkan uang koin limaratus atau seribu rupiah untuk dilemparkan dan para penyelam amatir akan bergerak secepat kilat menangkap koin itu. Wah … Berani sekali mereka … Takjub melihatnya.

Saat perut mulai keroncongan, kami memilih bersantap siang dengan menu sate kelinci dan lontong. Satu porsi cukup merogoh kocek Rp, 18.000 saja. Sedangkan sate ayam dibandrol Rp. 13.000 satu porsi. Ada juga penjual pecel sayuran yang segar. Duduk lesehan di atas tikar sambil memandang rimbunnya pepohonan dan gunung Slamet yang berpayung awan, rasanya sangat bahagia. Alhamdulillah … Betapa Allah Yang Maha Pemurah telah memberikan negeri Indonesia keindahan alam.

cinta sejati memang langka : tapi … ia ada

Standar

Melangkah bersama dalam perkawinan bukanlah perkara enteng. Terekam jejak begitu banyak perkawinan membawa derita lahir batin bagi yang menjalaninya. Kali ini aku tak akan membahas perkawinan yang tak bahagia. Kini aku ingin berkisah tentang kebahagiaan perkawinan berkat cinta sejati.

Memangnya cinta sejati itu ada ? Ah … Seandainya adapun, ia sesuatu yang langka. Ya … Cinta sejati itu langka, tetapi ia ada. Cinta sejati ada dalam jiwa yang tanpa pamrih berbuat kebajikan bagi pasangannya dalam perkawinan. Mendahulukan kewajiban dari pada hak. Menunaikan tugas dan tanggung jawab tanpa berharap pujian dan sanjungan. Cinta sejati itu saling memberi, menghormati, menghargai, memuliakan, dan menjaga amanah dengan sebaik-baiknya.

Kami telah bersama lebih dari delapan belas tahun. Tidak mudah untuk memahami jiwa seseorang, namun sangat mudah untuk memulainya dengan menerima apa adanya keadaan diri masing-masing. Bukankah sebelumnya hampir seperempat abad sebelum kami berumahtangga, telah ada perjalanan kehidupan masa silam ? Yang mewarnai dan membentuk diri masing-masing. Maka, hanya dengan menerima apa adanya itulah cinta sejati mulai bertumbuh kembang. Bila tidak, maka sama saja dengan membunuhnya perlahan-lahan …

Bukan intan berlian, rumah gemerlap, kendaraan terbaru, dan digit deposito yang menjadi ukuran kebahagiaan. Cinta sejati tak diukur dengan benda duniawi. Cinta sejati ada dalam relung serupa rongga penyimpan lentera. Lentera itu menyala dengan sendirinya dengan minyak yang berkilau karena kemurniannya. Cahaya cinta sejati menerangi si pemilik pun orang yang dicintainya. Karena sekali lagi cinta sejati itu saling … Tak berdiri sendiri.

Keluarga yang dibangun dengan cinta sejati adalah tempat terbaik bagi tumbuh kembang anak-anak. Limpahan kasih sayang, perhatian, dan doa akan menghiasi perjalanan bersama menuju keridhoan-Nya. Tak ada amarah, bila pun ada marah itu tak lama. Bisa jadi karena belum memahami atau salah persepsi. Namun, saling memaafkan dan memperbaiki diri adalah pelipur agar kembali harmoni. Seandainya ada duka, itupun tak lama dan tak berkepanjangan menjadi derita. Penghapus duka adalah bersabar atas segala kehendak-Nya. Saat mendapat suka tak larut hingga kesombongan mencuat. Syukur dan terus berbuat kebajikan bagi sesama adalah cara terbaik agar makin ditambahkan-Nya keberkahan.

Seorang pencinta sejati tentu sangat bertanggungjawab terhadap rumah tangganya, pada keluarganya. Keberhasilan memimpin keluarga adalah salah satu kriteria bagi kesuksesan seseorang. “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu.” (HR. Tirmidzi dengan no. 3830).

Bila maut memisahkan, cinta sejati tetap hidup membimbing lidah berucap doa-doa terbaik. Dikirim pada malam-malam sunyi kepada Allah Yang Maha Pengasih. Dimintakannya kebaikan dan pengampunan atas segala kesalahan. Dipanjatkan permohonan diterima segala kebaikan. Entahlah siapa dahulu kelak dipanggil Illahi Rabbi Allah Yang Maha Mulia …