kisah sejati : bahagia itu sederhana

Standar

Sebagai lulusan arsitektur ITB rasanya mendapat pekerjaan itu mudah saja. Selepas lulus langsung bekerja dan mendapat kepercayaan menjadi asisten Manager di sebuah developer. Namun kehamilan anak pertama membuatku harus berpindah pekerjaan ke sebuah konsultan agar tak terlalu berat kerja di lapangan. Ternyata setelah melahirkan (walaupun normal, aku mengalami retak tulang ekor yang berakibat sakit luar biasa ketika harus duduk) aku diminta suami untuk berhenti bekerja. Alasannya kasihan anak yang hampir selalu ditinggal mulai pagi hingga malam hari.

Sedih juga kehilangan pekerjaan menjadi pengangguran. Menemani anak semata wayang ternyata membuatku banyak memiliki waktu luang. Rasanya jadi pengangguran itu tidak enak. Untuk mengisi waktu, Aku memilih kuliah S2 dengan biaya orangtua. Alhamdulillah … Aku bisa lulus magister manajemen tepat waktu. Sebelum wisuda di tengah gejolak masa reformasi, suamiku yang bekerja di developer terkena PHK besar-besaran. Jadilah kami berdua saat itu pengangguran berpendidikan tinggi. Tabungan kami semakin  menipis.

Setelah wisuda aku mencoba melamar pekerjaan sebagai dosen di luar kota tempat orangtuaku tinggal. Alhamdulillah … Allah Yang Maha Pemurah mengabulkan doaku. Aku menjadi dosen. Sungguh tak disangka saat banyak orang kehilangan pekerjaan, aku malah bisa kembali bekerja di bidang yang juga sangat aku sukai. Ya … Sejak dulu aku suka dunia pendidikan dan cita-cita terpendamku adalah menjadi pendidik.

Bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan, benar adanya. Suamiku masih menganggur. Kondisi yang tidak nyaman tentunya. Sebagai kepala keluarga yang tidak bisa memberi nafkah kepada istri dan anak tentulah sangat berat. Aku mencoba menenangkan hatinya, bahwa keadaan ini tentu sudah dirancang Allah Yang Maha Mulia dengan segala hikmah. Lebih-lebih aku dan suami harus berpisah kota. Kami hanya bisa bertemu seminggu sekali.

Baru saja bekerja enam bulan, Aku dipercaya menjabat sebagai Direktur di Akademi tempatku mengajar. Suami masih belum juga mendapat pekerjaan. Sampai akhirnya ada tawaran pekerjaan di sebuah developer tapi sistem kontrak. Alhamdulillah … Suami kembali bisa mengamalkan ilmunya di bidang arsitektur. Keuangan keluarga mulai membaik.Tapi kami masih berpisah kota.

Suami dimotivasi orangtuanya untuk melanjutkan kuliah S2 di ITB dengan biaya dari mereka. Suami memutuskan untuk mencari pekerjaan di Bandung agar bisa kuliah sambil bekerja. Alhamdulillah … Setelah lulus suami bisa ikut seleksi di sebuah BUMN dan diterima sebagai karyawan tetap. Kami masih berpisah kota. Sudah hampir enam tahun perpisahan kami. Mungkin sebagian orang ada yang sudah lebih lama lagi berkeluarga berpisah kota sepertiku. Rasa berat saat harus bekerja dan mengurus anak sendirian.

Anak keduaku lahir hingga umur empat tahun seminggu sekali saja bertemu ayahnya. Sering di hari Jumat dia bertanya ‘Bu … Bapak kapan pulang ?’ Dia sudah tahu jadwal ayahnya datang Sabtu sore. Pertemuan tak lebih dari 24 jam karena minggu sore suamiku harus kembali keluar kota. Duh … Sedih melihat anak-anak begitu berat melepas kepergian ayahnya.

Akhirnya … Keputusan besar aku ambil. Aku mengundurkan diri dari jabatan sebagai Direktur dan memilih kembali ke Jakarta untuk kumpul bersama suami dan anak-anak. Teman-teman dosen terutama pihak Yayasan sangat terkejut. Tapi tekadku sudah bulat. Ya … Rezeki berupa materi insya Allah akan dicukup oleh Allah Yang Maha Kaya. Aku merasa punya tanggungjawab besar untuk mengasuh, mendidik, dan mendampingi tumbuh kembang anak-anak bersama ayahnya.

Ketika ada orang yang  mengejar dan sangat ingin memiliki jabatan, aku malah melepaskannya. Tapi itu menurutku biasa saja. Toh jabatan itu adalah amanah sementara yang sewaktu-waktu juga akan berakhir. Yang penting saat diberi amanah jagalah sebaik-baiknya. Sepuluh tahun bekerja di luar rumah ditambah aktivitas di partai politik dan LSM memang membuatku merasa bisa beraktualisasi diri dengan maksimal. Bahkan aku menjadi Calon Anggota Legislatif DPR RI, Bakal Calon Walikota, juga menjadi wakil Direktur LSM. Ya … Jabatan di partai dan LSM pun aku lepas.

Foto pertama : Bahagia bersama dua jagoan Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi dan Muhammad Hafizh Haidar Hanif.

Rumah kami mungil saja tipe 21/72. Sedikit di renovasi ruangan ditambah kamar satu, dapur, dan ruang tamu. Hidup bersahaja bersama para tetangga perumahan RSS memberiku hikmah bahwa tak soal dengan kemewahan dunia. Bahagia itu ada dalam jiwa bukan dari banyaknya harta. Bahagia itu sederhana saja. Berkumpul bersama anak-anak dan suami tercinta, membuat sarapan pagi, mengantar dan menjemput sekolah, menemani belajar, bermain sepeda keliling perumahan, mengantar les renang, bahkan sekedar membaca buku cerita bersama.

Allah Yang Maha Cerdas tak pernah lepas memberi aku kesempatan untuk berkarya. Di perumahan yang padat ini ternyata posyandunya mati suri. Aku tergerak untuk menghidupkannya kembali. Sisa uang belanja aku bantu untuk mengembangkan posyandu hingga pa RW menunjukku menjadi ketuanya. Posyandu berkembang dengan membuka kelas untuk balita belajar. Garasi rumahku dan ruang tamu dimanfaatkan untuk mereka belajar seminggu dua kali. Aku gurunya. Gratis!

Bahagia itu sederhana. Berbagi dengan sesama tanpa pamrih. Senyum para ibu dan tawa riang balita sangat menghibur hatiku dan memberi semangat bahwa bekerja itu bisa di mana saja. Bekerja itu tak melulu mengejar gaji. Rezeki itu bukan hanya uang. Dan keberkahan hidup tak dinilai dari jabatan. Subhanallah … Pelajaran hidup seperti ini tak didapat dibangku kuliah selevel S3 pun. Ini harus benar-benar dijalani dan dimintakan hikmahnya kepada Allah Yang Maha Bijaksana.

Foto Kedua : Suamiku bersama Maryam Aliyya Al Kindi (Teteh) anak bungsu yang ditunggu-tunggu.

Setelah lebih dari lima tahun hampir tak ada sebersitpun kembali bekerja di luar rumah. Anak ketiga telah berusia empat tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak.  Anak pertama dan kedua belajar di boarding school. Tiba-tiba saja teman dosen di tempatku dulu mengajar menelpon. Wah … Hatiku bertanya-tanya, ada apa ? Kabar beritanya adalah Aku diundang untuk mengikuti ujian sertifikasi dosen. Ternyata selama lima tahun selepas mengundurkan diri, namaku masih ada dalam daftar sebagai dosen tetap di sana. Benar-benar bukti kebesaran Allah Yang Maha Agung. Akupun mengikuti ujian, lulus dan mendapat tunjangan.

Konsekuensinya aku harus kembali aktif sebagai dosen. Suamiku mendukung agar aku menjalankan amanah ini. Ah … Aku bimbang karena aku harus berada di luar kota minimal dua hari dalam seminggu. Aku memikirkan anak bungsuku, bagaimana dia nanti ? Lagi-lagi pertolongan Allah Yang Maha Mendengar datang. Pengasuh anakku yang biasanya pulang hari bersedia menemani hingga suamiku pulang. Bila suami juga dinas keluar kota (sering sekali kantornya menugaskan keluar kota bahkan keluar negeri) pengasuh anakku bisa menginap tapi sambil membawa anak-anaknya. Akhirnya dengan niat untuk kembali mengamalkan ilmu dan berbagi pengetahuan kepada para mahasiswa di kampus. Semoga Allah Yang Maha Melihat memberikan segala keberkahan kepada keluarga kami. Serta menjadikan kami senantiasa mampu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan. Juga senantiasa mampu bersabar bila kami menemui kesulitan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Foto ketiga : Alhamdulillah … Saat berkumpul berlima membuat kami bahagia dan tak berhenti mengucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s