buah dan sayur impor menjajah kita : miris!

Standar

Siang hari panas menyengat. Sesaat turun dari angkutan umum, aku masuk ke pasar modern dekat rumah. Hawa sejuk menyeruak namun tak meredakan darahku yang tiba-tiba mendidih. Ah … Kali ini aku kok jadi sensitif ya ? Aku hanya ingin membeli sebungkus margarin dan sekotak telur ayam kampung. Saat melintas rak pendingin aku tertegun. Wow … Deretan jamur beragam rupa ditata apik. Pun buah-buahan aneka warna.

Tahukah teman-teman kompasiana yang cinta negeri Indonesia ? Jamur itu datang dari negeri Korea. Impor! Disebelahnya ada tempe yang juga kedelainya impor. Di rak sebrang wortel impor bersebelahan dengan tomat lokal. Waduh … Bagaimana ini ? Rasa mirisku tak berhenti di rak ini.

Ternyata buah-buahan itupun berasal dari negeri nun jauh di sana. Kiwi Australia. Apel dan Anggur  Amerika. Cinapun mengimpor pir dan apel. Ada lemon, buah naga, jeruk, dan durian impor. Gelaran buah lokal ada apel malang, jeruk medan, manggis, alpukat, semangka, melon, dan pepaya. Namun … Tampilannya tak segar. Entah mengapa ?

Negara kita tak dijajah sebagaimana jaman sebelum kemerdekaan. Tapi … Melihat fenomena ini, apakah tak terpikirkan bahwa sekarangpun kita ini masih dijajah.

Deretan buah-buahan impor. Wah … Benar-benar miris!

Kedelai bahan baku tempepun impor loh! Jamur itu datang dari Korea.

Mau tahu kiatku sebagai ibu rumahtangga agar tak dijajah ? Karena salah satu Untuk urusan belanja buah dan sayur, aku tetap setia membelinya di pasar tradisional. Buah yang kerap aku beli adalah semangka, jeruk, pepaya, mangga, jambu merah, alpukat, pisang, nanas, dan melon. Sayuran favoritku adalah bayam, plus jagung, dan seperangkat sop-sopan atau campur aduk sayur asem (he3 … kadang sampai lupa apa saja ya isinya ?).

Trik berbelanja di pasar tradisional adalah aku tak pernah menawar harga buah dan sayur. Paling banter aku akan bilang begini : ‘pasnya berapa mba ?’ atau ‘boleh kurang gak mas ?’ Aku kok tidak tega kalau harus menawar padahal paling-paling turun harga seribu dua ribu untuk satu kilo jeruk medan misalnya. bahkan hanya limaratus perak saja untuk seikat bayam.

Satu lagi nih … Aku tidak pernah belanja kepada penjual yang menjajakan dagangannya di trotoar. Ini harga mati! Karena menurutku penjual di trotoar itu sangat mengganggu pejalan kaki dan membuat kemacetan. Jadi belanjanya ya di dalam pasar kepada penjual di kios atau lapak yang telah disediakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s