cinta sejati memang langka : tapi … ia ada

Standar

Melangkah bersama dalam perkawinan bukanlah perkara enteng. Terekam jejak begitu banyak perkawinan membawa derita lahir batin bagi yang menjalaninya. Kali ini aku tak akan membahas perkawinan yang tak bahagia. Kini aku ingin berkisah tentang kebahagiaan perkawinan berkat cinta sejati.

Memangnya cinta sejati itu ada ? Ah … Seandainya adapun, ia sesuatu yang langka. Ya … Cinta sejati itu langka, tetapi ia ada. Cinta sejati ada dalam jiwa yang tanpa pamrih berbuat kebajikan bagi pasangannya dalam perkawinan. Mendahulukan kewajiban dari pada hak. Menunaikan tugas dan tanggung jawab tanpa berharap pujian dan sanjungan. Cinta sejati itu saling memberi, menghormati, menghargai, memuliakan, dan menjaga amanah dengan sebaik-baiknya.

Kami telah bersama lebih dari delapan belas tahun. Tidak mudah untuk memahami jiwa seseorang, namun sangat mudah untuk memulainya dengan menerima apa adanya keadaan diri masing-masing. Bukankah sebelumnya hampir seperempat abad sebelum kami berumahtangga, telah ada perjalanan kehidupan masa silam ? Yang mewarnai dan membentuk diri masing-masing. Maka, hanya dengan menerima apa adanya itulah cinta sejati mulai bertumbuh kembang. Bila tidak, maka sama saja dengan membunuhnya perlahan-lahan …

Bukan intan berlian, rumah gemerlap, kendaraan terbaru, dan digit deposito yang menjadi ukuran kebahagiaan. Cinta sejati tak diukur dengan benda duniawi. Cinta sejati ada dalam relung serupa rongga penyimpan lentera. Lentera itu menyala dengan sendirinya dengan minyak yang berkilau karena kemurniannya. Cahaya cinta sejati menerangi si pemilik pun orang yang dicintainya. Karena sekali lagi cinta sejati itu saling … Tak berdiri sendiri.

Keluarga yang dibangun dengan cinta sejati adalah tempat terbaik bagi tumbuh kembang anak-anak. Limpahan kasih sayang, perhatian, dan doa akan menghiasi perjalanan bersama menuju keridhoan-Nya. Tak ada amarah, bila pun ada marah itu tak lama. Bisa jadi karena belum memahami atau salah persepsi. Namun, saling memaafkan dan memperbaiki diri adalah pelipur agar kembali harmoni. Seandainya ada duka, itupun tak lama dan tak berkepanjangan menjadi derita. Penghapus duka adalah bersabar atas segala kehendak-Nya. Saat mendapat suka tak larut hingga kesombongan mencuat. Syukur dan terus berbuat kebajikan bagi sesama adalah cara terbaik agar makin ditambahkan-Nya keberkahan.

Seorang pencinta sejati tentu sangat bertanggungjawab terhadap rumah tangganya, pada keluarganya. Keberhasilan memimpin keluarga adalah salah satu kriteria bagi kesuksesan seseorang. “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu.” (HR. Tirmidzi dengan no. 3830).

Bila maut memisahkan, cinta sejati tetap hidup membimbing lidah berucap doa-doa terbaik. Dikirim pada malam-malam sunyi kepada Allah Yang Maha Pengasih. Dimintakannya kebaikan dan pengampunan atas segala kesalahan. Dipanjatkan permohonan diterima segala kebaikan. Entahlah siapa dahulu kelak dipanggil Illahi Rabbi Allah Yang Maha Mulia …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s