jadi ibu itu nikmat tiada terkira

Standar

Hamil. Melahirkan. Menyusui. Telah ditetapkan hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu. Amanah mulia ini telah aku alami tiga kali. Kisah melahirkan dengan tiga gaya telah ku tuliskan di kompasiana. Begitupun 99 asma Allah dalam proses reproduksiku menjadi judul artikel tentang pengalaman sebagai seorang ibu. Belum lagi puluhan tulisan terkait pengasuhan anak dan pendidikan menghiasi blog keroyokan ini. Bagi yang belum sempat sowan, monggo dipersilahkan mampir.

Foto pertama : Bahagia dalam kebersamaan.

Malam ini sebelum melanjutkan shalat tarawih. Tiba-tiba saja aku ingin menuliskan sebuah judul nikmatnya jadi ibu. Ha3 … Lucunya aku belum tahu hendak menuliskan apa nanti dari alinea ke alinea. Ah … Biarkan saja … Mungkin kalau bukan rangkaian kata, aku hanya akan upload foto-foto aku bersama ketiga anakku.

Sebenarnya, mungkin ini naluri seorang ibu. Sungguh malam ini malam minggu penuh rindu. Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi (Kaka) anak pertamaku sedang asyik belajar di boarding schoolnya di kota Cirebon. Tentu selepas berbuka tadi Kaka akan menuju ke masjid dan segera melaksanakan shalat bersama guru-guru dan teman-temannya. Terbayang badannya yang tegap, tinggi besar, dengan warna kulit kecoklatan dan wajah gantengnya. Sesekali Kaka mendapat tugas untuk adzan atau menjadi imam shalat. Kaka … Ibu kangen.

Foto kedua : Kaka dan Mas berpose sejenak bersama ayah mereka selepas silaturahim ke rumah famili di Solo. Kangen …

Lintasan wajah putih bersih, tenang, jangkung langsing milik Muhammad Hafizh Haidar Hanif (Mas) anak keduaku. Boarding school di Bekasi perbatasan dengan Karawang dipilihnya sendiri menjadi tempatnya menimba ilmu. Mas dan teman-temannya akan duduk-duduk di selasar masjid menanti waktu berbuka puasa. Setelah minum dan makan tiga buah kurma, Mas segera menunaikan shalat maghrib berjamaah. Lalu dengan riang Mas bersama teman-temannya bergegas menuju ruang makan untuk menyantap hidangan buka puasa. Mas … Ibu Kangen.

Di rumah, aku bersama Teteh anak bungsuku. Sambil menunggu waktu berbuka Teteh belajar membaca Al Quran. Duduk berdampingan melantunkan beberapa surat dari juz amma yang telah dihafalnya. Kali ini Teteh minta diceritakan makna dari surat Al Maa’uun yang menceritakan tentang orang yang mendustakan agama. Setelah itu Teteh minta dibacakan cerita tentang Nabi Adam dan Nabi Muhammad ketika mendapat perintah shalat dari Allah SWT. Suamiku duduk manis sambil membaca buku menyimak apa yang sedang Teteh pelajari. Teringat kembali Kaka dan Mas. Dahulu saat mereka balita hingga lulus SD senang sekali belajar bersamaku seperti yang dilakukan Teteh.

Foto ketiga : Maryam Aliyya Al Kindi (Teteh) anak ketigaku paling senang diajak bermain di alam terbuka. Nikmatnya menjadi ibu sungguh tiada terkira.

Begitulah kenikmatan yang aku rasakan sebagai seorang ibu. Bersama Kaka, Mas, dan Teteh menanti waktu berbuka puasa dengan belajar Al Quran dan bercerita kisah-kisah inspiratif. Kali ini tiba-tiba saja aku kangen Kaka dan Mas. Ya Allah Yang Maha Pengasih … Jadikanlah anak-anakku senantiasa mencintai-Mu, meneladani Rasulullah SAW, dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya, amin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s