komunitas ibu-ibu anti korupsi

Standar

Founder Read’s House Kindly : Dewi Laily Purnamasari bersama ibu-ibu di Indonesia – juga di seluruh dunia bertekad dan bergerak untuk menjadi teladan pertama dan utama bagi anak-anak dan keluarga agar memiliki sikap anti korupsi. Anak-anak adalah cikal bakal pemimpin masa depan dan keluarga adalah persemaian yang terbaik bagi tumbuhnya benih-benih akhlak mulia termasuk di dalamnya sikap anti korupsi.

Foto pertama : Santai sesaat sebelum mengajar di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) sambil menikmati keindahan gunung Ciremai.

Helmi Ali dari Rahima Rumah Berdama bercerita bahwa pesan khotib (di Masjid Baiturrahman, Rawa Rambu, Pasar Minggu) hari ini menarik; Dia mengatakan bahwa kasus-kasus korupsi di negeri kita ini sebenarnya telah mempermalukan kita, karena pelakunya kebanyakan adalah tokoh-tokoh yang mempimpin organisasi-organisasi yang berbasis agama, yangg biasa berbicara dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan; mereka itu hanya menjual agama, menjual kita, untuk kepentingan perutnya; Lihat saja gaya hidupnya yang sangat mewah, dengan harta yang berlimpah ruah sementara rakyat semakin terpuruk dalam kemiskinan; karena itu kita seharusnya mendukung upaya-upaya pemberantasan korupsi yang dimotori oleh KPK, katanya; lebih jauh dia mengatakan ‘kenapa kita tidak memperlakukan para koruptur itu sebagai kotoran yang menjijikkan’;

Salah seorang anggota komunitas Wiwiek Abassuni menuliskan : Pernahkah Ibu-ibu ditawarkan oleh seorang pegawai Diknas “jatah” masuk ke sekolah favorit untuk putra Ibu, bila Ibu membayar sekian juta rupiah padanya? Sementara itu ada seeorang anak pintar dan telah berjuang keras untuk masuk ke sekolah itu dengan kemampuannya sendiri harus tergusur oleh “jatah” sang oknum pegawai Diknas tesebut.?

Menurut Rina Wahyuningsih : Hasil korupsi ibarat kotoran seperti halnya juga yang biasa dibuang di kloset. Nah kalau orang yang suka makan kotoran itu apa ya namanya? Parahnya lagi merka bagi-bagikan kotoran itu kepada orang-orang yang dicintai. Duh nauzubillah!!!!!! Semangaattt memerangi korupsi mulai dari diri sendiri.

Oleh sebab itu sejatinya orang yang beragama seharusnya hidupnya takut kepada Tuhan, sebab ia tahu apa yang dilarang Tuhan dan apa yang akan dituai ketika ia melanggar.Setan saja gemetar takut kepada Tuhan. Ini sudah keterlaluan ..Tuhan kelewat sedih juga kali melihat ketidakpedulian ini…ck..ck..melakukan korupsi yang menyengsarakan sesama dan keturunannya menjadi suatu kebanggaan….hadeh! Ayo Ibu- ibu…kita didik anak-anak kita menjadi generasi yang anti korupsi!…kita jadikan mereka memimpin bangsa ini yang berkualitas kelak dalam membenahi negeri ini. Hal ini diungkapkan Rita Liliana anggota komunitas ibu ibu anti korupsi.

Berbagi ide dari Anung Nur Rachmi yang menuliskan : ‘Dengan adanya pers bebas yang membawa terciptanya transparansi, baik rakyat maupun para pejabat publik jadi sama-sama belajar bahwa jadi pejabat publik itu ternyata diikat oleh banyak aturan yang mengharuskan mereka jadi orang “bersih”: tak boleh menggelembungkan (mark-up) anggaran, tak boleh menggunakan anggaran negara utk kepentingan pribadi, tak boleh menerima suap/sogokan, tak boleh memutuskan kebijakan untuk kepentingan suatu kelompok, perusahaan, atau seseorang, hanya karena sudah disogok dengan pemberian mobil atau liburan ke luar negeri, dan lain-lain. Semoga di masa mendatang, banyak orang betul-betul merasa harus berpikir dua kali kalau ingin jadi “pegawai negeri”, makin banyak rakyat yang sadar bahwa “sabetan” atau “penghasilan tambahan” sebagai pegawai negeri atau pejabat publik adalah sesuatu yang ‘haram’, adalah tindakan yang melanggar hukum..’

Foto kedua : Bersama mahasiswa dan rekan dosen Akademi Perdagangan Catur Insan Cendikia (AP-CIC) selepas menjadi pembicara kunci dalam seminar bisnis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s