larangan bagi suami membenci istrinya

Standar

Kejadian menghebohkan seringkali terjadi di tengah kita. Seorang istri dianiaya suami hingga harus di rawat di rumah sakit, bahkan hingga di bunuh dan dengan kejam di mutilasi. Astaghfirullah … Kejadian tersebut membuat kita terhenyak dan berpikir adakah tuntunan dari Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu ? Tentang bagaimana kita, sebagai suami istri seharusnya berinteraksi dalam kehidupan berkeluarga ? Sungguh sangat penting kita mengetahui petunjuk Allah Yang Maha Bijaksana.

Muhammad SAW teladan kehidupan kita dalam berkeluarga. ‘Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda : Janganlah seorang mukmin laki-laki memarahi seorang mukminah. Jika dia merasa tidak senang terhadap salah satu perangainya, maka ada perangai lain yang dia sukai.’ (HR. Muslim). Seorang suami dilarang membenci istrinya dalam segala hal yang dapat menyeretnya untuk menceraikannya, tetapi dia harus menyeimbangkan antara yang membuatnya benci dengan apa yang membuatnya ridha. Sehingga dengan demikian, dia akan memaafkannya serta melupakan tindakannya yang kurang menyenangkan, serta menutupi hal-hal yang dibencinya dengan yang disukainya.

Seorang suami harus benar-benar bisa mengendalikan perasaan dan emosinya dengan menggunakan akal sehatnya, dalam berbagai perselisihan yang terjadi dengan istrinya. Bukankah Allah Yang Maha Perkasa telah berfirman, ‘…Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan) karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebaikan yang banyak.’ (QS. An Nisa 4 : 19).

Kisah sedih sehari lalu baru saja aku dengar. Pengasuh anakku bercerita, kakak perempuannya telah diterlantarkan oleh suaminya. Ditinggal begitu saja dengan seorang anak. Tidak diberi nafkah lahir maupun batin bertahun-tahun. Hingga akhirnya dia harus mengurus sendiri perceraian dengan suaminya. Sebulan lalu pemijat langgananku pun bercerita, anak perempuannya ditinggal kawin oleh suaminya. Dia harus mengurus dua anaknya sendirian. Akhirnya Bu Tiyah harus ikut mengurus cucunya sampai menyekolahkannya. Duh … Cerita berlanjut dengan asisten cuci sertrika yang bercerita kalau anak perempuannya ditinggal kawin suaminya. Anak satu-satunya sampai harus diasuh olehnya karena tak ada uang seperserpun yang diberikan untuk menghidupi cucunya itu.

Rasullah SAW bersabda : ‘Cukuplah seseorang itu berdosa jika dia menyia-nyiakan orang yang seharusnya dia beri nafkah.’ (Abu Dawud, Ahmad, Muslim). Kandungan hadits ini adalah diharamkan mengabaikan keadaan keluarga dan menolak memberi nafkah kepada mereka. Seorang laki-laki bertanggung jawab kepada orang yang menjadi tanggungannya, seperti keluarga, kerabatm dan pelayannya. Memberi nafkah kepada orang yang menjadi tanggungan adalah merupakan nafkah yang paling utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s