Monthly Archives: Februari 2014

ketika ibu-ibu bicara korupsi

Standar

Status facebook teman-temanku bertaburan tulisan keprihatian tentang putusan hakim terhadap tersangka tindak pidana korupsi Angelina Sondakh. Aku pun menuliskan rasa tak sepakat dalam status facebook seperti ini : ‘duh … pemakan uang rakyat … yang membuat rakyat melarat ternyata hanya di hukum sekejap : sungguh keputusan yang tak beradab : ah … hati ini menjerit, mulut berteriak, tangan bergerak menuliskan rasa tak sepakat … (hayu terus semangat anti korupsi ibu-ibu hebat … walau hanya dengan menuliskannya di status facebook atau berkicau di twitter lebih bagus lagi di blog pribadi maupun keroyokan semoga bermanfaat)’

Tak lama teman-teman mengomentarinya …

    • Haeriah Ummu Abdillah Sama mba, baru aja bca berita,tuh koruptor terbukti nyolong uang rakyat cuma diganjar 4,5 th trus duit rakyat 35 m gak dikembalikan. Tuh hukuman ntar dikasi keringanan lgi. Duh, muak bget mba….kasihan anak2nya dikasi makan uang haram…Ya Allah jauhkan kami dri mengambil apa yg bukan menjadi hak kami…..

 

    • Dewi Laily Purnamasari sangat tidak sepakat dengan keputusan hakim yang tak berpihak kepada rakyat … hiiiksssss … : bu Anni Iwasaki yang sangat perhatian terhadap ibu indonesia, apa ada tanggapan ? bunda Nursyahbani Katjasungkana sebagai politisi di dpr ri, apa ada sikap ? juga mba Lies Marcoes yang sedang heboh ‘ngangkang’ gimana nih kalau hukum di’ngangkang’in begini, apa ada usul ? sapa juga mba Julia Suryakusuma dengan ide ‘o’ project-nya, apa ada ide ?

 

 

    • Dewi Sumarty iya sama baru aja liat berita di tv…kecewa… gimana orang kapok untuk korupsi yah kalo negara ini cuma bisa menghukum koruptor dengan hukuman yang seringan2nya…. sementara maling sandal bisa dihukum lebih lama dan lebih berat….

 

    • Anni Iwasaki @Setelah dibodohkan di era orde lama, orde baru dan kini orde reformasi rajin2 saja mencerdaskan rakyat khususnya kaum calon ibu, ibu dan nenek yang masih tebal rasa keimanannya agar bersedia menuntut hak-hak hidupnya berstandar akademik universal . Tidak lagi memilih pekerja rakyat yang ketahuan kkn.
      @kepada kaum ibu hamil dan yang putra/inya masih kecil agar tidak melanggar UU khususnya tidak menerima uang apalagi memperebutkan uang yang bukan haknya termasuk lapangan kerja yang bukan haknya.
      @ Disengaja atau tidak, pelanggaran UU berakibat kepada rasa bersalah sampai dengan tingkat depresi. Berlanjut kepada hidup tidak tentram blusak-blusuk menabrak UU.
      @ Perilaku seperti ini menurun kepada janin2 dalam kandungan dan akan terus menjadi-jadi paska kelahiran apalagi hidup dengan ibu yang berkarakter demikian. Demikian Bu Dewi Laily Purnamasari….

 

    • Jehan Siregar Betul, spt kata iklan, kalau tidak sungguh2 menunjukkan sikap anti korupsi berarti korupsi…

 

  • Lena Magdalena setujuuu bu dewi…say no to corruption….sungguh miris fenomenanya, neraka mungkin akan lebih penuh dengan calon penghuninya yang mayoritas perempuan…

Aku menuliskannya juga grup facebook komunitas ibu ibu anti korupsi seperti ini :

Komunitas ibu ibu anti korupsi mengajak para ibu di seluruh Indonesia juga yang berdomisili di luar negeri untuk menuliskan rasa keprihatinannya atas makin ganasnya kasus korupsi di negeri kita tercinta ini serta makin lemahnya penegakkan hukum atas tindak pidana korupsi : jabat semangat dulu ibu ibu di berbagai komunitas Kumpulan Emak2 Blogger Ibu-ibu Doyan Nulis – Interaktif Smart Parenting, by Bunda Arifah Handayani Koalisi Perempuan Indonesia Setnas Rahima Rumah Bersama ITBMotherhood IDKita Kompasiana – Supporting anti korupsi Save KPK Save Indonesia
    • Rina Wahyuningsih Prihatinnya lagi, skg prosentasi “ibu-ibu” yang korupsi juga makin tinggi. Teganya ya mereka kasih makan dan pakaian anak2nya dg “kotoran”. Nauzubillah

 

  • Daeng Neo Hans Azizah banyak hal yg membuat org pada akhirnya tdk sadar akan tindakan korupsinya,, yg hrs di hindari adalah rasa 2 tersesaksehingga terdorong melakukan korupsi
Yuk! Di tahun baru 2013 ibu-ibu hebat semakin semangat mencegah korupsi dan terus berjuang menjadi teladan anti korupsi dimanapun berada …

Berani Melawan Korupsi

Standar

Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sudah sepatutnya tetap istiqamah dan tak gentar dalam mengusung penuntasan kasus korupsi di Indonesia. Terutama korupsi ‘gede-gede-an’ yang menyengsarakan rakyat. Tak usah takut melawan korupsi! Lawanlah bersama dari segala penjuru.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya tanggal 15 November 2003 telah ditandatangani Pencanangan Gerakan Nasional Anti Korupsi (GNAK) berupa Memorandum of Understanding (MoU) antara Ketua PBNU KH.A.Hasyim Muzadi, Ketua PP Muhammadiyah Prof.Dr.Sya’fii Ma’arif dan Direktur Eksekutif LSM Kemitraan DR.HS Dillon.

Sebuah fenomena menarik, jika mahasiswa yang notabene adalah sekumpulan orang muda bersemangat baja, (alih-alih sebagian besar belum kenal nikmatnya’uang) tentu ketika maju di barisan terdepan dalam aksi demonstrasi akan lebih bebas berekspresi. Bersemangat … Bahkan sampai merangsek ke gedung DPR RI pun berani dilakukan.

Tapi coba, jika seorang ‘tetua’ seperti dosen, kyai, pengusaha, pendeta, anggota legislatif, pengacara, birokrat, guru, pedagang, buruh, notaris, hakim, jaksa, dokter, arsitek, polisi, banker,  tentara, dan juga ibu-ibu rumah tangga mau maju untuk bersuara bahwa mereka juga  bergerak melawan korupsi. Tentu butuh banyak pertimbangan dan juga keberanian ekstra. Mengapa? Zona nyaman memang sulit untuk diruntuhkan. Namun … Ini persoalan besar bangsa ini. Kemerdekaan memang telah direbut … Tapi, siapa yang tak miris, sedih, getir, menangis tersedu ketika negeri sendiri kekayaannya dijarah para koruptor.

Kita lihat di banyak negara, ketika mahasiswa maju bergerak menyuarakan aspirasi di situlah ada kekuatan moral. Lalu di mana kekuatan para senior meraka ? Biasanya gerakan ‘para tetua’ ada di tulisan, di forum diskusi, di lobby tingkat tinggi, dan di kekuatan politik juga ekonomi. Paduan yang luar biasa jika kekuatan kaum muda dan para tetua / senior dapat berjalan dengan sinergis. Ayolah … Bangun dari rasa enggan dan rasa itu bukan urusanku … Minimal tuliskan rasa keprihatinan terhadap makin ganasnya korupsi dan makin ‘mlempem’nya hukum di hadapan para koruptor. Boleh di twitter, di blog pribadi atau keroyokan, di facebook, atau minimal panjatkan doa-doa di penghujung malam agar kita tetap tegar dan terus bersemangat anti korupsi.

Dewi Laily Purnamasari founder komunitas ibu ibu anti korupsi dengan anggota lebih dari seribu orang.

Berbagi Informasi Boarding School

Standar

Awal tahun adalah waktu pendaftaran di berbagai boarding school pilihan. Bagi orangtua dan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah berasrama, ada baiknya melakukan survey terlebih dahulu sekolah yang dituju. Siswa juga sebaiknya ikut menjelajah beberapa sekolah berasrama agar dapat menangkap secara fisik dan visual bagaimana suasana di sana ? Mengapa hal ini penting ? Bukankah kelak yang akan menjalani hari-hari selama sekolah berasrama adalah siswa.

Pengalamanku menjelajahi beberapa boarding school bersama anak pertama dan anak kedua ada dalam tulisan di sini : http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/28/berburu-boarding-school-336524.html. Intinya adalah orangtua dan siswa harus berkomunikasi secara positif, juga menggali informasi yang dibutuhkan saat bertemu dengan panitia penerimaan siswa baru. Bahkan kalau perlu ‘mbusukan’ keliling asrama dan fasilitas sekolah. Luangkan waktu beberapa jam dan lihat bagaimana aktifitas para santri di sana ? He3 … Aku sempatkan juga melongok dapurnya loh!

Nah … faktor penting yang tak boleh dilupakan dan diabaikan adalah pendapat anak kita yang akan menjadi siswa di sekolah berasrama. Tanyakan bagaimana perasaannya ? Gali juga keinginannya tentang sekolah yang diidamkannya. Akan lebih berhasil kelak proses belajar siswa bila masuk sekolah berasrama atas kehendak sendiri. Bila ada unsur paksaan biasanya siswa cenderung kurang berhasil bahkan ada yang keluar karena tidak sesuai dengan keinginannya. Alhamdulillah … Kaka dan Mas memang ingin sekolah berasrama. Dan inilah penggalan kisah mereka di sini http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/13/boarding-school-mengapa-anakku-memilihnya-486511.html. Ya … pastilah ada rasa kangen. Ada juga sesekali rasa jemu, namun saat liburan kemarin mereka mengatakan hal yang membuat hatiku bahagia. Bahwa mereka senang bersekolah di sana karena semakin mandiri dan banyak teman.

Oya … Informasi lain tentang tes masuk ke sekolah berasrama juga berbeda antar sekolah. Namun umumnya adalah tes kemampuan akademik, tes membaca Al Quran, dan wawancara. Ada juga sekolah yang menjalanpsikotes. Pengalaman mengikuti tes di boarding school Insan Cendikia dan Husnul Khatimah ada di sini : http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/09/kaka-lulus-tes-boarding-school-alias-pesantren-345443.html

Alhamdulillah … sebagai orangtua aku patut bersyukur karena Kaka dan Mas senang belajar di boarding school masing-masing. Bila ada teman-teman kompasianer yang juga anaknya sekolah berasrama, boleh ya berbagi pengalaman … ^_^ di sini : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/01/31/boarding-school-pilihan-terbaik-buat-anak-anakku-431528.html

Mas saat mengikuti kegiatan ekstra kurikuler beladiri di boarding schoolnya. Oya sekarang Mas jadi ketua kelas dan ketua kamar asrama loh! Alhamdulillah …

Kaka menjadi ketua panitia bakti sosial di boarding schoolnya. Alhamdulillah …

Wisata Edukasi di Kampus ITB

Standar

Tugas orangtua yang penting diantaranya adalah memberi motivasi kepada anak-anaknya. Bukan menggurui atau memaksakan kehendak loh! Namun memfasilitasi minat dan bakat serta memberikan wawasan kepada mereka dengan cara yang menyenangkan tentu akan lebih mengena. Sebagai salah satu cara memberi semangat kepada Kaka dan Mas terkait dengan cita-cita mereka, aku mengajak mereka untuk berkunjung ke kampus ITB.

Selain menikmati gedung-gedung yang indah di kampus ITB, akupun berusaha untuk memperkenalkan berbagai jurusan yang ada di sana. He3 … modalnya adalah search di google ^_^ membuka website resmi ITB dan meng-klik jurusan yang diminati Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi (Kaka) dan Muhammad Hafizh Haidar Hanif (Mas). Ada yang lucu loh! Maryam Aliyya Al Kindi, gadis kecilku yang masih TK itu begitu bersemangat ikut meminta dicarikan jurusan kedokteran di ITB. Duh … Kindi sayang … di ITB belum ada jurusan itu he3 … ^_^. Eh … Kindi merajuk ‘Ya kalau begitu aku gak mau kuliah di sini … Aku kan kepingin jadi dokter Bu …’. ‘Ya … sudah yuk! Sekarang Kindi jalan-jalan saja sambil foto-foto’, bujukku agar Kindi tidak kecewa.

13539865541263160615

Kaka menikmati gedung jurusan Teknik Informatika ITB dan melihat para mahasiswa yang sedang belajar di koridor gedung walaupun hari minggu. Kaka memiliki minat yang tinggi terhadap ilmu komputer dan teknologi informasi. Bahkan di sekolahnya mendapat nilai tertinggi untuk pelajaran teknik informasi dan komputer.

13539865861465644015

Kindi bersemangat sekali bermain di plasa yang asri dengan air mancur dan pepohonan teduh. Walaupun tadi sempat kecewa karena tidak ada jurusan kedokteran di sini he3 …

1353986614627253005

1353986663197642568

Prasasti Soekarno : pada tanggal dua bulan maret tahun seribu sembilan ratus lima puluh sembilan paduka jang mulia presiden republik indonesia hadji doktor insinjur achmad soekarno telah meresmikan institut teknologi di kota bandung. Aku meminta Kindi membaca tulisan di atas prasasti itu dan memperkenalkan bahwa Presiden pertama negara kita adalah alumni ITB.

13539865211628180867

Masjid Salman tempat favorit mahasiswa ITB untuk mengembangkan kecerdasan spiritualnya. Kindi tak lupa bergaya di halaman rumput hijau yang asri. Tak lupa Kaka dan Kindi juga menikmati makan ala prasmanan di kantin masjid Salman dan bergabung dengan para mahasiswa selepas shalat dzuhur. (Komentar Kindi tentang masjid Salman : ‘Bu … enak ya bisa belajar di sini sambil selonjoran dan tengkurap. Ha3 … Kindi tadi melihat banyak mahasiswa ITB yang sedang belajar bersama di koridor masjid).

Karena liburan sekolah Mas berbeda waktu dengan Kaka, maka di hari lain Mas berkunjung juga ke kampus ITB. Waktunya pagi hari dengan mentari yang hangat bersinar serta harum dedaunan sisa tersiram air hujan semalam.

13583063711662263168

Mas menikmati suasana pagi di depan gedung transparan. Mahasiswa terlihat asyik bermain basket, sepertinya sedang ada kompetisi antar jurusan.

1358306401827200029

Aula Barat adalah bangunan bersejarah yang indah dan menjadi ikon kampus ITB. Rumput yang hijau ditambah harum bunga tanjung membuat suasana menjadi sangat nyaman. Asyik juga loh untuk sejenak berjalan sepanjang koridornya.

1358306434753452185

13583064641450687637

Gedung labtek Arsitektur tempatku dahulu kuliah. He3 … tapi jaman tahun 1989 -1994 belum semegah ini. Gedungnya masih tiga lantai dengan struktur baja yang unik. Tangga besinya pun senantiasa menyenandungkan nada merdu saat mahasiswa bergegas menuju lantai tiga studio. Sekarang gedung ini sudah dilengkapi lift dan tangganya pun dari beton.

pindahkan ibukota, mungkinkah ?

Standar

Ketika banjir melanda diri ini berusaha mendapat hikmah : bahwa merasakan nestapa, berbagi bantuan, dan memanjatkan doa-doa terbaik agar mereka sabar.

Genangan air paska hujan yang hanya sejenak. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Lebih penting lagi yuk! kita memperbaiki diri dengan lebih ramah pada alam : membuang sampah pada tempatnya : menanam pohon dan membuat area resapan di rumah.

Semoga langkah kecil ini mampu berbuah besar, amin …

Lalu langkah besarnya apa ya ?

M.. Jehansyah Siregar, Ph D, Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB, dan Anggota Tim Visi Indonesia 2033 mengatakan bahwa di lapangan, kita bisa menyaksikan pembangunan area-area permukiman dan berbagai fungsi bangunan komersial dilakukan dengan cara mengurug lahan basah, rawa-rawa, maupun lahan-lahan rendah yang seharusnya dijadikan ruang resapan hijau maupun untuk waduk retensi.

Yang menjadi masalah adalah, mengapa Surat Ijin Penujukan Pemanfaatan Tanah (SIPPT) dikeluarkan di kawasan RTH dan lahan basah, dan mengapa ijin mendirikan bangunan (IMB) dikeluarkan untuk pondasi bangunan yang diurug di lahan basah.

Semoga semakin banyak ruang terbuka hijau seperti ini. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Kini berbagai area di Jakarta sudah terbangun tanpa mengacu kepada perencanaan dan pengendalian yang baik. Meskipun demikian, dari kalangan Pemprov DKI belum bisa melihat masalah ini karena selalu berkilah dengan menyalahkan penduduk pendatang yang semakin memadati Jakarta.

Pejalan kaki dan pesepeda seharusnya diberi ruang yang nyaman. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Tanpa perlu diperdebatkan lagi, jika pola pembangunan Jakarta tetap dibiarkan seperti ini maka bencana kebanjiran, kekumuhan, dan kemacetan akan tetap ada di Jakarta hingga mencapai keadaan yang tidak bisa diatasi lagi (point of no return), karena kumulasi pembangunan kota memang bersifat irreversible.

Wah … Pendapat Jehansyah seharusnya menjadi aba-aba peringatan penting. Bagaimana kelak Jakarta bisa tenggelam dalam kebanjiran, kekumuhan, dan kemacetan total ? Tentu kita sebagai warga Jakarta tak ingin hal itu terjadi bukan ?

Sampah menggunung di aliran sungai yang semakin menyempit. Hendak mengalir keman air ? Maka tak heran bila Jakarta senantiasa langganan banjir. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Jehansyah menambahkan bahwa pembangunan kota-kota baru residensial di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dengan konsep hunian campuran berimbang yang didukung oleh jaringan transportasi terpadu akan memberikan peluang bagi penataan semua bantaran sungai di Jakarta. Dengan perkiraan relokasi sekitar 4 juta penduduk maka diperlukan sekitar 20 kota-baru residensial di sekitar Jabodetabek dengan kepadatan masing-masing sekitar 200 ribu jiwa.

Jakarta yang sangat padat. Tiap jengkal tanahnya begitu berharga. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Dari sisi pemanfaatan ruang yang diisi oleh manajemen pembangunan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak kunjung berhasil memenuhi kewajiban proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% berdasarkan UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dari sekitar 66 ribu hektar (ha) luas Jakarta, luas RTH masih kurang dari 6 ribu hektar atau sebesar 9%. Tidak ada strategi dan upaya-upaya yang efektif untuk menguasai lahan-lahan, memberikan insentif maupun disinsentif untuk area-area yang mengalami tekanan pembangunan, terutama di Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Pemindahan fungsi Ibukota dan penataan permukiman kumuh di seluruh bantaran sungai Jakarta secara progresif bisa memberikan harapan tersedianya RTH secara memadai. Namun ada beberapa prakondisi untuk mewujudkannya, yaitu kepemimpinan nasional dan kepemimpinan Jakarta yang visioner, kebijakan kota yang inklusif dan penguatan sektor publik, serta pemberdayaan masyarakat dan partisipasi publik dalam pembangunan.

Jakarta ibukota negara yang kita cintai. Apakah bila ibukota dipindahkan, kecintaan kita kepada NKRI akan berkurang ? Tentu tidak … Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Jika memang Jakarta sudah mencapai point of no return, bukankah sebaiknya direncanakan pembangunan Ibukota NKRI yang baru yang dibarengi penataan Jakarta?

Semoga bencana banjir Jakarta tidak menjadikan bangsa ini semakin terpuruk karena saling menyalahkan dan diam berpangku tangan. Sebaliknya, inilah kesempatan bagi seluruh komponen bangsa untuk bangkit dan bahu membahu mengambil langkah-langkah yang progresif menuju visi kota yang nyaman dan produktif sebagai wadah membangun karakter bangsa yang kuat.


Dunia Indah Tanpa Narkoba

Standar

Maraknya kasus penyalahgunaan narkoba haruslah dicermati dan dicarikan jalan keluar yang tepat. Sekedar menangkap dan menghukum pelaku baik pemakai, pengedar, maupun pembuat sepertinya belum menyelesaikan akar permasalahannya (apalagi bila hukum yang diterapkan tidaklah membuat efek jera).

Remaja dan kaum muda sangat rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Penyadaran atau advokasi pencegahan penyalahgunaan narkoba menjadi penting dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, badan terkait, pendidik, tokoh masyarakat, orangtua maupun teman sebaya.

Aku teringat dengan oleh-oleh buku dari seminar tentang Advokasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia BNNRI. Buku bersampul warna biru menarik perhatianku. Di halaman dalam terdapat gambar indahnya kehidupan. Di pojok kanan bawah tertera tulisan ’Hidup ini terlalu indah untuk dirusak narkoba’.

 

Halaman berikutnya ada gambar seorang remaja perempuan di sebuah taman dan tertera tulisan ’cintailah hidupmu tanpa narkoba’. Gambar lain sebuah tangan mengepal sepertinya meninju balon berisi pil, tablet, dan cairan. Di sana tertera tulisan ’stop narkoba gelap, sekarang!’. Di baliknya ada gambar tengkorang dan tangan terbuka seperti mengatakan tidak! Tulisan yang tertera ’katakan tidak pada narkoba, sebelum menjeratmu’.

Halaman lain menggambarkan empat pasang (sepertinya muda-mudi), lalu jarum suntik, obat-obatan dan tengkorak. Tertera tulisan ’HIV / AIDS sahabat narkoba’. Gambar lain, menurutku agak seram … tengkorak dan tulang belulang ditumpukan serbuk-serbuk putih. Tulisan yang tertera ’serbuk-serbuk kematian’.

Latar hitam memang terkesan suram, gambar manusia terlentang –mungkin mati- dengan tulisan di barisan atas ’apapun jenis narkoba yang kamu pakai, hanya berujung kesengsaraan’. Ah … ini gambar sangat menyentuh : ibu – bapak menggandeng dua anaknya laki-laki dan perempuan. Dalam lingkaran merah tertera tulisan ’semai cinta di hatimu, bebaskan diri dari narkoba demi orang yang kau cintai’.

Teman, tahukah kalian apa itu narkoba ? Narkoba singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lain. Narkoba termasuk golongan bahan atau zat yang jika masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi-fungsi yang dapat merusak tubuh terutama otak.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan atau kecanduan. Golongan I (heroin, kokain, ganja), golongan II (morfin, petidin, methadon), golongan III (kodein). Bahaya penggunaannya adalah apatis, sakauw, overdosis, dan kematian. Hhhiii … jangan coba-coba deh!

Nah, kalau psikotropika dijelaskan sebagai berikut. Zat atau obat baik alamiah atau sintetis bukan narkotika yang bersifat atau berkhasiat psiko aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Golongan I (ekstasi, LSD), golongan II (amphetamine), golongan III (amorbital), golongan IV (diazepam, barbital). Bila menyalahgunakan maka akan berakibat sindrome ketergantungan, menurunkan aktivitas otak, halusinasi, gangguan cara berpikir. Oh … bagaimana kalau manusia tapi terganggu cara berpikirnya? Bisa-bisa turun derajat seperti hewan atau lebih rendah dari itu.

Oya penting bagi orangtua untuk mencegah dan menghindari anak dari bahaya narkoba adalah dengan menjadi sahabat mereka. Orangtua perlu tahu siapa saja teman anaknya, kemana mereka pergi? apa kegiatan mereka? dan berkomunikasilah secara positif tentang bahaya narkoba.

Tulisan ini  sebagai bentuk keprihatinan dan perhatian yang besar terhadap akhlak generasi yang akan datang. Rasa tanggung jawabku sebagai ibu dari Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi (Kaka), Muhammad Hafizh Haidar Hanif (Mas) dan Maryam Aliyya Al Kindi (Teteh) adalah menemani kalian sebagai generasi emas berkata ’say no to drug’.

Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi bersama teman-temannya di SMA ‘boarding school’ Insan Cendikia Cirebon bertekad senantiasa berkata tidak untuk narkoba ’say no to drug’.
Muhammad Hafizh Haidar Hanif  bersama teman-temannya di SMP IT Al Binaa Islamic Boarding School bertekad senantiasa berkata tidak untuk narkoba ‘say no to drug’.
Teteh dan teman SD Islam PB. Soedirman bertekad senantiasa berkata tidak untuk narkoba ‘say no to drug’.

Mampir di link berikut ya …

membidik metropolitan dengan kamera ponsel

Standar

Ah … Sekali lagi Canon-ku tergeletak di meja kerja tak berdaya karena baterai-nya soak he3 … Tak apalah ku coba saja jepret sana-sini dengan kamera ponsel. Duh! Ternyata hasilnya oke juga hi3 … (boleh ya sedikit menghibur diri … ^_^)

Jepret! Monas tampak gagah menembus langit kelabu Jakarta. Dari lantai 3 stasiun Gambir foto ini diambil sekitar pukul 16.00 WIB. Langit mendung siap mencurahkan hujan deras. Siap-siap ya! Metropolitan waspada banjir.

Jepret! Monas tampak benderang, berbalut cahaya warna-warni. Di kejauhan tampak latar bangunan yang juga berpendar. Metropolitan bermandi cahaya di malam hari, he3 … jadi merenung nih. Bukankah itu pemborosan energi ?

Jepret! Pencakar langit Sudirman Central Business District (SCBD). Foto diambil dari lantai 7 Plasa Semanggi ketika rintik hujan mulai turun.  Rimbunnya pepohonan di bunderan Semanggi menjadikan area ini lebih ramah lingkungan. Ah … seandainya makin banyak hutan kota seperti ini. Metropolitan akan bertambah nyaman dan sejuk.

Jepret! Sabar menanti transportasi publik yang nyaman. Aku berada dalam transjakarta dan duduk dibangku paling depan. Posisi yang nyaman untuk mengambil berbagai momen sepanjang perjalanan. Salam untuk Jokowi dan tolong dengarkan saranku ini. Aku butuh transportasi publik yang nyaman, aman, murah, dan berkelanjutan. Aku tidak butuh jalan tol karena mobilku yang cuma satu itu lebih sering diparkir di garasi rumah he3 … (maklum kaki pasti bakal pegal berhari-hari kalau harus menyetir mobil dalam keadaan macet seperti tampak di gambar sebelah kiri). Metropolitan butuh transportasi publik yang terintegrasi.

Jepret! Tranjakarta menembus segitiga emas Jakarta. Ayo! Teman-teman kompasianer juga kampretos biasakan menggunakan transportasi publik. Pengalamanku ketika naik transjakarta sebelum pukul 07.00 WIB harga karcisnya Rp. 2.000,- saja. Dari PGC turun di Semanggi, lalu ‘change’ ke arah Jakarta Kota tanpa bayar lagi. Coba bandingkan bila membawa mobil sendiri … Berapa liter bensin yang dibutuhkan ? Metropolitan menjadi lebih manusiawi bila transportasi publik menjadi prioritas dibandingkan membangun jalan tol. Oya … Pa Jokowi, aku doakan agar monorail segera terwujud.

Jepret! Semangat petugas lalu lintas di bunderan HI. Lokasi paling diminati oleh para demonstran. Juga lokasi favorit untuk menikmati ‘car free day’. Aku berharap ada jalur khusus sepeda di segitiga emas Jakarta. Jika warga metropolitan dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor (terutama kendaraan pribadi) dan beralih menggunakan kendaraan hemat energi, maka polusi dapat dikurangi. Udara menjadi lebih sehat. Yuk! Mulai dari sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi ?

Jepret! Gedung dengan konsep arsitektur tropis. Pembangunan gedung tinggi di Jakarta harus memenuhi beragam peraturan yang ketat. Jangan sampai gedung yang dibangun justru membuat metropolitan semakin panas dengan efek rumah kaca. ‘Green Architecture’ juga ‘Eco Development’ serta ‘Blue Economy’ hendaknya menjadi perhatian para pengambil kebijakan di ibukota negara kita tercinta.

Jepret! Fasade kota Jakarta berhias ragam bangunan. Hotel, kantor, apartemen, dan pusat perbelanjaan berdesakan di sepanjang koridor Thamrin – Sudirman – Rasuna Said. Daya dukung tanah dan segala dampaknya patut menjadi perhatian pemerintah DKI Jakarta. Bagaimana air hujan mampu meresap kembali ke dalam tanah ? Bila hampir 90% tanah telah tertutupi bangunan, aspal, plesteran, dan ‘paving block’. Tak ada sumur resapan dibuat, tak banyak pepohonan ditanam, tak terpikir juga membuat saluran. Ketika hujan deras mengguyur tak lebih dari 3 jam, kawasan elite inipun kewalahan menampung air yang berlimpah. Jalanan metropolitan berubah menjadi sungai berwarna kecoklatan. Salah siapa ?

Jepret! Pemukiman kumuh di bantaran sungai. Anak bungsuku, Maryam Aliyya Al Kindi duduk di sisi jendela Hotel Aryaduta (tepat di depan tugu Tani). Pemandangan tak sedap di balik gedung mewah. Sungai dengan airnya yang hitam. Rumah dibangun menghabiskan bibir sungai, bahkan kaki-kaki kayu sudah ada di atas sungai. Ironis! Metropolitan punya pekerjaan rumah yang cukup berat. Mengentaskan pemukiman kumuh. Apakah bisa terwujud di tahun 2020 ?

Jepret! Langit Jakarta penuh polusi. Berjuta kendaraan bermotor yang setiap hari lalu lalang menyumbangkan polusi tiada terkira. Tak terlihat birunya langit karena tertutupi asap yang berdampak buruk bagi kesehatan warga metropolitan.

Jepret! Macet … Jarak tak lebih dari 2 km membutuhkan waktu lebih dari 1/2 jam. Beginilah pemandangan setiap pagi di depan pasar Kramatjati. Akan lebih parah lagi bila di ujung jalan Raya Bogor digenangai air yang melimpah dari sungai di sisi kiri. Wah … luar biasa macetnya! Bisa sampai hek bahkan pasar induk buntut kemacetannya. Jalan Raya Bogor adalah jalan tua yang menghubungkan metropolitan dengan kabupaten / kota Bogor. Begitu banyak pemukiman di sisi kiri kanan jalan ini. Ada juga beberapa pasar yang menjadi sumber kemacetan karena pedagangnya berjualan hingga setengah badan jalan. Belum lagi persimpangan yang menghubungkan daerah padat lainnya seperti Pondok Gede, Cijantung, Cibubur, Cimanggis, Depok, Cibinong, dan terus sampai ke Bogor.

Jepret! Awan lembayung di atas kota Jakarta. Lokasi daerah Kota Casablanca Kuningan. Foto ini hasil karya suami tercinta Rachmad Aziz Mucharom yang juga punya hobi fotografi. Keren kan ?

Jepret! Warna-warni di gedung pencakar langit. Senja yang cerah. Karya Rachmad Aziz Mucharom di Menara Standard Charted Bank.

Jepret! Senyum optimis Dewi Laily Purnamasari untuk metropolitan yang lebih baik.

yuk! buat foto bercerita

Standar

Menenteng kamera dan men-jepret apapun yang dinilai menarik sangat aku sukai. Setiap ada kolom isian yang menanyakan hobi, maka aku akan mengisinya dengan membaca, menulis, melukis, dan memotret. Sesekali aku tambah dengan jalan-jalan, bersepeda, dan berenang. Nah … hasil jepret-an tak selamanya memuaskan hati secara teknis he3 … Namun, banyak kelucuan yang menyentil rasa humorku atas beberapa hasil jepret men-jepret ini. Pun membuat hati ini terenyuh bila melihat hasil jepret-an yang menyentuh rasa empatiku.

 

Teman-teman kompasiner dan kampretos boleh menambahkan komentarnya untuk masing-masing foto. Agar pertanyaanku terjawab. Foto bercerita, mungkinkah ?

 

 

Jepret! Wuih … Ada kumpul-kumpul tuh! Sedang apa ya mereka ?

 

 

Jepret! Ber-4 melintasi jalanan ibukota. Mampu beli motor tapi tak mampu beli helm anak. Aneh!

 

 

Jepret! Meminta sumbangan di jalanan dekat lokasi banjir Rawajati Kalibata. Macetpun tak terelakan.

 

 

Jepret! Perempuan perkasa di pasar Tawangmangu. Entah mengapa lelaki di belakangnya berjalan lenggang kangkung. Sedangkan dua perempuan paruh baya ini berjalan terbungkuk dengan beban berat di punggungnya.

 

 

Jepret! Menyuapi kebo bule. Penjual kangkung menawarkan dagangannya kepada pengunjung untuk diberikan kepada hewan peliharaan keraton Solo. Duh! Sempat kehilangan selera makan tumis kangkung nih … He3 … Kok ya sama dengan kerbau ?

 

 

Jepret! Menikmati jalan tol Jakarta – Cikampek macet total. Ha3 … Kapan lagi boleh keluar dari kendaraan di tengah jalan ?

 

 

Jepret! Semangat penjual salak lanjut usia. Malu rasanya bila diri ini kehilangan semangat bekerja. Bercerminlah kepada kegigihan perempuan hebat ini!

Jepret! Menangkap gaya suamiku yang juga senang fotografi. Eh … Ternyata tanpa sengaja dapat tambahan model … Itu loh! Seekor burung merpati. Lokasi di Eco Park Ancol.

 

Jepret! Anak bungsuku Maryam Aliyya Al Kindi, mulai tertarik men-jepret juga. Layaknya fotografer profesional, Kindi (5 tahun) serius jepret sana-sini dengan kamera Canon-ku atau kamera BB-ku. Om kampretos daftar ya Kindi jadi peserta tercilik nih …

 

 

Jepret! Dewi Laily Purnamsari panen mangga di halaman rumah. Hasil karya Kindi (5 tahun) dengan kamera BB.

Jepret! Mmm … Kalau foto ini, apa ya ceritanya ?

 

foto anak jadi kenangan

Standar

Objek paling menarik menurutku adalah anak sendiri. Ha3 … Di bilang narsis-pun aku rela. Rusydi, Hanif, dan Kindi seringkali menjadi obat mujarab, saat demam men-jepret melanda diri ini tanpa ampun. Dan tak sedikit pula aku diprotes habis oleh mereka. ‘Ibu … Aku gak mau di jepret!’ He3 … Lalu jurus maut, rayuan gombal, dan sesekali iming-iming ‘reward’ jadi andalan.

 

Ya … Jerih payah mengejar pose menarik ternyata berbuah manis. Inilah hasilnya …

 

13596195651881739930

 

Jepret! Enam belas tahun yang lalu. (Model Rusydi, lokasi Cirebon)

 

135961968215311108

 

Jepret! Dua belas tahun yang lalu. (Model Hanif, lokasi Cirebon)

 

 

Jepret! Empat tahun yang lalu. (Model Kindi, lokasi Jakarta)

 

1359618428341486536

 

Jepret! Nangkring. (Model Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi, lokasi musium Indonesia TMII)

 

 

Jepret! Tooolooong …  (Model Muhammad Hafizh Haidar Hanif, lokasi rest area km 95 tol Cipularang)

 

13596186721560751496

 

Jepret! Asyik … (Model Maryam Aliyya Al Kindi, lokasi rest area k, 95 tol Cipularang)

 

1359619025540997367

 

Jepret! Meniti tambang, menguji keseimbangan. (Model Rusydi, lokasi Gayatri Tawangmangu)

 

13596192371223281327

 

Jepret! Meluncur ‘flying fox’, menguji keberanian. (Model Hanif, lokasi Gayatri Tawangmangu)

 

13596193771726448395

 

Jepret! Melintasi jembatan, menguji kemandirian. (Model Kindi. lokasi Arwana Cibubur)

Jepret! Two brothers love baby girl … so sweet. (Model Ruysdi, Hanif dan Kindi)

 

Jepret! Asyiknya libur bersama. (Model Rusydi, Hanif, dan Kindi, lokasi Bandara Soekarno-Hatta)

 

Jepret! Cinta dari ibunda Dewi Laily Purnamasari. (Model Rusydi, Hanif, dan Kindi, lokasi Cirebon)

 

ibrahim di balik lensa kamera

Standar

Berburu gaya Kaka, Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi, ternyata sangat mengasyikkan. Anak sulungku ini sepertinya sadar kamera. Pose yang dipilihnya cukup menarik. Ya … Aku sebagai ibu-nya yang punya hobi jepret merasa tertantang untuk terus berburu gaya Kaka dari beragam sudut,

Yuk! Nikmati hasil perburuanku ini …

13604873111828471129

Jepret! Nge-becak pun dijadikan gaya Kaka. Lihat saja baju kaosnya juga bergambar becak. Kaos itu beli di PGS Solo. Ada yang berminat menumpang becak Kaka ? He3 …

1360488566612546220

Jepret! Saat Kaka shalat aku men-jepretnya tanpa dia ketahui. Ya … Ini gaya natural Kaka. Aku sangat bersyukur, Alhadulillah … Kaka sangat mencintai Allah SWT dan setia menjalankan perintah-Nya.

13604875531286432002

Jepret! Air terjun Jumog Tawangmangu Jawa Tengah. Suasana yang begitu alami di jadikan latar belakang. Lihat air terjun dan air yang mengalir seakan terhenti, begitupun gaya Kaka yang ‘cool’ sangatlah pas. Berlibur menikmati alam memang disenangi oleh Kaka. Hati, pikiran, dan tubuh menjadi lebih sehat dengan senantiasa bersyukur atas segala karunia yang Allah limpahkan.

1360487769516424714

Jepret! Nyiur melambai di kaki gunung Ciremai. Kaka bergaya seperti seorang filsuf sedang merenung mencari ilham. Sweater bergaris pas sekali digunakan dengan kaos lengan panjang yang membuat sejuk itu terasa pula  dalam gambar. Sekali lagi berlibur di negeri sendiri, dan menikmati keindahan alam adalah sarana untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Illahi Rabbi.

13604880271118114313

Jepret! Kaka bergaya asyik dengan gadget-nya (sayang tak terlalu kelihatan ya ?) di balkon gedung Fakultas Teknik Informatika ITB. Pemilihan tema gadget dan gedung yang dipilih adalah ide dadakan saat Kaka kuajak berkeliling kampus. Tiba-tiba dia bertanya, ‘Bu di mana jurusan TI ? Aku mau dong foto di sana!’ Ya … jadilah pose ini. Semoga cita-cita Kaka untuk kuliah di ITB dapat tercapai, amin …

Jepret! Kaka ternyata punya selera humor yang cukup tinggi. Tidak menyangka muncul ide untuk nangkring di atas gerbang museum TMII. Eh … Hasilnya keren juga ya.

1360488213135193763

Jepret! SCBD di kejauhan dipadu jalan Sudirman yang lenggang, sangat pas dengan gaya Kaka yang memandang seorang pengendara sepeda di bawah sana. Gambar ini menceritakan betapa asyiknya Jakarta di saat Car Free Day. Kaka dan aku sengaja menggunakan transjakarta untuk menuju ke area CFD sebagai bentuk kepedulian untuk transportasi publik yang nyaman di Jakarta.