Monthly Archives: Februari 2014

Ketika Ibu-ibu Bicara Korupsi

Standar

Status facebook teman-temanku bertaburan tulisan keprihatian tentang putusan hakim terhadap tersangka tindak pidana korupsi Angelina Sondakh. Aku pun menuliskan rasa tak sepakat dalam status facebook seperti ini : ‘duh … pemakan uang rakyat … yang membuat rakyat melarat ternyata hanya di hukum sekejap : sungguh keputusan yang tak beradab : ah … hati ini menjerit, mulut berteriak, tangan bergerak menuliskan rasa tak sepakat … (hayu terus semangat anti korupsi ibu-ibu hebat … walau hanya dengan menuliskannya di status facebook atau berkicau di twitter lebih bagus lagi di blog pribadi maupun keroyokan semoga bermanfaat)’

Tak lama teman-teman mengomentarinya …

    • Haeriah Ummu Abdillah Sama mba, baru aja bca berita,tuh koruptor terbukti nyolong uang rakyat cuma diganjar 4,5 th trus duit rakyat 35 m gak dikembalikan. Tuh hukuman ntar dikasi keringanan lgi. Duh, muak bget mba….kasihan anak2nya dikasi makan uang haram…Ya Allah jauhkan kami dri mengambil apa yg bukan menjadi hak kami…..
    • Dewi Laily Purnamasari sangat tidak sepakat dengan keputusan hakim yang tak berpihak kepada rakyat … hiiiksssss … : bu Anni Iwasaki yang sangat perhatian terhadap ibu indonesia, apa ada tanggapan? bunda Nursyahbani Katjasungkana sebagai politisi di dpr ri, apa ada sikap? juga mba Lies Marcoes yang sedang heboh ‘ngangkang’ gimana nih kalau hukum di’ngangkang’in begini, apa ada usul? sapa juga mba Julia Suryakusuma dengan ide ‘o’ project-nya, apa ada ide?
    • Dewi Sumarty iya sama baru aja liat berita di tv…kecewa… gimana orang kapok untuk korupsi yah kalo negara ini cuma bisa menghukum koruptor dengan hukuman yang seringan2nya…. sementara maling sandal bisa dihukum lebih lama dan lebih berat….
    • Anni Iwasaki @Setelah dibodohkan di era orde lama, orde baru dan kini orde reformasi rajin2 saja mencerdaskan rakyat khususnya kaum calon ibu, ibu dan nenek yang masih tebal rasa keimanannya agar bersedia menuntut hak-hak hidupnya berstandar akademik universal . Tidak lagi memilih pekerja rakyat yang ketahuan kkn.
      @kepada kaum ibu hamil dan yang putra/inya masih kecil agar tidak melanggar UU khususnya tidak menerima uang apalagi memperebutkan uang yang bukan haknya termasuk lapangan kerja yang bukan haknya.
      @ Disengaja atau tidak, pelanggaran UU berakibat kepada rasa bersalah sampai dengan tingkat depresi. Berlanjut kepada hidup tidak tentram blusak-blusuk menabrak UU.
      @ Perilaku seperti ini menurun kepada janin2 dalam kandungan dan akan terus menjadi-jadi paska kelahiran apalagi hidup dengan ibu yang berkarakter demikian. Demikian Bu Dewi Laily Purnamasari….
  • Lena Magdalena setujuuu bu dewi…say no to corruption….sungguh miris fenomenanya, neraka mungkin akan lebih penuh dengan calon penghuninya yang mayoritas perempuan…

Aku menuliskannya juga grup facebook komunitas ibu ibu anti korupsi seperti ini :

Komunitas ibu ibu anti korupsi mengajak para ibu di seluruh Indonesia juga yang berdomisili di luar negeri untuk menuliskan rasa keprihatinannya atas makin ganasnya kasus korupsi di negeri kita tercinta ini serta makin lemahnya penegakkan hukum atas tindak pidana korupsi : jabat semangat dulu ibu ibu di berbagai komunitas Kumpulan Emak2 Blogger Ibu-ibu Doyan Nulis – Interaktif Smart Parenting, by Bunda Arifah Handayani Koalisi Perempuan Indonesia Setnas Rahima Rumah Bersama ITBMotherhood IDKita Kompasiana – Supporting anti korupsi Save KPK Save Indonesia
    • Rina Wahyuningsih Prihatinnya lagi, skg prosentasi “ibu-ibu” yang korupsi juga makin tinggi. Teganya ya mereka kasih makan dan pakaian anak2nya dg “kotoran”. Nauzubillah
  • Daeng Neo Hans Azizah banyak hal yg membuat org pada akhirnya tdk sadar akan tindakan korupsinya,, yg hrs di hindari adalah rasa 2 tersesak sehingga terdorong melakukan korupsi
Yuk! Di tahun baru 2013 ibu-ibu hebat semakin semangat mencegah korupsi dan terus berjuang menjadi teladan anti korupsi dimanapun berada …

Berani Melawan Korupsi

Standar

Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sudah sepatutnya tetap istiqamah dan tak gentar dalam mengusung penuntasan kasus korupsi di Indonesia. Terutama korupsi ‘gede-gede-an’ yang menyengsarakan rakyat. Tak usah takut melawan korupsi! Lawanlah bersama dari segala penjuru.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya tanggal 15 November 2003 telah ditandatangani Pencanangan Gerakan Nasional Anti Korupsi (GNAK) berupa Memorandum of Understanding (MoU) antara Ketua PBNU KH.A.Hasyim Muzadi, Ketua PP Muhammadiyah Prof.Dr.Sya’fii Ma’arif dan Direktur Eksekutif LSM Kemitraan DR.HS Dillon.

Sebuah fenomena menarik, jika mahasiswa yang notabene adalah sekumpulan orang muda bersemangat baja, (alih-alih sebagian besar belum kenal nikmatnya’uang) tentu ketika maju di barisan terdepan dalam aksi demonstrasi akan lebih bebas berekspresi. Bersemangat … Bahkan sampai merangsek ke gedung DPR RI pun berani dilakukan.

Tapi coba, jika seorang ‘tetua’ seperti dosen, kyai, pengusaha, pendeta, anggota legislatif, pengacara, birokrat, guru, pedagang, buruh, notaris, hakim, jaksa, dokter, arsitek, polisi, banker,  tentara, dan juga ibu-ibu rumah tangga mau maju untuk bersuara bahwa mereka juga  bergerak melawan korupsi. Tentu butuh banyak pertimbangan dan juga keberanian ekstra. Mengapa? Zona nyaman memang sulit untuk diruntuhkan. Namun … Ini persoalan besar bangsa ini. Kemerdekaan memang telah direbut … Tapi, siapa yang tak miris, sedih, getir, menangis tersedu ketika negeri sendiri kekayaannya dijarah para koruptor.

Kita lihat di banyak negara, ketika mahasiswa maju bergerak menyuarakan aspirasi di situlah ada kekuatan moral. Lalu di mana kekuatan para senior meraka ? Biasanya gerakan ‘para tetua’ ada di tulisan, di forum diskusi, di lobby tingkat tinggi, dan di kekuatan politik juga ekonomi. Paduan yang luar biasa jika kekuatan kaum muda dan para tetua / senior dapat berjalan dengan sinergis. Ayolah … Bangun dari rasa enggan dan rasa itu bukan urusanku … Minimal tuliskan rasa keprihatinan terhadap makin ganasnya korupsi dan makin ‘mlempem’nya hukum di hadapan para koruptor. Boleh di twitter, di blog pribadi atau keroyokan, di facebook, atau minimal panjatkan doa-doa di penghujung malam agar kita tetap tegar dan terus bersemangat anti korupsi.

Dewi Laily Purnamasari founder komunitas ibu ibu anti korupsi dengan anggota lebih dari seribu orang.

Berbagi Informasi Boarding School

Standar

Awal tahun adalah waktu pendaftaran di berbagai boarding school pilihan. Bagi orangtua dan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah berasrama, ada baiknya melakukan survey terlebih dahulu sekolah yang dituju. Siswa juga sebaiknya ikut menjelajah beberapa sekolah berasrama agar dapat menangkap secara fisik dan visual bagaimana suasana di sana ? Mengapa hal ini penting ? Bukankah kelak yang akan menjalani hari-hari selama sekolah berasrama adalah siswa.

Pengalamanku menjelajahi beberapa boarding school bersama anak pertama dan anak kedua ada dalam tulisan di sini : http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/28/berburu-boarding-school-336524.html. Intinya adalah orangtua dan siswa harus berkomunikasi secara positif, juga menggali informasi yang dibutuhkan saat bertemu dengan panitia penerimaan siswa baru. Bahkan kalau perlu ‘mbusukan’ keliling asrama dan fasilitas sekolah. Luangkan waktu beberapa jam dan lihat bagaimana aktifitas para santri di sana ? He3 … Aku sempatkan juga melongok dapurnya loh!

Nah … faktor penting yang tak boleh dilupakan dan diabaikan adalah pendapat anak kita yang akan menjadi siswa di sekolah berasrama. Tanyakan bagaimana perasaannya ? Gali juga keinginannya tentang sekolah yang diidamkannya. Akan lebih berhasil kelak proses belajar siswa bila masuk sekolah berasrama atas kehendak sendiri. Bila ada unsur paksaan biasanya siswa cenderung kurang berhasil bahkan ada yang keluar karena tidak sesuai dengan keinginannya. Alhamdulillah … Kaka dan Mas memang ingin sekolah berasrama. Dan inilah penggalan kisah mereka di sini http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/13/boarding-school-mengapa-anakku-memilihnya-486511.html. Ya … pastilah ada rasa kangen. Ada juga sesekali rasa jemu, namun saat liburan kemarin mereka mengatakan hal yang membuat hatiku bahagia. Bahwa mereka senang bersekolah di sana karena semakin mandiri dan banyak teman.

Oya … Informasi lain tentang tes masuk ke sekolah berasrama juga berbeda antar sekolah. Namun umumnya adalah tes kemampuan akademik, tes membaca Al Quran, dan wawancara. Ada juga sekolah yang menjalanpsikotes. Pengalaman mengikuti tes di boarding school Insan Cendikia dan Husnul Khatimah ada di sini : http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/09/kaka-lulus-tes-boarding-school-alias-pesantren-345443.html

Alhamdulillah … sebagai orangtua aku patut bersyukur karena Kaka dan Mas senang belajar di boarding school masing-masing. Bila ada teman-teman kompasianer yang juga anaknya sekolah berasrama, boleh ya berbagi pengalaman … ^_^ di sini : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/01/31/boarding-school-pilihan-terbaik-buat-anak-anakku-431528.html

Mas saat mengikuti kegiatan ekstra kurikuler beladiri di boarding schoolnya. Oya sekarang Mas jadi ketua kelas dan ketua kamar asrama loh! Alhamdulillah …

Kaka menjadi ketua panitia bakti sosial di boarding schoolnya. Alhamdulillah …

Pindahkan Ibukota, Mungkinkah?

Standar

Ketika banjir melanda diri ini berusaha mendapat hikmah : bahwa merasakan nestapa, berbagi bantuan, dan memanjatkan doa-doa terbaik agar mereka sabar. Genangan air paska hujan yang hanya sejenak. 

Lebih penting lagi yuk! Kita memperbaiki diri dengan lebih ramah pada alam, membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon dan membuat area resapan di rumah. Semoga langkah kecil ini mampu berbuah besar, aamiin … Lalu langkah besarnya apa ya?

M.. Jehansyah Siregar, Ph D, Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB, dan Anggota Tim Visi Indonesia 2033 mengatakan bahwa di lapangan, kita bisa menyaksikan pembangunan area-area permukiman dan berbagai fungsi bangunan komersial dilakukan dengan cara mengurug lahan basah, rawa-rawa, maupun lahan-lahan rendah yang seharusnya dijadikan ruang resapan hijau maupun untuk waduk retensi.

Yang menjadi masalah adalah, mengapa Surat Ijin Penujukan Pemanfaatan Tanah (SIPPT) dikeluarkan di kawasan RTH dan lahan basah, dan mengapa ijin mendirikan bangunan (IMB) dikeluarkan untuk pondasi bangunan yang diurug di lahan basah.

Kini berbagai area di Jakarta sudah terbangun tanpa mengacu kepada perencanaan dan pengendalian yang baik. Meskipun demikian, dari kalangan Pemprov DKI belum bisa melihat masalah ini karena selalu berkilah dengan menyalahkan penduduk pendatang yang semakin memadati Jakarta.

Tanpa perlu diperdebatkan lagi, jika pola pembangunan Jakarta tetap dibiarkan seperti ini maka bencana kebanjiran, kekumuhan, dan kemacetan akan tetap ada di Jakarta hingga mencapai keadaan yang tidak bisa diatasi lagi (point of no return), karena kumulasi pembangunan kota memang bersifat irreversible.

Wah … Pendapat Jehansyah seharusnya menjadi aba-aba peringatan penting. Bagaimana kelak Jakarta bisa tenggelam dalam kebanjiran, kekumuhan, dan kemacetan total ? Tentu kita sebagai warga Jakarta tak ingin hal itu terjadi bukan ?

Jehansyah menambahkan bahwa pembangunan kota-kota baru residensial di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dengan konsep hunian campuran berimbang yang didukung oleh jaringan transportasi terpadu akan memberikan peluang bagi penataan semua bantaran sungai di Jakarta. Dengan perkiraan relokasi sekitar 4 juta penduduk maka diperlukan sekitar 20 kota-baru residensial di sekitar Jabodetabek dengan kepadatan masing-masing sekitar 200 ribu jiwa.

Dari sisi pemanfaatan ruang yang diisi oleh manajemen pembangunan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak kunjung berhasil memenuhi kewajiban proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% berdasarkan UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dari sekitar 66 ribu hektar (ha) luas Jakarta, luas RTH masih kurang dari 6 ribu hektar atau sebesar 9%. Tidak ada strategi dan upaya-upaya yang efektif untuk menguasai lahan-lahan, memberikan insentif maupun disinsentif untuk area-area yang mengalami tekanan pembangunan, terutama di Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Pemindahan fungsi Ibukota dan penataan permukiman kumuh di seluruh bantaran sungai Jakarta secara progresif bisa memberikan harapan tersedianya RTH secara memadai. Namun ada beberapa prakondisi untuk mewujudkannya, yaitu kepemimpinan nasional dan kepemimpinan Jakarta yang visioner, kebijakan kota yang inklusif dan penguatan sektor publik, serta pemberdayaan masyarakat dan partisipasi publik dalam pembangunan.

Jika memang Jakarta sudah mencapai point of no return, bukankah sebaiknya direncanakan pembangunan Ibukota NKRI yang baru yang dibarengi penataan Jakarta?

Semoga bencana banjir Jakarta tidak menjadikan bangsa ini semakin terpuruk karena saling menyalahkan dan diam berpangku tangan. Sebaliknya, inilah kesempatan bagi seluruh komponen bangsa untuk bangkit dan bahu membahu mengambil langkah-langkah yang progresif menuju visi kota yang nyaman dan produktif sebagai wadah membangun karakter bangsa yang kuat.

Semoga semakin banyak ruang terbuka hijau seperti ini. Pejalan kaki dan pesepeda seharusnya diberi ruang yang nyaman. Sampah menggunung di aliran sungai yang semakin menyempit. Hendak mengalir kemana air? Maka tak heran bila Jakarta senantiasa langganan banjir. Jakarta yang sangat padat. Tiap jengkal tanahnya begitu berharga. Jakarta ibukota negara yang kita cintai. Apakah bila ibukota dipindahkan, kecintaan kita kepada NKRI akan berkurang? Tentu tidak …

Momen Kenangan Mas

Standar

Tak selamanya bisa mendapat pose menarik dari anak keduaku Mas. Entah mengapa? Mas kadang malah menghadiahkan ibu-nya yang hobi jepret ini mimik cemberut he3 … Tapi aku pantang menyerah!

Mas sepertinya harus memilih sendiri gayanya, yang menurut dirinya nyaman dan akan menghasilkan foto oke. Ya … Aku sangat-sangat tahu isi hatinya, Mas tidak mau kelihatan jelek ha3 …  Kalau ada hasil foto yang jelek, biasanya Mas akan ‘keukeuh’ untuk memintaku men-delete. Walau aku juga sering ‘ngeyel’ tetap menyimpannya sebagai kenangan.

Yuk kita nikmati foto-foto hasil menangkap gaya Mas di sini:

Jepret! Segarnya air kolam membuat Mas asyik berenang tak kenal waktu. Aku memintanya bergaya, Mas tidak menggubrisnya. Mmm … Aku cari akal, oya … kan bisa curi-curi hi3 … ‘indeed’. Mas aku panggil dari tempatku duduk, lalu Mas menengok ke arahku … Siiipsss … Dapat! Waktu aku perlihatkan hasilnya, Mas senang juga karena menurutnya cukup terlihat ganteng ha3 …

Jepret! Buuu … Mau dong foto di sini! Teriak Mas sambil berlari menuju papan nama sebuah villa di Tawangmangu. Nama Hanif adalah nick name Mas di sekolah. Oke … siap! Kamera … action! Mas dengan sangat percaya diri bergaya natural. Wow … Hasilnya sangat keren.

Jepret! Gaya super heboh yang ditampilkan Mas di kebun raya Bogor. Mas tertarik dengan pohon palem berbatang tujuh ini. Lalu … Ide kreatifnya muncul dan memintaku untuk men-jepretnya. Wah … Ternyata benar, hasilnya memang sangat menarik.

Jepret! Mas senang bisa keliling kampus ITB karena ayah dan ibu-nya alumni dari sini, pun sekarang wali kelasnya sedang mengikuti pascasarjana di ITB. Jadi, senyumnya simpul saja dengan gaya standar. Semoga Mas bisa kuliah juga di sini.

Jepret! Hooree … Akhirnya ada juga hasil jepret-an ku yang menangkap senyum manis Mas. Kursi dari kayu yang begitu alami, dengan latar pohon pakis yang eksotik mampu membuat mas menyunggingkan senyum sampai tampak gigi. Wuih … Momen istimewa nih …

Jadi Model Dadakan Ternyata Asyik

Standar

Beginilah kalau punya suami yang hobi jepret dan anak gadis cilik yang hobi di-jepret. Jadilah kami berdua model dadakan he3 … Ternyata asyik juga ya! Apalagi kalau hasilnya bagus. Walaupun tak selamanya Teteh, Maryam Aliyya Al Kindi mau bergaya sendiri, kadang malah kabur atau marah. Tapi kalau sedang kepingin di-jepret, maka Teteh akan berpose dengan manisnya. Satu lagi hobi Teteh adalah memaksa ibu-nya yang sebenarnya lebih senang men-jepret untuk harus mau dan tidak boleh tidak menemaninya di-jepret. Wuih … lebih seru lagi, Tetehlah yang mengarahkan gaya kami berdua … ‘harus begini Bu … aku mau gaya pura-pura jatuh … atau yuk! ibu peluk aku … he3 …

Nah … Beginilah model dadakan itu bergaya. Aku berusaha menikmati saja berbagai pose yang hasilnya ternyata oke juga, he3 …

Gempita Pemilukada Untuk Siapa?

Standar

Pemilu 2014 yang akan diselenggarakan pada tanggal 9 April 2014 semakin dekat saja waktunya. Aku telah mendapatkan stiker pemutakhiran data pemilih pemilu 2014. Pertanyaanku adalah gempita pemilu untuk siapa ?

Bercermin pada gempita dan hiruk pikuk pemilihan kepala daerah ‘Pilwalkot’ di Kota Cirebon sedang mencapai titik kulminasi tertinggi. Bagaimana tidak? Waktu tinggal dua pekan lagi. Pencoblosan akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 24 Februari 2013.

Lima pasangan calon walikota – wakil walikota akan berkampanye sesuai jadwal yang telah di tetapkan KPUD Kota Cirebon. Selain kampanye terjadwal, ternyata spanduk, pamflet, juga baliho besar menghiasai jalanan Kota Cirebon pun batang pohon dan tiang listrik tak luput dari foto kandidat. Mereka adalah pasangan Bamunas-Priatmo, Ano-Aziz, Ayi-Azrul, Sofyan-Sunarko, dan Saladin-Heru.

Namun … Sayang seribu sayang. Kampanye yang diharapkan mampu menjadi sarana pendidikan politik praktis bagi masyarakat Kota Cirebon ternyata belum bisa terwujud. Lagi-lagi kampanye lebih banyak di isi iring-iringan pawai yang memacetkan kota. Sedangkan debat publik atau diskusi bersama beragam komunitas tidak maksimal dilakukan.

Oke lah bila kampanye pilkada kali ini tak memenuhi harapanku, maka aku ingin menyampaikan pemikiran yang semoga dapat menjadi bekal walikota – wakil walikota terpilih nanti. Salah satu tugas pemimpin pemerintahan di tingkat kota adalah menyusun anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang kemudian dibahas bersama DPRD. APBD milik siapa ? Pertanyaan mendasar ini perlu dijawab oleh pemegang amanat rakyat. Mengapa ?

Dari sisi konseptual, APBD memegang peran penting dalam proses pembangunan. Fungsi utama dalam kaitannya dengan program pembangunan adalah sebagai alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiskal, alat politik, alat koordinasi dan komunikasi, alat penilaian, dan alat motivasi. Namun, menurut pandangan berbagai kalangan APBD Kota Cirebon belum memenuhi asas keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat luas – khususnya masyarakat miskin dan kaum perempuan.

Satu hal penting lainnya adalah potensi korupsi pada APBD Kota Cirebon. Pada tahap penyusunan maupun implementasi program yang tertuang dalam APBD, memang sangat rentan mengundang praktek korupsi. Terutama dalam pos anggaran belanja rutin. Anggaran terus membengkak seiring dengan masuknya pembelian mobil dinas, perjalanan dinas, renovasi kantor, pemeliharaan rumah dinas, juga ongkos kantor (biaya rapat dan kepanitiaan).

Sudah seharusnya pemerintah dalam hal ini walikota – wakil walikota memegang teguh tiga prinsip utama dalam menyusun APBD, yaitu prinsip orientasi publik, prinsip keadilan, dan prinsip kepemimpinan yang baik. Prinsip orientasi publik memiliki pengertian bahwa pengambilan kebijakan dan keputusan khususnya APBD Kota Cirebon seharusnya terbuka dan berpihak kepada kepentingan dan kemashlahatan masyarakat banyak. Keterbukaan ini dapat dinilai dari proses mulai perencanaan, penyusunan, penetapan, dan evaluasi serta pertanggungjawaban. Jangan lagi anggaran disusun untuk kepentingan segelitir golongan, bukannya untuk masyarakat. Malah lebih parah bila di korupsi oleh pejabat dan rakyat tetap saja melarat.

Buletin Blakasuta yang diterbitkan oleh Fahmina Institute Cirebon mengangkat tema tentang APBD Kota Cirebon Milik Siapa ? Tulisanku ada di dalamnya bersama tulisan teman-teman lainnya Faqihuddin Abdul Kodir, Setyo Hajar Dewantoro, Ipah Jahrotunnasipah, Wiharti, Obeng Nurrosyid, Dadang Kusnandar, Rosidin, Nuruzzaman, dan Husein Muhammad.

Merenungkan kembali makna pemilihan anggota DPRRI dan DPRD  yang akan dilanjutkan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Semoga saja akan terpilih para pemimpin yang amanah, jujur, adil, dan teguh pendirian untuk menegakkan kebenaran, aamiin …

kisah perempuan setia di bilik sebelah

Standar

Rabu kelabu. Awan memayungi langit Jakarta, saat aku menyetir mobil menyusuri macetnya jalanan ibukota. Mobil melaju menuju rumah sakit di bilangan Jatinegara, membawa suamiku tercinta yang meringis kesakitan. Demamnya belum juga reda. Bahkan semalam badannya menggigil tak tertahankan.

Selesai memarkir mobil di lantai lima, aku bergegas ke ruang UGD dan menemani suami diperiksa dengan seksama oleh dokter jaga. Dan disarankan dengan sangat untuk di rawat intensif. Ternyata … kamar rawat inap di rumah sakit ini penuh. Aku menunggu hampir tiga jam, baru bisa diantar menuju lantai enam. Seharusnya dari kantor suami mendapat kelas satu, namun harus masuk dulu di kelas dua. Tak apalah … yang penting suami segera ditangani dan mereda rasa sakitnya.

Tak berapa lama masuk pasien lain di bilik sebelah. Seorang laki-laki paruh baya yang diantar oleh istrinya. Dari pembicaraan suster dengan ibu Ani (sebut saja begitu), aku tahu kalau suaminya menderita gagal ginjal dan harus cuci darah dua minggu sekali. Nah … saat ini ternyata trombositnya di bawah normal, jadi harus transfusi darah dulu sebanyak dua labu (1000 ml). Ibu Ani mendampingi suaminya dengan setia. Dan terdengar memberi semangat kepada suaminya, bahwa akan baik-baik saja.

Saat senggang, aku sempat berbincang dengan ibu Ani. Dari ceritanya, aku mengambil hikmah betapa setianya ibu Ani menemani hari-hari sulit suaminya saat dinyatakan mengalami gagal ginjal. Rencananya besok harus operasi untuk membuat lubang baru di sekitar leher. Lubang itu berfungsi untuk jalannya proses cuci darah. Suaminya hampir enam bulan menjalani cuci darah dua kali seminggu. Ya Allah … ketegaran dan doa-doa terbaiknya untuk suaminya membuatku seolah mendapat enegi baru. Aku pun harus kuat dan sabar menemani suami di rumah sakit.

Esok harinya suster kepala mengatakan ada kamar kosong kelas satu. Setelah beres menata pakaian di lemari dan mengurus surat pindah kamar, aku berkenalan dengan ibu di bilik sebelah. Ibu Ina (sebut saja begitu) menemani suaminya yang menderita kanker getah bening. Sudah seminggu lebih berada di rumah sakit untuk proses kemoterapi. Namun tertunda terus disebabkan hasil laboratorium suaminya belum stabil, sehigga belum bisa dilakukan kemoterapi.

Suaminya yang dahulu berbadan tegap, kini kurus dan tak lagi memiliki rambut. Kulitnya seakan terbakar dan suaranya pun berubah parau. Duh … sedih aku melihatnya terbaring dengan selang infus yang berisi zat makanan untuk menstabilkan kondisinya agar bisa segera di kemoterapi.

Sungguh … kesabaran ibu Ina mendampingi suaminya memberikan dorongan semangat kepadaku untuk melakukan hal yang sama menemani suamiku menjalani hari-harinya di rumah sakit. Aku, Dewi Laily Purnamasari sedang diberikan ujian kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Penyayang untuk menemani suamiku Rachamad Aziz Mucharomyang sedang terbaring di rumahsakit.

Sampai hari ke tujuh panas badannya selalu naik turun. Hasil laboratoriumnya belum menunjukkan tanda-tanda sakit apa gerangan ? Tadi malam dokter melakukan USG dan ditemukan ada abscess / bisul bernanah di liver / hatinya. Hasil rontgen memperlihatkan ada radang di paru-parunya. Subhanallah … Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Ya Allah … Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehatkanlah kembali suamiku tercinta, amin …

berlibur ke linggarjati kuningan

Standar

Bila berlibur ke kota Cirebon, tak lengkap rasanya bila melewatkan asyiknya suasana di kaki gunung Ciremai. Linggarjati adalah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ada gedung bersejarah di sana, yaitu gedung perundinganLinggarjati. Ada juga hutan wisata dan bumi perkemahan. Tak jauh dari Linggarjati, kita bisa mengunjungi daerah Sangkanurip dengan pemandian air panasnya. Sebelum kembali ke kota Cirebon, sebaiknya mampir dulu di daerah Gronggong. Ada restoran yang dibangun di sisi tebing dan kita bisa menyaksikan keindahan kota Cirebon hingga terlihat nun jauh horison laut Jawa.

Inilah parade foto oleh-oleh berlibur ke Linggarjati dan Gronggong Kuningan.

Maryam Aliyya Al Kindi bersama tante dan sepupu serta Kaka dan Mas belajar sejarah perjuangan bangsa Indonesia di gedung ini. Tempatnya terawat dan harga tiketnya sangat murah.

Halaman yang teduh dan teras yang nyaman. Walau gerimis turun tak menyurutkan aksi berfoto.

Bagian dalam gedung dengan perabot yang asli dan beberapa telah diganti karena sudah rapuh.

Nah … Ini aksi lengkap berlima. Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi dan Muhammad Hafizh Haidar Hanif kalah gaya nih sama Kindi he3 …

Menanti makanan dan minuman disajikan.

Melepas rasa lapar dengan menu spesial … Mmm … Sedap. Suasananya juga sangat mendukung. Interiornya dipilihkan berbagai barang antik. Dari lantai ini kita bisa menyaksikan indahnya kota Cirebon terutama bila malam hari.

Menu istimewa pelepas dahaga. Siapa mau ?

Di lantai bawah ada perabot antik yang sangat menarik.

Suasana taman di lantai paling bawah. Asri dan nyaman cocok untuk acara keluarga.

Ada sumur tua yang masih dipelihara.

Musholapun disediakan dengan desain pintu ukiran kayu tua yang cantik. Lantai ubin berwarna gading juga menambah eksotik tempat ini.

Bagi senang lesehan silahkan pilih amben / bale-bale lengkap dengan kelambunya.

Sejuk bukan ? Dijamin kepincut dan selalu ingin kembali …

Sssttt … Kindi ada yang nge-jepret kita loh!

 

Temukan Hikmah Saat Temani Anak dan Suami Rawat Inap di Rumah Sakit

Standar

Sakit adalah episode tak terelakan dalam kehidupan manusia. Beragam jenis penyakit dapat saja diderita oleh manusia, tak terkecuali diri kita, suami / istri, anak-anak, orangtua, dan keluarga dekat yang kita sayangi. Aku ingin berbagi pengalaman ketika menemani anak / suami yang sedang sakit dan harus di rawat di rumah sakit.

Betapa rasa syukur dan sabar kepada Allah Yang Maha Pemurah adalah modal utama. Ya … Aku butuh energi dan kekuatan hati yang lebih bila berhadapan dengan urusan rumah sakit. Sewaktu kecil aku sudah tidak nyaman bila diajak ayahku yang seorang dokter periksa gigi di RSCM. Perutku kadang mendadak mulas atau badan terasa lemas … He3 … kata ayahku itu tanda penolakan secara psikologis terhadap suasana ketidaknyamanan.

Namun … Saat aku menjadi seorang ibu, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus berhubungan dengan rumah sakit. Ternyata Allah Yang Maha Pengasih, memberiku cara belajar yang super spektakuler agar aku memiliki aura positif terhadap urusan rumah sakit. Allah Yang Maha Bijaksana memberiku jalan agar aku belajar bersyukur dan bersabar atas ditimpakannya sakit kepada anak-anak dan suami. Karena dengan demikian aku mampu menemani sejak masuk UGD hingga berhari-hari di ruang perawatan. Aku pun aktif mencari tahu berbagai informasi tentang penyakit yang diderita mereka. Meluncur di internet untuk menemukan penyebab, gejala, pengobatan aku lakukan.

Tak lupa saat menemani di ruang perawatan aku panjatkan doa-doa terbaik untuk kesembuhan mereka. Rasanya sungguh Allah Yang Maha Penjaga begitu dekat. Ya … benar adanya bahwa bila kita ditimpa suatu musibah atau ujian, maka akan sangatlah beruntung bila kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Hikmah lainnya adalah aku makin yakin akan karunia dan ni’mat Allah Yang Maha Kaya amatlah besar. Di UGD aku pernah berjumpa pasien yang sedang sakaratul maut karena stroke. Malah di lain waktu ada juga yang saat masuk UGD sudah meninggal dunia, inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Walau aku sangat tidak tahan melihat darah … tapi aku harus kuat juga karena di UGD pernah bersebelahan dengan korban kecelakaan lalu lintas yang sedang ditangani dokter (sepertinya dijahit bagian kepala dan kakinya).

Aku menemani anak bungsu di rawat sudah lima kali karena infeksi virus, demam tinggi, radang saluran pencernaan, dan radang usus buntu. Allah Yang Maha Mulia menghadiahkan anak bungsuku agar aku makin dekat kepada-Nya. Berhari-hari dia dirawat, aku pun harus selama 24 jam berada didekatnya. Rasa paling sedih saat usianya belum genap lima tahun (setengah tahun yang lalu) dan harus menjalani operasi usus buntu. Tak tega melihat dia dipakaikan selang infus, selang oksigen, dan baju putih untuk operasi serta melihatnya perlahan kehilangan kesadaran karena dibius total. Ya Allah … Tak henti doa-doa terbaik aku panjatkan kepada Allah Yang Maha Tinggi. Alhamdulillah … Operasi berjalan sukses selama hampir tiga jam. Selesai operasi harus menjalani masa pemulihan sekitar lima hari.

Begitupun saat harus menemani anak pertama dan kedua dirawat karena terkena demam berdarah. Sempat merasa khawatir pada masa kritis. Demamnya tinggi lalu menurun namun tubuh terasa makin lemah dan trombosit turun terus. Kasihan mereka berdua yang biasanya begitu ceria dan aktif, harus terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Makan tak enak malah terasa mual ingin muntah. Ya Allah … Hanya pertolongan-Mu yang mampu mengangkat penyakit itu. Alhamdulillah … Pada hari ketujuh nafsu makan mereka mulai meningkat dan tubuhnya berangsur segar.

Pengalaman menarik lainnya ketika menemani suami di rawat di rumah sakit. Saat masuk UGD demam tinggi hingga menggigil selama hampir dua jam. Perutnya juga terasa nyeri. Hasil USG dan laboratorium belum mengindentifikasikan hasil yang spesifik. Dokter memberi diagnosa awal adalah ‘gastroenteritis’ akut. Namun hingga hari ke tujuh  belum ada kemajuan yang berarti.

Dokter menyarankan cek laboratorium kembali juga di rontgen paru-paru. Hasilnya belum signifikan. Penasaran … Akhirnya dokter melakukan USG dan CTScan. Alhamdulillah … Ditemukan sumber demam tinggi dan nyeri itu adalah ‘abscess liver’. Sesuai diagnosa terakhir, maka suami harus menjalani perawatan selama lima hari lagi. Selama menemani di ruang perawatan, aku sungguh patut bersyukur karena ternyata banyak orang lain yang menderita sakit lebih parah.

Subhanallah … Aku diperlihatkan betapa beratnya seorang penderita kanker getah bening harus menjalani hari-harinya. Kemoterapi dan obat-obatan yang harus dimasukkan lewat infus sepertinya begitu menyiksa. Pasien lain yang menderita gagal ginjal harus cuci darah dua kali seminggu. Setiap kali sebelum cuci darah harus transfusi 1000 ml darah untuk menaikkan trombosit dan hemoglobin. Ada lagi pasien yang baru saja operasi tumor otak. Kesadarannya hilang. Segala sesuatunya hanya bisa dilakukan dengan bantuan oranglain di atas tempat tidurnya. Allahu Akbar … Ya Allah … Ampuni diriku bila selama ini luput bersyukur atas segala limpahan kasih sayang-Mu.

Hari ini adalah hari kesepuluh menemani suami di rawat di rumah sakit. Semoga Allah Yang Maha Penjaga senantiasa melimpahkan kekuatan, kesabaran, dan kesehatan kepadaku agar mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan memohon pertolongan, aamiin …

Teteh harus rawat inap karena terkena DBD, syafakillah kesayangan Ibu. Semoga Allah Yang Mahakuasa lagi Mahabaik memberikan kesembuhan.

Baca juga artikel menarik lainnya di sini: