ada adegan panas bersama admin kompasiana

Standar

Sejak hari pertama acara road show sosialisasi internet sehat dan aman di Yogyakarta, aku hanya sempat berjabat tangan dengan Admin Kompasina mas Iskandar Zulkarnain di SMA Bopkri. Sebagai seorang volunteer / relawan yang taat pada tugas men-jepret rangkaian acara, maka aku wara-wiri mencari sudut pandang yang bagus agar para narasumber terlihat keren ketika memaparkan ide dan pengalamannya. Sebenarnya penasaran juga ingin mengobrol soal kompasiana dengan admin-nya yang telah berkenan menyertai kegiatan ID-Kita Kompasiana bersama Kementrian Kominfo ini.

Tak disangka. Pucuk di cinta ulam tiba ha3 … Gara-gara mengantri laaamaaaa sekali di restoran bakmi jawa (kata supir kami sangat ueeenaaakkkk) jadilah aku dapat kesempatan ngobrol di temani mba Vema. Basa-basi pertama bertanya nama di kompasiana he3 … Aku membuka pembicaraan seputar cara ber-iklan di kompasiana ? Pertanyaan berlanjut tentang pekerjaan sehari-hari. Aku bilang selain dosen juga arsitek freelance. Eh …  Obrolan malah jadi berbelok ke diskusi desain rumah tinggal. Ya … Gak apa-apa deh! Yang penting rasa bosan menunggu bisa pupus.

Ada adegan panas loh dalam diskusi kali ini he3 … Benar-benar panas. Mau tahu kenapa ? Ruangan restoran yang hanya berukuran tiga meter kali 6 meter tidak dilengkapi dengan kipas angin : jangankan pendingin udara. Hanya ada satu exhaust fan yang bekerja ekstra keras tapi tak terasa menghasilkan rasa sejuk sedikitpun. Padahal tim ID-Kita Kompasiana dan Kementrian Kominfo harus menunggu hampir satu jam.

Aku bertekad harus sabar menanti dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Diskusipun bergulir dengan membahas masalah ruang terbuka hijau di perkotaan. Soal pengembang yang seharusnya berpihak kepada masyarakat berpenghasilan kecil-menengah dengan membangun rumah sederhana baik horizontal maupun vertical. Diskusi semakin panas. Wah … Sungguh yang ini benar-benar panas karena perut kami mulai keroncongan dan tubuh bercucuran keringat … hiiiksss. Kami lanjut membahas bagaimana agar kita bisa menjadikan rumah kita ramah lingkungan ?

Cara paling sederhana adalah mendesain rumah hemat energi listrik dengan membuat bukaan atau ventilasi agar terjadi pertukaran udara dan aliran angin yang membuat rumah terasa lebih dingin. Lalu membuat bukaan jendela agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan dan ruangan menjadi terang alami. Hal penting lainnya adalah area resapan air hujan. Kita bisa membuat taman rumput atau grass block agar air masuk kembali ke dalam tanah dan tidak terbuang percuma mengalir ke saluran kota atau bahkan menjadi sumber banjir.

Menanam pohon dan mematuhi koefisien dasar bangunan serta garis sempadan bangunan adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap terpenuhinya ruang terbuka hijau perkotaan minimal 30 persen. Ya … Ruang terbuka hijau bukan hanya tanggung jawab pemerintah (Walaupun untuk ruang publik dan sosial pemerintah memang paling bertanggung jawab), namun kita sebagai masyarakat yang cerdas dan peduli tentu dapat membantu dengan cara sederhana seperti di atas. Jangan habiskan lahan kita untuk dibangun dan ditutup perkerasan. Tanamlah pohon besar minimal satu rumah satu pohon dan beberapa pohon perdu agar rumah terasa nyaman dan sejuk.

Sedangkan bangunan tinggi atau gedung pencakar langit seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, hotel, dan lain sebagainya juga harus memenuhi peraturan perencanaan tata ruang kota. Terutama tanggungjawab untuk tetap memiliki area resapan air hujan, penghijauan dan ruang publik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota. Seperti area parkir di lantai bawah atau ground floor bisa dipindahkan ke bawah tanah atau basement atau gedung parkir, sehingga ada lahan yang bisa manfaatkan untuk taman atau area pejalan kaki antar gedung. Trotoarpun ditata dengan baik agar orang nyaman melintasinya.

Gedung pencakar langit harus bertanggungjawab untuk bersama melakukan penghematan energi. Bangunan dengan konsep green building bisa diterapkan juga dengan desain gedung yang cocok dengan iklim tropis. Cahaya matahari bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin juga pengudaraan alami di beberapa bagian gedung agar pemakaian listrik dapat dihemat. Air bersihpun dapat dihemat dengan sistem sanitasi yang baik. Setiap tetes air bersih sangatlah berharga, bukan ?

Salah satu contoh gedung pencakar langit yang berhasil menerapkan konsep arsitektur tropis, green building, dan hemat energi.

Nah … Adegan panas berikutnya adalah saat pelayan membawakan piring-piring bakmi jawa kehadapan kami. Kuah panas dengan asapnya mengepul menyeruak keharuman yang menggoda selera. Diskusi pun ditutup dengan senyum lega karena perut yang semenjak tadi sudah keroncongan akan segera terisi. Tak lebih dari seperempat jam tandas sudah bakmi jawa di piring Mas Iskandar. Tak lama kemudian Mba Vema yang senang pedas pun menghabiskan bakmi jawa bersama cabe rawit.

Sedangkan aku hanya mampu menyuapkan tiga sendok karena sepertinya kuah bakmi ini diberi msg yang terlalu banyak.  Tak apalah, walau hanya tiga suap dan setengah botol air mineral masuk ke perut. Waktu menunggu telah terbayar dengan kopdar bersama admin kompasiana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s