becak kendaraan favaorit di yogyakarta

Standar

Selepas shalat subuh aku sempatkan men-jepret langit Yogya yang bersemu jingga. Hangat sinar mentari menjadi latar pemandangan indah yang membuatku sangat terpesona. Subhanallah … Gunung Merapi kokoh berdiri di kejauhan berselimut awan. Keagungan karya Allah Yang Maha Terpuji menjadikan hati ini bergetar dan bersyukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan kepadaku. Walau belum tuntas puas memandang cakrawala yang semakin membiru, aku harus segera sarapan bersama mba Christie dan mba Vema.

Pagi ini selesai sudah rangkaian acara road show sosialisasi internet sehat dan aman di kota Yogyakarta bersama ID-Kita Kompasiana dan Kementrian Kominfo. Rencana hari terakhir adalah silaturahim dengan Ratu Hemas di Keraton Yogyakarta. Ups …  Gayung tak bersambut rupanya. Agenda Ratu Hemas sedemikian padatnya hingga tak bisa ‘nyempil’ sebentar saja tim ID-Kita Kompasiana dan Kementrian Kominfo.

Selesai sarapan di restoran hotel Sahid The Rich Yogya, aku bersiap menuju stasiun Tugu. Rencananya sebelum kembali ke Jakarta, aku akan mampir ke kota Solo. Pilihan paling asyik  adalah naik kereta Pramek. Tiketnya seharga sepuluh ribu rupiah, tanpa pendingin udara dan tanpa nomor tempat duduk. Tak apa … Yang penting silaturahim dengan keluarga di Solo bisa tercapai. Ketika aku membeli tiket  ternyata jadwal keretanya masih satu jam lagi.

Di stasiun Tugu langsung saja aku menuju tempat penitipan barang. Aku membayar limaribu rupiah satu loker untuk tas hijauku. Siiippp … Aku bisa melenggang ringan sekarang!

Aku keluar stasiun mencari becak. ‘Tiga puluh ribu saja mba …’ kata pebecak saat aku tanya berapa harga untuk berkeliling dari stasiun Tugu menyusuri jalan Malioboro hingga sampai di Masjid Gede dan alun-alun Keraton Yogyakarta, lalu kembali ke stasiun Tugu. Pa Hardi namanya, dia mengayuh becaknya dengan mantap. Berbekal kamera blackberry aku sigap jepret sana jepret sini ke samping kanan dan kiri, ke depan juga ke belakang sambil becak yang kutumpangi tetap melaju.

Di depan gerbang keraton Yogyakarta, tadinya aku hanya ingin men-jepret pa Hardi bersama becaknya.  Ah … Tak disangka dia menawariku untuk ganti di jepret.  Wah … Walau tak jadi bertemu Ratu Hemas, lumayan masih bisa ber-narsis ria di depan gerbang keraton. Hasilnya … Lumayan memuaskan. Rupanya pa Hardi tak hanya ahli mengayuh becak, dia pun punya talenta men-jepret. Mungkin suatu kali bisa ikut jadi kompasianer dan jadi anggota kampret he3 …

Aku, Dewi Laily Purnamasari sempat merasa ngidam numpak becak. Untung saja di Yogyakarta becak adalah kendaraan favorit. Selain tersedia dalam jumlah yang melimpah, harganya pun terjangkau kantongku yang tak begitu gemuk he3 …

Kemarin, aku sempat membelikan Teteh kaos Dagadu dengan kata-kata yang sangat lucu. ‘Kutu Buku : Lucu dan Banyak Ilmu : gambar seekor kepik membawa setumpuk buku berjudul ‘Pendidikan Moral Plesetan’, ‘Guyongrafi’, dan ‘Mesematika’. Ha3 … Benar-benar aku tergelitik dan tak bisa menahan mesem plus tawa. Lalu ada juga permainan ‘Ular Canda’ (biasanya namanya ular tangga ya…) dengan empat bidang keren berbentuk persegi panjang diberi nama ‘genduk’, ‘thole’, ‘biyung’, dan ‘bapa’. Angka dari 1 sampai 50 berisi kata-kata lucu dan yang paling mengena dan patut di sepakati adalah ‘malu bercanda sesat di yogya’ ha3 …

Oleh-oleh lain yang dipesan Teteh setiap kali aku berdinas keluar kota adalah buku. Di lantai basement Mal Malioboro aku mampir ke toko buku Gramedia dan berhasil mendapat dua buku cerita anak serta satu majalah Bobo edisi terbaru.

Becak kembali meluncur menuju stasiun Tugu. Waktu masih ada tersisa setengah jam. Aku pikir asyik juga kalau berjalan kaki sebentar menyusuri lorong malioboro mencari oleh-oleh untuk dua teman main Teteh. Setelah dapat dua kaos aku segera kembali ke stasiun, mengambil tas di loker, menunggu sekitar sepuluh menit, dan kereta prameks pun datang dari arah Kutoarjo.

Penumpang cukup ramai bahkan ada lima orang ibu-ibu dari Riau yang khusus menyempatkan naik kereta Pramek karena di tempat tinggal mereka tak ada kereta. Heboh sekali para ibu itu sibuk saling men-jepret lalu meng-upload status di smartphone masing-masing. Ya … Inilah bukti peran internet bagi perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga saja ibu-ibu itu termotivasi untuk menuliskan perjalanan pertamanya naik kereta di catatan Facebook atau blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s