cara bijak berkomunikasi dengan anak di era digital

Standar

Seminar Pengasuhan, bertema Cara Bijak Berkomunikasi denganAnak di Era Digital

Foto satu : Narasumber Dewi Laily Purnamasari memberikan motivasi kepada peserta seminar agar sebagai orangtua senantiasa berkomunikasi dengan bijak kepada anak-anak. Ada tiga cara yang penting dan harus orangtua terapkan yaitu : (1) lebih banyak mendengar; (2) gali pendapat anak dan ajak anak untuk memecahkan masalahnya sendiri; (3) mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian. Anak-anak dengan rentang usia 0-14 tahun adalah penduduk asli era digital (digital native). Mau tidak mau – suka tidak suka … Orangtua di era digital haruslah melek ilmu tentang serba serbi dan baik -buruknya internet juga berbagai alat komunikasi.

Foto dua : Peserta seminar mencoba simulasi tentang cara komunikasi yang tidak bijak diumpamakan sebagai tajamnya tusuk gigi yang melukai apel. Betapa anak-anak kita jiwa-nya terluka bila kita tidak bijak dalam berkomunikasi dengan mereka. Seperti kita memberi labe / cap buruk, memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, dan menganalisa. Tips komunikasi efektif diantaranya : semangati anak untuk bercerita, motivasi anak untuk mengambil keputusan yang tepat, hindari kalimat negatif, bahasa yang mudah dipahami anak, perhatikan bahasa tubuh, jangan lupa bertanya, bila anak sedang emosi tunggu reda emosi anak.

Foto ketiga : Komunikasi bijak haruslah dimulai dari orangtua, berikan teladan karena teladan lebih dari seribu kata-kata. Era digital yang penuh tantangan tentu harus disikapi secara positif oleh orangtua. Komunitas orangtua yang peduli dengan dampak buruk internet perlu memahami tentang apa yang disebut ‘insan’ yaitu internet sehat dan aman. Internet sehat adalah gerakan untuk merespon dampak negatif dari penggunaan internet. Dampak negatif lebih ditujukan pada aktivitas dan perilaku seseorang dalam memanfaatkan internet. Sedangkan internet itu pun perlu ada pengamanan baik melalui software / perangkat lunak, hardware / perangkat keras, networking / jaringan, atau security / keamanan (tentunya ini lebih teknis sifatnya).

Foto keempat : Ibu-ibu panitia yang bersemangat mengadakan kegiatan ini patut diacungi dua jempol. Oya … Peserta ada yang bertanya : ‘Bu … Bagaimana agar anak-anak tidak terlalu lama bermain game online juga playstation ?’ Wah … Pertanyaan menarik. Saya berpendapat, sesungguhnya kitalah orangtua yang seharusnya dapat mengendalikan perangkat digital tersebut. Ajak anak bernegosiasi tentang kapan mereka boleh bermain game online, apa permainan yang pantas. dan lama waktu bermain. Temani anak-anak ketika sedang bermain dan dalam sehari tidak lebih dari dua jam atau total dalam seminggu tidak lebih dari 14 jam. Lebih baik lagi bila orangtua dapat memberikan kegiatan yang lebih menarik seperti : membaca, menulis, bermain musik, melukis, menari, olahraga, bersilaturahim bersama keluarga, rekreasi alam, berkebun, memasak, menjahit, aktifitas sosial (seperti berkunjung ke panti asuhan atau panti jompo).

Foto kelima : Bersama ketua panitia seminar.

Foto keenam : Alhamdulillah … Terimakasih panitia yang baik hati telah memberi kenang-kenangan yang manis ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s