ibu peduli internet sehat dan aman

Standar

Di lorong menuju lift hotel, tiba-tiba aku ditanya seorang teman, ‘Mba … Memangnya cukup tidur seranjang bertiga ?’ Spontan aku menjawab, “He3 … Alhamdulillah cukup.’ Ya … Ranjang kami di hotel ini cukup lebar untuk ditiduri tiga orang. Aku, mba Vema, dan mba Christie sekamar bertiga selama dua malam. Pengalaman yang sangat istimewa. Baru kali ini aku menemani seorang sahabat yang begitu luar biasanya. Sungguh karunia tak terhingga dari Allah Yang Maha Mulia, yang telah mempertemukanku dengan mba Christie.

Tak terbayangkan, kami melakukan pekerjaan yang sama-sama sukai. Kepedulian yang sama, cita-cita yang sama, dan rasa ingin berbagi yang sama. Aku menikmati kegiatan ini,  menjadi relawan dalam gerakan internet sehat dan aman bagi anak dan remaja. Aku punya tiga orang anak ‘digital native’ penghuni asli era digital. Mereka lahir bahkan sebelum lahir telah berkenalan dengan internet. Hari-hari mereka kinipun ditemani internet.

Adegan ranjang kali ini berisi cuplikan diskusiku bersama mba Christie sebelum tidur.  Oya … Mba Vema sedang ngelayap bersama teman lain menikmati Yogya diwaktu malam. Ah …  Televisi yang menayangkan acara fashion tak kami perhatikan. Mba Christie dan aku malah asyik ‘ngumplek’ berbincang tentang bagaimana peran kami sebagai orangtua menemani anak-anak di era digital seperti saat ini ?

Ini ceritaku …

Aku, Dewi Laily Purnamasari sebagai orangtua bersama suamiku berusaha menjadi guru pertama dan utama, serta teladan yang baik buat anak-anak kami. Kaka, Mas, dan Teteh tentu tak bisa dilarang menggunakan internet. Aku sadar bahwa internet hanya alat yang dapat berfungsi positif maupun negatif tergantung bagaimana si pemakainya ? Bila memanfaatkannya untuk tujuan positif tentulah internet sangat berguna. Aku ingin dampak negatif internet seminimal mungkin. Untuk itulah sebagai orangtua selayaknya melek internet, mau belajar dan faham bagaimana memanfaatkan internet secara sehat dan aman ?

Di rumah mungil kami, ada personal computer yang diletakkan di ruang kerja. Aku biasa berkerja di sana menyusun materi kuliah untuk mahasiswa di AP-CIC dan ISIF Cirebon, mengelola kelas diskusi onlne [bedahrumah] di grup facebook ibu-ibu doyan nulis, juga menjadi pendiri grup ibu-ibu anti korupsi difacebook. Aku menulis untuk kompasiana.com dan blog pribadi di wordpress.com.

Anak-anak bisa memanfaatkan komputer di akhir pekan dengan jadwal yang telah mereka sepakati (Ya … Kaka dan Mas sebelum nge-boarding school aku ajak untuk menyusun jadwal bersama agar tak terjadi perebutan kursi untuk menggunakan internet). Alhamdulillah … Mereka berdua bisa bergantian dengan kompak. Permainan adalah salahsatu hal menarik di internet. Aku temani mereka untuk bisa memilih permainan bernilai pengetahuan juga kreativitas. Aku mengajak mereka menghindari permainan yang mengandung unsur kekerasan atau hal negatif lainnya.

Saat ini di boarding school Kaka aktif mengisi blog pribadinya di blogspot berisi catatan harian yang inspiratif. Sedangkan Mas mulai tertarik dengan dunia jurnalistik. Mas ketika berlibur dari boarding school selalu aktif mencari bahan tulisan melalui internet juga buku-buku koleksi pribadi  yang memenuhi ruang keluarga kami. Sebagai pengurus OSIS, Kaka terlibat aktif diberbagai kegiatan sekolah. Seperti kegiatan sosial mengunjungi daerah pemukiman kumuh dekat tempat pembuangan sampah akhir, panti asuhan yatim, dan panti jompo. Kaka bersama teman-teman sekolahnya membuat blog untuk mempromosikan kegiatan ajang kreatifitas dan sportifitas antar sekolah.

Maryam Aliyya Al Kindi diperkenalkan dengan perangkat komputer saat memasuki taman kanak-kanak. Di sekolah Teteh juga ada kelas audio visual dan laboratorium komputer. Teteh belajar menggambar dan mewarnai dengan program paint. Hasil gambar Teteh ternyata menurut guru komputernya paling bagus di antara teman-temannya. Wah … Pantas saja kalau di rumah, Teteh senang berlatih program paint. Setelah lancar membaca dan menulis, Teteh juga aku ajak untuk belajar menulis di program microsoft word.

Internetpun telah dimanfaatkan oleh Teteh untuk mencari gambar-gambar kesukaannya lalu di cetak dan jadilah lembar kreatifitas mewarnai. Teman-teman di taman kanak-kanak Teteh beberapa kali mendapat hadiah fotocopy gambar  yang di cetak tadi. Wah … Mereka senang sekali. Teteh juga senang melihat tayangan film anak seperti Dodo dan Syamil, Ping Ping dan Tupi, Franklin and Friend, Strawberry Shorcake, George Monkey, Hello Kitty, Mickey Mouse Clubhouse, dan sebagainya. Oya … Aku coba perkenalkan juga kepada Teteh tentang keindahan alam Indonesia dan belahan dunia lainnya. Teteh senang melihat keindahan laut Raja Ampat dan Bunaken.

Ada kejadian menarik loh! Teteh pernah dioperasi usus buntu saat usia empat tahun. Tiba-tiba suatu hari Teteh minta aku membuka image atau gambar di internet tentang usus buntu. Wah … Supraise! Kamipun berdua akhirnya berselancar di dunia maya terkait tubuh manusia, beragam penyakit, dan makanan sehat. He3 … Sepertinya ini tanda-tanda positif karena Teteh selalu bilang kalau sudah besar ingin jadi dokter anak.

Anak-anak bersepakat untuk mengases internet atau bermain di komputer hanya satu jam sehari saat hari sekolah dan dua-tiga jam bila hari libur. Kegiatan sepulang sekolah taman kanak-kanak diarahkan untuk berkreasi, seperti mewarnai, main boneka dan masak-masakan, membaca buku, main sepeda atau ngobrol bersama teman-temannya. Sebisa mungkin anak-anak memang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi sekitarnya. Teteh senang sekali bermain air saat mandi sore, seperti berendam atau bermain air pancuran. Aku lebih senang mengajak anak-anak untuk beraktifitas di luar ruang seperti outbond atau mengunjungi daerah wisata alam.  Begitulah pengalamanku menemani anak-anak mengisi hari-harinya sebagai ‘digital navite positive’.

Mba Christie pun telah banyak menceritakan pengalamannya di kompasiana.com bahkan telah dibukukan dengan judl ‘Bukan Orangtua Gaptek’ (maaf … kalau salah menyebut judulnya). Dan harapanku, para orangtua agar melek internet, faham betul bagaimana memanfaatkan internet dengan positif, juga selalu menjadi sahabat anak untuk member teladan berinternet sehat dan aman. Akupun aktif berbagi pengalaman peran orangtua dalam pengasuhan anak di era digital.

Kalau bukan kita orangtuanya, lalu siapa lagi ?

Adegan ranjang berikutnya adalah mata kami semakin sayu … Kantukpun menyergap dengan cepat. Aku ucapkan selamat tidur … Doa pengantar tidur aku lantunkan dan bantal empuk serta ruangan yang sejuk  adalah padanan serasi untuk tidur yang nyenyak …. Zzzzz …. Zzzzzz …. Zzzzz …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s