jujur itu awal anti korupsi

Standar

Bercermin dari terkuaknya korupsi para pejabat, baik anggota DPR-RI dan dewan perwakilan daerah, Gubernur, Bupati/Walikota, petinggi TNI dan Polri, juga pemegang amanah di lembaga negara lainnya, sungguh sudah tidak ada kata mundur atau takut lagi untuk bergerak bersama melawan korupsi. Jangan hanya ICW dan beberapa lembaga LSM saja yang meneriakkan dan juga berusaha menguak beragam praktik korupsi di negeri tercinta ini. Tak boleh hanya KPK dan jajarannya saja yang jungkir balik, bersusah payah, berpeluh bahkan siap diancam teror mengentaskan kasus korupsi.

Penjara-penjara di seluruh tanah air akan kebanjiran para koruptor. Bila nilai kesederhanaan, kebersahajaan, keberkahan semakin tercerabut dari nurani kita sebagai manusia. Lalu hati putih titipan Illahi Rabbi itu diisi dengan nilai-nilai kemewahan, kesombongan dan keserakahan. Tilik saja pelajaran dari Angelina Sondakh, Dipta Anindita, Miranda Gultom, Nunun Nurbaeti, Hartati Murdaya, Wa Ode, dan Artalyta Suryani. Tak kekurangan materi dari mereka. Hidupnya telah cukup secara kasat mata bergelimang harta. Semisal Miranda Gultom gajinya berkisar 100 juta rupiah. Begitupun Angelina Sondakh tentu mendapat gaji beserta segala tunjangan dan fasilitas tak kurang dari 50 juta rupiah.

Kelimpahan, kemakmuran, keberadaan dan kemapanan ternyata tak menjadikan mereka bersyukur. Malah bagai meminum air laut saja! Tak puas … Tak merasa cukup. Itulah penyakit utama mengapa korupsi terus marak dan terasa nikmat dijalankan karena kesenangan semu itu yang dikejar tiada henti.

Aku, Dewi Laily Purnamasari, pendiri  grup di Facebook bernama komunitas ibu ibu anti korupsi, mengajak tebarkan virus anti korupsi dalam keluarga. Komunitas yang telah beranggotakan 1050 orang ini terus bersemangat untuk mengajak ibu-ibu sebagai pelopor dan tiang utama gerakan anti korupsi.

Hana Sugiarti menulis dalam wallgroup : ‘apa kabar ibu, masak apa hari ini ? kalau dikasih uang belanja mendadak besar, harus curiga!!’

Sedangkan Alice Dewanti (tinggal di Riyadh) menceritakan pengalamannya : ‘beberapa waktu yang lalu aku sangat butuh klip … tapi untuk keluar rumah segan .. karena di kota tempat tinggal aku ini perempuan jarang keluar rumah sendiri .. akhirnya aku bilang suami … tolong korupsikan klip ya. astaghfirullah malamnya suami yang sayang istri gak lupa pesanan istrinya … 2 buah klip, tapi lama-lama aku gelisah juga … akhirnya pas belanja akhir pekan aku beli klip sepak … dan aku bilang ke suami .. ini klipnya balikin aja deh … kalau pake barang gak halal sekecil apapun takut doaku gak keterima’.

Anggota grup lainnya Rina Wahyuningsih menulis komentar : ‘Prihatinnya lagi, skg prosentasi “ibu-ibu” yang korupsi juga makin tinggi. Teganya ya mereka kasih makan dan pakaian anak2nya dg “kotoran”. Nauzubillah’.

Retno Arief berbagi cerita di wallgroup yang sangat inspiratif : ‘hari itu abi bercerita, mencontoh cerita khalifah umar bin abdul aziz. suatu hari ketika putranya datang menghadap ke istana, lalu khalifah umar bertanya, untuk urusan apa kamu datang nak ? sang putra menjawab, untuk urusan pribadi. seketika khalifah umar mematikan lampu ruangan. sang putra bertanya lagi, kenapa dimatikan ayahanda ?. karena lampu ini dibiayai oleh negara. tidak boleh menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. subhanallah. so … siapa pun (umi dan anak-anak) nggak boleh pake laptop abi ya. belajar disiplin membersihkan diri. sepakat bi’.

Yuk! Kita bergandeng tangan dan terus bersemangat menebar virus anti korupsi dalam keluarga.

Maryam Aliyya Al Kindi putri bungsuku telah belajar tentang kejujuran dalam hidup sebagai modal awal untuk memiliki sikap anti korupsi. Semoga anak-anak para kompasianer juga terbebas dari kontaminasi harta yang berasal dari korupsi dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan segala fasilitas hidupnya. Amin … Ya Rabbal’alamin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s