menumbuhkan kemandirian anak sejak dini

Standar
Pagi hari selepas shalat subuh, biasanya aku segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan membuat air panas untuk menyeduh kopi. Kindi anak bungsuku sudah sekolah di taman kanak-kanak, bangun pukul setengah enam pagi. Langsung mandi dan berpakaian sekolah. Suami yang sudah siap dengan pakaian kantor duduk manis di ruang makan. Sambil sarapan kami bertiga mengobrol karena seringkali suamiku pulang dari kantor, Kindi sudah terlelap.
 
Tema obrolan kali ini adalah mengajak Kindi ikut aktif membantu pekerjaan rumah. Kindi bilang, ‘Aku paling suka ikutan ibu menyapu juga mencuci alat makan’. He3 … Iya nih Kindi kalau ikut mencuci alat makannya sendiri pasti deh berlama-lama dan begitu asyiknya main air tentu. Oya … Kindi juga lapor ke ayahnya kalau dia selalu membereskan sendiri mainan apabila telah selesai bermain. Good job Kindi ^_^.
 
Pertanyaan menarik untuk diriku sendiri. Sudahkah kita selaku orangtua menjalankan amanah : ‘memberi -life skill- keterampilan kehidupan’ kepada anak-anak kita? Seringkali dengan alasan : ‘kasihan! masa sih …? anak-anak harus ikut capek mengurus pekerjaan rumah tangga’.
 
Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi dan Muhammad Hafizh Haidar Hanif kini semakin mandiri. Mereka bisa beradaptasi dengan mudah di boarding school karena telah terbiasa mandiri sejak di rumah.
 
Ya! pekerjaan rumah tangga seperti : membereskan tempat tidur setelah bangun tidur, mandi dan berpakaian, mengembalikan peralatan shalat ke tempatnya, menyimpan pakaian kotor dan handuk pada tempatnya, menyiapkan sarapan pagi dan bekal sekolah, membereskan buku dan peralatan sekolah, merapikan mainan, majalah, koran dan buku bacaan, menaruh piring dan gelas kotor ke tempat cuci, membuang sampah pada tempatnya, menyapu lantai dan halaman, mengepel, mencuci baju dan peralatan makan / masak, menyiram tanaman, mencuci mobil / motor / sepeda, membereskan jemuran dan menyetrika, memasukkan pakaian bersih ke lemari, mematikan peralatan listrik jika selesai digunakan, mencuci tas dan sepatu seminggu sekali.
 
Sekitar dua puluh lima jenis pekerjaan rumah tangga (bisa kurang atau lebih) yang harus dikelola bersama. Bila memiliki asisten rumah tangga, kita hampir ’secara paksa’ melimpahkan seluruh pekerjaan itu kepada si mba, si mbah, si mbok, atau si bibi, … Jika tidak! seorang Ibu akan juga ‘terpaksa’ mengerjakan semuanya. Apakah begitu? Oh … tentu tidak. Ayah yang baik dan anak-anak yang baik tentu akan turut serta bersama Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Berbagi pekerjaan sesuai umur anak. Sesungguhnya, dengan ’sedikit tega’ memberi anak-anak tugas tersebut adalah bekal berharga bagi mereka.

Aku, Dewi Laily Purnamasari sadar bahwa sepuluh atau duapuluh tahun lagi, mereka akan dewasa. Mungkin harus kos saat kuliah. Begitupun ketika mereka menikah, sudah tak ada lagi / sulit mencari asisten rumah tangga. Maka, pekerjaan rumah tangga haruslah dikerjakan sendiri secara sukarela ‘bukan terpaksa’. Bila tak memiliki pengalaman, bisa jadi pemicu ketegangan ’stress’ rumah tangga. Itu bahaya loh …!

Yuk …! kita sama-sama belajar berbagi pekerjaan rumah tangga. Bukankah rumah ini milik kita bersama? Jadi, kita yang harus merawatnya. Pasti! akan menyenangkan bila pekerjaan itu dikerjakan dengan sukarela …

Maryam Aliyya Al Kindi senang sekali membantu Ibu dan mengerjakan sendiri beragam aktifitas yang menunjukkan kemandiriannya di usia lima tahun. Alhamdulillah …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s