saat kindi sakit

Standar

Pengalaman di rawat di rumah sakit bisa membuat seseorang trauma dan tak ingin atau takut berhubungan dengan segala yang berbau rumah sakit. Namun, tidak begitu dengan Maryam Aliyya Al Kindi.

Usianya belum genap tiga bulan ketika di hampir seluruh tubuhnya muncul bercak kemerahan. Dokter UGD mengdiagnosa awal terkena virus dan Kindi harus dirawat. Setahun kemudian gejala awal demam tinggi hingga diatas 39 derajat celcius mengantarkan Kindi kembali terbaring di rumah sakit. Kali ketiga demam tinggi dengan hasil laboratorium lekosit diatas 20.000 membuat dokter yang merawatnya harus membiakan kultur untuk mengetahui virus apa geranga yang menyerang Kindi ? Namun dihari kelima ternyata tidak berkembang biak dan mati, panas pun turun.

Kindi kembali dirawat pada bulan Februari 2012 sepulang dari liburan. Perutnya terasa sakit. Sangat sakit, katanya. Badannya juga demam. Dokter menyarankan untuk USG, ternyata tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Tidak thypus dan juga tidak demam berdarah. Namun sakit perutnya membuat Kindi tak mau makan. Setelah lima hari kondisinya membaik. Alhamdulillah … Boleh pulang dan kembali beraktifitas seperti biasa.

Liburan naik kelas, bulan Juli 2012 Kindi bersilaturahim ke Surabaya, Malang, Gresik, Solo, Cirebon, Bandung, dan kembali ke Jakarta. Tiga hari menjelang masuk sekolah, Kindi mengeluh sakit perut. Sangat terlihat payah menahan rasa sakitnya. Badannya sampai terbungkuk. Muntah dan diare. Badannya pun demam. Aku coba menekuk kaki kanannya ternyata Kindi meringis kesakitan bahkan hampir menangis. Wah … Langsung aku membawa ke UGD dan dugaanku ternyata tepat. Kali ini Kindi terkena radang usus buntu. Kindi harus dioperasi.

Kindi anak yang kuat. Bila tak sakit betul, dia sangat tahan dengan rasa sakit. Bahkan dokter UGD pun sering terkecoh bila melihat wajah dan perilaku manisnya, tak menunjukkan kalau Kindi sedang sangat kesakitan. Duh … Justru hal ini membuatku kadang ketar-ketir dan terharu. Luar biasa sabar Kindi menahan sakitnya.

Ketika jarum infus dipsang, hanya sebentar saja menangis. Setelah itu Kindi tenang lagi. Pun begitu saat harus bolak balik diambil sampel darah. Sesekali meringis, menangis tak lebih dari dua menit kembali tenang. Subhanallah … Allah Maha Kuasa menyembuhkan sakit Kindi. Menjelang operasi usus buntu Kindi dipakaikan baju operasi. Lalu diantar perawat ke ruang operasi. Aku tak henti berdoa memohon kesabaran, kekuatan dan kesembuhan untuk Kindi. Saat jarum berisi obat bius disuntikkan ke dalam infus aku terus berdzikir. Ya Allah … Selamatkan dan sehatkan kembali Kindi.

Kindi masuk ke ruang operasi bersama dokter bedah, dokter anastesi, dan beberapa perawat. Aku dan suami menunggu selama hampir tiga jam. Alhamdulillah … Operasi berjalan lancar. Usus buntu yang terkena radang dan bernanah diperlihatkan kepadaku oleh dokter. Masya Allah … Rupanya radang itulah membuat Kindi begitu kesakitan.

Pemulihan pasca operasi selama lima hari dijalani Kindi. Hari pertama masih terlihat lemas. Aku menghiburnya dengan membacakan buku cerita dan mendendangkan lagu-lagu kesukaannya, juga mengaji dan berdoa. Hari kedua sudah mulai meningkat nafsu makannya. Hari ketiga dan keempat Kindi sudah mengajak aku untuk beraktifitas bersama, seperti menggambar, mewarnai, membaca buku cerita sendiri, dan bermain game edukasi di notebook. Televisi di ruang perawatan hanya sesekali saja aku nyalakan saat makan siang atau makan malam. Kindi biasanya meminta saluran disney yang berisi film kartun.

Alhamdulillah … Kenangan Kindi atas peristiwa sakitnya sampai harus di rawat di rumah sakit, bahkan di operasi malah membuatnya bercita-cita menjadi dokter. Kindi sekarang punya mainan alat-alat kedokteran seperti stetoskop, pengukur suhu tubuh, alat suntik, dan botol-botol bekas vitamin. Aku sering dijadikan pasien he3 … Kalau ditanya kenapa Kindi kepingin jadi dokter ? Kindi bilang aku mau mengobati anak-anak yang sakit. Biar mereka sehat lagi. Wah … Kindi memang anak hebat! Puji syukur kepada Allah Yang Maha Tinggi yang telah melimpahkan karunianya kepada Kindi hingga dia tidak trauma terhadap pengalamannya di rawat di rumah sakit dan dioperasi.

(Kindi sebelum operasi usus buntu. Meringis menahan sakit, namun tetap tenang)

(Alhamdulillah … Masa kritis telah lewat. Kindi tidur nyenyak pasca operasi usus buntu)

(Subhanallah … Kindi tetap semangat belajar, walau tangannya masih diinfus.)

(Setelah enam hari di rumah sakit, Kindi sudah pulih kembali dan boleh pulang. Senyum manisnya tanda senang bisa kembali ke rumah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s