temukan hikmah saat temani anak dan suami dirawat

Standar

Sakit adalah episode tak terelakan dalam kehidupan manusia. Beragam jenis penyakit dapat saja diderita oleh manusia, tak terkecuali diri kita, suami / istri, anak-anak, orangtua, dan keluarga dekat yang kita sayangi. Aku ingin berbagi pengalaman ketika menemani anak / suami yang sedang sakit dan harus di rawat di rumah sakit.

Betapa rasa syukur dan sabar kepada Allah Yang Maha Pemurah adalah modal utama. Ya … Aku butuh energi dan kekuatan hati yang lebih bila berhadapan dengan urusan rumah sakit. Sewaktu kecil aku sudah tidak nyaman bila diajak ayahku yang seorang dokter periksa gigi di RSCM. Perutku kadang mendadak mulas atau badan terasa lemas … He3 … kata ayahku itu tanda penolakan secara psikologis terhadap suasana ketidaknyamanan.

Namun … Saat aku menjadi seorang ibu, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus berhubungan dengan rumah sakit. Ternyata Allah Yang Maha Pengasih, memberiku cara belajar yang super spektakuler agar aku memiliki aura positif terhadap urusan rumah sakit. Allah Yang Maha Bijaksana memberiku jalan agar aku belajar bersyukur dan bersabar atas ditimpakannya sakit kepada anak-anak dan suami. Karena dengan demikian aku mampu menemani sejak masuk UGD hingga berhari-hari di ruang perawatan. Aku pun aktif mencari tahu berbagai informasi tentang penyakit yang diderita mereka. Meluncur di internet untuk menemukan penyebab, gejala, pengobatan aku lakukan.

Tak lupa saat menemani di ruang perawatan aku panjatkan doa-doa terbaik untuk kesembuhan mereka. Rasanya sungguh Allah Yang Maha Penjaga begitu dekat. Ya … benar adanya bahwa bila kita ditimpa suatu musibah atau ujian, maka akan sangatlah beruntung bila kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Hikmah lainnya adalah aku makin yakin akan karunia dan ni’mat Allah Yang Maha Kaya amatlah besar. Di UGD aku pernah berjumpa pasien yang sedang sakaratul maut karena stroke. Malah di lain waktu ada juga yang saat masuk UGD sudah meninggal dunia, inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Walau aku sangat tidak tahan melihat darah … tapi aku harus kuat juga karena di UGD pernah bersebelahan dengan korban kecelakaan lalu lintas yang sedang ditangani dokter (sepertinya dijahit bagian kepala dan kakinya).

Aku menemani anak bungsu di rawat sudah lima kali karena infeksi virus, demam tinggi, radang saluran pencernaan, dan radang usus buntu. Allah Yang Maha Mulia menghadiahkan anak bungsuku agar aku makin dekat kepada-Nya. Berhari-hari dia dirawat, aku pun harus selama 24 jam berada didekatnya. Rasa paling sedih saat usianya belum genap lima tahun (setengah tahun yang lalu) dan harus menjalani operasi usus buntu. Tak tega melihat dia dipakaikan selang infus, selang oksigen, dan baju putih untuk operasi serta melihatnya perlahan kehilangan kesadaran karena dibius total. Ya Allah … Tak henti doa-doa terbaik aku panjatkan kepada Allah Yang Maha Tinggi. Alhamdulillah … Operasi berjalan sukses selama hampir tiga jam. Selesai operasi harus menjalani masa pemulihan sekitar lima hari.

Begitupun saat harus menemani anak pertama dan kedua dirawat karena terkena demam berdarah. Sempat merasa khawatir pada masa kritis. Demamnya tinggi lalu menurun namun tubuh terasa makin lemah dan trombosit turun terus. Kasihan mereka berdua yang biasanya begitu ceria dan aktif, harus terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Makan tak enak malah terasa mual ingin muntah. Ya Allah … Hanya pertolongan-Mu yang mampu mengangkat penyakit itu. Alhamdulillah … Pada hari ketujuh nafsu makan mereka mulai meningkat dan tubuhnya berangsur segar.

Pengalaman menarik lainnya ketika menemani suami di rawat di rumah sakit. Saat masuk UGD demam tinggi hingga menggigil selama hampir dua jam. Perutnya juga terasa nyeri. Hasil USG dan laboratorium belum mengindentifikasikan hasil yang spesifik. Dokter memberi diagnosa awal adalah ‘gastroenteritis’ akut. Namun hingga hari ke tujuh  belum ada kemajuan yang berarti.

Dokter menyarankan cek laboratorium kembali juga di rontgen paru-paru. Hasilnya belum signifikan. Penasaran … Akhirnya dokter melakukan USG dan CTScan. Alhamdulillah … Ditemukan sumber demam tinggi dan nyeri itu adalah ‘abscess liver’. Sesuai diagnosa terakhir, maka suami harus menjalani perawatan selama lima hari lagi. Selama menemani di ruang perawatan, aku sungguh patut bersyukur karena ternyata banyak orang lain yang menderita sakit lebih parah.

Subhanallah … Aku diperlihatkan betapa beratnya seorang penderita kanker getah bening harus menjalani hari-harinya. Kemoterapi dan obat-obatan yang harus dimasukkan lewat infus sepertinya begitu menyiksa. Pasien lain yang menderita gagal ginjal harus cuci darah dua kali seminggu. Setiap kali sebelum cuci darah harus transfusi 1000 ml darah untuk menaikkan trombosit dan hemoglobin. Ada lagi pasien yang baru saja operasi tumor otak. Kesadarannya hilang. Segala sesuatunya hanya bisa dilakukan dengan bantuan oranglain di atas tempat tidurnya. Allahu Akbar … Ya Allah … Ampuni diriku bila selama ini luput bersyukur atas segala limpahan kasih sayang-Mu.

Hari ini adalah hari kesepuluh menemani suami di rawat di rumah sakit. Semoga Allah Yang Maha Penjaga senantiasa melimpahkan kekuatan, kesabaran, dan kesehatan kepadaku agar mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Hanya kepada-Mu aku berserah diri dan memohon pertolongan, amin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s