tips hindari depresi pasca melahirkan

Standar

Apakah teman-teman pernah mengalami keadaan menjadi sangat mudah tersinggung ? Justru pada saat kebahagiaan itu datang. Ya … Kelahiran bayi mungil tentu memberikan rasa bahagia tiada terkira bukan ? Lalu, mengapa malah muncul rasa sendu, rasa tak berdaya, rasa cemas menjadi ibu, rasa letih berlebih, dan rasa tidak nyaman dengan ritme baru bersama bayi mungil yang hampir setiap jam menangis.

Persalinan adalah peristiwa yang mencekam bagi seorang ibu, baik secara fisik maupun emosional. Persalinan tak hanya melelahkan, tetapi juga berperan pada terjadinya perubahan dramatis keseimbangan hormon tubuh, yang bisa membuat banyak ibu tak ingin atau tak berminat lagi untuk hamil. Emosi pun menjadi kacau, emosi tidak stabil, sedih, menarik diri, apatis, bahkan merasa bersalah karena tidak dapat menanggapi kedatangan bayi dalam kehidupannya.

Lalu … Apa yang harus ibu lakukan agar keadaan tersebut tidak semakin parah. Pertama, jagalah agar seminggu setelah persalinan berlangsung setenang mungkin. Bila masih berada di rumah sakit sebaiknya batasi jumlah tamu yang berkunjung. Utamakan waktu istirahat dan carilah teman atau saudara untuk membantu ibu bila sudah kembali ke rumah. Kedua, ibu yakinlah bahwa produksi ASI kita cukup banyak dengan menyusui bayi sebanyak yang dia mau. Beristirahatlah secukupnya dan makan makanan yang bergizi. Ingat! Jangan tergoda untuk memberi bayi kita dengan susu buatan. Apabila merasa persediaan ASI  berkurang, keluarkan semua ASI yang tersisa setiap selesai menyusui. Ketiga, bekerjasama dengan suami tercinta dalam mengasuh dan merawat bayi. Bergantian bangun malam untuk mengganti popok dan membawakan minuman sebelum dan sesudah ibu menyusui.

Bila ternyata keadaan terus berlanjut dan semakin parah hingga mencapai titik bernama depresi, maka bantuan dokter sangatlah diperlukan.

Pengalamanku pasca persalinan kedua yang harus di operasi cesar sempat membuat trauma tidak mau hamil lagi. Luka jahitan operasi terasa sakit hingga lebih dari lima tahun, terutama menjelang dan saat haid. Belum lagi ada kista di indung telurku. Namun … Seiring waktu ternyata alhamdulillah … Rasa ngeri akan operasi dan rasa sakit itupun hilang. Memang tidak mudah. Dukungan suami sangatlah membantu agar aku tidak takut hamil lagi. He3 … Akhirnya lahirlah anak ketiga dengan jarak 7,5 tahun di usiaku yang ke 37 tahun.

Anak ketiga yang juga lahir dengan operasi cesar sambil mengangkat kista di indung telur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s