tolong menolonglah dalam kebaikan

Standar

Apakah kita bisa hidup benar-benar sendiri ? Tanpa bantuan dari orang lain ? Alangkah sombongnya bila kita merasa demikian! Begitupun aku … Bila tak diingatkan tentu akan sering merasa tak membutuhkan oranglain.

Kenyataannya sejak lahir ke dunia ini, begitu banyak bahkan tak terhingga pertolongan oranglain datang kepada diri ini. Orangtua yang begitu tulus merawat dan menemani tumbuh kembang hingga dewasa. Bahkan setelah berumahtangga dan memiliki anakpun, orangtua tak pernah hilang rasa kasih dan sayangnya.

Suami terkasihpun adalah teman seperjalanan mengarungi kehidupan bersama anak-anak. Suka duka berbagi bersama. Tawa tangis menghiasi indahnya rumah tangga. Saling menghormati, memuliakan, dan tolong menolong dalam kebaikan.

Aku pun merasa betapa para pengasuhku begitu baik hati. Mereka memasak, mencuci baju, juga menemani aku bermain. Saat inipun asisten rumah tanggaku benar-benar membantuku dan membuat aku punya waktu serta kesempatan beraktifitas di luar rumah. Guru-guru di sekolah tiada terhingga jasanya mengembangkan potensi diri. Sahabat dan famili tentu tak luput dari interaksi dengan diri ini dan membantu menjadikan aku lebih baik dari hari kehari.

Lihat lebih dalam lagi … Semenjak bangun pagi, ketika hendak menanak nasi. Ingatlah aku pada kerja keras para petani. Berpeluh berpanas terik agar padi tumbuh subur dan menghasilkan beras berkualitas. Begitupun lauk pauk datang dari para nelayan, pembuat tahu tempe, peternak, dan pedagang kecil di pasar tradisional. Mereka semua berpayah lelah menyediakan bahan pangan tentu bukan semata mencari penghasilan. Namun ada panggilan hati untuk membantu sesama mendapatkan kebutuhan pokok hidupnya.

Ketika aku sakit, juga anak dan suami harus dirawat di rumah sakit. Pertolongan dokter dan para perawat sangatlah terasa. Mereka menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Tentu juga karena telah berjanji di hadapan Tuhan untuk berbuat kebaikan, membantu menolong orang yang membutuhkan. Sebisa mungkin upaya dilakukan untuk menyelamatkan nyawa yang terancam. Ah … Aku tak bisa melupakan pemijat yang setia melurukan urat dan mengendurkan ototku saat pegal dan capek berdinas di luar kota. Dia menolongku karena memang ingin menolong. Upah pun tak ditetapkan, terserah saja kepadaku.

Duh … Malu rasanya bila telah terbentang betapa sangat melimpah pertolongan oranglain kepada diri ini. Lalu … Aku hanya berdiam diri saja! Sungguh keterlaluan, bukan ? Apa guna Allah Yang Maha Tinggi memberikan tangan dan kaki kepadaku ? Apakah aku telah memanfaatkan mata, mulut, pendengaran, akal pikiran, dan hati untuk kebaikan ? Sudahkah jiwa ini dipenuhi dengan rasa ingin menolong sesama ?

Aku, Dewi Laily Purnamasari senantiasa berusaha mengingat apa yang telah Allah Yang Maha Mulia firmankan ‘Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri’. (QS. Luqman : 18). Ingat pula isi surat Ali Imran ayat 134 yang berbunyi ‘Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.’

Tak banyak kebaikan yang telah aku kerjakan. Ya … Allah Yang Maha Benar berilah aku kekuatan untuk dapat menjadi teman duduk yang baik untuk sesama. Sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda ‘Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jahat adalah seperti pembawa minyak kesturi dan orang yang meniup api (tukang besi). Orang yang membawa minyak kesturi itu mungkin akan memberi sesuatu kepadamu atau kamu membeli darinya atau mungkin kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan orang-orang yang meniup api itu mungkin dia akan membakar kainmu atau mungkin kamu akan mendapatkan bau busuk darinya.’ (al Bukhari VI/660).

Betapa agung perintah Allah Yang Maha Suci ‘Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa’. (QS Al Maaidah : 2). Terutama selagi muda, selagi sehat, dan selagi berpunya harta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s