kisah perempuan setia di bilik sebelah

Standar

Rabu kelabu. Awan memayungi langit Jakarta, saat aku menyetir mobil menyusuri macetnya jalanan ibukota. Mobil melaju menuju rumah sakit di bilangan Jatinegara, membawa suamiku tercinta yang meringis kesakitan. Demamnya belum juga reda. Bahkan semalam badannya menggigil tak tertahankan.

Selesai memarkir mobil di lantai lima, aku bergegas ke ruang UGD dan menemani suami diperiksa dengan seksama oleh dokter jaga. Dan disarankan dengan sangat untuk di rawat intensif. Ternyata … kamar rawat inap di rumah sakit ini penuh. Aku menunggu hampir tiga jam, baru bisa diantar menuju lantai enam. Seharusnya dari kantor suami mendapat kelas satu, namun harus masuk dulu di kelas dua. Tak apalah … yang penting suami segera ditangani dan mereda rasa sakitnya.

Tak berapa lama masuk pasien lain di bilik sebelah. Seorang laki-laki paruh baya yang diantar oleh istrinya. Dari pembicaraan suster dengan ibu Ani (sebut saja begitu), aku tahu kalau suaminya menderita gagal ginjal dan harus cuci darah dua minggu sekali. Nah … saat ini ternyata trombositnya di bawah normal, jadi harus transfusi darah dulu sebanyak dua labu (1000 ml). Ibu Ani mendampingi suaminya dengan setia. Dan terdengar memberi semangat kepada suaminya, bahwa akan baik-baik saja.

Saat senggang, aku sempat berbincang dengan ibu Ani. Dari ceritanya, aku mengambil hikmah betapa setianya ibu Ani menemani hari-hari sulit suaminya saat dinyatakan mengalami gagal ginjal. Rencananya besok harus operasi untuk membuat lubang baru di sekitar leher. Lubang itu berfungsi untuk jalannya proses cuci darah. Suaminya hampir enam bulan menjalani cuci darah dua kali seminggu. Ya Allah … ketegaran dan doa-doa terbaiknya untuk suaminya membuatku seolah mendapat enegi baru. Aku pun harus kuat dan sabar menemani suami di rumah sakit.

Esok harinya suster kepala mengatakan ada kamar kosong kelas satu. Setelah beres menata pakaian di lemari dan mengurus surat pindah kamar, aku berkenalan dengan ibu di bilik sebelah. Ibu Ina (sebut saja begitu) menemani suaminya yang menderita kanker getah bening. Sudah seminggu lebih berada di rumah sakit untuk proses kemoterapi. Namun tertunda terus disebabkan hasil laboratorium suaminya belum stabil, sehigga belum bisa dilakukan kemoterapi.

Suaminya yang dahulu berbadan tegap, kini kurus dan tak lagi memiliki rambut. Kulitnya seakan terbakar dan suaranya pun berubah parau. Duh … sedih aku melihatnya terbaring dengan selang infus yang berisi zat makanan untuk menstabilkan kondisinya agar bisa segera di kemoterapi.

Sungguh … kesabaran ibu Ina mendampingi suaminya memberikan dorongan semangat kepadaku untuk melakukan hal yang sama menemani suamiku menjalani hari-harinya di rumah sakit. Aku, Dewi Laily Purnamasari sedang diberikan ujian kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Penyayang untuk menemani suamiku Rachamad Aziz Mucharomyang sedang terbaring di rumahsakit.

Sampai hari ke tujuh panas badannya selalu naik turun. Hasil laboratoriumnya belum menunjukkan tanda-tanda sakit apa gerangan ? Tadi malam dokter melakukan USG dan ditemukan ada abscess / bisul bernanah di liver / hatinya. Hasil rontgen memperlihatkan ada radang di paru-parunya. Subhanallah … Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Ya Allah … Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehatkanlah kembali suamiku tercinta, amin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s