membidik metropolitan dengan kamera ponsel

Standar

Ah … Sekali lagi Canon-ku tergeletak di meja kerja tak berdaya karena baterai-nya soak he3 … Tak apalah ku coba saja jepret sana-sini dengan kamera ponsel. Duh! Ternyata hasilnya oke juga hi3 … (boleh ya sedikit menghibur diri … ^_^)

Jepret! Monas tampak gagah menembus langit kelabu Jakarta. Dari lantai 3 stasiun Gambir foto ini diambil sekitar pukul 16.00 WIB. Langit mendung siap mencurahkan hujan deras. Siap-siap ya! Metropolitan waspada banjir.

Jepret! Monas tampak benderang, berbalut cahaya warna-warni. Di kejauhan tampak latar bangunan yang juga berpendar. Metropolitan bermandi cahaya di malam hari, he3 … jadi merenung nih. Bukankah itu pemborosan energi ?

Jepret! Pencakar langit Sudirman Central Business District (SCBD). Foto diambil dari lantai 7 Plasa Semanggi ketika rintik hujan mulai turun.  Rimbunnya pepohonan di bunderan Semanggi menjadikan area ini lebih ramah lingkungan. Ah … seandainya makin banyak hutan kota seperti ini. Metropolitan akan bertambah nyaman dan sejuk.

Jepret! Sabar menanti transportasi publik yang nyaman. Aku berada dalam transjakarta dan duduk dibangku paling depan. Posisi yang nyaman untuk mengambil berbagai momen sepanjang perjalanan. Salam untuk Jokowi dan tolong dengarkan saranku ini. Aku butuh transportasi publik yang nyaman, aman, murah, dan berkelanjutan. Aku tidak butuh jalan tol karena mobilku yang cuma satu itu lebih sering diparkir di garasi rumah he3 … (maklum kaki pasti bakal pegal berhari-hari kalau harus menyetir mobil dalam keadaan macet seperti tampak di gambar sebelah kiri). Metropolitan butuh transportasi publik yang terintegrasi.

Jepret! Tranjakarta menembus segitiga emas Jakarta. Ayo! Teman-teman kompasianer juga kampretos biasakan menggunakan transportasi publik. Pengalamanku ketika naik transjakarta sebelum pukul 07.00 WIB harga karcisnya Rp. 2.000,- saja. Dari PGC turun di Semanggi, lalu ‘change’ ke arah Jakarta Kota tanpa bayar lagi. Coba bandingkan bila membawa mobil sendiri … Berapa liter bensin yang dibutuhkan ? Metropolitan menjadi lebih manusiawi bila transportasi publik menjadi prioritas dibandingkan membangun jalan tol. Oya … Pa Jokowi, aku doakan agar monorail segera terwujud.

Jepret! Semangat petugas lalu lintas di bunderan HI. Lokasi paling diminati oleh para demonstran. Juga lokasi favorit untuk menikmati ‘car free day’. Aku berharap ada jalur khusus sepeda di segitiga emas Jakarta. Jika warga metropolitan dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor (terutama kendaraan pribadi) dan beralih menggunakan kendaraan hemat energi, maka polusi dapat dikurangi. Udara menjadi lebih sehat. Yuk! Mulai dari sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi ?

Jepret! Gedung dengan konsep arsitektur tropis. Pembangunan gedung tinggi di Jakarta harus memenuhi beragam peraturan yang ketat. Jangan sampai gedung yang dibangun justru membuat metropolitan semakin panas dengan efek rumah kaca. ‘Green Architecture’ juga ‘Eco Development’ serta ‘Blue Economy’ hendaknya menjadi perhatian para pengambil kebijakan di ibukota negara kita tercinta.

Jepret! Fasade kota Jakarta berhias ragam bangunan. Hotel, kantor, apartemen, dan pusat perbelanjaan berdesakan di sepanjang koridor Thamrin – Sudirman – Rasuna Said. Daya dukung tanah dan segala dampaknya patut menjadi perhatian pemerintah DKI Jakarta. Bagaimana air hujan mampu meresap kembali ke dalam tanah ? Bila hampir 90% tanah telah tertutupi bangunan, aspal, plesteran, dan ‘paving block’. Tak ada sumur resapan dibuat, tak banyak pepohonan ditanam, tak terpikir juga membuat saluran. Ketika hujan deras mengguyur tak lebih dari 3 jam, kawasan elite inipun kewalahan menampung air yang berlimpah. Jalanan metropolitan berubah menjadi sungai berwarna kecoklatan. Salah siapa ?

Jepret! Pemukiman kumuh di bantaran sungai. Anak bungsuku, Maryam Aliyya Al Kindi duduk di sisi jendela Hotel Aryaduta (tepat di depan tugu Tani). Pemandangan tak sedap di balik gedung mewah. Sungai dengan airnya yang hitam. Rumah dibangun menghabiskan bibir sungai, bahkan kaki-kaki kayu sudah ada di atas sungai. Ironis! Metropolitan punya pekerjaan rumah yang cukup berat. Mengentaskan pemukiman kumuh. Apakah bisa terwujud di tahun 2020 ?

Jepret! Langit Jakarta penuh polusi. Berjuta kendaraan bermotor yang setiap hari lalu lalang menyumbangkan polusi tiada terkira. Tak terlihat birunya langit karena tertutupi asap yang berdampak buruk bagi kesehatan warga metropolitan.

Jepret! Macet … Jarak tak lebih dari 2 km membutuhkan waktu lebih dari 1/2 jam. Beginilah pemandangan setiap pagi di depan pasar Kramatjati. Akan lebih parah lagi bila di ujung jalan Raya Bogor digenangai air yang melimpah dari sungai di sisi kiri. Wah … luar biasa macetnya! Bisa sampai hek bahkan pasar induk buntut kemacetannya. Jalan Raya Bogor adalah jalan tua yang menghubungkan metropolitan dengan kabupaten / kota Bogor. Begitu banyak pemukiman di sisi kiri kanan jalan ini. Ada juga beberapa pasar yang menjadi sumber kemacetan karena pedagangnya berjualan hingga setengah badan jalan. Belum lagi persimpangan yang menghubungkan daerah padat lainnya seperti Pondok Gede, Cijantung, Cibubur, Cimanggis, Depok, Cibinong, dan terus sampai ke Bogor.

Jepret! Awan lembayung di atas kota Jakarta. Lokasi daerah Kota Casablanca Kuningan. Foto ini hasil karya suami tercinta Rachmad Aziz Mucharom yang juga punya hobi fotografi. Keren kan ?

Jepret! Warna-warni di gedung pencakar langit. Senja yang cerah. Karya Rachmad Aziz Mucharom di Menara Standard Charted Bank.

Jepret! Senyum optimis Dewi Laily Purnamasari untuk metropolitan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s