pindahkan ibukota, mungkinkah ?

Standar

Ketika banjir melanda diri ini berusaha mendapat hikmah : bahwa merasakan nestapa, berbagi bantuan, dan memanjatkan doa-doa terbaik agar mereka sabar.

Genangan air paska hujan yang hanya sejenak. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Lebih penting lagi yuk! kita memperbaiki diri dengan lebih ramah pada alam : membuang sampah pada tempatnya : menanam pohon dan membuat area resapan di rumah.

Semoga langkah kecil ini mampu berbuah besar, amin …

Lalu langkah besarnya apa ya ?

M.. Jehansyah Siregar, Ph D, Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB, dan Anggota Tim Visi Indonesia 2033 mengatakan bahwa di lapangan, kita bisa menyaksikan pembangunan area-area permukiman dan berbagai fungsi bangunan komersial dilakukan dengan cara mengurug lahan basah, rawa-rawa, maupun lahan-lahan rendah yang seharusnya dijadikan ruang resapan hijau maupun untuk waduk retensi.

Yang menjadi masalah adalah, mengapa Surat Ijin Penujukan Pemanfaatan Tanah (SIPPT) dikeluarkan di kawasan RTH dan lahan basah, dan mengapa ijin mendirikan bangunan (IMB) dikeluarkan untuk pondasi bangunan yang diurug di lahan basah.

Semoga semakin banyak ruang terbuka hijau seperti ini. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Kini berbagai area di Jakarta sudah terbangun tanpa mengacu kepada perencanaan dan pengendalian yang baik. Meskipun demikian, dari kalangan Pemprov DKI belum bisa melihat masalah ini karena selalu berkilah dengan menyalahkan penduduk pendatang yang semakin memadati Jakarta.

Pejalan kaki dan pesepeda seharusnya diberi ruang yang nyaman. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Tanpa perlu diperdebatkan lagi, jika pola pembangunan Jakarta tetap dibiarkan seperti ini maka bencana kebanjiran, kekumuhan, dan kemacetan akan tetap ada di Jakarta hingga mencapai keadaan yang tidak bisa diatasi lagi (point of no return), karena kumulasi pembangunan kota memang bersifat irreversible.

Wah … Pendapat Jehansyah seharusnya menjadi aba-aba peringatan penting. Bagaimana kelak Jakarta bisa tenggelam dalam kebanjiran, kekumuhan, dan kemacetan total ? Tentu kita sebagai warga Jakarta tak ingin hal itu terjadi bukan ?

Sampah menggunung di aliran sungai yang semakin menyempit. Hendak mengalir keman air ? Maka tak heran bila Jakarta senantiasa langganan banjir. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Jehansyah menambahkan bahwa pembangunan kota-kota baru residensial di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dengan konsep hunian campuran berimbang yang didukung oleh jaringan transportasi terpadu akan memberikan peluang bagi penataan semua bantaran sungai di Jakarta. Dengan perkiraan relokasi sekitar 4 juta penduduk maka diperlukan sekitar 20 kota-baru residensial di sekitar Jabodetabek dengan kepadatan masing-masing sekitar 200 ribu jiwa.

Jakarta yang sangat padat. Tiap jengkal tanahnya begitu berharga. Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Dari sisi pemanfaatan ruang yang diisi oleh manajemen pembangunan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak kunjung berhasil memenuhi kewajiban proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% berdasarkan UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dari sekitar 66 ribu hektar (ha) luas Jakarta, luas RTH masih kurang dari 6 ribu hektar atau sebesar 9%. Tidak ada strategi dan upaya-upaya yang efektif untuk menguasai lahan-lahan, memberikan insentif maupun disinsentif untuk area-area yang mengalami tekanan pembangunan, terutama di Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Pemindahan fungsi Ibukota dan penataan permukiman kumuh di seluruh bantaran sungai Jakarta secara progresif bisa memberikan harapan tersedianya RTH secara memadai. Namun ada beberapa prakondisi untuk mewujudkannya, yaitu kepemimpinan nasional dan kepemimpinan Jakarta yang visioner, kebijakan kota yang inklusif dan penguatan sektor publik, serta pemberdayaan masyarakat dan partisipasi publik dalam pembangunan.

Jakarta ibukota negara yang kita cintai. Apakah bila ibukota dipindahkan, kecintaan kita kepada NKRI akan berkurang ? Tentu tidak … Foto karya Rachmad Aziz Mucharom.

Jika memang Jakarta sudah mencapai point of no return, bukankah sebaiknya direncanakan pembangunan Ibukota NKRI yang baru yang dibarengi penataan Jakarta?

Semoga bencana banjir Jakarta tidak menjadikan bangsa ini semakin terpuruk karena saling menyalahkan dan diam berpangku tangan. Sebaliknya, inilah kesempatan bagi seluruh komponen bangsa untuk bangkit dan bahu membahu mengambil langkah-langkah yang progresif menuju visi kota yang nyaman dan produktif sebagai wadah membangun karakter bangsa yang kuat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s