Monthly Archives: Maret 2014

bisakah karakter anak dinilai dengan ujian nasional ?

Standar

Hari Sabtu tanggal 4 Juni 2011 serentak seluruh SMP baik negeri maupun swasta di Indonesia mengumumkan kelulusan anak didik kelas 9. Di Jakarta tepatnya di SMP Islam PB. Soedirman dilakukan pengumuman via pos. Pengumuman yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah Drs. H. Nur Alam, MA membuat hati seluruh anak didik beserta orangtuanya gembira dan bangga. Sekolah RSBI di kawasan Cijantung Jakarta Timur ini meluluskan 100% anak didiknya pada tahun ajaran 2010/2011. Kertas pengumuman berwarna hijau muda berisikan nama dan nomor UN anak didik serta pernyataan lulus, nilai UN dan nilai US. Empat mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA.  Nilai tertinggi di peroleh Canitra Ilham Adirespati dengan nilau UN 38,7, nilai US 35,98 dan nilai Akhir 37,6.

(Perpisahan kelas 9 SMP Islam PB. Soedirman (RSBI) Cijantung Jakarta Timur)Salah seorang anak didik bernama Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi mendapat nilai UN 34,5 dan nilai US 33,43, sehingga di dapat nilai Akhir 34 dengan rata-tara nilai Akhir  8,5. Ibrahim mengetahui dirinya berada di urutan ke 51 untuk nilai UN dan nilai US berada diurutan 47 dari 223 peserta UN dan US. Adapun perolehan nilainya adalah Bahas Inggris 9,4, IPA 8,75, Matematika 8,5 dan Bahasa Indonesia 7,8. Menurut Ibarahim ikhtiar telah dijalankan, doa telah dipanjatkan, hasil telah didapatkan. “Alhamdulillah …” ujarnya senang.

(Kaka berlibur seusai UN di kaki gunung Ciremai)

Hasil UN dan US anak didik tentu tidak terlepas dari kerja cerdas dan profesional serta amanah dari Kepala Sekolah, guru bidang studi, wali kelas dan staf  di lingkungan sekolah. Ibrahim mengatakan bahwa proses pendidikan di sekolahnya tidak melulu berorientasi pada nilai UN saja. Namun selama enam semester dia telah menjalankan berbagai program seperti evaluasi setiap semester, scientific research and oral examination, observasi di Balitnak dan Botanical Garden Bogor, try out sebanyak delapan kali untuk persiapan UN, manasik haji di asrama haji Pondok Gede, pumping  students plus achievement and motivation training (to encourage and enhance moral, spirit,and selft confidence of each student), ujian sekolah (teori dan praktek serta ujian khusus membaca Al Quran), lalu diakhir dengan ujian nasional.

Drs. H. Nur Alam, MA sebagai Kepala Sekolah mengatakan keberhasilan dalam pendidikan tidak lepas dari karunia dan berkah dari Allah SWT yang telah memudahkan jalan bagi terselenggaranya seluruh rangkaian program yang telah ditetapkan. Begitupun Ketua Pembinan Yayasan Yasma PB. Soedirman H.KRMH Soerjo Wirjohadipoetro Letnan Jenderal TNI (purn) TNI ADmenyebutkan misi yayasan adalah menjadi yayasan yang bermutu dan islami berwawasan global yang dilandasi dengan iman dan taqwa dalam membentuk manusia mandiri dan masyarakat madani yang mampu menghadapi perkembangan zaman.

Pengurus Harian yayasan H. Chalid Karim Leo, SH,Msc,MPd,MM Mayor Jenderal (purn) TNI AD menyampaikan pesan bahwa bekal terpenting untuk menghadapi hidup di era global yang penuh kompetitif tersebut, di samping harus perpendidikan tinggi, juga harus dibarengi dengan memiliki akhlaqul karimah, sesuai dengan salah satu dari seven values SMP Islam PB. Soedirman, yaitu first in Islamic moral and academic achievement. Apresiasi juga disampaikannya kepada anak didik kelas  9 yang telah belajar keras, cerdas, berkualitas, dan penuh ikhlas di sekolah ini, sehingga dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu dua tahun untuk kelas akselerasi dan tiga tahun untuk non-akselerasi. Ucapan terima kasih disampaikan juga kepada guru, karyawan dan orangtua peserta didik yang telah membimbing, mendidik, memfasilitasi, dan memberikan support kepada mereka sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan penuh rasa aman, nyaman, menyenangkan, menantang, dan bermutu.

Drs H. Agus Rukmana, MPd salah seorang pengurus yayasan memberikan pesan kepada anak didik bahwa dengan telah selesainya masa pendidikan di jenjang SMP (berarti jenjang pendidikan dasar sembilan tahun), kita harus bersyukur dan tetap mengamalkan ilmu yang telah dimiliki dengan selalu menjaga keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ia menambahkan anak harus tetap diingatkan agar menjaga shalat lima waktu dan selalu membaca Al Quran, menjaga nama baik almamater dan selalu dekat dengan bapak ibu guru, tetap menjauhi dan menghindari perbuatan maksiat, narkoba, dan akhlaq yang kurang terpuji, serta menghormati kedua orangtua dan bapak/ibu guru agar mendapat ridhonya.

Ketua komite Hj. Meuthia Heilma, SE.MM berpesan capilah ilmu setinggi langit dan pandai-pandailah memanfaatkan kesempatan yang ada, dan ingat kesampatan hanya ada satu kali dan tak akan terulang. Artinya, mumpung kalian mempunyai orangtua yang mampu untuk menyekolahkan, maka pergunakanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya dan jangan disia-siakan. Ilmu itu akan menjaga dirimu, sedangkan harta akan membuat dirimu lelah untuk menjaganya. Orang yang berharta akan mati sedangkan orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan selalu dimuliakan Allah SWT bila ia dapat mengamalkan ilmunya dengan baik ke arah kebajikan, sehingga terus hidup di dalam diri generasi penerusnya.

Jika kita hanya mengandalkan UN dalam menilai proses belajar, maka akan sia-sia. Bukankah UN hanya menilai empat mata pelajaran tanpa melihat proses. Kelulusan anak didik di tingkat pendidikan dasar sembilan tahun seharusnya dapat memberikan gambaran seutuhnya tentang proses belajar mereka. Lebih penting lagi! Mampukan UN menilai karakter anak didik ? Jika hanya mengandalkan nilai UN dan US serta nilai Akhir, tak akan ada nilai karakter di dalamnya. Bukankah yang ditanyakan adalah soal-soal akademik ? Lalu, dimana letak penilaian karakter anak didik ? Bukankah karakter sangat penting dalam proses belajar dan keberhasilan hidup seseorang. Karakter yang baik (akhlaqul karimah) saat ini sangatlah dibutuhkan.

(Kaka melanjutkan sekolah di SMA Islam Insan Cendikia Sekarkemuning Cirebon sekolah berasrama atau boarding school)

Jadi, seharusnya selain nilai UN, nilai US, dan nilai Akhir harus ada laporan nilai karakter anak didik yang diberikan dalam deskripsi yang jelas dari pihak sekolah kepada orangtua. Misalnya bagaimana kejujuran anak didik ? Sopan santun, jiwa sosial, kepemimpinan, spritualitas, kedisiplinan, semangat kerja keras dan sebagainya penting diperhatikan dan menjadi jawaban atas berbagai persoalan bangsa ini. Sepuluh tahun lagi mereka adalah calon pemimpin muda negeri ini, duapuluh tahun lagi mereka sudah seharusnya menjadi pemimpin puncak di berbagai bidang kehidupan negara kita tercinta. Kesimpulannya : ‘UN saja tidak cukup! Harus ada ujian yang terintegrasi yang mampu memberikan penilaian tentang karakter dari anak didik’. Ini pekerjaan besar kita bersama.

kaka … jujur itu keren

Standar

Alhamdulillah Kaka Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi lulus UN SMP pada tahun 2011 dengan nilai memuaskan. Rata-rata 86,25 (Bahasa Inggris 9,4 ; IPA 8,75 ; Matematika 8,5 ; Bahasa Indonesia 7,8). Sebagai orangtua tentu sangat bersyukur dan bangga atas prestasi dan hasil belajar Kaka selama menempuh pendidikan di SMP Islam PB Soedirman Jakarta. Lebih membanggakan lagi karena Kaka memperoleh nilai tersebut dengan menjunjung tinggi kejujuran. Kaka mengerjakan soal secara mandiri dan penuh percaya diri. Tak sedikitpun terbersit keinginan berlaku curang alias mencontek. Pesan kejujuran ini selalu aku sampaikan terus menerus seiring kerja cerdas dan ikhtiar kerasnya mempersiapkan diri agar dapat menyelesaikan pendidikan di SMP dengan baik.

13680806161793267452

(Kaka senang melaksanakan shalat dhuha saat istirahat di Masjid PB. Soedirman Cijantung)

Sekolah tempat Kaka belajar juga ternyata tidak melulu berorientasi asal lulus UN. Beberapa pertemuan antara manajemen sekolah yang diwakili kepala sekolah bersama orangtua siswa, sangat ditekankan bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Siswa-siswi juga dibimbing agar mampu menjadi manusia cerdas yang berakhlak mulia. Berbagai program disusun agar mereka memiliki keimanan, ketaqwaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelindan tak terpisahkan. Ah … rasanya senang mendengar dan mendapatkan informasi sedemikian. Saat dibanyak tempat nilai adalah satu-satunya tujuan. Lalu kejujuran di abaikan dan dipojokkan di ruang berdebu. Kecuranganpun diambil sebagai jalan pintas agar nampak keberhasilan semu. Apakah harus begitu ?!

Tentu tidak! Kalau bisa jujur kenapa harus curang ?!

13680806752000675780

(kunjungan Kaka dan teman-teman sekolah SMP-nya ke Pondok Pesantren Modern Gontor)

Oya … Aku dan Kaka juga melakukan ‘refresing’ dengan membaca buku-buku yang membangkitkan motivasi berprestasi seperti tetralogi laskar pelangi, negeri 5 menara, toto chan, dan 9 summers 10 autumns. Sekolah juga mengadakan studi tour ke Pondok Pesantren Modern Gontor dan Pare Kediri. Sambil ‘traveling’ dan menjalin keakraban dengan teman-teman, mereka memperoleh banyak teladan dari Gontor dan Pare.

1368080721746570450

(Kaka selepas sidang  ‘report’ studi tour ke Gontor : laporan dan presentasi harus dalam bahasa Inggris)

Bukti nyata aku alami bersama Kaka. Alhamdulillah … berkat karunia dan kasih sayang Allah SWT terbukti bahwa prestasi adalah sebuah akibat dari sebab kerja cerdas dan ikhtiar keras. Belajar penuh semangat. Doa terus dipanjatkan. Bila nilai didapat dengan kejujuran, rasa syukur sungguh akan terpancar indah. Namun, nilai tinggipun bila didapat dengan kecurangan, rasa apakah yang akan muncul dari lubuk hati terdalam ? Malu! Entahlah … apakah masih ada rasa malu dihadapan Illahi Rabbi Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar bagi guru, orangtua dan siswa yang melakukan kecurangan ???

Boarding School Al Binaa Pilihan Anakku

Standar

Aku bertanya kepada Mas (anak keduaku) apakah dia akan memilih sekolah biasa atau boarding ?

Supraise … Mas memilih ingin boarding. Kutanya lebih jauh, mengapa Mas pilih boarding ? Dia bilang ingin mandiri dan konsentrasi belajar, Jakarta ruwet Bu! Kalau di boarding kan ke sekolah tinggal jalan kaki, udaranya segar, nyaman … Lagi pula setiap minggu masih bisa ketemu Ibu dan Bapak. Kan ada jadwal kunjungan. He3 … aku tersenyum dan mengucek rambutnya yang mulai sedikit gondrong.

Mas sekarang kelas 6 dan sudah memasuki semester genap. Dia akan memasuki jenjang sekolah menengah pertama pada tahun ajaran 2012/ 2013. Aku berburu informasi beberapa ‘boarding school’, dan tentu saja aku berusaha untuk mendatanginya langsung. Tak sekedar membaca brosur, aku harus tahu ‘aura’ suasana sehari-hari di lingkungan sekolah tersebut.

Saat berburu boarding school untuk Kaka (anak pertama ku), Mas juga aku ajak. Sekolah yang sudah aku datangi adalah Pesantren Khusnul Khatimah ‘Boarding School’ di Jalaksana – Kuningan Jawa Barat, sekolah ini berada di kaki gunung Ciremai. Lalu, SMP-SMA Islam Insan Cendikia ‘Boarding School’ di Kota Cirebon. Nurul Fikri Islamic Boarding School di Anyer Banten telah kami survey bahkan empat tahun yang lalu Kaka ikut tes dan dinyatakan lulus. Lalu, kami juga mendatangi Al Binaa Islamic Boarding School di Bekasi Jawa Barat.

Beberapa temanku telah mem-’boarding school’-kan anak-anak mereka. Aku pun bertanya ‘apakah anaknya senang belajar di lingkungan sekolah berasrama?’ Hampir semuanya menjawab ‘anak-anak senang di sana’. Tentu selain bagusnya kurikulum, lengkapnya fasilitas, aku juga akan mempelajari ‘berapa’ investasi pendidikan yang akan dikeluarkan ? Ha3 … rasanya mustahil untuk masa sekarang ada sekolah bagus yang tidak mahal. Jadi, tetap saja aku harus memperhitungkan kemampuan finansial.

Intinya, aku berharap Mas bersemangat mengejar ilmu dan belajar untuk mengembangkannya, serta berprestasi sesuai kemampuan dan bakat yang dimilikinya. Penting bagi ku juga bagi Mas, bahwa belajar adalah suatu kebutuhan dan harus dijalankan dengan rasa bahagia. Belajar sesungguhnya harus dilakukan dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Jadi, sekiranya aku (sebagai orangtua) belum mampu memberi sekolah terbaik untuk Mas bukan berarti tak bisa belajar menjadi yang terbaik, bukan ?

Menurutku pendidikan juga bukan sekedar proses transformasi ilmu dan teknologi saja. Pendidikan adalah sebuah proses pengembangan dan pembinaan manusia agar memiliki integritas iman, ilmu, dan amal. Aku berharap anak-anak kelak memiliki aqidah yang benar dan berakhlakul karimah. Mereka juga memiliki semangat keilmuan dan keislaman yang tinggi, ikhlas, qona’ah (sederhana / bersahaja) dan berkreatifitas tinggi, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian dalam menghadapi dan menjawab tantangan di masa depan.

Adakah teman punya pengalaman berburu sekolah setingkat SMP ? Boleh ya berbagi di sini, makasih …

NB : Muhammad Hafizh Haidar Hanif sekarang bersekolah di SD Islam PB Soedirman Cijantung. Alhamdulillah prestasi belajarnya baik, mandiri, dan cukup bersahaja.

1327980000155067909

Penasaran bagaimana Mas menjalani hari-hari di boarding school-nya ? Silahkan simak di sini

http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/13/boarding-school-mengapa-anakku-memilihnya-486511.html

Simak juga artikel menarik lainnya:

menikmati ‘car free day’ jakarta

Standar

Sejak umur dua tahun Kindi sudah senang bersepeda. Hampir setiap pagi dan sore ia mengajak bermain sepeda di halaman depan rumah. Saat ini pun, sebelum berangkat sekolah, Kindi pasti meminta aku menemaninya berkeliling komplek naik sepeda. Kalau sudah pegal, ia biasanya minta aku memboncengnya. Hari minggu saat bersama bekerja bakti membersihkan mobil dan motor, Kindi dengan bersemangat ikut membersihkan sepeda kesayangannya.

13279839331190536804

Maryam Aliyya Ak Kindi senang sekali ketika kami sekeluarga ikut kegiatan car free day di sepanjang jalan Sudirman – Thamrin Jakarta. Kindi sangat bersemangat mengayuh sepeda pinknya menyusuri jalanan yang kosong dan asyik melihat keramaian di seputar bunderan HI.

13279843921699579380

Kaka Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi menikmati juga suasana lengang di CFD. Mereka meluncur bersama sampai Monas dan kembali ke Bunderan HI untuk bergabung menikmati sarapan yang beraneka ragam. Ada sate padang, kerak telor, mie ayam, kue pancong, bubur ayam, juga ketoprak.

132798464866513867

Setelah puas menikmati sarapan, Kindi minta naik delman keliling rute Sarinah – bunderan HI bersama Mas Muhammad Hafizh Haidar Hanif. Delman berhias ini memang menarik dan membuat anak-anak senang. Kapan lagi bisa naik delman di jalan yang biasanya sangat padat mobil dan motor ini ? He3 … jadi seperti juragan Betawi jaman kolonial.

 

Bertemu warga negara asing yang mengajak anaknya menikmati arena car free day’s Jakarta.

Sepeda berbagai modifikasi keren!

Nah … Aku, Dewi Laily Purnamasari lebih suka model jadul begini he3 …

Suamiku Rachmad Aziz Mucharom juga suka bersepeda sambil memuaskan hobi fotografinya. Kalau jadi foto model seperti ini harus dipaksa dulu deh!

Kegiatan bersepeda bersama keluarga adalah cara sehat dan bugar bersama keluarga. Selain murah meriah, bersepeda juga membuat kami sekeluarga dapat menjalin keakraban, bercanda ria, serta mencurahkan rasa kangen. Bukankah di hari kerja anak-anak disibukkan dengan kegiatan sekolah dan kami orangtua dengan pekerjaan kantor. Nah … hari libur seperti ini benar-benar kami nikmati dalam kebersamaan.

 

berlibur di kebun binatang ragunan

Standar

Liburan sekolah di dalam kota Jakarta tetap asyik kok! Kami sekeluarga berkunjung ke kebun binatang Ragunan. Kaka Rusydi, Mas Hanif, dan Teteh Kindi senang sekali menikmati sejuknya udara pagi hari (sekitar pukul 07.00 pagi) di bawah rimbunnya pohon-pohon besar.

Kami berjalan menyusuri rute kolam flamingo dan bangau. Menuju kandang gajah terus sampai di area komodo dan jerapah. Tujuan utama kami adalah pusat primata Schmutzer. Tiket masuk kebun binatang murah loh! Rp. 4.000,- sudah termasuk asuransi kecelakaan. Sedangkan tiket masuk pusat primata seharga Rp. 5.000,-. Tepat pukul 09.00 pintu gerbang dibuka dan kami segera berpose di depan dinding ucapan selamat datang.

1327985944639514591

Siapakah Schmutzer itu ? Dia adalah seorang ibu ilmuwan warganegara Jerman yang  tertarik dan memiliki kepedulian terhadap primata (khususnya yang berada di Indonesia). Orang utan asal pulau Sumatra telah terancam kepunahan begitu juga gorila dan beragam jenis primata lain yang diburu oleh manusia yang tak bertanggung jawab. Primata juga ikut binasa karena adanya pembalakan hutan secara liar / ilegal.

Kami menyusuri lorong yang dibuat seperti gua. Primata liar seperti orang utan ada di balik kaca memandangi kami. He3 … lucu sekali! Induk orang utan menggendong anaknya. Aih … seperti bercermin diri : ‘apakah aku sebagai ibu telah demikian tulus mengasuh anak-anak ku’. Di kandang terpisah kami juga menyaksikan seekor induk monyet sedang menyusui bayinya. Tepat di sebelahnya monyet jantan mengelus punggung pasangannya. Wow … mesra sekali! Ayo … para ayah jangan kalah sama monyet … he3 … ketika ibu sedang menyusui bayi, berikanlah kasih sayang dan perhatian yang tulus ikhlas.

1327986475876700917

Teteh Kindi minta digendong seperti lukisan di pagar pusat primata. Ha3 … miripkah ?

cara mengelola marah

Standar

Seorang ibu berusaha melerai perseturuan antara anak-anaknya.

Mas … katanya sayang Ade! : Kenapa Ade dipukul ?

Ade nakal! Rebut mainan aku … Nyubit aku juga!

Mas pelit! Gak mau pinjamin aku mobil-mobilnya …. hu … hu … hu …

Peristiwa ini sering terjadi di dalam keluarga kita bukan ? Ketika seorang anak marah, ada kecenderungan untuk memukul atau menyakiti orang lain. Emosi ini tentu perlu dikelola dengan baik. Marah boleh … namun memiliki cara marah yang benar juga sangat penting loh! Siapa yang harus menjadi teladan ? So pasti! Orangtua harus menjadi guru pertama dan utama untuk anak-anaknya.

Bagaimana kalau orangtua justru belum mampu mengelola marahnya dengan benar ? Hiiiksss … sedih ya ? Kadang kita malah marah tak beraturan, berlebihan, bahkan semena-mena justru kepada anak kita sendiri. Ayo … ngaku he3 …

Kembali ke peristiwa di atas, bila diamati lebih mendalam dan dengan pikrian serta perasaan yang jernih, sesungguhnya itu adalah bentuk dari rasa cemburu. Kok cemburu ? Ya … rasa cemburu muncul karena ada rasa persaingan antara Mas dan Ade. Cobalah beberapa cara berikut agar anak-anak mampu memiliki sikap yang lebih manis untuk menjalin ikatan persaudaran satu sama lain :

1. Ciptakan waktu untuk berduaan : pilih waktu untuk masing-masing anak. Lakukanlah kegiatan berdua yang menyenangkan. Bisa membaca buku cerita, bersepeda keliling komplek, atau sekedar menemani makan siang.

2. Jangan terlalu memandang berat perselisihan anak. He3 … mengapa ? Coba perhatikan baik-baik, selepas mereka berselisih, beberapa saat kemudian mereka sudah akur lagi! Kompak dan tertawa gembira bersama-sama. Mereka sebenarnya sedang belajar untuk bertanggungjawab atas perilaku mereka sendiri dan menemukan cara penyelesaikan konflik yang unik dan asyik menurut cara mereka.

3. Jadilah juri yang adil. Sekiranya kita harus ikut terlibat, jadilah penengah dan juru damai yang tidak memihak. Lebih baik menyampaikan nilai-nilai positif seperti bersaudara saling sayang, memukul dan mencubit itu menyakiti loh … atau bermain bersama yuk! (lalu beri contoh bermain bersama dengan saling bertukar meluncurkan mobil-mobilan).

4. Ajak anak mengungkapkan kemarahannya. Katakan apa yang membuatnya marah dan hargai perasaannya. Namun ajarkan bahwa ungkapan kemarahan tidak identik dengan boleh menyakiti orang lain seperti berkata kasar dan memukul / mencubit orang lain). Berikan contoh seperti ini : Aku marah karena dia merebut mainanku, atau aku marah karena tak dipinjami mainan. Sehingga kita tahu akar permasalahannya dan marah kepada tindakakannya, bukan kepada orangnya.

5. Berikan contoh arti pentingnya saling memaafkan. Yuk kita saling memaafkan! Maafkan aku yah … tadi memukul. Aku juga tadi merebut mainan, maafin yah … Saling berjabat tangan atau berpelukan akan meredakan amarah.

Senangnya bila suasana di rumah tenang dan damai juga penuh dengan aura kebersamaan dan persahabatan di antara anak-anak kita. Nah … sekali lagi orangtualah guru pertama dan utama untuk memberikan teladan kepada anak-anaknya. Jadi … kita bersama belajar mengelola marah dengan baik yuk!

Kaka dan Mas senang sekali ketika mereka mendapatkan adik kecil mungil yang lucu. Teteh lahir ketika Kaka berumur 12 tahun dan Mas berumur 8 tahun.

Senangnya bila Kaka, Mas, dan Teteh akur dan saling menyayangi apalagi dalam perjalanan jauh dengan kereta api seperti ini.

Kompak dan bersahabat Kaka, Mas dan Teteh sangat senang bila melakukan perjalanan untuk silaturahim walaupun berpayah-payah pergi ke bandara untuk terbang dengan pesawat.

Kaka, Mas dan Teteh saling menyayangi sepanjang waktu, walau kini jarang berjumpa karena terpisah jarak.

Bila waktunya liburan dan berkumpul bertiga, Kaka, Mas dan Teteh pasti deh selalu ingin bersama. He3 … Kadang terasa aneh juga karena mereka beda usia terpaut cukup jauh.

Semoga Kaka, Mas, dan Teteh selalu di sayang oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah, aamiin …

 

rekreasi alam tingkatkan kreatifitas

Standar

Dewasa ini kegiatan rekreasi alam telah menjadi kebutuhan bagi manusia, terutama masyarakat yang hidup di kota-kota besar. Mereka adalah masyarakat yang kompleks dan membutuhkan peralihan suasana. Kondisi di atas membutuhkan tempat dan sarana rekreasi yang ideal, yaitu rekreasi yang dapat dinikmati secara fisik, sosial, dan emosional.

Aktifitas rekreasi alam kegiatan utamanya adalah menikmati alam, dimana unsur rekreasi juga tetap dipertahakankan. Sebagaimana definisi rekreasi yang menurut asal katanya mempunyai arti mengembalikan daya cipta (re berarti mengembalikan dan create berari daya cipta). Menurut kamus WJS Purwadarminta, rekreasi berarti bersukaria, bersenang-senang, mencipta lagi.

133065644434459968

(Foto 1 dok. pribadi : Citarik Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia)

Recreation is enjoyment. All types of physical and mental activitties which can satisfy our feeling. We relax and feel content, mind at rest, and we enjoy ourselves, we have fun. Rekreasi merupakan aktifitas yang membentuk dan meningkatkan kembalai daya karya serta cipta manusia yang dilakukan dengan jalan mencari suasana yang berbeda sehingga dapat memberikan kepuasan dan kegembiraan (Willian Wayne, Recreation Place, Reinhold, New York 1959).

Fungsi rekreasi antara lain : perkembangan intelegensia dan menganl pribadi; mempertinggi imajinasi; menimbulkan sifat ingin tahu dan jiwa petualang, pendidikan mental, mempertinggi keterampilan, menambah pengetahuan, dan menambah hal-hal baru dalam kehidupan.

1330656545338275064

(Foto 2 dok. pribadi : Tawangmangu, Jawa Tengah, Indonesia)

Rekreasi alam merupakan jenis kegiatan rekreasi yang memanfaatkan alam (danau, gunung, pantai, hutan, dan sebagainya) sebagai atraksi utama kegiatan rekreasi. Clare A. Gunn (1988) mengemukakan bahwa jenis atraksi rekreasi merupakan faktor utama yang menarik pengunjung, mengunjungi kawasan,  rekreasi, maka jenis atraksi yang ditampilkan dalam kawasan harus mampu menarik pengunjung.

13306577101203749495

(Foto 3 dok. pribadi : Gunung Bromo dan Kaldera, Jawa Timur Indonesia)

Brockman (1982) menyatakan bahwa kegiatan rekreasi alam terbuka merupakan bentuk interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini, manusia memberikan tekanan terhadap lingkungan yang dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan tersebut. Kerusakan ini dapat mengakibatkan turunnya daya tarik kawasan rekreasi sebagai daerah tujuan rekreasi, maka pengembangan kawasan rekreasi di samping berupaya menyediakan sarana dan prasarana untuk digunakan dalam kegiatan reklreasi harus juga mengedepankan pelestarian / konversi alam.

1330657854586131013

(Foto 4 do.pribadi : Pulau Samosir dan Danau Toba Sumatra Utara, Indonesia)

‘Eco Architecture’ Trend Perancangan Ideal Masa Depan

Sense of place yang diciptakan oleh karya manusia berupa arsitektur seharusnya mencerminkan keindahan, perilaku, kesejarahan, mitos, dan fantasi, untuk mencapai lingkungan ideal. Lingkungan buatan yang lebih memperhatikan keberadaan simbol untuk merasai kebesaran alam, keterkaitan antara manusia, bangunan, dan alamnya, karena ada unsur memori dan respon tubuh dalam bangunan / lingkungan buatan.

Dari gurunya Sullivan, dan sejalan dengan teori evolusinya Darwin, Wright mewarisi suatu kerinduan akan yang organik, yang menyatukan bentuk dan fungsi. analog dengan fenomena alam. Konsekuensinya, alam organik akan merepresentasikan gaya itu. Alam telah menyediakan pelajaran-pelajaran yang menunjukkan bagaimana suatu bangunan dapat bertumbuh secara harmonis dengan lingkungannya; suatu harmoni bentuk yang juga bersumber pada fungsi-fungsi batin. (Frank Lloyd Wrigh, In the Cause of Architecture, 1908 dan 1914).

1330658832323014123

(Foto 5 dok.pribadi : Sendang Biru dan Pulau Sempu, Jawa Timur, Indonesia)

Manusia ber-satu-alam dan ber-satu-hukum dengan dunia semesta fisik di sekelilingnya, tetapi sekaligus mengatasi flora, fauna dan alam materi belaka. Hakikat dan tugas budaya arsitektur pun disitulah, bagaimana ber-satu-hukum dengan alam semesta,s ekaligus mengatasinya : artinya berbudaya, bermakna. (YB Mangunwijaya, Wastu Citra, Gramedia, Jakarta, 1992).

Kini, aku Dewi Laily Purnamasari memberikan peluang dan tantangan kepada ketiga anakku untuk juga bisa melakukan rekreasi alam agar kreatifitas mereka semakin meningkat.

Foto 1-2 Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi sedang menjelahi arena berbukit di Tawangmangu Outbond Gayatri dan menikmati percikan dinginnya air terjun Jumog.

Foto 3-4 Muhammad Hafizh Haidar Hanif menjelajahi jalan setapak diantara perkebunan strawberry dan bukit pinus di Tawangmangu. Kali Oya di gunung Kidul Yogyakarta juga menjadi arena yang menarik serta menantang untuk rekreasi alam.

Foto 5-6 Maryam Aliyya Al Kindi senang sekali bisa menginjakkan kaki dibebatuan dan air yang dingin di sungai air terjun Jumog Tawangmangu. Taman rekreasi alam Batu Raden juga sangat menarik untuk meningkatkan kreatifitas dengan beragam atraksi seperti air mancur, sungai berbatu, sumber air panas, dan pemandangan gunung yang indah.

suka duka ujian nasional

Standar

 

Tulisan ini pertama terbit 26 Maret 2012. Di buat dalam rangka ikut merasakan kehebohan ajang ujian nasional baik ditingkat sekolah dasar maupun jenjang diatasnya.

Teman ku bercerita di sekolahnya dapat bocoran jawaban. Satu teman lagi bercerita hal yang sama. Di koran begitu pula. Ah … sungguh memalukan dan pasti tak membanggakan dapat nilai UAN hasil ketidakjujuran.

Sore ini Mas Hanif (Mas 12 tahun kelas 6 SD) berwajah riang. Senyumnya tersungging. Sambil melirikku dia memberikan selembar kertas kepada Ibu.

“Bu, ada surat dari Pa Guru,” kata Mas.

Aku membaca dan tersenyum.

Pikiranku langsung melayang pada penggalan pengalaman UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD empat tahun lalu, saat Kaka Rusydi (Kaka 16 tahun kini kelas 10 SMA).

(Sepertinya pengalaman ini kembali terulang bersama Mas …)

“Kaka! Ayo duduk manis! Buka buku latihan dan kerjakan soal matematika yang sudah Ibu tandai,” kataku sambil menutup komik Conan yang sedang asyik Kaka baca.

“Sebentar lagi Bu!,” jawabnya merebut kembali komik itu.

Ha3 … kami jadi rebutan komik deh! (sejujurnya aku juga suka baca komik Conan, tapikan bukan sekarang saat sudah waktunya mengerjakan latihan soal hiiiksss …)

Aku paham betul, pasti otaknya bekerja keras, berpikir, mengingat rumus, mencoret-coret kertas, menghitung luas trapesium, mencari nilai x dari persamaan aljabar, mengalikan angka ratusan, pangkat tiga, akar kuadrat, titik koordinat, volume kubus, keliling lingkaran, angka romawi, jumlah uang, tabel distribusi, waktu tempuh, diagram batang, menjumlahkan pecahan, mencari FPB dan KPK. Dua puluh lima soal.

“Lanjut Ka! Soal IPA yah,” kataku.

Empat puluh soal. Endapan tanah, lapisan udara, cahaya, ciri-ciri pertumbuhan, revolusi bumi, sumber listrik, makanan, persendian, metabolisme, cermin, sifat benda, tata surya, ekosistem, sumber daya alam, energi, pupil, kaktus, burung, gerhana, jantung, pembiakan vegetatif, alat optik, jantung, anemia, gerak nasti, penyerbukan, frekuensi, rangka manusia, konduktor, rotasi bumi, gaya gravitasi, abrasi, musim gugur, gerhana bulan, rangkaian seri, magnet, hemoglobin, volt, mamalia.

“Sudah selesai ?” tanyaku.

Kaka mengangguk. Lelah …

“Minum dulu susu coklatnya! Ibu koreksi,” kataku lembut.

(Ya itulah penggalan pengalaman yang mengasyikkan bersama Kaka empat tahun lalu).

Aku tahu anak-anak kelas enam Sekolah Dasar seluruh Indonesia berada dalam situasi tegang seperti di atas. Mungkin lebih tegang karena harus ikut bimbingan belajar sepulang sekolah atau les privat dengan guru sekolah. Padahal di sekolah sudah ada pengayaan. Setiap hari tambahan belajar selama dua jam. Soal-soal matematika, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa Indonesia beratus-ratus jumlahnya. Orang tua tegang. Guru tegang. Kepala sekolah tegang. Bahkan menurut koran, Menteri Pendidikan Nasional juga tegang.

Aku bersikeras (dan keputusan ini disambut bahagia oleh Kaka dan Mas … ^_^) tak memasukkan anak-anak ke bimbingan belajar. Teman-temanku menawari brosur Primagama, Nurul Fikri, dan Bintang Pelajar. Tidak! Itu jawabnya. Sebagai gantinya adalah waktu spesial (serupa martabak spesial pasti paling enak). Setiap hari selama dua jam, Aku menemani Mas mengerjakan soal-soal, mengoreksi hasilnya, memberi tanda bila belum betul, mengajari cara efektif berhitung, mencari jembatan keledai hafalan, dan menyiapkan minuman serta cemilan.

Aku senantiasa berpesan kepada mereka :

“Nilai tertinggi bagi Kaka dan juga Ibu dalam ujian adalah kejujuran,” kataku berulang-ulang.

“Mas boleh mendapat nilai delapan, sembilan, atau sepuluh dengan syarat kerjakan soal ujian dengan jujur. Ibu dan pasti Allah akan marah bila Mas mendapatkannya dengan ketidakjujuran,” jelasku panjang lebar.

Dulu Kaka pernah bertanya sambil bercanda :

“Ha … ha … ha … Bu kalau nilai begitu sih memang cita-cita. Lalu kalau nilai Kaka jeblok misalnya lima, gimana ?”

“Lima hasil kejujuran lebih berharga dari sepuluh hasil ketidakjujuran. Camkan itu!” aku  menjawab tegas.

“Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah memiliki modal utama : kejujuran. Gelar Al Amin itu tidak main-main. Allah SWT menjadikan sifat utama ini sebagai landasan bagi perjuangan dakwah Rasulullah SAW,” lanjutku.

Selama enam bulan menjelang UAN aku dan Kaka (juga sekarang dengan Mas) menikmati kedekatan sensasional dan emosional bersama. Kadang asyik belajar sambil bercanda. Aku pernah juga sedikit kesal kala mereaka  malas-malasan. Sesekali berebut komik sebelum memulai belajar. Pernah tiga hari berturut-turut Kaka aku ajak ke serambi masjid untuk berganti suasana. Kalau mereka mengeluh mengantuk. Aku akan menyarankan berwudhu. Resep jitu, biasanya langsung segar kembali.

Ini penggalan kata-kata Kaka beberapa saat setelah mendapatkan nilai UAN-nya  “Tapi yang pasti, aku sangat berterima kasih kepada Ibu telah menemaniku belajar tentang nilai kejujuran. Ibu adalah guru utama bagiku. Tak ada duanya. Bulan Mei 2008 aku menempuh UASBN. Mau tahu nilai UASBN ku? Bahasa Indonesia 8,40 ; Matematika 9,00 ; Ilmu Pengetahuan Alam 8,50. Jumlah tiga mata pelajaran itu adalah duapuluh lima koma sembilan. Alhamdulillah aku bisa bangga dengan nilai itu karena sungguh-sungguh hasil dari kejujuran”.

Kupikir dan kurasakan … sebenarnya UAN ini sangat bermanfaat buatku dan anak-anak, kami menjadi dekat, saling mendukung, berdoa bersama, belajar giat, dan memiliki semangat untuk berprestasi dilandasi kejujuran. Bila ada orangtua yang stres karena UAN … cobalah temukan sisi positifnya. Aku dan anak-anak bisa tertawa riang bila berhasil mengerjakan sebuah soal yang menurut kami cukup sulit. Kami juga mengalami hal-hal lucu ketika tak mampu menemukan jawaban yang tepat lalu balapan mencari di buku atau searching di internet. Ah … to be positive and always happy ^_^

Hasil akhir bertawakal kepada Allah SWT, toh kami sudah berusaha berikhtiar dengan keras berdoa dengan ikhlas.

anakku adalah manusia unik nan menarik

Standar

Ya … Benar! Anakku bukan robot. Aku setuju dengan pernyataan Azim Premji seorang ahli teknologi informasi dari India, sebab utama adalah anakku bukan robot dengan remote yang tergenggam di tanganku sebagai orangtuanya. Anakku adalah manusia ciptaan Illahi Rabbi Yang Maha Sempurna. Manusia unik, spesifik, menarik, dan berkapasitas penuh sebagai khalifah fil ard.

Seorang ibu dari siswa TK Mamba’ul Ula tempat Kindi belajar bercerita ada temannya mengeluh karena anakknya sekarang menjadi pembangkang. Tak mau menurut apa yang diperintahkan orangtuanya. Kemarin temanku di kampus CIC mengajak berdiskusi tentang sekolah yang terbaik untuk anaknya (he3 … anaknya baru berumur 2,5 tahun). Sore hari ketika bersilaturahim di sekolah Rusydi IBS SMA Insan Cendikia, walikelasnya bertanya bagaimana keseharian anakku di rumah. Oya … dua minggu lalu, ketua WOTK kelas Hanif di SD Islam PB. Soedirman ‘curhat’ tentang kesibukannya menemani anak semata wayangnya mengikuti rangkaian tes di sebuah RSBI di Jakarta.

Ya … begitulah keseharian orangtua, khususnya para ibu dalam menjalani pendampingan proses belajar mengajar anak-anaknya. Ijinkan aku (seorang Ibu dari tiga orang anak) menghadirkan pemikiran dari ‘Bill Gates Muslim dari’ India : Azim Premji.

“Jika anda orangtua, saya kira anda memiliki banyak aspirasi untuk anak anda. Anda – ingin dia menjadi seorang dokter, insinyur, ulama, ilmuwan, pengacara, dosen, arsitek, banker, atau profesional sukses lainnya. Saya yakin aspirasi ini didorong oleh pemikiran anda tentang masa depan anak anda dan kedudukan pentingnya di dalam kehidupan anda Namun, menurut saya aspirasi dan tindakan ini akan lebih menimbulkan keburukan daripada kebaikan terhadap anak anda.”

Anak-anakku Rusydi, Hanif, dan Kindi tidak sepatutnya dinilai keberhasilannya hanya semata dari ukuran eksternal seperti ujian sekolah atau ujian nasional. Sebab, anak-anak yang sangat terfokus pada ujian mulai melupakan artinya menjadi seorang anak / remaja yang penuh rasa ingin tahu, suka menjelajah, sesekali jatuh, lalu bangun lagi,melompat bahkan terjun di kolam berair jernih untuk kemudian berenang penuh semangat hingga di sisi lain. Mereka  bergaul dengan teman sebaya, tertawa gembira dan tersenyum simpul, bermain sambil belajar berbagai hal. Masa kanak-kanak dan remaja yang terlalu berharga, bila disia-siakan dengan tekanan-tekanan (serupa aliran listrik, tombol mekanik, dan gabungan beragam instruksi ‘manual book’) artifisial berupa persaingan tak terkendali, jam belajar text book yang panjang, dan buku rapor / kertas ijazah yang membungkus seluruh kemanusiaannya dalam angka-angka.

Mungkin pemikiranku ini tak begitu sejalan dengan pandangan umum.

Aku membayangkan dan terus ingin mendiskusikannya kemudian berupaya bersama mencapai gagasan besar ini bersama para guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan di sekolah tempat anak-anakku belajar. Aku membayangkan sekolah yang melihat anak-anak sebagai benih yang perlu di rawat – di sini sang guru adalah juru kebun yang membantu mengeluarkan potensi yang sudah ada di dalam sang anak. Penyelenggara / manajemen adalah lahan subur yang memberikan tanah terbaiknya baik keberlangsungan tumbuh kembang benih-benih unggul tersebut.

Anak bukanlah lempung yang bisa dibentuk -yaitu guru dan orangtua sebagai pembuat tembikar yang memutuskan bentuk apa yang harus dihasilkan lempung itu.

Saat ini hingga nanti, aku bertekad memberikan anak-anak kebebasan untuk menjelajahi kehidupan dengan sungguh-sungguh. Penjelajah tentu perlu bekal bukan ? Sebagai orangtua, tugasku adalah membekali mereka nilai-nilai (terutama agama) yang kuat, memberikan peta dan kompas (berupa teladan akhlakul karimah : kejujuran, integritas, amanah, semangat belajar, dan kerja keras), juga terus melantunkan doa-doa terbaik sebagai pengiring perjalanan mereka yang oleh Tuhan Pemilik Hidup akan dihembuskan merasuk ke dalam pikiran, qalbu, dan terwujud dalam tindakan.

1334111219147082578

Maryam Aliyya Al Kindi : “Ayo Nak … melompatlah ke masa depan! Raih cita-citamu, warnai dunia dengan karya terbaikmu.”

1334111401242254827

Muhammad Hafizh Haidar Hanif : “Ayo Nak … Berani hadapi tantangan kehidupan. Jadikan kreatifitas dan sensitifitasmu sebagai modal keberhasilan membangun dunia yang damai dan sejahtera.”

13341116251159232125

Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi : “Ayo Nak … jelajahi kehidupanmu dengan sungguh-sungguh. Jejak hidupmu berupa gagasan besar bagi kemanusiaan yang lebih bermartabat, lebih adil, lebih mashlahat akan selalu dikenang.”

isi liburan anak dengan silaturahim

Standar

Kecerdasan sosial (SQ)  pada diri anak-anak yang tinggal di kota besar cenderung rendah. Hal ini terbukti dari nilai / skor kecerdasan majemuk ketiga anak saya. Tentu hal ini bukan berita buruk, tapi sebuah trigger / pemicu semangat bagiku untuk bersama-sama meningkatkan kecerdasan sosial.

Program kami adalah memperbanyak silaturahim, berkunjung ke tempat yang membutuhkan komunikasi antarpersonal. Seperti mengunjungi rumah keluarga atau sahabat. Bila ada undangan resepsi pernikahan, kepindahan rumah, aqiqah,  atau undangan syukuran umroh / haji dan ulangtahun kami sempatkan datang. Orangtua memberi teladan dengan berusaha terlebih dahulu memberikan senyum, menyapa / memebri salam, berjabat tangan (bila dengan keluarga berpelukan), lalu kami mengobrol. Biasanya bila bertemu orang yang baru saja dikenal mereka cenderung malu-malu, bahkan anak bungsuku seringkali tak mau menyambut tangan orang yang mengajaknya bersalaman.

Pengalaman heboh sering terjadi, mereka resah dan gelisah, lalu rewel, atau marah minta segera pulang. Namun, lama kelamaan sejalan makin intensif program ini berjalan, Alhamdulillah mereka makin enjoy bila di ajak bersilaturahim.

Agar suasana lebih sesuai dengan usia mereka, aku sempatkan berkumpul bersama sepupu saat liburan sekolah. Senang sekali mereka bila diajak berjalan-jalan mengunjungi tempat wisata. Sepanjang perjalanan mereka bisa bercanda dan saling bertukar cerita. Cerita lucu mengalir deras, tawa ceria pun terdengar tiada henti. Aku pikir satu-dua digit nilai / skor SQ mereka pasti meningkat.

13348215911373962062

(Foto 1 : Anak pertama dan keduaku menikmati asyiknya bersilaturahim bersama sepupu saat liburan. Naik VW keluaran tahun 79 kelilingkota Solo)

 

(2) Bersiap menuju Solo bersama saudara sepupu saat liburan sekolah.

(3) Menikmati kabut di Tawangmangu sambil berkuda bersama sepupu.

(4) Mengunjungi gedung pertemuan Linggarjati di Kuningan bersama sepupu.

Bersosialisasi dengan berbagai strata sosial juga diperlukan. Kebetulan di rumah, asisten ku satu orang memiliki cucu sebaya anak bungsuku. Ia sering di ajak neneknya ke rumah pada hari minggu dan bermain bersama anakku. Bermain masak-masakan, mewarnai, atau bersepeda di halaman rumah. Asisten ku yang lain masih punya bayi berumur satu tahun (selalu di ajak ibunya ke rumahku saat bekerja). Nah … bayi lucu ini pun menjadi teman bermain yang menyenangkan selepas pulang sekolah. Aku berharap mereka tak membedakan teman berdasarkan latar belakang sosial keluarganya.