anakku adalah manusia unik nan menarik

Standar

Ya … Benar! Anakku bukan robot. Aku setuju dengan pernyataan Azim Premji seorang ahli teknologi informasi dari India, sebab utama adalah anakku bukan robot dengan remote yang tergenggam di tanganku sebagai orangtuanya. Anakku adalah manusia ciptaan Illahi Rabbi Yang Maha Sempurna. Manusia unik, spesifik, menarik, dan berkapasitas penuh sebagai khalifah fil ard.

Seorang ibu dari siswa TK Mamba’ul Ula tempat Kindi belajar bercerita ada temannya mengeluh karena anakknya sekarang menjadi pembangkang. Tak mau menurut apa yang diperintahkan orangtuanya. Kemarin temanku di kampus CIC mengajak berdiskusi tentang sekolah yang terbaik untuk anaknya (he3 … anaknya baru berumur 2,5 tahun). Sore hari ketika bersilaturahim di sekolah Rusydi IBS SMA Insan Cendikia, walikelasnya bertanya bagaimana keseharian anakku di rumah. Oya … dua minggu lalu, ketua WOTK kelas Hanif di SD Islam PB. Soedirman ‘curhat’ tentang kesibukannya menemani anak semata wayangnya mengikuti rangkaian tes di sebuah RSBI di Jakarta.

Ya … begitulah keseharian orangtua, khususnya para ibu dalam menjalani pendampingan proses belajar mengajar anak-anaknya. Ijinkan aku (seorang Ibu dari tiga orang anak) menghadirkan pemikiran dari ‘Bill Gates Muslim dari’ India : Azim Premji.

“Jika anda orangtua, saya kira anda memiliki banyak aspirasi untuk anak anda. Anda – ingin dia menjadi seorang dokter, insinyur, ulama, ilmuwan, pengacara, dosen, arsitek, banker, atau profesional sukses lainnya. Saya yakin aspirasi ini didorong oleh pemikiran anda tentang masa depan anak anda dan kedudukan pentingnya di dalam kehidupan anda Namun, menurut saya aspirasi dan tindakan ini akan lebih menimbulkan keburukan daripada kebaikan terhadap anak anda.”

Anak-anakku Rusydi, Hanif, dan Kindi tidak sepatutnya dinilai keberhasilannya hanya semata dari ukuran eksternal seperti ujian sekolah atau ujian nasional. Sebab, anak-anak yang sangat terfokus pada ujian mulai melupakan artinya menjadi seorang anak / remaja yang penuh rasa ingin tahu, suka menjelajah, sesekali jatuh, lalu bangun lagi,melompat bahkan terjun di kolam berair jernih untuk kemudian berenang penuh semangat hingga di sisi lain. Mereka  bergaul dengan teman sebaya, tertawa gembira dan tersenyum simpul, bermain sambil belajar berbagai hal. Masa kanak-kanak dan remaja yang terlalu berharga, bila disia-siakan dengan tekanan-tekanan (serupa aliran listrik, tombol mekanik, dan gabungan beragam instruksi ‘manual book’) artifisial berupa persaingan tak terkendali, jam belajar text book yang panjang, dan buku rapor / kertas ijazah yang membungkus seluruh kemanusiaannya dalam angka-angka.

Mungkin pemikiranku ini tak begitu sejalan dengan pandangan umum.

Aku membayangkan dan terus ingin mendiskusikannya kemudian berupaya bersama mencapai gagasan besar ini bersama para guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan di sekolah tempat anak-anakku belajar. Aku membayangkan sekolah yang melihat anak-anak sebagai benih yang perlu di rawat – di sini sang guru adalah juru kebun yang membantu mengeluarkan potensi yang sudah ada di dalam sang anak. Penyelenggara / manajemen adalah lahan subur yang memberikan tanah terbaiknya baik keberlangsungan tumbuh kembang benih-benih unggul tersebut.

Anak bukanlah lempung yang bisa dibentuk -yaitu guru dan orangtua sebagai pembuat tembikar yang memutuskan bentuk apa yang harus dihasilkan lempung itu.

Saat ini hingga nanti, aku bertekad memberikan anak-anak kebebasan untuk menjelajahi kehidupan dengan sungguh-sungguh. Penjelajah tentu perlu bekal bukan ? Sebagai orangtua, tugasku adalah membekali mereka nilai-nilai (terutama agama) yang kuat, memberikan peta dan kompas (berupa teladan akhlakul karimah : kejujuran, integritas, amanah, semangat belajar, dan kerja keras), juga terus melantunkan doa-doa terbaik sebagai pengiring perjalanan mereka yang oleh Tuhan Pemilik Hidup akan dihembuskan merasuk ke dalam pikiran, qalbu, dan terwujud dalam tindakan.

1334111219147082578

Maryam Aliyya Al Kindi : “Ayo Nak … melompatlah ke masa depan! Raih cita-citamu, warnai dunia dengan karya terbaikmu.”

1334111401242254827

Muhammad Hafizh Haidar Hanif : “Ayo Nak … Berani hadapi tantangan kehidupan. Jadikan kreatifitas dan sensitifitasmu sebagai modal keberhasilan membangun dunia yang damai dan sejahtera.”

13341116251159232125

Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi : “Ayo Nak … jelajahi kehidupanmu dengan sungguh-sungguh. Jejak hidupmu berupa gagasan besar bagi kemanusiaan yang lebih bermartabat, lebih adil, lebih mashlahat akan selalu dikenang.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s