di bandung ada 4 in 1

Standar

Kemarin, Selasa 5 Februari 2013 di sebuah radio swasta di Kota Bandung menyiarkan berita sekilas info tentang biaya pemilihan gubernur Jawa Barat sebesar 790 milyar rupiah. Aku yang sedang menyetir mobil dari arah exit tol pasteur menuju jalan ganesha melewati jembatan pasopati, sempat mengernyitkan kening. Mmm … besar sekali ya biaya sebuah perlehatan pemilu di tingkat provinsi! Sebagai rakyat biasa yang rekening tabunganpun tak pernah menembus lebih dari sembilan digit, tak luput heran untuk apa saja alokasi dana sebesar itu ?

Rasanya hari kemarin memang membuat hati ini gundah. Masih terbayang sebuah rambu lalu lintas bercat dasar biru dengan tulisan putin di pasang selepas loket pembayaran tol pasteur. Setelah membayar Rp. 40ribu lebih untuk rute jakarta-bandung, mobil yang kukendarai terjebak macet. Jadilah jepret!4in1 untuk jalan pasteur di hari sabtu pada pukul 09.00 – 13.00 WIB.

Foto: 4in1

Apakah untuk mengantisipasi macet yang kerap terjadi di kota Bandung ? Atau untuk apa ? Keluhan sahabatku yang tinggal di jalan Suryasumantri dan sejak bayi hingga empatpuluh tahun kemudian tinggal di Bandung katanya : ‘Bandung sudah tidak nyaman lagi untuk dihuni oleh orang Bandung asli seperti aku. Sudah tidak dingin, alias panas. Sudah tidak asyik, alias macet dimana-mana. Sudah tidak asli, alias pendatang makin banyak. Riweuh …’

Jadi slogan yang terpampang di papan besar yang melintang di atas exit tol pasteur itu cuma sekedar omong kosong ? Bersih, makmur, taat, bersahabat atau seperti curahan hati temanku yang satu lagi, Bandung kota tak beradab hiiiksss … Temanku ini menilai Bandung kotor karena ada banyak sampah menumpuk di berbagai sudut kota pun di pinggir trotoar. Tak bisa dikatakan makmur karena masih begitu banyak pemukiman kumuh yang tak tertata, tanpa sanitasi yang baik, tak ada ruang hijau. Wuih … taat jauh ke laut (ha3 … Bandung kan tidak punya laut). Daerah konservasi saja seperti puncrut, dago pakar, dan daerah gunung manglayang habis terkikis untuk berbagai proyek pembangunan yang tak berwawasan lingkungan sama sekali. Taat-nya itu ada dimana ? Ketika Bandung dimana-mana banjir, daerah resapan air menghilang, drainase kota tak dibangun, tata ruang kota semrawut, bahkan di depan kantor gubernur (alun-alun gasibu hingga tugu pahlawan) saja begitu kotornya dengan sampah para pedagang kaki lima dan pengunjungnya di hari minggu.

Jadi, 790 milyar rupiah untuk pemilihan gubernur Jawa Barat itu akankah bermanfaat bagi kebaikan masyarakat ? Oya … Kota Bandung juga akan melakukan pemilihan walikotanya. Bagaimana kelak pemimpin kota paris van java ini akan berkiprah ? Sesuaikah dengan jumlah dana yang telah dikeluarkan rakyat ? Ingat ya! Itu uang rakyat … Bukan uang pejabat, jadi tolong berpikirlah dengan cermat untuk memilih pemimpin yang berpihak kepada rakyat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s