isi liburan anak dengan silaturahim

Standar

Kecerdasan sosial (SQ)  pada diri anak-anak yang tinggal di kota besar cenderung rendah. Hal ini terbukti dari nilai / skor kecerdasan majemuk ketiga anak saya. Tentu hal ini bukan berita buruk, tapi sebuah trigger / pemicu semangat bagiku untuk bersama-sama meningkatkan kecerdasan sosial.

Program kami adalah memperbanyak silaturahim, berkunjung ke tempat yang membutuhkan komunikasi antarpersonal. Seperti mengunjungi rumah keluarga atau sahabat. Bila ada undangan resepsi pernikahan, kepindahan rumah, aqiqah,  atau undangan syukuran umroh / haji dan ulangtahun kami sempatkan datang. Orangtua memberi teladan dengan berusaha terlebih dahulu memberikan senyum, menyapa / memebri salam, berjabat tangan (bila dengan keluarga berpelukan), lalu kami mengobrol. Biasanya bila bertemu orang yang baru saja dikenal mereka cenderung malu-malu, bahkan anak bungsuku seringkali tak mau menyambut tangan orang yang mengajaknya bersalaman.

Pengalaman heboh sering terjadi, mereka resah dan gelisah, lalu rewel, atau marah minta segera pulang. Namun, lama kelamaan sejalan makin intensif program ini berjalan, Alhamdulillah mereka makin enjoy bila di ajak bersilaturahim.

Agar suasana lebih sesuai dengan usia mereka, aku sempatkan berkumpul bersama sepupu saat liburan sekolah. Senang sekali mereka bila diajak berjalan-jalan mengunjungi tempat wisata. Sepanjang perjalanan mereka bisa bercanda dan saling bertukar cerita. Cerita lucu mengalir deras, tawa ceria pun terdengar tiada henti. Aku pikir satu-dua digit nilai / skor SQ mereka pasti meningkat.

13348215911373962062

(Foto 1 : Anak pertama dan keduaku menikmati asyiknya bersilaturahim bersama sepupu saat liburan. Naik VW keluaran tahun 79 kelilingkota Solo)

 

(2) Bersiap menuju Solo bersama saudara sepupu saat liburan sekolah.

(3) Menikmati kabut di Tawangmangu sambil berkuda bersama sepupu.

(4) Mengunjungi gedung pertemuan Linggarjati di Kuningan bersama sepupu.

Bersosialisasi dengan berbagai strata sosial juga diperlukan. Kebetulan di rumah, asisten ku satu orang memiliki cucu sebaya anak bungsuku. Ia sering di ajak neneknya ke rumah pada hari minggu dan bermain bersama anakku. Bermain masak-masakan, mewarnai, atau bersepeda di halaman rumah. Asisten ku yang lain masih punya bayi berumur satu tahun (selalu di ajak ibunya ke rumahku saat bekerja). Nah … bayi lucu ini pun menjadi teman bermain yang menyenangkan selepas pulang sekolah. Aku berharap mereka tak membedakan teman berdasarkan latar belakang sosial keluarganya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s