jemput maut dengan gonceng anak tanpa helm

Standar

Sahabat ku kang Dadang Kadarusman menulis di status FB-nya :

‘Ibu-Ibu, please jangan membonceng anak-anak yang masih kecil di jok belakang sepeda motor Anda di jalan raya. Kaki mereka belum bisa berpijak di penyangga, dan tangan mereka belum dapat melingkar di pinggang Anda. Apa lagi anak lainnya Ibu gendong didepan. Bertiga, pada nggak pakai helm pula. Bu, kami yang melihatnya ngeri sendiri. Meski Ibu tertawa sekarang. Tapi kalau terjadi sesuatu dijalan dengan anak-anak Anda, Ibu tidak akan bisa menerima resikonya. Please ya Bu, jangan lakukan itu pada anak-anak Anda…..’

pasti jawaban mereka : sudah biasa dan gak pa pa kok… salah satu penyebab utama kecelakaan adalah menyepelekan hal-hal kecil yang bisa menimbulkan kecelakaan (komen eko sulistyono)

Boleh saja membonceng anak” di sepeda motor, tetapi pengaman dipakai. Kan skrg ada yg namanya seatbelt u/ anak”, jadi dipakai spt gendongan anak dan diikatkan ke ortu yg nyetir sepeda motor, jangan lupa pakai helm yg sesuai u/ anak dan yg penting, jangan mengebut atau membawa sepeda motor dng kecepatan tinggi. Wass (komen rio ariansyah)

Membaca status FB itu saya teringat beberapa kali melihat orangtua membonceng balitanya (pakai sepeda motor) tanpa helm. Pernah suatu siang saat kembali dari menjemput anak bungsuku ada balita terlihat mengantuk dan duduk agak miring diboncengan ibunya (sekali lagi tanpa helm!). Jantungku sampai berdegup kencang, apalagi posisi sepeda motor itu tepat di depan mobil yang kukendarai. Mau tak mau klakson ku bunyikan … agar balita itu terbangun dan orangtuanya sadar kalau pegangan balitanya mulai melemah karena mengantuk.

Teman sekolah anakku sebagian besar juga diantar orangtuanya naik sepeda motor. Sebagian kecil saja yang dipakaikan helm. Miris melihat fenomena seperti ini. Masih agak tak membuat berdebar jantung, kalau si anak diapit pengantarnya duduk di tengah. Lebih parah lagi kalau satu sepeda motor dipakai untuk menggonceng 3 anak : satu di depan, dua di belakang, dan semuanya tanpa helm.

Sesekali akupun mengantar anak bungsuku naik sepeda motor : persiapan lebih ‘ribet’ ketimbang naik mobil. Helm anak standar SNI, jaket dan masker aku kenakan sebagai usaha maksimal keselamatan. Akupun duduk dibangku belakang mengapit anakku (tentu dengan lengkap memakai helm). Suamiku yang mengendarai sepeda motor pasti mendengar aba-abaku : ‘Pa … jalannya hati-hati ya … pelan-pelan aja … ndak usah terburu-buru, masih lama kok jam masuknya…’

Ibu – bapak sahabat kompasianer yang baik … bagaimana pengalaman membonceng anak naik sepeda motor ? Pakai helm-kah ? Kalau tidak … Tega amat ya … !


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s