mengapa anakku memilih ‘boarding school’ ?

Standar

Pertengahan bulan Juli tahun ajaran 2012/2013 adalah awal anak keduaku (Muhammad Hafizd Haidar Hanif) memasuki boarding shool ‘SMP IT Al Binaa’. Di pelataran parkir  tampak berjejer mobil pengantar dengan pemandangan khas satu santri diantar ’sabondoroyot’ seisi rumah : ada ayah-ibu-adik-kakak-bahkan kakek-nenek pun ada yang ikut mengantar he3 … ramai sekali suasana pagi itu. Mas hanya berdua saja dengan ibunya. Hari yang sama … Anak sulungku (Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi) diantar ayahnya kembali ke boarding shool ‘SMA Islam Insan Cendikia’ di Cirebon. Karena tahun lalu aku yang mengantar Kaka di hari pertamanya, sekarang gantian aku yang mengantar Hanif di hari pertamanya.

Beberapa teman bertanya : ‘Mba Dewi kenapa anak-anaknya masuk boarding ? Bukankah nilai UN-nya bagus dan pasti diterima di sekolah negeri favorit di Jakarta!’  Pertanyaan lain : ‘Bisa tega dan apa ndak kangen Mba ?’ Atau ada yang iseng memberi komentar : ‘Wah … Ibu Bapaknya sudah gak mau repot ngurus lagi tuh …’

Kenapa ya ??? Sepertinya memang belum menjadi pilihan umum mem-boarding-kan anak. Terus terang aku jadi teringat buku bacaan favorit ketika SD dan SMP, yaitu seri Lima Sekawan karya Enid Blyton. Tokoh dalam novel itu diceritakan sekolah berasrama. Dan saat liburan … mereka berpetualang, asyik sekali! Dan pilihan sekolah berasrama bukan semata pilihanku sebagai orangtua : namun Rusydi dan Hanif memilihnya sendiri dengan senang hati.

Saat kelas 6 SD, aku bertanya kepada Mas apakah dia akan memilih SMP biasa atau boarding ? Supraise … Mas memilih ingin boarding. Kutanya lebih jauh, mengapa Mas pilih boarding ? Dia bilang ingin mandiri dan konsentrasi belajar, Jakarta ruwet Bu! Kalau di boarding kan ke sekolah tinggal jalan kaki, udaranya segar, nyaman … Lagi pula setiap minggu masih bisa ketemu Ibu dan Bapak. Ada jadwal kunjungan. He3 … aku tersenyum dan mengucek rambutnya yang mulai sedikit gondrong.

Pengalaman suka-duka mem-boarding-kan anak tentu aku alami juga. Saat mereka pulang liburan terasa hati ini deg-deg-an tak sabar menanti. Oh … begini ya rasanya jadi orangtua yang menanti anaknya mudik … he3.  Rumah dibersihkan, kamar dirapikan, kulkas diisi makanan kesukaan, masakan istimewa disiapkan, dan sederet acara ‘hangout’ direncanakan. Ketika mereka datang … bahagia rasanya tak terperikan. Walau sudah jangkung melebihi ayahnya (apalagi ibunya yang imut … hi3 …) tetap saja kupeluk hangat mereka.

Sepi … Iya benar sekali … pagi hari rumah yang biasanya hiruk pikuk dengan persiapan sekolah, sarapan, dan prosesi keberangkatan tak ada lagi. Meja makan di siang haripun lenggang, kadang ini membuatku tak bernafsu menyantap hidangan. Malam menjadi lebih sunyi : tak ada yang memanggilku untuk menemani belajar atau sekedar membaca buku ceritabersama. Sebagai gantinya, dipenghujung malam di atas hamparan sajadah, kupanjatkan doa-doa terbaik untuk mereka.

Aku juga tahu dan merasakan Kaka dan Mas pasti kangen kepada ibu, bapak, teteh dan rumah. Namun … sungguh aku terharu dan merasa sangat bersyukur … Saat kutanyakan hal ini kepada mereka (dalam sesi curhat he3 …) ternyata mereka bilang : ‘Pastilah kangen … Kan aku sayang ibu. Kalau kangen aku berdoa saja … Trus kangennya bisa berkurang. Nah … kalau ditengokin kaya gini … impas deh!

13475153031975076036

Foto satu : Mas tersenyum ketika bercerita dirinya terpilih menjadi ketua kelas

Kali lain saat menjenguk mereka (selalu ada sesi curhat loh …) ku tanyakan :  apakah Kaka dan Mas senang tinggal di sekolah berasrama ? Alhamdulillah … mereka betah. Adaptasi kehidupan berasrama juga dapat dilalui dengan baik. Ya … sangat dimaklumi bahwa ada juga pernik-pernik seperti telat bangun, telat datang ke masjid, pelajaran yang tidak disukai, makanan yang tak sesuai selera, berebut kamar mandi, teman yang iseng, dan sebagainya. Sebagai orangtua,  aku bahagia bila mereka juga bahagia. Bahagiaku bertambah ketika senyum tersungging di wajah Kaka dan Mas menyambut kedatanganku. Ya … Waktu kunjungan orangtua adalah waktu yang ditunggu-tunggu.  ‘I’m coming my son’s … I miss you so much …’

13475140931967554041

Foto dua : Kaka tersenyum ketika dihadiahi buku astronomi sebagai persiapan mengikuti OSN tahun ini.

Intinya, aku berharap Kaka dan Mas bersemangat mengejar ilmu dan belajar untuk mengembangkannya, serta berprestasi sesuai kemampuan dan bakat yang dimilikinya. Penting bagi ku juga bagi Kaka dan Mas, bahwa belajar adalah suatu kebutuhan dan harus dijalankan dengan rasa bahagia. Belajar sesungguhnya harus dilakukan dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Jadi, sekiranya aku belum mampu memberi sekolah terbaik untuk Kaka dan Mas bukan berarti tak bisa belajar menjadi yang terbaik, bukan ?

Menurutku pendidikan juga bukan sekedar proses transformasi ilmu dan teknologi saja. Pendidikan adalah sebuah proses pengembangan dan pembinaan manusia agar memiliki integritas iman, ilmu, dan amal. Aku berharap anak-anak kelak memiliki aqidah yang benar dan berakhlakul karimah. Mereka juga memiliki semangat keilmuan dan keislaman yang tinggi, ikhlas, qona’ah (sederhana / bersahaja) dan berkreatifitas tinggi, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian dalam menghadapi dan menjawab tantangan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s