pelatihan penelitian partisipatoris di desa cigugur kuningan

Standar

Pertanyaan pembuka yang menggelitik dan juga ampuh sebagai pendekatan komunikasi antara peneliti lapangan dengan warga. Pengalaman nyata ini dialami oleh seorang dosen ISIF (Institut Studi Islam Fahmina) Cirebon yang sedang menjalani tugas sebagai peserta Short Course Partisipatory Action Research (SC PAR) 2012 di Desa Cigugur – Kuningan Jawa Barat. Sarip, SH membuka dialog akrab dengan warga yang menjadi target penelitian memang membutuhkan skill comunication yang khas, unik, dan membumi. Tugas field work untuk mendapatkan data yang diingkan bukanlah sesuatu yang mudah.

1348465524378176972

Foto satu : Fasilitator SC PAR Mahrus El-Mawa, MA dari ISIF Cirebon dan Koordinator fasilitator Ahmad Mahmudi dari Insist Yogyakarta

Demikian juga pengalaman seorang dosen STAIN Samarinda Kalimantan Timur yang mencoba berbagai pendekatan komunikasi agar dapat berakrab-ria dengan warga. Inayah, MA berusaha menguasai beberapa kosa kata bahasa sunda seperti ‘kumaha damang ?’ ’sumuhun’, ‘parantos’ ‘hatur nuhun’, ‘mangga’ sebagai perekat komunikasi. Lain dengan Sarip, SH yang harus ikut terjun ke sawahpun dilakoninya agar bisa berbincang dengan petani tentang permasalahan pengairan di desanya.

1348465720907865077

Foto dua : Inayah, MA (tengah) dan peserta SC PAR 2012 tengah mempersiapkan presentasi hasil field work

1348465964657984314

Foto tiga : Penulis sedang meninjau kegiatan di temani panitia Farida Mahri, Asih Widiyowati, Alifatul Arifiati, dan Alimah.

‘Ini bukan soal buku, ini soal lapangan’, tutur Ahmad Mahmudi berulang kali. Peneliti senior di Insist Yogyakarta yang menemani 25 peserta pelatihan dari PTAI seluruh Indonesia. Hal mendasar yang membedakan penelitian positivistic dengan PAR adalah seorang peneliti harus menggunakan semua inderanya dan life in (hidup bersama warga) di lingkungan yang sedang ditelitinya. Buku digunakan sebagai rerefensi pembanding : sedangkan teori yang sebenarnya adalah praktik / kenyataan yang terjadi di lapangan.

Sekilas  Desa Cigugur – Kuningan

Penulis, Dewi Laily Purnamasari berkesempatan menjadi peninjau kegiatan SC PAR 2012 di sebuah desa di kaki gunung Ciremai. Pusat kegiatan berlangsung di Paseban Tri Panca Tunggal yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Lokasi yang asri, nyaman, sejuk, segar, dan tenang membuat saya juga para peserta betah dan tak bosan mengikuti beragam kegiatan yang padat. Peserta yang berjumlah 25 orang tinggal di rumah-rumah warga. Selama 2,5 bulan mereka melakukan berbagai aktifitas terkait PAR.

1348465687737774863

Foto empat : Suasana cottage di tepi situ Paseban

1348465865862635797

Foto lima : Pemandangan indah memberi nuansa tersendiri terutama semangat bagi peserta juga panitia

13484660051849344688

Foto enam : Pintu utama Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur – Kuningan yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional

13484660631501681495

Foto tujuh : Kolam teratai yang dihiasi ornamen cantik di dalamnya terdapat ikan kancra hideung (ikan mas hitam) yang serupa dengan ikan di balong Cigugur, balong dalem Jalaksana, balong Cibulan, balong Linggarjati (semuanya kolam alam di kaki gunung Ciremai)

13484661521903030955

Foto delapan : Lelamah atau aula besar tempat peserta dan panitia berkumpul berbagi hasil temuan lapangan

Desa Cigugur – Kuningan adalah contoh nyata penerapan kerukunan beragama dalam kehidupan bermasyarakat, sejak jaman awal Indonesia merdeka. Hal ini diungkapkan oleh Hj. Tuti Sulastri, SH. MH dosen di Unswagati Cirebon yang juga cucu dari Kuwu Cigugur Bapak Rongkah Sastrasasmita. Lekat dalam ingatannya betapa rukun dan damai kehidupan di desa Cigugur saat ia kanak-kanak (sekitar 60 tahun yang lalu). Warga beragama Islam bertetangga dengan warga beragama Kristen juga warga penganut kepercayaan berdampingan saling bahu membahu dan tolong menolong. Bila ada salah seorang warga mendirikan rumah, maka gotong royong dilaksanakan tanpa melihat agama. Persaudaraan tetap terjaga, terutama saat ada warga yang terkena musibah seperti kematian. Terbukti, di pemakaman warga dekat Balai Desa tidak ada pemisah antara makam Islam dan Kristen.

Hal senada diungkapkan oleh Rama Pangeran Djatikusumah cucu dari Pangeran Madrais yang sekarang menjadi Pengurus Cagar Budaya Nasional mengatakan bahwa warga Cigugur adalah teladan kebhinekaan di Indonesia. Pesannya, ‘Janganlah usik kerukunan kami di sini … Kami telah merasakan damainya hidup berdampingan tanpa ada gesekan akibat perbedaan agama dan kepercayaan.’

Sekilas : Apa Itu Partisipasi ?

Pendekatan pembangunan partisipatoris harus mulai dengan orang-orang yang paling mengetahui tentang sistem kehidupan mereka sendiri. Pendekatan ini harus menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, dan memberikan sarana yang perlu bagi mereka supaya dapat mengembangkan diri. Ini memerlukan perombakan dalam seluruh praktik dan pemikiran, di samping bantuan pembangunan. Ringkasnya diperlukan suatu paradigma baru. (J. Pretty dan Guijt, 1992 : 23)

NB : lanjutan pembahasan tentang SC PAR akan ditulis dalam judul … ‘Jangan Usik Kerukunan di Desa Cigugur’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s