peraih nilai un matematika 10 : muhammad hafizh haidar hanif

Standar

Muhammad Hafizh Haidar Hanif meraih nilai UN 10 untuk mata pelajarn matematika pada tahun ajaran 2011/2012. Nilai IPA 9,5 dan nilai bahasa Indonesia 9,2. Selamat ya Nak … Hanif mendapat hadiah piagam dari Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman Jakarta yang ditandatangani oleh Ketua Badan Pembina Bapak Let.Jend. YNI (Purn) H. KRMH. Soerjo Wirjohadipoetro dan Ketua Pengurus Harian Yayasan May.Jend. TNI (Purn) H. Chalid Karim Leo, SH,M.Sc.M.Pd.MM.  Tak lupa hadiah uang tunai sebesar Rp. 250.000,- yang diserahkan oleh kepala sekolah SD Islam PB. Soedirman Bapak Ramdoni, M.Pd.

13473286401022848037

Hanif dan piagam penghargaan dari Yayasan dan hadiah dari Kepala Sekolah

Prestasi ini diraih oleh Hanif berkat kerja cerdas dan belajar keras serta semangat yang tinggi dengan tetap bergembira. Tanpa melupakan masa bermain sebagai anak-anak, berolahraga renang dan karate, juga membaca buku dan komik kesukaannya, Hanif mampu membagi waktu untuk serius belajar mempersiapkan ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Orangtuanya Ir.Hj. Dewi Laily Purnamasari, MM dan Ir. H. Rachmad Aziz Mucharom, MM mengatakan bahwa Hanif sangat mandiri menjalani hari-hari sekolahnya. Bahkan ketika ibunda harus dinas keluar kotapun, Hanif tetap bangun pagi sendiri, shalat subuh, mempersiapkan buku, dan berangkat sekolah sendiri (Hanif pergi dan pulang sekolah naik angkot loh…).

Sebagai orangtua tentu sangat bersyukur dan bangga atas prestasi dan hasil belajar Hanif selama menempuh pendidikan di SD. Lebih membanggakan lagi karena Hanif memperoleh nilai tersebut dengan menjunjung tinggi kejujuran. Hanif mengerjakan soal secara mandiri dan penuh percaya diri. Tak sedikitpun terbersit keinginan berlaku curang alias mencontek. Pesan kejujuran ini selalu aku sampaikan terus menerus seiring kerja cerdas dan ikhtiar kerasnya mempersiapkan diri agar dapat menyelesaikan pendidikan di SD dengan baik.

1347271595671980238

Hanif sang ketua kelas 7 di SMP IT Al Binaa Boarding School

Kini Hanif bersekolah di SMP IT Al Binaa Boarding School atas pilihannya sendiri. Sewaktu ada yang bertanya : ‘Mengapa Hanif memilih sekolah berasrama ?’ Dia menjawab : ‘Aku ingin lebih mandiri dan bebas dari kemacetan jakarta he3 …’ jawabnya sambil tertawa. Di sekolah barunya, Hanif dipercaya menjadi ketua kelas. Oya … sewaktu ada jadwal kunjungan orangtua, Hanif bercerita bahwa dia mengikuti kegiatan ekstrakulikuler tekwondo dan seni kaligrafi. Terlihat dia menyukai dan merasa gembira bersekolah di Al Binaa dan dapat beradaptasi dengan lingkungan asrama serta teman-teman barunya.

13472726981192805787

Hanif berfoto bersama teman-teman kelas 6 SD Islam PB Soedirman sesaat sebelum perpisahan.

Sekolah tempat Hanif belajar juga ternyata tidak melulu berorientasi asal lulus UN. Beberapa pertemuan antara manajemen sekolah yang diwakili kepala sekolah bersama orangtua siswa, sangat ditekankan bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Siswa-siswi juga dibimbing agar mampu menjadi manusia cerdas yang berakhlak mulia. Berbagai program disusun agar mereka memiliki keimanan, ketaqwaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelindan tak terpisahkan. Ah … rasanya senang mendengar dan mendapatkan informasi sedemikian. Saat dibanyak tempat nilai adalah satu-satunya tujuan. Lalu kejujuran di abaikan dan dipojokkan di ruang berdebu. Kecuranganpun diambil sebagai jalan pintas agar nampak keberhasilan semu. Apakah harus begitu ?!

Tentu tidak! Kalau bisa jujur kenapa harus curang ?!

13472738881188803379

Hanif diapit dua orang sahabatnya Adli dan Zaky : walaupun berbeda SMP mereka tetap berkomunikasi terutama sewaktu libur sekolah.

Bukti nyata aku alami bersama Hanif. Alhamdulillah … berkat karunia dan kasih sayang Allah SWT terbukti bahwa prestasi adalah sebuah akibat dari sebab kerja cerdas dan ikhtiar keras. Belajar penuh semangat. Doa terus dipanjatkan. Bila nilai didapat dengan kejujuran, rasa syukur sungguh akan terpancar indah. Namun, nilai tinggipun bila didapat dengan kecurangan, rasa apakah yang akan muncul dari lubuk hati terdalam ? Malu! Entahlah … apakah masih ada rasa malu dihadapan Illahi Rabbi Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar bagi guru, orangtua dan siswa yang melakukan kecurangan ???

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s