pesan anti korupsi untuk walikota cirebon

Standar

13470787461619121556

Penulis ‘Dewi Laily Purnamasari’ di depan Balaikota Kota Wali : sesaat setelah mengikuti launching pemilukada yang akan berlangsung hari Minggu tanggal 24 Februari 2013.

Harapan penulis semoga pemimpin Kota Wali hasil pemilukada 2013 dapat mengentaskan korupsi dari tanah harapan masyarakat caruban. Korupsi telah menjadi candu yang sekali isap maka akan terus menerus melakukan praktik kotor tanpa kapok, meskipun rakyat terlantar di pinggir-pinggir jalan, di kolong-kolong jembatan, di rumah-rumah kardus, di bawah reklame, lampu merah, dan lain-lainnya. Gaung reformasi yang diharapkan mampu meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan rakyat tersapu watak kepicikan kaum elit.

Otonomi daerah sebagai upaya pemerdayaan rakyat di daerah kentir hanyalah sebuah dongeng anak-anak menjelang tidur, dan ketika rakyat terlelap dalam buaian dongeng si kancil dan buaya, badik penguasa menikam dan mencabik-cabik harapan bangsa. Sehingga banyak masyarakat yang mengalami depresi karena tidak kuat membendung limbah elit daerah yang berperilaku bak raja-raja kecil.

 

 

Ingatlah pesan masyhur Rasulullah SAW “Kerusakan suatu kaum itu diawali ketika elit yang mencuri dibiarkan, tetapi ketika sijelata mencuri dituntut ke pengadilan. Demi Allah, jika putriku Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya.” Menurut Thamrin Amal Tomagola, korupsi akan selalu terjadi pada orang-orang yang memiliki sumber daya strategis. Baik politik, ekonomi, maupun budaya. Karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan melakukan kontrol yang ketat. Pengawasan dari pihak yang independen, dengan sistem yang membuat orang merasa selalu diawasi dan bisa dibeberkan secara publik.

Pemimpin (dalam hal ini Walikota) seharusnya mewarisi akhlak Sahabat Abu Bakr ash-Shiddig ra, sang Khalifah pertama yang justru secara terang-terangan meminta kritik disuarakan dengan tegas dan lantang. Ada banyak bentuk komunikasi politik dari rakyat. Penulis merekam suara-suara rakyat selama perjalanan menemani mereka menyatakan pendapat, melukis harapan, mendemo keinginan dan melonglong tuntutan. Bersama teman-teman di Fahmina Institute Cirebon, penulis melaksanakan penelitian dan pendampingan, penguatan dan pemberdayaan berbagai komunitas. Sahabat dari komunitas pedagang kaki lima, pebecak, ibu rumah tangga, pengamen, nelayan, petani, guru, seniman, dan komunitas litnas iman memberi begitu banyak ide-ide kreatif, segar, baru, inovatif, bahkan spektakuler (kadang-kadang mengagetkan …) demi Kota Wali yang lebih baik, lebih sejahtera, lebih bersih, dan bebas dari korupsi. Ini kritik sosial terhadap pemerintah. Kritik untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan.

 

 

Ingatlah … Ayat-ayat anti korupsi telah difirmankan Allah SWT lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu. “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah 2 : 188).  “Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An Nisa 4 : 29).

Pemilukada terbilang enam bulan lagi akan dilaksanakan. Spanduk telah dibentangkan berisi ajakan untuk mensukseskan ajang pemilihan Walikota Kota Wali yang kita cintai.

134708421839925756

Penulis mengajak kepada para bakal calon Walikota Kota Wali untuk merenungkan sebuah puisi anti korupsi yang ditulis oleh Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi saat ia berusia 9 tahun (Jakarta, 5 Mei 2005). Semoga bermanfaat …

 

Mei in Memori

Ibu Bapakku bercerita tadi pagi; Waktu umurku dua tahun di bulan Mei

Muncul berbagai aksi; Menuntut reformasi

Aku sampai tak minum susu berhari-hari

Katanya : itu terjadi ; Akibat korupsi ; Tiga puluh dua tahun … ! lama sekali

Dua tahun yang lalu di bulan Mei ; Aku naik KRL ekonomi

Padat sekali ; Banyak anak tak bersekolah lagi ; Mengamen setiap hari ; Mencari sesuap nasi

Tak adakah nurani ? Hai ! orang-orang yang suka korupsi ; Jangan makan uang kami

Ganti saja makan nasi sama ikan teri ; Atau roti isi daging sapi

Itu lebih manusiawi ; Please … jangan makan uang kami

Aku berdoa selepas maghrib malam tadi

Ya Allah … selamatkan negeri kami ; Dari orang-orang yang suka korupsi ; Mereka menipu diri

Allah pasti marah sekali ; Padahal aku kan ingin Allah menyayangi

Aku janji ; Sampai mati tak akan korupsi ; Agar masa depan kami ; Lebih baik dari saat ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s