serakah pintu masuk korupsi

Standar

Tadi malam aku, Dewi Laily Purnamasari menulis status di FB seperti ini :

Renungan malam :

Wahai Pemerintah ku (yang saat ini masih ku taati), ‘please dech!’ jadikan pajak kami sebagai modal membangun pendidikan yang berkualitas. Jangan untuk studi banding alias ‘plesiran’ ke luar negeri, jangan dimakan alias ‘dirampok’ buat kekayaan pribadi, jangan juga buat program pembangunan ‘ngawur’, ‘pepesan kosong’, dan ndak berpihak pada rakyat’.

Keluarga kami bela-belain lebih sering makan tempe, tahu, sayuran daripada daging sapi impor (yang mahal). Kami beli pakaian ’made in’ Indonesia (bukan impor) agar pelaku usaha garmen tetap hidup. Transportasi umum (angkutan kota, kopaja, transjakarta, bis kota, juga pernah naik sepeda) agar hemat BBM dan mengurangi kemacetan. Lalu, kamid apat apa ? Transjakarta penuh sesak, jalanan sering banjir (walau hujan hanya sekejap), keamanan dan kenyamanan minim.

Kami tetap berniat menjadi warganegara yang baik. Tak mau korupsi, tak bersikap anarkis, tak juga menjadi teroris, pokoknya kami warganegara yang ‘manis abis’ (he3 … sedikit ‘narsis’).

Tadi pagi, aku membaca koran Kompas tentang sosok Biksuni Thubten Chodron mengatakan bahwa keserakahan memuat manusia tak kenal kata ‘cukup’ telah menjadi status mental di manapun. Konsumerisme sering kali terkait jalan pintas. Itulah korupsi, itulah keserakahan. Konsumerisme selalu terkait empat hal, yakni kekayaan materi, pujian, dan persetujuan, reputasi dan kenikmatan hidup. Ia mengatakan, tindak korupsi berarti mengorup diri sendiri. Padahal, di atas ranjang kematian, orang hanya bisa menyesali perbuatannya bukan menyesal karena tak punya berlian baru.

Seratus persen sepakat pada pendapat Chodron. Aku pun sepakat dengan pernyataan Ahmad Syafii Maarif (Mantan Ketua PP Muhammadiyah) bahwa diperlukan pemimpin yang bersih dan jujur serta perombakan radikal di birokrasi sehingga menciptakan pemerintahan yang baik. Hal itu disampaikan terkait indikasi perampokan uang rakyat berselimut biaya perjalanan dinas yang ditemukan oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan.

Miris …

Sedih …

Marah …

Sebagai rakyat biasa, aku terluka dengan temuan BPK tentang korupsi di hampir semua tingkat birokrasi pemerintah.

Walau aku tak punya kuasa, tetap terus semangat menularkan semangat anti korupsi kepada sesama. Salah satu bentuk kepedulian aku buat group di FB Komunitas ibu ibu anti korupsi. Saat ini anggotanya ada sekitar seribu orang. Semoga saja hal kecil seperti ini yang terus menjangkau secara masif di ruang-ruang hati nurani yang bersih dapat menghentikan korupsi di negeri Indonesia tercinta ini.

 

 

Semoga senyum kami rakyat biasa di negeri Indonesia tercinta akan tetap ada. Semoga kami tak meniru sikap serakah para pemangsa uang rakyat yang tak punya rasa. Aamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s