suka duka ujian nasional

Standar

 

Tulisan ini pertama terbit 26 Maret 2012. Di buat dalam rangka ikut merasakan kehebohan ajang ujian nasional baik ditingkat sekolah dasar maupun jenjang diatasnya.

Teman ku bercerita di sekolahnya dapat bocoran jawaban. Satu teman lagi bercerita hal yang sama. Di koran begitu pula. Ah … sungguh memalukan dan pasti tak membanggakan dapat nilai UAN hasil ketidakjujuran.

Sore ini Mas Hanif (Mas 12 tahun kelas 6 SD) berwajah riang. Senyumnya tersungging. Sambil melirikku dia memberikan selembar kertas kepada Ibu.

“Bu, ada surat dari Pa Guru,” kata Mas.

Aku membaca dan tersenyum.

Pikiranku langsung melayang pada penggalan pengalaman UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) SD empat tahun lalu, saat Kaka Rusydi (Kaka 16 tahun kini kelas 10 SMA).

(Sepertinya pengalaman ini kembali terulang bersama Mas …)

“Kaka! Ayo duduk manis! Buka buku latihan dan kerjakan soal matematika yang sudah Ibu tandai,” kataku sambil menutup komik Conan yang sedang asyik Kaka baca.

“Sebentar lagi Bu!,” jawabnya merebut kembali komik itu.

Ha3 … kami jadi rebutan komik deh! (sejujurnya aku juga suka baca komik Conan, tapikan bukan sekarang saat sudah waktunya mengerjakan latihan soal hiiiksss …)

Aku paham betul, pasti otaknya bekerja keras, berpikir, mengingat rumus, mencoret-coret kertas, menghitung luas trapesium, mencari nilai x dari persamaan aljabar, mengalikan angka ratusan, pangkat tiga, akar kuadrat, titik koordinat, volume kubus, keliling lingkaran, angka romawi, jumlah uang, tabel distribusi, waktu tempuh, diagram batang, menjumlahkan pecahan, mencari FPB dan KPK. Dua puluh lima soal.

“Lanjut Ka! Soal IPA yah,” kataku.

Empat puluh soal. Endapan tanah, lapisan udara, cahaya, ciri-ciri pertumbuhan, revolusi bumi, sumber listrik, makanan, persendian, metabolisme, cermin, sifat benda, tata surya, ekosistem, sumber daya alam, energi, pupil, kaktus, burung, gerhana, jantung, pembiakan vegetatif, alat optik, jantung, anemia, gerak nasti, penyerbukan, frekuensi, rangka manusia, konduktor, rotasi bumi, gaya gravitasi, abrasi, musim gugur, gerhana bulan, rangkaian seri, magnet, hemoglobin, volt, mamalia.

“Sudah selesai ?” tanyaku.

Kaka mengangguk. Lelah …

“Minum dulu susu coklatnya! Ibu koreksi,” kataku lembut.

(Ya itulah penggalan pengalaman yang mengasyikkan bersama Kaka empat tahun lalu).

Aku tahu anak-anak kelas enam Sekolah Dasar seluruh Indonesia berada dalam situasi tegang seperti di atas. Mungkin lebih tegang karena harus ikut bimbingan belajar sepulang sekolah atau les privat dengan guru sekolah. Padahal di sekolah sudah ada pengayaan. Setiap hari tambahan belajar selama dua jam. Soal-soal matematika, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa Indonesia beratus-ratus jumlahnya. Orang tua tegang. Guru tegang. Kepala sekolah tegang. Bahkan menurut koran, Menteri Pendidikan Nasional juga tegang.

Aku bersikeras (dan keputusan ini disambut bahagia oleh Kaka dan Mas … ^_^) tak memasukkan anak-anak ke bimbingan belajar. Teman-temanku menawari brosur Primagama, Nurul Fikri, dan Bintang Pelajar. Tidak! Itu jawabnya. Sebagai gantinya adalah waktu spesial (serupa martabak spesial pasti paling enak). Setiap hari selama dua jam, Aku menemani Mas mengerjakan soal-soal, mengoreksi hasilnya, memberi tanda bila belum betul, mengajari cara efektif berhitung, mencari jembatan keledai hafalan, dan menyiapkan minuman serta cemilan.

Aku senantiasa berpesan kepada mereka :

“Nilai tertinggi bagi Kaka dan juga Ibu dalam ujian adalah kejujuran,” kataku berulang-ulang.

“Mas boleh mendapat nilai delapan, sembilan, atau sepuluh dengan syarat kerjakan soal ujian dengan jujur. Ibu dan pasti Allah akan marah bila Mas mendapatkannya dengan ketidakjujuran,” jelasku panjang lebar.

Dulu Kaka pernah bertanya sambil bercanda :

“Ha … ha … ha … Bu kalau nilai begitu sih memang cita-cita. Lalu kalau nilai Kaka jeblok misalnya lima, gimana ?”

“Lima hasil kejujuran lebih berharga dari sepuluh hasil ketidakjujuran. Camkan itu!” aku  menjawab tegas.

“Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah memiliki modal utama : kejujuran. Gelar Al Amin itu tidak main-main. Allah SWT menjadikan sifat utama ini sebagai landasan bagi perjuangan dakwah Rasulullah SAW,” lanjutku.

Selama enam bulan menjelang UAN aku dan Kaka (juga sekarang dengan Mas) menikmati kedekatan sensasional dan emosional bersama. Kadang asyik belajar sambil bercanda. Aku pernah juga sedikit kesal kala mereaka  malas-malasan. Sesekali berebut komik sebelum memulai belajar. Pernah tiga hari berturut-turut Kaka aku ajak ke serambi masjid untuk berganti suasana. Kalau mereka mengeluh mengantuk. Aku akan menyarankan berwudhu. Resep jitu, biasanya langsung segar kembali.

Ini penggalan kata-kata Kaka beberapa saat setelah mendapatkan nilai UAN-nya  “Tapi yang pasti, aku sangat berterima kasih kepada Ibu telah menemaniku belajar tentang nilai kejujuran. Ibu adalah guru utama bagiku. Tak ada duanya. Bulan Mei 2008 aku menempuh UASBN. Mau tahu nilai UASBN ku? Bahasa Indonesia 8,40 ; Matematika 9,00 ; Ilmu Pengetahuan Alam 8,50. Jumlah tiga mata pelajaran itu adalah duapuluh lima koma sembilan. Alhamdulillah aku bisa bangga dengan nilai itu karena sungguh-sungguh hasil dari kejujuran”.

Kupikir dan kurasakan … sebenarnya UAN ini sangat bermanfaat buatku dan anak-anak, kami menjadi dekat, saling mendukung, berdoa bersama, belajar giat, dan memiliki semangat untuk berprestasi dilandasi kejujuran. Bila ada orangtua yang stres karena UAN … cobalah temukan sisi positifnya. Aku dan anak-anak bisa tertawa riang bila berhasil mengerjakan sebuah soal yang menurut kami cukup sulit. Kami juga mengalami hal-hal lucu ketika tak mampu menemukan jawaban yang tepat lalu balapan mencari di buku atau searching di internet. Ah … to be positive and always happy ^_^

Hasil akhir bertawakal kepada Allah SWT, toh kami sudah berusaha berikhtiar dengan keras berdoa dengan ikhlas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s