kenangan indah di tanah suci bersama suami tercinta

Standar

Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan spritual yang sangat menakjubkan. Perjalanan yang menggambarkan dengan gamblang betapa Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana sangat menyayangi hamba-Nya. Ketundukan kepada segala perintah-Nya serta upaya menjauhi segala larangan-Nya terbayar tunai di sana. Itulah yang aku dan suami ambil hikmahnya selama hampir 40 hari berada di tanah suci : Makkah – Madinah.

Kerinduan kembali menjalankan ibadah haji senantiasa bergema dalam hati. Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Kaya hanya kepada-Mu lah hamba berharap.

Menapaki jejak Rasulullah yang berjalan kaki ketika hendak wukuf di Arafah. Rute yang kami tempuh adalah Makkah – Mina (mabit satu malam)- Arafah (wukuf) – Mudzdalifah (mabit satu malam sekaligus mengambil batu untuk jumrah) – Mina (jumrah aqabah : tahalul) – Makkah (tawaf : tahalul)  – Mina (jumrah aqabah-wustu-ula dan mabit tiga malam) – Makkah.

Sepanjang jalan menuju Mina dari Makkah terdapat banyak keran air zamzam seperti ini. Segar. Insya Allah tidak akan kehausan.

Sesampai di Mina suasana masih sepi. Karena tidak semua jamaah haji melakukan perjalanan menuju Arafah dengan berjalan kaki dan mabis satu malam dahulu di Mina. Tenda putih bagai lautan dan siap menyambut jamaah haji selepas wukuf esok hari.

Selepas shalat subuh kami bergerak menuju arah matahari terbit. Di ufuk Timur nun jauh di sana kami hendak menyungkur sujud kehadirat Illahi Rabbi. Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan segala kuasa-Nya menuntun kami hingga tiba di Arafah dengan sehat dan selamat.

Arafah start here! Papan besar berwarna kuning menjadi petunjuk bahwa inilah Arafah. Laksana padang mahsyar tempat berkumpulnya jutaan manusia dari ratusan negara. Semua berkain ihrom. Tiada identitas lain yang dapat dibanggakan di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Begitupun kelak di akhir masa, hanya amal kebajikan dan rahmat-Nya yang dapat menghantarkan kita ke dalam surga-Nya.

Mina bagaikan kota metropolitan yang berisi jutaan manusia dari segala penjuru dunia. Selama tiga hari kami di Mina hidup berdampingan tanpa ada kerusuhan, pertengkaran, keributan, saling dendam, benci atau semacamnya. Kami adalah saudara sesama muslim. Kami terikat dalam aqidah Islam yang menjadikan kami merasa saling menyangi, saling menghormati, saling menjaga, saling menolong, dan saling menghargai. Indahnya Islam tampak di Mina dan pengalaman ini membuatku sangat terkesan. Beginilah seharusnya kami sebagai umat Islam.

Pasukan dapur umum yang selalu siaga. Mereka memasak untuk jutaan jamaah haji. Pagi – siang- malam. Bayangkan saja panci dan kualinya sebesar itu ? He3 … pastilah tenaga mereka juga sangat besar. Terimakasih kepada para petugas katering yang melayani kami selama di Mina.

Unta selalu tersenyum. Ayo! Mana senyum kita kepada sesama saudara muslim ? Jangan sampai kalah sama unta dong!

Wuih … Ada motor juga di koridor antar tenda di Mina. Tak tahan ingin bergaya.

Sejenak beristirahat di sebuah jembatan menuju Makkah dari Mina untuk melaksanakan tawaf dan tahalul.

Serasa menjelma menjadi Adam dan Hawa di dekat jabal rahmah. Semoga Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Lembut memberikan keberkahan kepada keluarga kami, aamiin …

Nah … Masih ada  nih bis dengan model jadul begini. Keren ya!

Kami menuju Madinah setelah ibadah haji selesai. Di awal tahun (bulan Januari) suhu di sini cukup dingin. Selain menunaikan ibadah shalat di masjid Nabawi, kami di ajak untuk menikmati karunia Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Indah.

Berlatar kebun kurma tak afdol rasanya bila belum belanja kurma ajwa. Nabi Muhammad sangat menyukai kurma jenis ini, karena teksturnya lembut dan manisnya pas. Harganya lumayan mahal euy.

Kunjungan yang berkesan adalah di percetakan Al Quran. Hampir 40 bahasa telah menjadi terjemahan Al Quran tanpa meninggalkan sedikitpun keaslian dari bahasa Al Quran. Inilah bukti bahwa Al Quran memang mukjizat dari Allah Yang Maha Cerdas lagi Maha Suci kepada Nabi Muhammad. Al Quran adalah petunjuk kehidupan umat Islam.

Suasana masjid Nabawi yang senantiasa mengundang rindu untuk kembali datang ke sini.

Subhanallah … Di bawah atap hijau itulah Rasulullah tercinta di makamkan. Di dekatnya ada raudah tempat yang sangat diinginkan oleh jamaah haji untuk dapat shalat karena suasananya memang sangat berkesan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s