Monthly Archives: Agustus 2015

Kala Hati Merindu Baitullah

Standar

Tak bisa dijelaskan lebih dari rangkaian kalimat ini … (sebab rasa dalam rongga jiwa lebih dari yang mampu disampaikan) Mengapa Aku, selalu rindu Baitullah – Ka’bah dan Masjidilharam? Jarak hampir dua kilometer tidak mengahalangi hati dan kaki untuk selalu bergegas menuju ke sana. Masjid yang dihormati dan dimuliakan.

Aku di pelataran Masjidilharam tahun 2006.

Bukan karena ganjaran pahala saja yang menjadi magnet. Melainkan aura, suasana, dan rasa sangat dekat kepada Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Pencipta itulah yang terus menerus ingin aku dapatkan di Masjidilharam. Pelataran Masjidilharam persis di depan pintu King Abdul Aziz menjadi tempat favorit untuk beristirahat setelah melakukan shalat berjamaah dan bertawaf. Alhamdulillah … Rasulullah SAW menyatakan : “Janganlah memberatkan untuk mengadakan perjalanan kecuali ketiga masjid; (1) Masjidilharam; (2) Masjid-ku (Masjid Nabawi); (3) Masjidilaqsha.” (HR. ad-Damiri, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Suasana Makkah di dekat Masjid Jin.

Selama tinggal di Makkah, aku berada di maktab 12 nomor pondokan 135. Posisi pondokan berada di sebelah Timur Masjidilharam. Lokasi ini biasa disebut perkampungan Ma’la. Nabi Muhammad SAW adalah warga Ma’la. Beliau menetap di sana sampai tibanya waktu hijrah ke Madinah. Ketika Fath Makkah (pembebasan Makkah, Nabi SAW dan para pengikutnya masuk Makkah dari arah Ma’la / Hujun). Khadijah RA, istri Beliau dimakamkan di sini. Menurut kisah, Khadijah RA sangat suka dengan burung merpati. Nah … uniknya di sekitar pemakaman Ma’la banyak burung merpati abu-abu. Bukankah merpati dipilih Allah SWT sebagai perantara menyelamatkan Beliau? Merpati membuat sarang di depan gua Tsur.

Simpang jalan persis di depan pemakaman Ma’la. Banyak merpati jinak di sini.

Setelah pemakaman Ma’la. ada sebuah masjid yang menjadi saksi di baiatnya sekumpulan jin oleh Rasulullah SAW. Masjid Jin begitu namanya. Di kiri kanan masjid berderet pertokoan dan hotel atau pondokan untuk jamaah haji. Setelah masjid aku akan menyebrang jalan lagi dan melintas di depan Saudi Post. Beberapa kartu pos aku kirimkan untuk anak-anakku Ibrahim dan Muhammad. Aku memang lebih suka menulis surat daripada sms atau telepon. Kartu pos ku tuliskan cerita dan pilihan gambarnya juga bagus-bagus.

Aku di pelataran Ka’bah, tepat di belakang antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Pintu Ka’bah tampak indah dihiasi oleh kain bertuliskan kaligrafi ayat Al-Qur’an.

Berada di dalam Masjidilharam sunnah utama adalah melaksanakan tawaf. Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Dilanjutkan shalat di belakang Maqam Ibrahim, lalu minum air zam-zam, berdoa di Multazam. Jika sempat shalat di Hijir Ismail atau mencium Hajar Aswad. Lanjutkan dengan ber-sa’i antara bukit Shafa dan Marwa. Ka’bah kiblat seluruh umat Islam di dunia. Bertawaf sebanyak tujuh putaran bersama para malaikat. Subhanallah …

Tugu jam dan menara di pelataran Masjidilharam biasanya dijadikan tempat pertemuanku dengan suami selepas shalat dan tawaf.

Kondisi Masjidlharam pada masa Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar as-Siddiq tidaklah seluas sekarang. Masjid ini terus diperluas pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab, Usman bin Affan. Kemudian diperindah lagi pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah. Tak ketinggalan dinasti Otoman melakukan beberapa kali perbaikan.

Bangunan Masjidlharam terdiri dari dinding dan deretan tiang-tiang dengan lengkungan-lengkungan artistik mengelilingi Ka’bah. Kubah-kubah kecil berjumlah 152 buah. Masing-masing tiangnya berjumlah 589 buah mempunyai tinggi 20 kaki dan berdiameter 1,5 kaki. Tiang-tiang itu ada yang terbuat dari marmer putih, batu granit biasa, batu granit berwarna. Batu-batu tersebut sebagian besar diambil dari pegunungan di sekitar Makkah.

Di sekeliling masjid ada tujuh menara yang menjulang tinggi. Masing-masing menara mempunyai nama : bab al-Umrah; bab al-Huzurah; bab as-Salam; bab al-Ali; Sulaimanah, dan Kait Bai. Masjidilharam memiliki 19 pintu gerbang yang selalu terbuka. Beberapa nama pintu antara lain : bab as-Salam; bab as-Shafa; bab as-Su’ud; bab al-Umrah; bab Ibrahim; dan bab Jumah. Setiap pintu memiliki kesan yang berbeda, misalnya pintu Umrah terasa ramah dan feminim, pintu King Abdul Aziz terlihat elegan, sedangkan pintu King Fadh tampak gagah dan mewah.

Pintu favoritku adalah Babussalam. Jika melewatinya aku bisa langsung melihat Ka’bah. Prosesi visual ini sangat unik, menakjubkan, dan membahagiakan. Pengorbanannya adalah aku harus sabar menjalani pemeriksaan askar perempuan : tas ransel, kantong sepatu, bahkan jaket diperiksa dengan teliti. Aku tak bisa memandang wajah cantiknya (sebab tertutup cadar hitam). Namun, aku merasa askar membalas senyumku dan pasti ucapan salamku (dengan lirih … ).

Aku dan suami saat melempar jumrah.

Total 30 hari aku berada di Makkah. Rangkaian ibadah haji telah usai. Banyak kenangan indah tak terlupakan. Tak mungkin aku ucapkan kata selamat tinggal, karena sungguh aku sangat ingin kembali pada suatu saat nanti. Waktu jualah yang mengharuskan ku meninggalkan Makkah juga Baitullah dan Masjidilharam. Bukan karena benci Ya Rabbi … Airmataku menetes lagi saat tawaf wada (tawaf perpisahan). Undang kembali aku sebagai tamu-Mu dilain waktu Ya Allah …