hikmah di balik musibah

Standar

Pergelangan kakiku terkilir dan lututku memar. Aku terjatuh di depan sebuah kampus tempat tim ID-Kita Kompasiana dan Kementrian Kominfo mengadakan sosialisasi internet sehat dan aman. Agak tertatih aku masuk ke dalam mobil. Entah bagaimana mulanya, kejadian itu sekejab saja. Sebelum kembali ke hotel, rombongan menuju sebuah lokasi bernama ayam ndelik. Duh … Sulit juga aku melafalkan kata ndelik itu. Supir kami, pa Anto yang asli Yogyakarta menjelaskan keunikan tempat makan malam kali ini. Aku tanya apakah ndelik sama dengan mendelik ? Ha3 … Tawa pa Anto terdengar sambil berkata bahwa ndelik ini artinya tersembunyi atau nyempil.

Wah … Aku kira ayamnya waktu disembelih mendelikkan matanya. Ternyata salah! Lokasinya terpencil di sudut perumahan. Seandainya harus mencari sendiri, sepertinya aku menyerah. Mobil masuk ke pekarangan sebuah restoran yang di desain dengan suasana jadul. Bangku dan meja kayu yang alami tanpa cat atau plitur. Ruang pertama ada dua meja besar dengan bangku panjang berdekatan dengan sebuah lemari berisi barang kuno koleksi pemiliknya. Alunan lagu Koes Plus terdengar dari pemutar piringan hitam yang juga lawas. Ada radio tua yang masih berfungsi dengan tombol pemutar untuk mencari frekuensi.

Wuih … Ini era digital, tapi di sini masih memakai alat elektronik era manual. Sungguh luar biasa. Kami menuju ruang di belakang dapur. Di balik ruangan masih berupa tanah luas yang ditanami pepohonan tinggi. Di langit malam terlihat bulan hendak purnama mengintip dari balik awan. Cahaya lembutnya menerobos dedaunan sungguh tampak sangat romantis. Hi3 … Mungkin suatu kali nanti aku akan rayu suami untuk mampir ke tempat ini lagi. Kembali ke kakiku yang terkilir dan memar. Aku berucap istighfar dan innalillahi wa inna ilaihi rojiun untuk ujian dari Allah Yang Maha Adil. Tak lupa aku bersyukur mendapat hikmah dari kejadian ini.

Betapa nikmat atas kaki yang telah dilimpahkan Allah Yang Maha Pemurah. Banyak tempat yang bisa aku datangi. Langkahku ringan saja ketika kakiku tak sakit seperti ini. Namun … Kala sehat seringkali aku lupa bersyukur. Ya … Allah Yang Maha Mulia, ampunilah segala khilafku ini.

nomor3

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? ‘(Allah) Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tuntuk (kepada-Nya). Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya), di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.’ (QS. Ar Rahman 55 : 1-12).

Ketika sampai di kamar hotel dan melaksanakan shalat terasa sakitnya lutut saat sujud dan pergelangan kaki linu saat duduk antara dua sujud. Subhanallah … Allah Yang Maha Kuat telah memberikan karunia tak terhingga berupa kesehatan kepadaku selama ini. Sudah seharusnya sebagai rasa syukur, aku berbuat banyak kebajikan kepada sesama. Tak perlu ingin dipuji atau pamrih dari manusia. Hanya kepada Allah Yang Maha Besar sajalah segalanya diserahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s