Monthly Archives: Juli 2020

Titik Balik, Indahnya Pertolongan Allah

Standar

Titik Balik, Suami di-PHK : Aku Jadi Direktur

 
Sebagai lulusan arsitektur ITB rasanya mendapat pekerjaan itu mudah saja. Selepas lulus langsung bekerja dan mendapat kepercayaan menjadi asisten manager di sebuah developer. Aku melanjutkan kuliah pascasarjana dan lulus sebagai Magister Manajemen (MM) di usia 27 tahun.
 
Sebelum wisuda di tengah gejolak masa reformasi, suamiku yang bekerja di developer terkena PHK besar-besaran. Jadilah kami berdua saat itu pengangguran berpendidikan tinggi. Tabungan kami semakin menipis. Setelah wisuda aku mencoba melamar pekerjaan sebagai dosen di luar kota tempat orangtuaku tinggal.
 
Alhamdulillah … Allah Yang Maha Pemurah mengabulkan doaku. Aku menjadi dosen. Sungguh tak disangka saat banyak orang kehilangan pekerjaan, aku malah bisa kembali bekerja di bidang yang juga sangat aku sukai. Ya … Sejak dulu aku suka dunia pendidikan dan cita-cita terpendamku adalah menjadi pendidik. Bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan, benar adanya. Suamiku masih menganggur. Kondisi yang tidak nyaman tentunya. Sebagai kepala keluarga yang tidak bisa memberi nafkah kepada istri dan anak tentulah sangat berat.
 
Aku mencoba menenangkan hatinya, bahwa keadaan ini tentu sudah dirancang Allah Yang Mahamulia dengan segala hikmah. Lebih-lebih aku dan suami harus berpisah kota. Kami hanya bisa bertemu seminggu sekali. Baru saja bekerja enam bulan, Aku dipercaya menjabat sebagai Direktur di Akademi tempatku mengajar. Suami masih belum juga mendapat pekerjaan. Sampai akhirnya ada tawaran pekerjaan di sebuah developer tapi sistem kontrak.
 
Suami kembali bisa mengamalkan ilmunya di bidang arsitektur. Keuangan keluarga mulai membaik.Tapi kami masih berpisah kota. Suami dimotivasi orangtuanya untuk melanjutkan kuliah S2 di ITB dengan biaya dari mereka. Suami memutuskan untuk mencari pekerjaan di Bandung agar bisa kuliah sambil bekerja. Setelah lulus suami bisa ikut seleksi di sebuah BUMN dan diterima sebagai karyawan tetap. Kami masih berpisah kota. Sudah hampir enam tahun perpisahan kami. Mungkin sebagian orang ada yang sudah lebih lama lagi berkeluarga berpisah kota sepertiku.
 
Rasa berat saat harus bekerja dan mengurus anak sendirian. Anak keduaku lahir hingga umur empat tahun seminggu sekali saja bertemu ayahnya. Sering dihari Jumat dia bertanya ‘Bu … Bapak kapan pulang?’ Dia sudah tahu jadwal ayahnya datang Sabtu sore. Pertemuan tak lebih dari 24 jam karena minggu sore suamiku harus kembali keluar kota. Duh … Sedih melihat anak-anak begitu berat melepas kepergian ayahnya. Akhirnya … Keputusan besar aku ambil. Aku mengundurkan diri dari jabatan sebagai Direktur dan memilih kembali ke Jakarta untuk kumpul bersama suami dan anak-anak. Teman-teman dosen terutama pihak Yayasan sangat terkejut. Tapi tekadku sudah bulat.
 
Ya … Rezeki berupa materi Insya Allah akan dicukup oleh Allah Yang Mahakaya. Aku merasa punya tanggungjawab besar untuk mengasuh, mendidik, dan mendampingi tumbuh kembang anak-anak bersama ayahnya. Ketika ada orang yang mengejar dan sangat ingin memiliki jabatan, aku malah melepaskannya. Tapi itu menurutku biasa saja. Toh jabatan itu adalah amanah sementara yang sewaktu-waktu juga akan berakhir. Yang penting saat diberi amanah jagalah sebaik-baiknya.
 
Sepuluh tahun bekerja di luar rumah ditambah aktivitas di partai politik dan LSM memang membuatku merasa bisa beraktualisasi diri dengan maksimal. Bahkan aku menjadi Calon Anggota Legislatif DPR RI, Bakal Calon Walikota, juga menjadi wakil Direktur LSM. Ya … Jabatan di partai dan LSM pun aku lepas.
 
Rumah kami mungil saja tipe 21/72. Sedikit di renovasi ruangan ditambah kamar satu, dapur, dan ruang tamu. Hidup bersahaja bersama para tetangga perumahan RSS memberiku hikmah bahwa tak soal dengan kemewahan dunia. Bahagia itu ada dalam jiwa bukan dari banyaknya harta.
 
Bahagia itu sederhana saja. Berkumpul bersama anak-anak dan suami tercinta, membuat sarapan pagi, mengantar dan menjemput sekolah, menemani belajar, bermain sepeda keliling perumahan, mengantar les renang, bahkan sekedar membaca buku cerita bersama. Allah Yang Mahacerdas tak pernah lepas memberi aku kesempatan untuk berkarya. Di perumahan yang padat ini ternyata posyandunya mati suri. Aku tergerak untuk menghidupkannya kembali. Sisa uang belanja aku bantu untuk mengembangkan posyandu hingga Ketua RW menunjukku menjadi ketuanya.
 
Posyandu berkembang dengan membuka kelas untuk balita belajar. Garasi rumahku dan ruang tamu dimanfaatkan untuk mereka belajar seminggu dua kali. Aku gurunya. Gratis! Bahagia itu sederhana. Berbagi dengan sesama tanpa pamrih. Senyum para ibu dan tawa riang balita sangat menghibur hatiku dan memberi semangat bahwa bekerja itu bisa di mana saja.
 
Bekerja itu tak melulu mengejar gaji. Rezeki itu bukan hanya uang. Dan keberkahan hidup tak dinilai dari jabatan. Subhanallah … Pelajaran hidup seperti ini tak didapat dibangku kuliah selevel S3 pun. Ini harus benar-benar dijalani dan dimintakan hikmahnya kepada Allah Yang Mahabijaksana. Setelah lebih dari lima tahun hampir tak ada sebersitpun kembali bekerja di luar rumah. Anak ketiga telah berusia empat tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak. Anak pertama dan kedua belajar di boarding school. Tiba-tiba saja teman dosen di tempatku dulu mengajar menelpon. Wah … Hatiku bertanya-tanya, ada apa? Kabar beritanya adalah aku diundang untuk mengikuti ujian sertifikasi dosen. Ternyata selama lima tahun selepas mengundurkan diri, namaku masih ada dalam daftar sebagai dosen tetap di sana.
 
Benar-benar bukti kebesaran Allah Yang Mahaagung. Akupun mengikuti ujian, lulus dan mendapat tunjangan. Konsekuensinya aku harus kembali aktif sebagai dosen. Suamiku mendukung agar aku menjalankan amanah ini. Ah … Aku bimbang karena harus berada di luar kota minimal dua hari dalam seminggu. Aku memikirkan anak bungsuku, bagaimana dia nanti? Lagi-lagi pertolongan Allah Yang Maha Mendengar datang. Pengasuh anakku yang biasanya pulang hari bersedia menemani hingga suamiku pulang. Bila suami juga dinas keluar kota (sering sekali kantornya menugaskan keluar kota bahkan keluar negeri) pengasuh anakku bisa menginap tapi sambil membawa anak-anaknya.
 
Akhirnya dengan niat untuk kembali mengamalkan ilmu dan berbagi pengetahuan kepada para mahasiswa di kampus. Semoga Allah Yang Maha Melihat memberikan segala keberkahan kepada keluarga kami. Serta menjadikan kami senantiasa mampu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan. Juga senantiasa mampu bersabar bila kami menemui kesulitan. Aamin ya Rabbal ‘alamin.
 
Kisah ini telah dituliskan oleh wartawati Tabloid Wanita Indonesia, edisi Agustus 2013.
Diliput Tabloid Wanita Indonesia.
Majalah NooR menjadikanku Cover dan diliput dalam lembar sampul kita.
Alhamdulillah … Tahun 2007 sekeluarga berlima.

Simak yuk! Ada artikel menarik lainnya di sini:

Cintailah Al-Qur’an, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

umroh1

Teteh Maryam Aliyya Al Kindi #hijabercilik #kindlyhijab melaksanakan ibadah umroh di usia 10 tahun.

Adakah koneksi atau provider internet super canggih? Kalau kita masih bergantung kepada selain Allah Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri maka kita pasti akan kecewa … kenapa? Ya … Masalah semacam roaming international, hilang sinyal, atau habis kuota atau habis baterai plus power bank pun 0%. Malah aku baru saja mengalami di blokir karena belum registrasi ulang … Jadilah tak bisa masuk maupun keluar. Lucunya lagi pas perlu ketemu seseorang tak bisa dihubungi karena diluar jangkauan ha3 … Begitulah secanggih-canggihnya buatan manusia pastilah ada kekurangannya.

Lalu … Kenapa kita malah lebih tergantung pada alat-alat komunikasi buatan manusia? Bukannya memanfaatkan ke-Maha Canggihan Allah yang telah menurunkan firman-firman-Nya di dalam Al-Qur’an … Berapa lama kita membaca kalimat-kalimat Illahhi Rabbi di dalam kitab suci ini -bila tak memgerti artinya terjemah dalam bahasa seluruh bangsa di dunia telah disusun oleh para ahli tafsir, Masyaallah …

Semua isi Al-Qur’an mengandung hikmah … Janganlah kita sampai hilang sinyal dengan Allah Yang Mahasuci lagi Mahabenar … ketika hendak keluar pintu King Fadh, aku dan Teteh melihat spanduk besar di Masjidil Haram tepat di dekat deretan wadah air zam-zam. Isinya adalah cara men-download aplikasi Al-Qur’an beserta bahasa terjemahannya … Alhamdulillah free alias gratis! Jadi manakah lagi nikmat tuhan-mu yang kamu dustkan? dan jadi alasan bermalas-malasan untuk membaca menghafal memahami serta mempraktekkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an dengan ikhlas … Sungguh aku sering merasa malu kepada Teteh yang semangat sekali berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Jangan lagi karena alasan sibuk kita melupakan berkomunikasi kepada Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar dengan membaca Al-Qur’an … Kita tentu tidak ingin sampai di blokir oleh-Nya bukan? Apalagi sampai dicabut nomor kita dan tak diakui lagi sebagai hamba-Nya yang taat naudzubillah min dzalik … Bermohonlah selalu dalam hidayah-Nya dalam lindungan-Nya dan menjadi hamba-Nya yang dilimpahi rahmat dan kasihsayang-Nya aamiin.

Spanduk aplikasi Al-Qur’an gratis, Barakallah …

Simak juga artikel menarik berikut ya …

Berjumpa Muslim Nigeria, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Seusai tawaf 7 kali putaran Teteh Maryam Aliyya Al Kindi #hijabercilik #kindlyhijab melaksanakan shalat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim, pada rakaat pertama membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun sedang pada rakaat kedua membaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Kemudian minum air zam-zam dengan membaca doa: “allahumma innii asaluka ‘ilmaa naafi’aa wa rizqaan thayyibaa wa ‘amalaa mutaqabbalaa.” Alhamdulillah selama menunaikan ibadah di tanah suci Teteh gemar sekali meminum air zam-zam dan antusias mengisi botol untuk dibawa bekal ke penginapan. Jadi hampir tiada hari tanpa minum tanpa air zam-zam kecuali diselingi minum susu dan teh tarik yang yummy banget ha3 … ;

Suatu senja sambil menanti waktu shalat Maghrib, suasana Masjidil Haram di area perempuan lantai 1 cukup lengang … Aku meminta tolong kepada Teteh untuk mengambil Al-Qur’an dengan terjemah. Teteh membawa satu Al-Qur’an yang disampulnya tertulis ‘Hausa’. Hhmmm … Bahasa negara mana gerangan? Aku belum pernah tahu nih …

Sekali lagi karena sedang puasa internet tak bisa searching deh! Lalu aku ajak Teteh membaca Al-Fatihah dan terjemahan dalam bahasa Hausa dan sambil mengingatkan kembali terjemah Al-Fatihah dalam bahasa Indonesia. Selesai membaca bahasa Hausa yang aku tak mengerti sedikitpun … he3 … Alhamdulillah, waktu shalat Maghrib semakin dekat dan sekeliling kami pun makin padat.

Teteh membasuh wajahnya dengan air zam-zam dari botol agar segar kembali. Qadarullah tepat di belakang Teteh ada 4 kaka beradik, salah satunya bayi lucu sekali rambutnya sangat ikal, hidungnya bulat, dan matanya besar berkedip menatap Teteh … Waaahhh … Masyaallah bayi itu tersenyum. Gemasnya …

Kakak perempuannya ada yang seumur Teteh mengajaknya bermain hingga bayipun tak rewel, walau kudengar sekejap tangisan si bayi reda kembali jika diberi minum air zam-zam dan makanan kecil. Selesai shalat Maghrib dan Isya … Kedua anak perempuan itu mengambil Al-Quran dengan sampul Hausa. Ya Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui mengabulkan keingintahuanku.

Aku tanya kepada anak perempuan seumuran Teteh, “Can you speak english?” anak tertua menjawab, “Yes.”

Senyumku mengembang senang sekali … Aku tanya lagi, “Where are you come from?” Dia menjawab pelan namun tetap terdengar jelas, “Nigeria.”

Barakallah … Ternyata bahasa Hausa adalah bahasa resmi negara Nigeria selain bahasa Inggris karena dahulunya negara Afrika Barat ini di jajah oleh Inggris. Aku salami kedua anak itu dan kuberikan hadiah bros. “It’s gift for you.” Mereka pun menerima sambil tersenyum. “Thank you,” jawab mereka.

Kembali aku dan Teteh menyalami mereka saat akan meninggalkan area shalat. Sambil pamit Teteh berucap, “Nice to meet you … Assalamu’alaikum.”

Sejarah mencatat bahwa Hajar ibunda Nabi Ismail. Beliau adalah istri Nabi Ibrahim yang berjuang sendirian di bumi yang tandus Bakkah. Ya … Hajar berlari 7 kali antara Shafa dan Marwa mencari rahmat Illahi Rabbi dan keluarlah air zam-zam yang hingga kini masih deras saja mencukupi kebutuhan para peziarah tanah suci.

Hajar berkulit hitam sebagaimana nama batu di dinding Ka’bah ‘Hajar Aswad’. Ternyata daerah asal Hajar adalah benua Afrika seperti 4 orang kaka beradik yang kami temui di Masjidil Haram tadi … Allahuakbar …

Al-Qur’an terjemahan bahasa Hausa yang Teteh baca di Masjidil Haram.
Teteh senang sekali meminum air zam zam dan membawa bekal untuk ke penginapan.

Yuk! Ikuti juga kisah menarik lainnya di link berikut:

Tangisan Di Pelataran Ka’bah. Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Masyaallah … Dimanakah di muka bumi ini sebuah tempat seperti Baitullah?

Ka’bah kiblat shalat wajib 5 waktu yang tiada henti, dijadikan poros tawaf tujuh kali putaran, diiringi dzikir, dan doa kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Besar serta lantunan ayat Al Quran. Tempat yang senantiasa dirindu milyaran umat Islam. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah memberikan ganjaran shalat di Masjidil Haram pun berlipat 100.000 kali. Barakallah …

Teteh maryam aliyya al kindi #hijabercilik #kindlyhijab saat umroh melakukan tawaf tujuh kali putaran. Seusai ibadah umroh pun bila ada kesempatan teteh melaksanakan tawaf sunnah.

Gedung pencakar langit di latar belakang itu pun tak akan mampu menyaingi … Apalah lagi gedung-gedung atau tempat-tempat lain tak ada yang akan mampu menjemput rindu hingga tiada pernah kata tak ingin kembali … Selalu saja bermohon suatu hari nanti kembali bersujud di sini menangis berurai airmata hingga lidah pun kelu hanya jiwa yang mampu bersuara bersama denyut jantung dan tarikan nafas Ya Allah … Ya Rabbal’alamin …

Tumben nih Teteh mau difoto pose manja sama kesayangannya … Barakallah.

Teringat kisah Rasulullah shalallaahu alaihi wassalaam suatu hari sedang shalat di Masjidil Haram, ketika Nabi shalallaahu alaihi aassalaam sedang sujud seorang kafir menumpahkan kotoran unta di atas punggung beliau di antara dua bahunya, kotoran itu cukup banyak sehingga Beliau tidak mampu bangkit. Fatimah ra mendengar kejadian itu langsung datang menemui ayahandanya tercinta dan membersihkan tubuh ayahnya sambil menangis.

Baru setelah bersih, Beliau bisa mengangkat kepalanya … dan berkata, “Jangan menangis, wahai putriku … Sungguh Allah akan menolong ayahandamu.” Lalu Nabi shalallaahu alaihi aassalaam berdoa, “Ya Allah … Hukumlah orang-orang Quraisy ini.” Kita tahu ketika dalam perang badar orang kafir tersebut menemui ajalnya. Terbayang kisah yang aku baca dalam buku The Great Story of Muhammad SAW … Sedih terasa betapa perjuangan dakwah tidaklah mudah. Fatimah ra anak perempuan kesayangan Rasulullah shalallaahu alaihi aassalaam di pelataran Ka’bah menangis karena ayahanda tercinta didzalimi diteror fisik oleh orang-orang kafir.

Aisyah ra meriwayatkan, “Ketika istri-istri Nabi shalallaahu alaihi aassalaam tengah bersama Beliau, tak ada seorangpun yang beranjak dari tempatnya, tiba-tiba datang Fatimah ra, yang melangkah persis seperti langkah Rasulullah shalallaahu alaihi aassalaam. Ketika melihatnya, Beliau langsung menyambutnya dan berkata, “Selamat datang putriku.” Beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau di sebelah kirinya, setelah itu membisikkan suatu rahasia kepada Fatimah ra. Dia menangis tersedu-sedu, ketika Beliau melihat kesedihannya Beliau kembali membisikkan sebuah rahasia, Fatimah ra pun tertawa senang. Aisyah ra juga memuji Fatimah ra, “Aku tidak pernah melihat orang sebaik Fatimah ra setelah ayahnya.”

Aisyah ra menuturkan, “Aku tidak pernah melihat orang yang serupa benar sifat, sikap manjanya, pengorbanannya, serta cara duduk dan berdirinya dengan Rasulullah shalallaahu alaihi aassalaam selain Fatimah ra.” Jika Fatimah ra menghadap Nabi shalallaahu alaihi aassalaam, Beliau langsung berdiri, menciumnya, serta mendudukkannya di tempatnya, dan jika Rasulullah shalallaahu alaihi aassalaam menemui Fatimah ra dia berdiri dari tempatnya, memcium beliau, dan mendudukkan beliau di tempatnya. Kisah ini menggambarkan betapa dekat hubungan kasihsayang antara seorang ayah dengan anak perempuannya …

Dalam kisah sedih wafatnya Khadijah ra pun tersurat dalam sejarah bahwa Fatimah ra yang menjadi pelipur lara Rasulullah shalallaahu alaihi aassalaam hingga dilekatkan gelar “Ibu bagi ayahnya.” Aku sampaikan kisah yang selalu membuatku meneteskan airmata ini kepada Teteh, Masyaallah … Semoga Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah melimpahkan hikmah-Nya kepada kita aamiin.

Kisah menarik lainnya ada di link berikut:

Berjumpa Muslim Libya dan Irak, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Berbincang di pelataran Masjid Nabawi seusai shalat subuh ; dua muslimah Libya kaka beradik yang ramah dan sangat antusias membahas topik sekolah dan pendidikan islam, pantas saja ternyata mereka adalah guru di negaranya … Masyaallah mereka tertarik dengan pakaian teteh gamis putih tulang dengan jilbab panjang warna senada.

Teteh Maryam Aliyya Al Kindi #hijabercilik #kindlyhijab selesai shalat Isya duduk manis dan terlibat dalam perbincangan antara aku dan kedua muslimah yang murah senyum itu.
 
Menurut mereka muslimah Indonesia khas dan unik dengan mukena berbordir … cantik kata mereka. Saat kami berpisah mereka memeluk Teteh; Alhamdulillah … sejatinya kami memakai pakaian bukan semata mode fashion. Kami berpakaian menutup aurat demi menjaga kehormatan kami dan ini tuntunan Illahi Rabbi Tuhan kami Allah Yang Mahamulia lagi Mahakuasa. Bersyukur aku sebagai ibu yang dikaruniai Teteh yang diusianya yang belum baligh sudah faham arti berpakaian syar’i pakaian ketaqwaan … Semoga senantiasa dalam hidayah-Nya dan menjadi syiar bagi muslimah seantero dunia.
 
Perjalanan menuju tiga masjid yang diberkahi Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. Pahala seratus ribu kali di Masjidil Haram. Pahala seribu kali di Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Doaku semoga dimudahkan prosesnya diberi kesehatan dan kesabaran serta dilimpahi kasihsayang-Nya.
 
Insyaallah … Kaka, Mas, dan Teteh bisa beribadah ketiga tempat yang diberkahi ini aamiin.
 
Teteh di pelataran Masjid Nabawi.
Shalat berjamaah bersama saudara muslimah dari berbagai negara. Nah … Kostum mukena 3 orang ibu di depan Teteh ini khas Indonesia he3 …

Alhamdulillah … di Madinah Teteh juga berjumpa muslim asal Baghdad Irak. Tiada disangka kami bisa berbincang dengannya dalam bahasa Inggris (diawal percakapan aku minta maaf tak pandai berbahasa Arab hanya sedikit saja faham kosa kata sederhana). Dia sangat senang ketika tahu Teteh sudah hafal juz amma. “Masyaallah … Masyaallah …” begitu ucapnya sambil tersenyum.

Sebelum berpisah Dia panggil, “Maryam … Maryam … here … gift for you.” Selembar 5 riyal diberikannya kepada Teteh sambil bilang, “You nice girl.” Betapa bahagianya menjadi pencinta Al-Qur’an membacanya menghafalnya memahaminya mengamalkannya semoga Allah yang Mahabaik lagi Maha Pemurah melimpahkan rahmat-Nya bagi para pencinta Al-Qur’an aamiin.

Baca juga artikel menarik di sini:

Ziarah Ke Jabal Uhud, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Jabal Uhud saksi perjuangan kaum muslimin, Alhamdulillah Teteh belajar sejarah peperangan yang terjadi di Jabal Uhud 6 km di sebelah Utara Masjid Nabawi. Tinggi gunung ini 1077 m dan panjangnya 7 km, terdiri dari batu-batuan granit, marmer merah dan juga batu-batu mulia.

Teteh Maryam Aliyya Al Kindi #hijabercilik #kindlyhijab sangat antusias turun dari bis menuju lokasi yang diarahkan oleh pemandu ziarah. Dia adalah seorang ustadz yang sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Madinah, Masyaallah …

Bila kita memandang dari kejauhan tampaklah sosok merah berwibawa dan kesan khas di hati. Terlebih di sini telah gugur 70 syuhada dan dimakamkan di lapangan tempat terjadinya pertempuran.  Kuburan ini dekat dengan Jabal Rumat. Kita di sunnahkan menziarahi makam syuhada Uhud demi mengingat bahwa suatu saat pasti kita akan mengalami kematian … Tiada yang tahu kapan waktunya, namun tiada seorangpun yang dapat menghindarinya innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ada cerita menarik tentang shalat jenazah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Awalnya Teteh enggan mengikuti shalat jenazah dengan alasan tidak tahu bacaannya. Namun saat diajak berziarah ke Jabal Uhud dan disampaikan keutamaan shalat jenazah yaitu mendapat pahala sebesar Jabal Uhud … Masyaallah … Teteh menjadi semangat untuk menjalankan shalat jenazah dan lebih utama lagi bila sampai bisa turut mengantar ke pemakaman dan membantu menguburkannya. Namun kegiatan terakhir hanya laki-laki yang diperkenankan.

Subhanallah … Suamiku beberapa kali sempat mengantar jenazah ke pemakaman Baqi dan kebetulan salah satu jenazah yang diantarkannya adalah jamaah umroh asal Indonesia. Kami jadi terkenang famili kami yang wafat saat beribadah haji juga saat umroh … Mereka dimakamkan di pemakaman Baqi di Madinah.

Teteh berada di kawasan Jabal Uhud untuk berziarah ke makam syuhada Uhud.

Simak juga artkel menarik lainnya ya …

Merpati di Tanah Suci, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Kisah umroh Teteh Maryam Aliyya Al Kindi #hijabercilik #kindlyhijab

Alhamdulillah … Di Madinah Teteh berjumpa muslim asal Baghdad Irak. Tiada disangka kami bisa berbincang dengannya dalam bahasa Inggris (diawal percakapan aku minta maaf tak pandai berbahasa Arab hanya sedikit saja faham kosa kata sederhana).

Dia sangat senang ketika mengataui Teteh sudah hafal juz amma. “Masyaallah … Masyaallah …” begitu ucapnya sambil tersenyum lebar. Sebelum berpisah Dia panggil Teteh, “Maryam … Maryam … Come Here … Gift for you!” Wow … Supraise! Dia menyerahkan selembar uang 5 riyal. Diberikannya kepada Teteh sambil berkata, “You nice girl …”

Betapa bahagianya menjadi pencinta Al-Qur’an membacanya menghafalnya memahaminya mengamalkannya semoga Allah Yang Mahabaik lagi Maha Pemurah melimpahkan rahmat-Nya bagi para pencinta Al-Qur’an aamiin …

Kisah menarik lainnya yang Teteh alami saat menjalankan ibadah Umroh adalah bermain dengan burung merpati. Baik di kota Madinah maupun di kota Makkah.

Burung merpati adalah hewan kesayangan Khadijah ra istri tercinta Muhammad Rasulullah saw. Di kota madinah, setiap kali Teteh pergi menuju Masjid Nabawi akan melewati Masjid Ghamamah. Selain bentuknya yang unik, ternyata di pelataran masjid banyak sekali burung merpati berwarna dominan abu-abu. Ada juga yang hinggap di kubahnya.

Teteh suka menyapa merpati itu. Entah merpati itu mengerti atau tidak? Hhhmmm … Tapi sepertinya merpati itu senang diajak ngobrol deh! Teteh mendekat dan kadang mengejar sambil tertawa riang … Ha3 … Jadilah merpati itu terbang berseliweran di atas kepala kami … Seru sekali.

Di kota Makkah pun Teteh senang melewati kerumunan merpati di jalur utama menuju Masjidil Haram. Kok ya Teteh tahu aja di situ bakal ada kerumunan merpati he3 … Padahal ada jalur sebelahnya yang sejajar tapi Teteh tidak memilih jalur itu karena tidak ada merpatinya. Alhamdulillah jarak 400-500 meter pulang pergi pun tak terasa melelahkan.

Selain berjumpa merpati, Teteh juga seringkali berpapasan dengan kucing. Iya loh! Aku heran kenapa Teteh seringkali tiba-tiba bertemu kucing yang entah dari mana munculnya? Dipanggilnya kucing itu, “Meoooonggg … pus …. meooongggg sini!” Trus ya kucingnya menatap Teteh, bahkan saat mereka berjalanpun sejenak berhenti dan menengok ke arah Teteh.

Ada kejadian lucu pas Teteh menarik tanganku yang siap masuk ke lobi hotel, “Buu … Lihat deh ada anak kucing. Tuh … itu lagi nenen sama induknya.” Aku celingukan mencari mana kucing ada di dekat sini. Eeehhh … Ternyata kucingnya ada di bawah tangga toko sebelah hotel. Waduh aku aja harus jongkok saking penasarannya, lah Teteh dari jauh bisa melihat ada kucing di sana. Beberapa orang memperhatikan kami, mungkin aneh juga ini ibu dan anak bela-belain pingin lihat kucing sampai jongkok begitu ha3 …

Saat di kota Madinah Teteh sengaja membawa roti isi daging buat dikasihkan kucing. Saat bertemu kucing di gate 5 diberikan rotinya, kucingnya malu-malu kucing hi3 … Baru dimakan setelah kami berdua berlalu dan melihat dari kejauhan.

Oya … Ini kisah sebelum Teteh berangkat Umroh. Jadi di halaman luar rumah tiba-tiba saja ada bayi kucing yang mengeong keras sekali. Teteh yang sedang membantu packing koper untuk Umroh lari keluar dan berteriak, “Ibuuuu … Tolong dong! Ada bayi kucing.” Aku ikut keluar dan menemukan bayi kucing masih lengkap dengan ari-arinya. Waaahhhh … Teteh minta ijin boleh mengurusnya. Ya Allah … Gimana atuh ya? Kan mau berangkat Umroh pasti akan ditinggal lebih dari 10 hari. Siapa yang akan mengurus? Jadilah saat Teteh Umroh, bayi kucing itu dititipkan di petshop langganan.

Lanjut ya kisah Teteh  menangis waktu ingat babycat yang dititipkan di petshop selama kami Umroh. “Kangen Bu … sama Unicorn.” Hiiiksss … Aku bilang sambil mengusap punggungnya, “Doain aja Unicorn-nya sehat dan cepat besar.” Teteh bertanya, “Nanti dia masih kenal aku gak? Kan gak ketemu 10 hari.” Begitulah Teteh si penyayang binatang.

Aku belajar dari Teteh menjadi penyayang binatang. Asli aku gak terlalu suka pelihara binatang, tapi Teteh pernah waktu umur 4 tahun nangis pingin memelihara ayam yang bisa berkokok buat bangunin shalat Subuh … Sepertinya Teteh terinspirasi cerita gurunya di TK bahwa ayam berkokok tanda ada malaikat Masyaallah …

Teteh juga pernah pelihara kelinci, ikan, burung merpati dan sekarang kucing. Ya Allah Yang Mahasabar lagi Maha Penyantun berkahilah kami dan berilah kami rasa kasihsayang kepada makhluk lain ciptaan-Mu aamiin

Baca juga artikel menarik lainnya:

Kisah Sebutir Kurma, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Kurma … Buah kecoklatan nan manis itu biasanya tak begitu istimewa buat Teteh #hijabercilik #kindlyhijab … Disantap saat sahur atau berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Namun di Masjid Nabawi kurma menjadi pangkal kisah luarbiasa. Teteh minta agar shalat maghrib di pelataran saja … baiklah Ibu ikut duduk manis di dekat kumpulan ibu-ibu. Mereka berbalut gamis dan jilbab hitam dengan warna kulit lebih gelap dari kulit Teteh yang kecoklatan seperti kurma (manis dong ya teteh kesayangan Ibu). Ramainya suasana karena mereka datang sekitar 10 orang bersama bayi, balita, dan anak-anak seumuran Teteh.
 
Suasana ceria khas anak-anak he3 … Sesekali terdengar juga tangisan yang kemudian berhenti dan bersambung lagi. Sungguh pengalaman baru buat Teteh. Tiba-tiba Teteh disodori kurma dan kami pun menerima pemberian muslimah berparas cantik yang juga berkeliling memberi kurma kepada sekumpulan ibu dan anak-anaknya di sisi lain dengan garis wajah khas Eropa -mungkin dari Turki.
 
Esok harinya Teteh aku ajak untuk gantian membagi kurma kepada saudari muslimah didekat tempat duduk kami. Kurma satu toples kecil belum habis juga … Kami pun keluar masjid tiba-tiba ada muslimah Pakistan melambaikan tangan dan meminta kurma beserta tempatnya. Masyaallah … Bersyukur kurma kami akhirnya tandas dalam sekejap. Keesokan harinya Teteh minta lagi dibawakan kurma ke masjid saat shalat dhuha ternyata masjid agak sepi, kami tawarkan kurma kepada beberapa kumpulan muslimah di dalam masjid …
 
Kurma kami belum habis juga. Saat melintas di pelataran kami tawarkan kurma lagi kepada muslimah Pakistan dengan ciri pakaian dan selendang panjang warna-warninya … Apa yang terjadi? Kurma pun berpindah tangan sekaligus dengan wadahnya … mereka sekitar 4-6 orang berucap Alhamdulillah … Alhamdulillah … dan tersenyum lebar penuh syukur. Teteh pun ikut tersenyum lebar dan berkata, “Alhamdulillah laku juga kurma ku hari ini.”
 
Berbagi itu menyenangkan dan hanya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah akan memberikan balasan terbaiknya Insyaallah. Oya … Berkumpul dengan saudara muslim seantero dunia juga sangat membahagiakan dan ternyata semuanya suka kurma. Barakallah …
Teteh di depan pintu masuk ruang utama Masjid Nabawi.
Selesai shalat Teteh duduk di pagar gate 7 tempat kita bisa lewati saat memasuki pelataran Masjid Nabawi.
Teteh mengunjungi kebun dan pasar kurma di Madinah.

Menurut Guinness World Records di tahun 2016, kebun kurma terbesar di dunia terletak di Provinsi Al Qasim, Arab Saudi yang merupakan milik Sulaiman Al Rajhi, pendiri Bank Al Rajhi bank Islam terbesar di dunia.

Kebun kurma ini memiliki luas sekitar 5.000 hektar dan ditumbuhi 200.000 pohon kurma dari 45 jenis kurma. Ternyata kebun kurma ini diwakafkan oleh Al Rajhi untuk kepentingan Islam. Hasil panennya dibagikan kepada lembaga-lembaga amal dan Haramain yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi setiap Bulan Ramadhan untuk buka bersama. Inilah yang tercatat sebagai wakaf terbesar di dunia.

Bukan hanya kebun kurma, Sulaiman Al Rajhi dikenal sebagai sosok dermawan dan senang menginfakkan hartanya untuk orang yang membutuhkan.

Beliau mendirian universitas dari uangnya sendiri dan memilih untuk hidup miskin dengan memberikan seluruh asetnya senilai 7 miliar dollar. Untuk menghargai jasa-jasanya Al Rajhi dipilih untuk menerima Anugerah Raja Faisal dari Kerajaan Arab Saudi. Beliau adalah legenda hidup bagi kita semua, ia menyadari bahwa harta ini adalah titipan Allah dan tak segan untuk menyerahkannya kembali bagi kepentingan Islam.

Sumber : https://www.rumahzakat.org/wakafkebunkurma/

Silakan mampir di link berikut:

Belajar Dari Bunda Maryam, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

Belajar dari kisah Maryam ibunda Nabi Isa as yang dihibur langsung oleh malaikat Jibril saat bersandar pada pangkal pohon kurma merasakan sakit akan melahirkan: “Janganlah engkau bersedih hati -alla tahzanii, sesungguhnya tuhan-mu telah menjadikan anak sungai di bawahmu, dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”

Aku bertanya kepada Teteh, Maryam Aliyya Al Kindi, apakah ingin mendengar kisah Bunda Maryam. bunda Nabi Isa as? Teteh mengangguk semangat sekali he3 …

Mengapa Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah memerintahkan Maryam yang sedang kesakitan hendak melahirkan harus menggoyangkan pangkal pohon kurma? Mengapa tidak seketika itu saja berguguran kurma yang masak di hadapan Maryam? Mengapa yang diberikan adalah anak sungai hingga pastinya Maryam harus berusaha mengambil air dengan menimba? Mengapa tidak langsung saja air itu ada dalam bejana di dekat maryam agar langsung bisa meminumnya?

umroh3

Masyaallah … Sungguh Allah Maha Terpuji lagi Mahabijaksana inilah bentuk kasihsayang-Nya rahmat-Nya dan penghiburan-Nya kepada hamba-Nya yang terpilih Maryam Ibunda Nabi Isa as dengan bergerak dan berikhtiar mengerahkan daya upaya menggapai karunia-Nya. Itulah sejatinya apa yang disebut sabar. Maryam bersabar dalam kesakitan juga dalam mengemban risalah mulia melahirkan bayi yang menjadi tanda kebesaran Illahi Rabbi. Jibril berkata menghibur Maryam, “Makan, minum, dan bersenanghatilah engkau.” 

Lalu … Apalah diri ini, rasanya tak patutlah berkeluh kesah -galau bahkan menyalahkan Allah Yang Mahabenar lagi Mahaadil bila hidup dilanda masalah dan diberikan ujian. Insyaallah semua masalah ada jawabannya dan semua ujian ada kelulusannya. Tinggal kembali kepada diri sendiri agar senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa dengan sabar dan shalat. Sekali lagi … Mari belajar kepada Maryam ibunda Nabi Isa as dengan membaca Al-Qur’an surat Maryam (surat ke-19) ayat 16-40. Barakallah … Teteh senang sekali membaca surat Maryam karena dari sanalah namanya kami sematkan dan satu-satunya nama perempuan yang dijadikan nama surat di dalam Al-Qur’an.

Alhamdulillah saat Umroh Teteh berkunjung ke pasar kurma dekat kebun kurma. Di sini ada kurma maryam dan kami ditawari untuk mencicipinya. “Halal … halal … Ini kurma maryam,” kata penjualnya he3 … Teteh senyum-senyum gitu!

Mampir juga yuk! Di sini:

Bulan Purnama Di Langit Makkah, Jejak Umroh Hijaber Cilik

Standar

 

Bulan purnama di atas langit Makkah … Masyaallah.

Hatiku sering tergetar bila memandang purnama … Begitupun kisah Ibrahim as yang pernah berpikir bahwa bulan dan bintang-bintang di langit adalah tuhan, namun saat benda langit ciptaan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaperkasa itu tenggelam dalam cahaya terang benderang matahari Ibrahim as berkesimpulan semua benda langit bukanlah tuhan …

Malam itu aku dan Teteh, Maryam Aliyya Al Kindi #hijabercilik #kindlyhijab melaksanakan shalat Maghrib dan Isya di Masjidil Haram. Selesai shalat kami menyempatkan untuk menuju pelataran Ka’bah.

Sesungguhnya Rabbil’alamin adalah Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Terpuji. Bapa memberi nama belakang bayi perempuannya -purnamasari- intinya sinar rembulan yang menjadi penerang kegelapan malam. Masyaallah … Menurut penuturan Beliau … Aku lahir saat purnama di bulan Ramadhan. Saat kami umroh bulan purnama mengiringi perjalanan sejak miqat hingga akhir ibadah. Karunia Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah membuatku tak henti melantunkan dzikir, doa, kalimat tayyibah dan ayat-ayat Al-Qur’an …

Airmatapun menemani dengan setia. Aku genggam tangan Teteh selama 7 kali putaran tawaf. Sesekali kami memandang Ka’bah … dan terus meninggi memandang langit Makkah berhias purnama. Subhanallahi wa bihamdih. Tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau-lah yang menciptakan aku.

Doaku melangit … “Aku adalah hamba-Mu, aku (yakin) dengan janji-Mu dan aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat, aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu … ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau … aamiin.” Semoga Allah Yang Mahabaik lagi Maha Penyantun mengabulkan.

Ya Allah … aku terharu sangat ketika selepas umrah – saat duduk menikmati suasana syahdu Masjidil Haram Teteh bertanya, “Ibu … waktu umroh doain Palestina gak?”

Aku balik tanya, “Teteh doain apa buat Palestina?” Teteh menjawab, “Aku doain palestina merdeka, jadi aku bisa ke Masjidil Aqsa dengan aman. Penjajah Israel hancur ya Bu …” Teteh ingin sekali hadir di Masjidil Aqsa Baitul Maqdis. Bismillah … Semoga Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar kabulkan aamiin …

Alhamdulillah saat di Madinah kami berjumpa muslimah Palestina saling memberi salam dan senyum. Masyaallah saat di Masjidil Haram kami shalat bersebelahan dengan muslimah Palestina. Dia guru Al-Qur’an dan bisa berbahasa Inggris. Teteh sangat senang dan menitipkan hadiah kecil yang dibalaskan dengan doa agar kami bisa mengunjungi Palestina. Kami pun berpelukan erat dan Teteh dicium sayang berulang-ulang sambil disebut namanya Maryam … Maryam … Maryam … Barakallah.

Kisah menarik lainnya ada di link berikut: